Binaiya (Bagian 8: Menuju Aimoto)

Related Articles

Pagi merekah di Negeri Piliana. Udara terasa sejuk dan segar. Walaupun desa ini berketinggian empat ratusan meter dari permukaan laut, suasananya seperti ada di atas awan. Lembah terhampar di bawah. Perbukitan hijau di sekeliling. Laut Banda yang biru di kejauhan.

Perjalanan menyusuri sungai kecil pada hari pertama pendakian.
Foto oleh Abdul Kholiq

Tempat Nongkrong Asyik

Ada yang menggelitik di pagi hari. Kamar mandi dan kamar kecil untuk umum ada di belakang balai desa. Lengkap dengan tempat cuci yang juga untuk umum. Ketika teman-teman saya mengantri menggunakannya, saya berkeliling melihat-lihat suasana. 

Di tepian desa, saya melihat sebuah kloset porselen biru di tempat terbuka. Yang ujungnya sudah retak. Apakah itu bekas kamar kecil yang dibongkar? Kenapa pula klosetnya tak ikut dibongkar? Saya kurang tahu. Yang pasti masih ada airnya. Dan seperti masih bisa dipakai. Juga berbau pesing. Mungkin digunakan untuk anak-anak saja.

Pemandangan yang dilihat jika kita jongkok di kloset itu cukup mengesankan. Kalau dipikir-pikir, mungkin itu adalah tempat buang hajat dengan pemandangan terindah di Maluku. Bayangkan, pagi-pagi nongkrong sambil melihat matahari terbit. Atau saat senja di kala langit merona keemasan. Kira-kira, siapa yang tertarik memakainya? Hahaha!

Tempat ‘nongkrong’.

Beranjak dari Piliana

“Binaiya… Let’s go!!!” begitu kami meneriakkan yel di depan balai desa. Menyatukan tangan dalam lingkaran. Itu kami lakukan setelah selesai berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Tanda perjalanan mendaki gunung telah dimulai. Delapan orang porter sudah berjalan duluan. Lalu kami, dengan Ical Pelu memimpin paling depan dan Ical Gondrong paling belakang sebagai sweeper.

Tujuan kami hari ini adalah mencapai Pos 2. Namanya Aimoto. Kami akan bermalam di sana. Sebelum mencapainya, ada beberapa tempat yang akan kami lalui. Seperti dua sungai besar yang bernama Yahe Bawah dan Yahe Atas. Lalu Pos 1 yang bernama Yamitala, target kami untuk istirahat makan siang. Juga ada beberapa titik istirahat lain yang dinamai Pulehata dan Lukuamano.

Peta perjalanan dari Negeri Piliana ke Pos 2 Aimoto (klik kanan pada gambar dan buka di tab baru untuk memperbesar).

Bapak kepala adat ada di depan rumahnya saat kami berangkat. Sambil mengunyah pinang, ia berpesan untuk selalu berhati-hati dan menjaga keselamatan. Anak-anak kecil memperhatikan kami yang berjalan beriringan dengan ransel-ransel di punggung. Pemandangan itu sepertinya sudah sering dilihat. Mungkin mereka  bertanya dalam hati. Kenapa orang-orang dari jauh ini, sering datang ke Piliana dan mendaki ke Binaiya?

Bapak Kepala Adat sedang santai menikmati pinang di pagi hari.
Anak-anak Piliana di sebuah warung yang tidak melayani bon.

Melalui Sekolah dan Perkebunan

Kami menyusuri jalan ke arah utara. Melalui dua sekolah yang ada di ujung desa. Sekolah itu adalah Sekolah Dasar Kristen Piliana, sebuah sekolah swasta jika ditilik dari papan namanya. Satu lagi adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 20 Maluku Tengah. Saya tak melihat taman kanak-kanak. Yang pasti, tak ada sekolah menengah tingkat atas. Apalagi universitas.

Dari sekolah-sekolah ini, jalur perjalanan kemudian menanjak. Melalui beberapa rumah warga Piliana lagi. Kemudian masuk ke dalam perkebunan atau ladang warga. Saya tak melihat begitu jelas, tanaman apa saja yang ditanam di kebun-kebun warga itu. Karena sebagian besar yang saya lihat adalah semak-semak. Begitu samar antara kebun dan hutan.

