Binaiya (Bagian 6: Negeri Saleman)

Related Articles

“Bli… Bli… Ayo, bangun! Kita sudah sampai.” Dion memanggil dari belakang kursi. Saya menguap dan melihat sekeliling. Di balik jendela mobil, terlihat teluk biru di bawah perbukitan hijau. Hari sudah pagi, tapi matahari tertutup awan. Cuaca mendung.

Salah satu pantai di Negeri Saleman.

Berangkat Saat Pagi Buta

Beberapa jam sebelumnya di Masohi. Saat subuh, masih gelap, dan saya masih mengantuk; kami semua sudah bersiap. Saya bersama Ical Gondrong, Dion, dan Irfan naik di mobil yang sama. Yang lain di kendaraan lain. Kami meninggalkan Masohi. Berangkat ke sisi utara Pulau Seram. Menuju Negeri Saleman. 

Andre, pengemudi yang menjemput saya di Amahai kemarin, mengantar lagi. Ia tampak bersemangat. Tikungan demi tikungan dilahapnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia seolah hafal di mana nanti akan berbelok lagi. Setelah menyeberangi dua jembatan sempit yang panjang dan melalui satu perkampungan, perjalanan kemudian memasuki hutan yang semakin rimbun. Kecepatan kendaraan akhirnya sedikit dikurangi.

Penasaran dengan jalur yang kami tempuh, saya membuka peta digital yang ada di telepon genggam. GPS dinyalakan. Kami menempuh jalan dari selatan ke utara, seperti membelah Pulau Seram menjadi dua. Satu di bagian barat, satu di bagian timur. Dan jalan ini ada di dalam kawasan Taman Nasional Manusela.

Peta Maluku dengan keterangan lokasi Saleman.
Pembesaran peta Saleman ada di bawah.
Peta Saleman dan Sawai dan lokasi menarik di sekitarnya.

Pemburu Kuskus

Dalam gelap malam di hutan yang sepi, kami beberapa kali berpapasan dengan pengendara sepeda motor. Mereka menggunakan headlamp. Saya mengira mereka adalah warga dari desa setempat. Tapi Andre mengatakan bahwa tak ada desa lagi di jalur ini. Mereka adalah pemburu yang mencari kuskus.

Kuskus? Nama binatang itu seperti tak asing. Itu mamalia berkantung endemik di kawasan Indonesia timur. Hanya ada di Maluku, Papua, dan sebagian Sulawesi. Kalau di luar negeri, ada di Papua New Guinea dan Australia. Saya tak pernah melihatnya selama di Maluku. Penampakannya seperti musang. Kadang banyak orang yang salah membedakannya dengan kukang atau kungkang.

Kuskus termasuk binatang yang dilindungi. Artinya ia tidak boleh diburu, disakiti, dibunuh, juga diperdagangkan, baik hidup atau mati. Ada peraturan dan payung hukum yang menguatkannya. Jadi, kenapa orang-orang itu berburu? Kata Andre, untuk dijual. Ada saja pembelinya. Dan laku. Biasanya dijadikan peliharaan.

Andre juga bercerita pengalamannya. Ia mengantar turis dari Belanda. Sepasang suami istri dan anaknya yang masih kecil. Di jalan mereka berhenti karena melihat pemburu membawa kuskus. Sontak tamu-tamunya itu, yang perempuan dan anaknya, menangis histeris. Mereka melihat kuskus yang dibawa pemburu itu sudah tak bernyawa. Mereka meratap dan memohon-mohon supaya tak melakukan perburuan seperti itu lagi.

“Bagaimana jika kuskus itu mati?” tanya saya penasaran. Kalau mati, bukankah tak layak dijual? Ya, paling dikuliti. Dicari bulunya. Sisanya dibuang begitu saja. Atau di beberapa tempat, daging kuskus juga dimakan. Sedih ya? 

Kemudian tak ada percakapan lagi setelah itu. Saya perlahan terlelap di kursi depan, seiring pikiran saya yang menerawang tentang kuskus. Sementara Andre fokus menembus kabut dalam perjalanan.

Selamat Datang di Saleman

Hingga kemudian saya dibangunkan oleh Dion. Jam tujuh pagi. Kami berhenti di tikungan jalan, di mana sebuah monumen sederhana berdiri. Bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Inggris Berbasis Wisata, Negeri Saleman”. Dengan huruf-hurufnya yang tak utuh.

