Binaiya (Bagian 12: Kota Baru Masohi)

Related Articles

Masohi adalah nama sebuah kota di Pulau Seram. Ia menjadi ibu kota kabupaten terbesar di Provinsi Maluku: Maluku Tengah. Wilayahnya mencakup sebagian besar Pulau Seram, sebagian Pulau Ambon, pulau-pulau kecil di Kepulauan Lease, bahkan hingga ke Kepulauan Banda yang jauh di selatan.

Patung Soekarno di depan Pendopo Kantor Bupati Maluku Tengah.

Kota Gotong Royong

Berbicara tentang Masohi, kota ini adalah kota baru yang berdiri pasca kemerdekaan Indonesia. Kisahnya tak bisa lepas dari sosok Presiden Indonesia pertama: Soekarno. Patungnya berdiri gagah di depan kantor pemerintahan setempat.

Kala itu pada tanggal 3 November 1958, Bung Karno menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Seram. Sang Proklamator meresmikan kegiatan pembukaan kota baru. Di hutan yang menjadi wilayah Negeri Amahai dan sebagian Negeri Haturu. Ditandai dengan peletakkan batu pertama dan penanaman pohon beringin.

Peristiwa bersejarah itu menjadi titik awal sejarah perjalanan Kota Masohi. Yang kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah, kabupaten pertama dan tertua di Maluku. Bahkan Masohi sering digadang-gadang menggantikan Kota Ambon sebagai ibukota dari Provinsi Maluku.

Nama Masohi disematkan oleh Bung Karno. Ide nama itu terjadi saat peletakan batu pertama. Ia bertanya, “Kata ‘kerja sama’ dalam Bahasa Seram disebut apa?” Yang kemudian dijawab serentak: Masohi. Oleh para tokoh adat dan masyarakat yang hadir saat itu.

“Maka kota ini kuberi nama Masohi, yang artinya kerjasama atau gotong royong”, kata Presiden Soekarno mantap.  Sebuah nama sebagai simbol persatuan dan kebersamaan dalam membangun kota. Kemudian membentuk satu entitas masyarakat beraneka ragam yang akan mendiaminya.

Masohi di Kabupaten Maluku Tengah.

Sarapan Nasi Kuning

Pagi itu, di rumah singgah kediaman Ical Gondrong, di satu sudut Kota Masohi. Saya terbangun dari tidur. Menggeliatkan badan di atas sofa. Lalu melihat beberapa teman masih bermalas-malasan di atas karpet dan di atas kasur di dalam kamar. Beberapa yang lain tak kelihatan. Hari telah telah terang.

Jam menujukkan waktu menjelang pukul delapan. Saya harusnya sudah berangkat ke Ambon pukul tujuh tadi. Tapi hanya Dion yang berangkat. Ia mengejar pesawat ke Jakarta hari ini. Saya lebih memilih berangkat ke Ambon nanti siang saja. Toh hari ini saya tak memiliki banyak kegiatan. Sepertinya jalan-jalan keliling Kota Masohi cukup menarik. Daripada buru-buru kembali ke Ambon atau leyeh-leyeh tak berguna. 

Usai mandi, saya pun beranjak keluar rumah. Menyusul Mak, yang tadi sempat saya titipi beli sarapan. Menyusuri gang perumahan menuju jalan utama. Baru berjalan beberapa puluh meter, saya melihat teman-teman saya. Mereka berkumpul di sebuah warung nasi kuning yang ramai. Sepertinya warung itu adalah tempat sarapan yang cukup dikenal oleh warga sekitar. Kalau tidak, mana mungkin ramai pembeli.

Saya pun bergabung. Di sana ada Ibu Liany, Naomi, Aldasir, Daus, Rike, dan Kak Ad. Nasi titipan saya yang sudah dibungkus dan dibawa oleh Mak, saya ambil. Saya buka dan makan di warung saja. Ditemani segelas teh hangat. Sambil ngobrol berbagai hal di hari-hari terakhir kebersamaan kami dalam perjalanan di Maluku.