Harusnya ada pohon-pohon pala. Tapi saya tak melihatnya di jalur pendakian Binaiya ini. Saya hanya melihat buah-buahnya saja. Dijemur di depan rumah-rumah warga. Ketika saya tanyakan pada Ical Pelu, kebun-kebun pala ada di sisi Piliana yang lain. Berbeda dengan Gunung Gamalama di Maluku Utara. Ketika saya ke sana beberapa tahun lalu, ada banyak pohon khas Maluku itu di jalur-jalur awal pendakiannya.

Sekolah (SD dan SMP) di Piliana.
Naomi berfoto di depan sekolah menengah pertama.
Foto oleh Abdul Kholiq
Naomi berfoto di depan sekolah dasar.
Foto oleh Abdul Kholiq
Pala yang dijemur di depan salah satu rumah.
Bergerak meninggalkan Piliana menuju Aimoto.
Mulai memasuki ladang dan kebun.

Rumbia Penghasil Sagu

Jadi apa yang ditanam warga Piliana di kebun mereka? Awalnya saya mengira akan ada jagung, kentang, cabai, tomat, dan sejenisnya. Atau cengkih maupun kopi. Semua itu tak ada. Atau mungkin tak saya lihat. 

Yang terlihat hanyalah tanaman-tanaman palem. Seperti pohon kelapa. Itulah pohon rumbia. Pohon yang batangnya bisa diolah menjadi sagu, makanan pokok di Maluku sebelum masyarakatnya mengenal nasi.

Dulu, masyarakat di Maluku dalam keseharian sangat bergantung pada sagu. Itu mempengaruhi cara hidup mereka. Membentuk budaya dan tradisi. Karena itulah saya mengenal papeda dan bisa memakannya sewaktu di Ambon.

Tapi perkembangan zaman mengubah perilaku masyarakat. Padi yang menjadi beras, lalu menjadi nasi; datang mendominasi. Makin lama makin disukai. Membuat masyarakat menjadi ketergantungan. Budaya pun berubah.

Perubahan itu pun memungkinkan pohon-pohon rumbia menjadi tak terlalu dibutuhkan. Jadi ada potensi bahwa nanti petani-petani di Piliana akan beralih menanam komoditas lain. Kebun menjadi lebih terbuka dengan tanaman yang tak menyerap banyak air.

Padahal pohon rumbia memiliki manfaat yang besar bagi alam. Yaitu ikut membentuk hutan yang lebat. Akarnya memiliki kemampuan menyerap air yang tinggi. Sehingga dengan adanya rumbia, bisa menjamin terjaganya ketersediaan sumber air.

Dan memang, di jalur perjalanan yang melalui pohon-pohon rumbia ini, ada banyak genangan air. Parit-parit dan sungai-sungai kecil yang tak kering. Rasanya cocok sebagai tempat tumbuhnya.

Bayangkan saja. Bagaimana jika Maluku yang awalnya kaya dengan rumbia dan kandungan air di dalam tanah, lalu itu hilang dan berubah menjadi daerah yang terancam kekurangan persediaan air?

Jalur yang basah di mana di sekitarnya banyak pohon rumbia.
Pohon-pohon rumbia.
Rumbia yang jenisnya berduri.

Sungai Yahe

Altimeter menunjukkan ketinggian yang masih rendah. Udara terasa makin panas. Padahal langit mendung. Dan hutan cukup lembab. Dedaunan seperti diam membisu karena tak ada angin berhembus. Sangat gerah.

Peluh bercucuran membasahi tubuh. Dari sekian banyak pendakian gunung yang pernah saya lakukan, gerah di Binaiya terasa paling menyiksa. Bayangkan kaos kita dicelupkan ke air, lalu dipakai lagi. Seperti itulah saya bermandi keringat.

Walaupun demikian, jalur pendakian melalui banyak sungai. Bahkan kami menyusuri aliran sungai yang debit airnya kecil. Membentuk kubangan-kubangan di cerukan-cerukannya. Airnya sangat jernih. Bening seperti kaca. Saya dan beberapa teman meminumnya. Juga mencuci muka. Rasanya segar sekali.

Ada banyak sungai yang dilewati . Dua di antaranya dan memiliki nama adalah Yahe. Dua sungai berbeda dengan nama sama. Yang pertama dan berlokasi lebih di bawah, disebut Yahe Bawah. Sementara yang berlokasi lebih di atas, disebut dengan Yahe Atas. 