Saya kurang tahu, kenapa disebut ‘kampung inggris’. Saya baru menyadari ketika menuliskan kembali kunjungan saya ke sana pada catatan ini. Rasanya, Saleman memang negeri wisata di Seram. Jika pernah mendengar Ora Beach, maka di negeri inilah lokasi pantai itu. Cukup terkenal di Maluku sebagai tujuan wisata laut.

Setelah mengambil beberapa foto di tikungan ini, kami memasuki perkampungan. Lokasinya tak begitu jauh lagi. Hanya turun beberapa ratus meter. Setelah melalui satu dua tikungan lagi, kendaraan-kendaraan yang kami gunakan pun parkir di ujung jalan yang luas. Di sekitarnya, ada banyak baliho calon-calon legislatif.

Selamat datang di Negeri Saleman.
Monumen sederhana tempat sightseeing, di mana sampah-sampah plastik berserakan.

Kami tiba bertepatan dengan waktu seorang mama yang berjualan sarapan di pagi hari. Di depan sebuah warung kelontong, tak jauh dari balai desa yang tak kelihatan seperti balai desa. Dagangannya nasi kuning, lengkap dengan lauk yang menggiurkan. Saya dan teman-teman pun mengantri membeli sarapan di sana.

Kondisi yang belum begitu pulih dari masuk angin, menyebabkan saya tak menyempatkan keliling kampung. Usai sarapan, saya hanya jalan-jalan di sekitar pantai. Di pantai, tepatnya di dekat dermaga, anak-anak Negeri Saleman tampak sedang memancing ikan. Hanya dengan umpan apa adanya, beberapa ekor ikan seukuran panjang sepuluh sentimeter didapatkan.

Gampang sekali ikan-ikan itu didapatkan, pikir saya. Ribuan ikan tampak jelas dari dermaga. Yang jika dilempari remahan roti, akan langsung dikerubungi. Jika tak punya lauk di rumah, rasanya anak-anak itu tinggal ke pantai. Tak perlu waktu lama, menu ikan bakar atau goreng tentu sudah bisa disiapkan.

Dari dermaga, saya melihat ke sekeliling. Saleman, yang menjadi bagian dari Taman Nasional Manusela, dikelilingi perbukitan karst menjulang tinggi. Ditumbuhi vegetasi yang menghijau. Langsung berbatasan dengan laut yang airnya sangat jernih. Terumbu karangnya tampak terjaga. Ikannya banyak dan jelas terlihat dari permukaan. Bau amis ikan khas daerah pantai pun sama sekali tak tercium. Terasa asri. Rasanya, hal-hal seperti ini yang menarik untuk dilihat di sini.

Ikut antri membeli nasi kuning bersama ibu-ibu di Negeri Saleman.
Dermaga Negeri Saleman.
Banyak ikan kecil di sekitar dermaga Negeri Saleman.
Aktivitas anak-anak Negeri Saleman: memancing ikan.
Aktivitas anak-anak Negeri Saleman: memancing ikan.
Aktivitas anak-anak Negeri Saleman: memancing ikan.
Mendapatkan ikan seperti ini terlihat begitu mudah bagi-anak-anak Negeri Saleman.

Beperahu ke Sawai

Dua perahu motor sudah siap membawa kami berkeliling. Berwisata laut mengunjungi beberapa lokasi yang menarik. Semua tujuan kami hari ini tidak hanya di wilayah Negeri Saleman. Tetapi ada juga yang berlokasi di negeri tetangga. Namanya Negeri Sawai. Jika dilihat di atas peta, maka kami akan berperahu pergi pulang sekitar tiga puluhan kilometer.

Tiga perahu di dermaga. Hanya dua yang kami gunakan.

Dua perahu yang kami pakai berbeda ukuran. Satu lebih kecil, satunya lagi sedikit lebih besar. Saya kebagian di perahu kecil. Selain saya, di perahu kecil ini ada Kak Dwi, Mazlan, Asyraf, Dion, Dian, dan Fifi. Serta satu orang juru mudi. Sisanya yang tak saya sebutkan ada di perahu besar. Di sana jumlah penumpangnya lebih banyak.

Dian, yang satu perahu bersama saya, bernama lengkap Dian Handayani. Seorang ibu tangguh dari Lombok. Pendaki gunung generasi sembilan puluhan. Ia masih rajin melakukan pejalanan sampai sekarang, seperti saat ini, ke Binaiya bersama saya dan teman-teman. Mirip seperti Mak yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, Ibu Dian ini juga seperti ‘kereta api’. Asap selalu ‘ngebul’ dihembuskannya kala istirahat. Tapi tetap tangguh menyelesaikan misi mencapai atap Maluku nantinya.