Bersantai di rumah singgah di Kota Masohi.
Di warung nasi kuning.
Suasana di rumah singgah:
bersih-bersih dan jemur-jemur perlengkapan mendaki gunung.

Perjalanan Malam Sebelumnya

Saya menceritakan kisah perjalanan semalam. Saat kami semua meninggalkan Negeri Piliana usai turun dari Gunung Binaiya. Kembali menuju Masohi. Menggunakan mobil-mobil sewaan yang dikemudikan dengan kecepatan super. Dan itu sangat mengerikan.

Saya yang begitu mengantuk usai turun gunung, tak bisa tidur dalam perjalanan. Saya menahan nafas di kursi belakang karena tegang. Kendaraan melesat cepat. Menembus sore yang berganti malam. Benar-benar gila! Bahaya sesungguhnya dalam perjalanan  ke Maluku ini ternyata bukan di gunung. Tetapi di jalan raya.

Jika saya perkirakan, kecepatan mobil ini adalah lebih dari seratus kilometer perjam. Mungkin sekitar seratus dua puluhan. Hanya sesekali melambat ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Dion, Ical Gondrong, dan Ical Pelu yang semobil dengan saya; bisa tertidur dengan lelapnya. Padahal saya sudah sempat mengingatkan sopir untuk tidak terlalu ngebut.

Hingga akhirnya tiga jam perjalanan usai. Kami pun tiba di Kota Masohi dengan selamat. Saya bisa bernafas lega. Lalu melanjutkan dengan makan malam di sebuah warung lalapan. Membeli durian. Membeli berbagai minuman. Kemudian ke rumah singgah untuk mandi dan istirahat. Hingga keesokan harinya, saya pun sarapan di sebuah warung nasi kuning.

Ke Pasar

Dari warung nasi kuning, saya memutuskan jalan-jalan ke pasar saja. Sendiri saja. Teman-teman saya tak ada yang mau ikut serta. Di pasar, tentu tak hanya ada transaksi dalam pengertian ekonomi. Tetapi jug ada lalu-lalang keseharian warga. Menjadi ciri sebuah wilayah. Simpul tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang. Tempat tumbuhnya peradaban sebuah kota. Maka jika kita berkunjung ke suatu daerah, jangan lupa mampir ke pasarnya.

Dalam perjalanan, saya melalui sebuah masjid. Namanya Masjid Nurul Ummah. Ini adalah masjid kompleks perumahan. Karena pagi hari, tak ada banyak aktivitas di tempat ibadah ini. Di sisi kanan dan kiri jalan menjelang sampai di pasar, keramaian makin menjadi. Becak berjejer di sepanjang pintu masuk sebelah utara, arah kedatangan saya. Sama seperti di Ambon, ada banyak becak di Masohi.

Pasar yang saya kunjungi ini bernama Pasar Binaiya. Pasar utama di Masohi. Dari namanya sangat jelas. Diambil dari nama gunung yang baru saja saya daki beberapa hari lalu. Suasana di dalam pasar cukup ramai, seperti pasar pada umumnya. Pedagang pakaian, sembako, sayur mayur, daging dan ikan, juga pedagang-pedagang makanan siap makan yang menggugah selera.

Di sebelah barat pasar, ada bangunan seperti mal. Diisi oleh toko-toko pakaian dan peralatan elektronik. Sementara di sebelah selatan pasar, dipisahkan oleh jalan kecil, ada sebuah terminal. Namanya Terminal Binaiya Masohi. Sama seperti nama pasar, namanya diambil dari nama gunung di pulau ini.

Masjid Nurul Ummah di Masohi.
Deretan becak di pintu utara Pasar Binaiya Masohi.
Gedung yang menyerupai mal di bagian barat Pasar Binaiya.
Terminal Binaiya.

Ngopi di Pantai Marina

Saya kemudian menuju ke barat. Berjalan kaki lagi ke arah pantai. Di Google Maps, tertera keterangan sebuah tempat menarik. Namanya Ina Marina Beach. Itu sebuah pantai yang menjadi tempat wisata kota. Tapi sesampainya di sana, pintu masuknya ditutup. Suasana juga sepi. Mungkin karena hari sudah menjelang siang dan panas.