Debit air kedua sungai ini besar. Bahkan jika hujan, berpotensi mengalirkan air bah sehingga sungai itu tak bisa diseberangi. Tapi untunglah, kali ini debit air dalam kondisi yang pas.

Kami beristirahat cukup lama di Yahe Bawah. Suara aliran airnya yang deras sangat jelas terdengar. Saya mengisi botol minum di sini. Saya berani menjamin airnya tak tercemar limbah deterjen. Juga tak berisi limbah industri sungai-sungai di kota besar Indonesia. Karena airnya langsung mengalir dari hutan pegunungan tanpa melewati pemukiman.

Di sekitar sungai, ada banyak nyamuk. Juga banyak lalat besar, seukuran satu ruas jempol tangan orang dewasa. Disebut lalat babi saking besarnya. Keduanya, nyamuk dan lalat ini, sangat mengganggu. Membuat bagian-bagian tubuh yang terbuka menjadi sasaran empuk. Sudah gerah, gatal lagi.

Lalu, ada banyak kupu-kupu juga. Kalau yang ini, tak mengganggu. Serangga-serangga kecil bersayap biru itu beterbangan. Mereka memberikan keindahan di tengah hutan. Dari informasi umum yang beredar, Binaiya memang kaya akan mahluk hasil metaforfosis ulat itu. Tercatat ada sembilan puluh jenis kupu-kupu di Taman Nasional Manusela.

Beristirahat di Sungai Yahe Bawah.
Membasuh muka di Sungai Yahe. Sangat menyegarkan.
Mengisi air minum ke dalam botol. Sensasinya seperti air dari lemari es.
Lalat babi. Seukuran satu ruas jempol tangan orang dewasa.
Ada kupu-kupu di Sungai Yahe.
Ini salah satunya. Apakah Anda melihatnya?

Yamitala

Beberapa ratus meter dari Yahe Bawah, ada Yahe Atas. Debit air sungai kedua ini hampir sama dengan yang pertama. Airnya jernih dan sama-sama dihuni banyak lalat babi. Juga banyak nyamuk dan kupu-kupu. Kurang lebih, kedua sungai yang bernama Yahe ini kondisinya mirip.

Naik beberapa meter dari Yahe Atas, tibalah saya di Pos 1. Namanya Yamitala. Namanya terkesan seperti nama komunitas pecinta alam atau pendaki gunung. Ical Pelu maupun Ical Gondrong, yang saya tanyai tentang artinya, tak tahu. Konon itu kosa kata Bahasa Jepang. 

Karena penasaran, saya cari di kamus. Yamitala memang sebuah kosa kata dari bahasa asing. Tetapi bukan dari Bahasa Jepang, melainkan dari Bahasa Chewa di Afrika. Artinya ‘poligami’. Lho? Apakah benar pos pendakian pertama yang saya temui ini, diartikan demikian? Beristri lebih dari satu? Entahlah.

Ada sebuah selter dari kayu tempat beristirahat di Yamitala. Hanya satu saja. Bercat hijau. Dengan satu bilik kamar dan teras. Kurang lebih bisa digunakan untuk sepuluh orang. Tapi setahu saya, jarang ada pendaki bermalam di sini. Karena lokasinya dekat dari Piliana, menjadi nanggung. Hanya butuh tiga sampai empat jam saja untuk mencapainya.

Karena lokasinya dekat dengan Sungai Yahe Atas, maka air di sini melimpah. Salah satu teman kami, Asyraf, selalu gembira jika menemukan sungai. Ia mandi dan berenang saat saya dan teman-teman lain beristirahat makan siang. Hidangannya nasi bungkus, yang sudah disiapkan dari Piliana.

Pos 1 Yamitala.
Pos 1 Yamitala.
Makan siang dulu, Gesss! Nasi bungkus dari Piliana.

Pulehata dan Lukuamano

Sekitar satu jam waktu yang kami gunakan untuk beristirahat di Yamitala. Maka kemudian, perjalanan pun dilanjutkan. Saya termasuk pendaki yang berjalan paling depan. Mengikuti Ical Pelu, Irfan, Fifi, dan Asyraf. Sementara di belakang saya agak jauh; ada Fitri, Mak, dan Kak Ad. Sisanya lebih di belakang lagi.

Udara masih terasa panas dan lembab. Angin tak berhembus. Tubuh makin gerah dan berkeringat. Nyamuk di mana-mana. Lengkap sudah penderitaan yang dialami. Saat istirahat dan membuka baju, hembusan angin diharapkan bisa mendinginkan badan. Tapi angin tak ada. Yang terjadi kemudian malah dikerubungi para penghisap darah.