Ibu Dian

Satu lagi teman yang belum saya ceritakan di tulisan-tulisan sebelumnya adalah Fifi. Awal mengenalnya, saya sedikit tidak ngeh. Namanya tidak ada di dalam grup Whats App kami. Adanya Rusda, yang saya kira seorang lelaki. Ternyata Si Fifi inilah Rusda tersebut. Lengkapnya Rusda Elpiani, yang penulisannya memakai ‘p’ bukan ‘f’. Orang Sunda asli dari Bogor yang hobi yoga. Tiga hari berlalu dalam perjalanan bersama hingga ke Saleman, ia makin ramai memberikan keriuhan. “Ora…!!!” begitu ia sering berteriak.

Fifi

Perahu dari kayu pun melaju. Kami duduk bersisian di kanan dan kiri, berbagi beban untuk menjaga keseimbangan. Di tengah laut, saya baru sadar. Bahwa tak ada pelampung keselamatan di perahu ini. Hal yang harus dibenahi sebenarnya. Ketika mesin perahu sempat mati, kami jadi panik. Dan syukurlah, tak ada insiden apapun dalam perjalanan ini, selain pakaian yang sedikit basah karena deburan air laut. Hingga akhirnya perahu merapat di tepi sebuah keramba ikan.

Riak air dari tepian perahu yang sedang melaju.
Perjalanan di atas perahu.
Dari kiri ke kanan: Mazlan, juru mudi, Dian, Asyraf, Dion.
Saya, Mbak Dwi, dan Fifi tidak kelihatan.

Keramba Cinta

“Orang menamakannya Keramba Cinta. Mereka berpikir karena keramba ini berbentuk ‘love’. Apakah keramba ikan bentuknya seperti ikan? Kan, tidak. Jika keramba ikan, maka ikan yang dipelihara. Tapi di sini disebut Keramba Cinta, karena di sinilah tempat di mana cinta dipelihara dan dibudidayakan. Welcome to my paradise”.

Keramba Cinta
Keramba Cinta.

Itu adalah ucapan lelaki gondrong dan bercambang yang menyambut kami ketika turun dari perahu. “Eaaa!!!” semua teman saya yang mendengarnya, otomatis membalas dengan seruan genit. Setelah itu, saya hanya senyum-senyum dan manggut-manggut saja. Sambil memandangi keramba ikan dan suasana di sekelilingnya.

Lelaki tadi bernama Taha Bachmid. Cari saja akun Instagramnya, maka ia akan terlihat familiar. Cukup terkenal, seperti menjadi ikon pesisir Seram bagian utara. Keramba Cinta, yang diperkenalkannya, adalah rumah impiannya sejak kecil. Ia membangunnya sejak tahun 2019. Yang kemudian menjadi objek wisata. Selalu dikunjungi oleh wisatawan yang ke Saleman atau Sawai.

Taha Bachmid, pemilik Keramba Cinta.

Berbeda dengan kebanyakan keramba ikan yang dibangun terapung dengan konsep budidaya, Keramba Cinta dibangun permanen. Konstruksinya dari karang-karang mati. Disusun bertumpuk-tumpuk membentuk dinding keramba. Diameternya kurang lebih lima puluh meteran. Sementara di tengahnya terdapat palung kecil, yang dalamnya dua puluh meteran. Di ujung hati, ada menara tempat selfie. Di ujung hati satunya, ada pondok tempat tinggal Taha. 

Melihat keramba ini, saya jadi ingat dengan sebuah angan-angan. Yaitu memiliki rumah tenang di kaki gunung dengan pemandangan indah. Di mana saya bisa mengisi hari dengan berkebun, berburu di hutan, atau memancing di sungai dan danau sekitarnya. Di sore hari menghangatkan diri di depan perapian sambil ngopi serta bercengkerama. Dan Keramba Cinta, memberikan saya perluasan angan-angan itu. 

Sebagian besar dari kita tentu mempunyai angan-angan seperti itu juga. Begitu pun Taha Bachmid. Ia yang pernah kuliah di Jepang, mewujudkan angan-angannya di laut. Membangun tempat nongkrong di alam. Tinggal dan tidur di sana. Membayangkan kesehariannya, tentu ia bisa memancing dan berenang. Lalu membakar ikan sambil melihat pemandangan tebing menjulang dan perbukitan hijau.