Warung-warung yang berderet di tepi pantai kebanyakan tutup. Hanya satu dua yang baru buka. Juga belum ada pembeli. Ya sudah, saya mampir saja ke salah satunya. Memesan kopi dan pisang goreng. Lalu duduk di teras warung yang dinaungi pohon angsana. Sambil menikmati semilir angin pantai.

Kopi dan pisang goreng pun datang. Dan bukan Indonesia Timur namanya, jika pisang goreng disajikan tanpa sambal. Perpaduan ini memang lumrah di Maluku. Setahu saya, juga lumrah di sebagian Sulawesi dan Kalimantan. Pisang goreng memang dimakan dengan sambal yang pedas. Kadang biasa juga dengan kecap atau saos. Dicocol seperti makan gorengan tahu atau bala-bala. Bagi orang-orang di selatan khatulistiwa seperti Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara; cara makan pisang goreng ini tentu sedikit aneh.

Ngopi dulu, Gesss!

Baileo Soekarno

Kopi pun habis diseruput. Pisang goreng juga ludes. Waktu bergulir dan pagi menjelang siang makin bertambah panas. Saya kembali ke rumah singgah. Oleh Ical Gondrong, saya ditanyai. Apakah keliling kota sudah melihat Patung Soekarno? Tentu saja belum. Karena belum melihatnya, saya kemudian berniat ke sana. Irfan dan Fifi yang sepertinya gabut, ikut tertarik.

Kami dipinjami satu motor. Karena bertiga, jadilah kami seperti generasi cabe-cabean. Satu motor untuk tiga orang. Hahaha! Irfan mengendarai motor. Fifi di belakang. Dan saya dihimpit di tengah. Bermodalkan Google Maps, kami meluncur menuju lokasi yang ditandai dengan nama Baileo Soekarno.

Baileo adalah istilah untuk menyebut rumah adat di Maluku. Ia merepresentasikan identitas kebudayaan. Memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, tempat upacara adat, atau sebagai balai pertemuan warga. Ciri utamanya adalah berukuran besar dan memiliki bentuk berbeda jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain di sekitarnya.

Baileo Soekarno ada di Kantor Bupati Maluku Tengah. Sehingga sering juga disebut dengan Pendopo Bupati. Lokasinya tepat di ujung jalan utama di Kota Masohi: Jalan Pattimura. Tulisan raksasa dengan latar Patung Soekarno jelas terlihat dari jauh. Membelakangi bangunan baileo yang megah.

Beberapa petugas pamomg praja yang berjaga mengizinkan kami masuk untuk melihat-lihat. Walaupun cuaca panas, lingkungannya cukup asri. Di bawah patung sang proklamator yang sedang berpidato, terpasang plakat-plakat bertuliskan kisah sejarah pendirian kota. Baru diresmikan tahun 2021 lalu di masa pandemi covid. Secara daring, oleh presiden kelima, Megawati Soekarno Putri.

Lalu masuk ke dalam gedung pendopo lantai bawah, tak ada apa pun di ruangannya yang luas. Hanya terpasang foto-foto bersejarah dari peristiwa-peristiwa yang melibatkan sang presiden pertama. Sementara di lantai atas, merupakan gedung serba guna. Yang terbuka. Sepertinya diperuntukkan untuk tempat pertunjukan. Poster Bung Karno juga terpasang, lengkap dengan petuah-petuahnya. Juga poster foto Bupati Maluku Tengah dan bendera lambang administrasi.

Hai!
Baileo Soekarno.
Foto Bung Karno di lantai bawah Baileo Soekarno.
Poster Bung Karno di lantai atas Baileo Soekarno.
Plakat kisah sejarah kota di bawah Patung Soekarno.

Mencari Beringin

Untung saja para pamong praja yang berjaga baik hati. Kami yang berbonceng tiga ditegur oleh mereka. Bonceng tiga itu mengganggu ketertiban, kata mereka. Entah mereka bercanda atau serius. Tapi mereka sambil senyum-senyum. Haha! Terima kasih dan kami pamit dulu, Pak! 