Hutan yang dilalui selepas tengah hari ini makin lebat. Pepohonan tinggi dan rapat. Bervariasi dengan berbagai ukuran. Salah satu yang saya temui adalah pohon damar. Batangnya mengeluarkan getah kental karena membeku. Baunya enak. Dalam dunia industri, getah-getah damar digunakan sebagai pewarna cat, kosmetik, sampai bahan baku resin dan korek api.

Saat beristirahat di sebuah dataran kecil yang bernama Pulehata, saya juga melihat bulu burung. Tertancap di batang pohon bekas tebangan. Tak jelas itu bulu burung apa. Tapi Ical Pelu bercerita tentang Gunung Binaiya yang dihuni berbagai macam burung. Salah satunya yang terkenal adalah rangkong. Itu adalah burung yang sering dikeramatkan oleh suku-suku masyarakat adat.

Sesekali saya melihat bebatuan menyembul di tanah. Makin lama, makin banyak. Berukuran kecil maupun yang besar bagai raksasa. Binaiya adalah gunung bebatuan karst. Nanti, bebatuan yang lebih banyak akan ada menjelang puncak. Juga terlihat lebih jelas. Di bawah seperti sekarang, bebatuannya cukup samar. Malah cenderung terlihat seperti pangkal pohon tumbang. Warnanya kehijauan dilapisi lumut.

Kami beristirahat agak lama di bawah tebing bebatuan. Yang menjulang tinggi dan ditumbuhi pepohonan di atasnya. Dinamai Lukuamano, seperti yang saya baca di sebuah plang petunjuk. Saya melihat jam. Hari tidak terlalu sore. Dan peta digital memberikan informasi posisi. Bahwa Aimoto, yang akan kami tuju, sudah tak jauh lagi.

Menyusuri hutan yang panas dan lembab. Gerah.
Pohon damar yang tinggi menjulang.
Ini getah pohon damar.
Ada sehelai bulu burung tertancap di pohon.
Lukuamano.
Lukuamano.
Perhatikan foto ini!
Yang menyembul di tengah adalah batu, bukan kayu.

Tiba di Aimoto

Setelah perjalanan menuruni lembah, saya tiba di sebuah sungai kecil. Kami menyusurinya. Sepatu yang penuh lumpur seperti dicuci ketika berjalan melaluinya. Sayup-sayup, saya mendengar suara orang di depan. Ternyata itu suara para porter yang sudah tiba duluan. Naik beberapa meter dari sungai kecil ini, selter-selter sudah terlihat.  

Kami pun sampai di Aimoto. Alias Pos 2 di jalur pendakian ini. Aimoto dalam Bahasa jepang berarti ‘buku cinta’. Kembali saya tanyakan artinya pada Ical Pelu dan Ical Gondrong, tak ada yang tahu alasan penamaan ini. Kalau kata Adul, mungkin berhubungan dengan zaman penjajahn Jepang. Tapi apa? 

Dataran di Aimoto ini cukup luas. Ada empat selter dari kayu bercat hijau. Dua selter memiliki kamar dan teras, dua selter lainnya terbuka. Selter-selter itu lah yang kami manfaatkan untuk beristirahat malam ini. 

Satu selter terbuka dipakai para porter, satu selter terbuka lainnya digunakan sebagai dapur. Sementara selter-selter dengan kamar dan teras digunakan sebagai tempat beristirahat. Hanya Fitri yang saya lihat membangun tenda pribadi untuk beristirahat.

Begitulah pos-pos pendakian di Binaiya. Selter-selternya bisa langsung dipakai untuk bermalam. Setahu saya, di gunung-gunung lain yang sebagian besar di Jawa, menggunakan selter sebagai tempat bermalam terhitung egois. Karena selter biasanya hanya digunakan untuk tempat berteduh sementara. Jika mau bermalam, maka hendaknya membangun tenda sendiri. Setiap gunung ada etikanya masing-masing.

Selain kami, ada dua pendaki lain dengan satu porternya. Bermalam di Aimoto juga. Membuka tenda tak jauh dari selter yang digunakan sebagai dapur. Dari Kupang. Mereka harusnya berangkat kemarin. Bersama rombongan yang sudah naik satu hari sebelum kami. Karena terlambat tiba di Ambon, mereka ditinggal. Sehingga terpaksa mundur sehari sehingga berbarengan dengan kami di sini.

Sungai kecil menjelang tiba di Aimoto.
Perjalanan menyusuri sungai.
Pos 2 Aimoto.
Asyraf yang seksi sedang melepas sepatu, sebelum masuk ke dalam selter.

Malam Menjelang

Hujan turun ketika kami semua sudah tiba dengan selamat di Aimoto. Masih ada waktu beberapa jam yang dimiliki sebelum malam benar-benar menjadi gelap. Karena udara tak begitu dingin, mandi dan bersih-bersih menjadi kegiatan yang paling menarik. Sambil hujan-hujanan. Lalu hujan perlahan reda.

Alazier membawa sikat cuci. Yang ternyata sangat bermanfaat. Bergiliran kami mengantri meminjamnya. Sepatu dan celana yang berlepotan lumpur, dengan mudah dibersihkan menggunakan sikat. Sehingga besok pagi, ketika melanjutkan perjalanan, sepatu dan celana jadi lebih nyaman untuk dipakai lagi.

Sepatu saya penuh lumpur.
Untung Alazier membawa sikat.
Awas! Ada penampakan.

Ketika malam telah turun, dan acara makan telah selesai, saya dan beberapa teman nongkrong di tenda dapur. Berteman kopi dan teh hangat. Membicarakan cerita-cerita horor seputar Gunung Binaiya. Di gunung ini kita hendaknya menurunkan volume bicara. Tidak boleh berteriak-teriak. Karena itu bisa mengundang ‘penunggu’ hutan berdatangan.

Konon, ada banyak mahluk berambut panjang terurai di Hutan Binaiya. Disebut ‘kuyang’. Sesosok kepala tanpa badan, dengan organ-organ dalamnya bergelantungan. Yang bisa menyamar menjadi burung atau kelelawar, lalu terbang berkeliaran mencari mangsa. 

Ada juga ‘suanggi’, sesosok roh jahat yang menjelma menjadi perempuan cantik. Lalu bisa berubah menyeramkan. Suka bergentayangan mencari lelaki hidung belang di tengah hutan. Memangnya siapa yang hidung belang di antara kami?

Di saat yang bersamaan, teman-teman saya bernyanyi di teras selter. Mereka mengikuti alunan lagu yang mengalun pelan dari sepiker Adul. Mungkin saking asyiknya, jadi lupa dengan pantangan yang ada. Nyanyian teman-teman saya makin lama makin membahana.

Sesekali Ical Gondrong mengingatkan untuk menurunkan volume suara. Supaya tak menimbulkan hal-hal buruk. Tidak baik melanggar apa yang telah diwariskan turun-temurun di masyarakat Maluku. Apalagi ada para porter yang merupakan warga lokal, tak enak didengar oleh mereka. Percaya tak percaya pada cerita mistis seperti itu, pilihan paling tepat adalah menghormati kisah-kisah tersebut.

Saya akhirnya memilih untuk beristirahat saja. Masuk ke dalam kamar di selter satunya lagi. Posisi tempat saya tak jauh dengan Asyraf. Yang ternyata tidurnya mendengkur. Di sampingnya, Alazier juga ikut mendengkur. Suaranya keras sekali, bersahutan silih berganti. Mungkin saya bakalan ikutan juga.

Karenanya saya jadi berpikir. Jangan-jangan, dengkuran keras bisa mengundang mahluk-mahluk penghuni hutan yang diceritakan tadi berdatangan. Waduh! Benar-benar menyeramkan. Lebih baik saya memejamkan mata dan segera tidur saja. []

Oleh I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Binaiya (Bagian 9: Dari Aimoto ke Isiali)

Saya mendengar burung-burung berkicau menyambut pagi di sekitar Aimoto. Lalu merasakan sinar matahari menyusup, melalui celah-celah dinding selter yang saya tempati. Bangun dari tidur,...

Sebuah Pita Hijau untuk Pengingat Kita

Apa yg akan terpikir oleh kita ketika melihat segelintir mahasiswa IT Telkom selama seminggu ini memakai sebuah Pita Hijau kecil di lengan kiri seragam...

Kilas Balik Panjat Tebing Indonesia

1976 Harry Suliztiarto mulai latihan memanjat di Citatah. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia. 1977 Skygers Amateur Rock Climbing Group didirikan oleh Harry Suliztiarto, Heri Hermanu,...