Tujuan kami berikutnya adalah ke Lapangan Nusantara. Mencari pohon beringin. Yang kata para pamong praja tadi, dulu ditanam oleh Bung Karno. Setelah berkeliling, tak terlihat pohon beringin usia puluhan tahun. Aneh. Tapi pohon-pohon lain di sekitar lapangan begitu rindang. Kami tergoda untuk duduk-duduk istirahat di atas trotoar.

Saya yang masih penasaran, melanjutkan pencarian. Tak ketemu juga beringinnya. Tapi ada satu pohon beringin yang tampaknya baru berusia belasan tahun. Sepertinya bukan pohon ini yang dimaksud. Entah ada di mana pohon beringin yang ditanam Bung Karno itu. Sudahlah.

Pepohonan yang rindang di tepian Lapangan Nusantara.

Irfan saat kami beristirahat di pinggir Lapangan Nusantara.

Fifi sedang scrolling hp saat kami beristirahat sejenak di pinggir Lapangan Nusantara.

Kelapa Rempah

Karena bosan mencari beringin dan waktu yang saya miliki makin sedikit, kami pun pulang. Kembali ke rumah singgah. Kali ini tanpa menggunakan Google Maps. Alhasil, kami malah berputar-putar kebingungan. Nyasar.

Hingga akhirnya ada satu sudut jalan yang bisa saya kenali. Di sana ada penjual kelapa muda. Lebih baik mampir ke sana. Tentu nikmat melepas dahaga setelah lelah berkeliling. Saat duduk menunggu penjual menyajikan pesanan, Pak Arif muncul dan bergabung.

Di warung yang saya kunjungi ini, dijual kelapa muda bakar yang isinya ditaburi rempah. Wah! Maluku banget ini. Tapi siang-siang yang panas seperti ini, tak cocok meminumnya. Kelapa bakar rempah lebih pas dinikmati saat malam. Karena minuman itu disajikan hangat. Saya minum es kelapa saja. Tapi Pak Arif penasaran dan mencobanya. Katanya sih, enak.

Kelapa bakar rempah.
Kelapa bakar rempah.

Kembali ke Ambon

Dan akhirnya, tibalah waktu meninggalkan Masohi. Saya, Pak Arif, Daus, Rike, Ibu Liany, Naomi, dan Ical Pelu akan kembali ke Ambon. Sementara teman-teman saya yang dari Malaysia akan ke Ambon esok hari. Mereka masih sehari lagi di Masohi. Sedangkan sisanya akan melanjutkan perjalanan ke Banda Neira, sebuah kepulaun di Maluku yang mulai naik daun ketenarannya.

Saya sebenarnya cukup tertarik untuk berkunjung ke Kepulauan Banda. Negeri tempat diasingkannya Bung Hatta dan Sutan Syahrir, para bapak bangsa. Tapi sayang, bukan kali ini. Lain kali, saya tentu akan ke sana.

Pulau Seram dilihat dari atas kapal penyeberangan Tulehu – Amahai.

Dalam perjalanan menyeberangi laut dari Amahai ke Tulehu, saya memandangi lagi Pulau Seram yang baru saja saya tinggalkan. Lanskapnya yang menghijau di seberang lautan, seperti lambaian tangan seorang gadis yang mengantar keberangkatan kekasihnya. Kenangan dan keindahan Pulau Seram, begitu membekas di hati saya. []

Oleh I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Praktik Kecil Pendidikan Dasar Astacala XXIV

https://youtu.be/tHPG92ubAUY Bandung (4 Desember 2015) – Praktik Kecil merupakan salah satu rangkaian Pendidikan Dasar Astacala XXIV. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 26-27 November 2015 di...

Setuju Kenaikan BBM

BBM bersubsidi membuat kita semakin gila menghabiskan persediaannya yang makin tipis. BBM bersubsidi membuat kita semakin gila menghabiskan persediaannya yang makin tipis. BBM tidak...

Ciremai and Mom , You’re Everything

Jumat 20 Juni 2011, handphone saya bergetar ketika sedang makan siang di kantin kampus. Tak disangka salah satu dosen ternama di kampus putih biru...