Saat asyik menikmati suasana keramba, hujan turun cukup deras. Asyraf asyik berenang di Keramba Cinta. Teman-teman saya yang lain, tak ada yang mengikuti jejaknya untuk menceburkan diri ke sana. 

Belasan menit kemudian ketika hujan mulai reda, kami pun pamit pada Taha Bachmid. Di mana ia masih terus berpuisi. Mengumandangkan syair tentang cinta. Katanya, “Cinta begitu dasyat seperti kepakan sayap kupu-kupu di Gunung Binaiya, yang bisa menyebabkan puting beliung di Laut Banda”.

Satu per satu, kami pun kembali naik ke perahu. Di saat yang bersamaan, ada pengunjung lain datang. Saya mendengar Taha Bachmid menyambut mereka dengan kata-kata puitis, seperti sudah diucapkannya berulang kali. “Selamat datang di Keramba Cinta. Tempat di mana cinta dipelihara dan dibudidayakan. Welcome to my paradise”. 

Berjalan di tepian Keramba Cinta.
Salah satu gambaran kehidupan masyarakat di perairan Negeri Sawai: bepergian ke keramba ikan dengan perahu
Ini keramba ikan. Bukan Keramba Cinta.
Tebing-tebing di Negeri Saleman dilihat dari Keramba Cinta.

Tebing Batu

Di seberang Keramba Cinta ke arah selatan, tampak tebing terjal menjulang. Saya berpikir bahwa tebing itu sungguh menantang. Teman-teman saya di Astacala, yang menggemari kegiatan panjat, pasti tertarik jika melihat pemandangan ini. Dan ke sanalah tujuan kami berikutnya.

Perahu melaju lagi. Saya duduk dengan tenang sambil menikmati pemandangan dengan nyaman. Dari perahu, nampak jelas lanskap bentangan dinding karst yang menjulang tinggi. Berpadu dengan warna hijau vegetasi yang rimbun. Dinding-dinding terjal itu langsung mencumbu laut. Sejauh mata memandang, indah semua.

Lokasi tebing ini secara administratif ada di Saleman. Tapi ia sering disebut sebagai ‘Tebing Sawai’. Atau kadang dinamai ‘tebing batu’ saja. Tapi jika kita cari di Google Maps, lokasinya ditandai dengan nama ‘Tebing Hatusaka’. Sementara keterangan dari Ical Gondrong, ia mengatakan tebing ini bernama ‘Tebing Hatupia’. Hmmm…

Perahu pun merapat ke kaki tebing yang menjulang tinggi. Sekilas, mirip seperti tebing dan bebatuan di Raja Ampat, di Papua sana. Di bawahnya, sudah dibangun pondok dan jembatan dari kayu. Berdiri di atas permukaan laut yang airnya jernih. Terumbu karang sepertinya tak terlalu menarik, tapi tetap oke. Terlihat ada ikan-ikan kecil, bintang laut, dan juga bulu babi.

Sama seperti Keramba Cinta, tebing ini menjadi salah satu daya tarik jika kita berkunjung ke Seram bagian utara. Kita bisa bersantai di pondoknya sambil berswafoto. Atau berenang di perairannya yang dangkal. Dan jika memiliki persiapan dan keahlian, kita juga bisa memanjatnya sebagai kegiatan olahraga minat khusus.

Tebing batu Sawai Saleman.
Tebing batu Sawai Saleman.
Tebing batu Sawai Saleman
Berenang di kaki tebing.

Gua Terdalam di Indonesia

Tak hanya tebing. Sebagai daerah bebatuan karst, Seram juga memiliki banyak gua. Salah satunya adalah Gua Hatusaka. Yang sudah ditasbihkan menjadi gua terdalam di Indonesia. Lokasinya beberapa kilometer dari Saleman, yang ditempuh dengan mendaki ke dalam hutan.

Kami tak ke sana. Tapi informasi tentang gua terdalam ini menjadi menarik bagi saya. Mengutip dari berbagai sumber, tercatat beberapa ekspedisi telah dilakukan untuk menjelajah gua hingga dasarnya yang terdalam. Berikut penjabarannya.

Pada tahun 1996, ekpedisi pemetaan pertama dilakukan oleh tim gabungan dari Amerika, Inggris, Perancis, dan Australia. Namun dasar gua baru bisa mereka capai di ekspedisinya yang kedua pada tahun 1998.

Lalu pada tahun 2011, giliran tim dari Indonesia yang berekspedisi. Yaitu Acintyacunyata Speleological Club (ASC). Mereka melakukan percobaan pertama mencapai dasar gua. Namun terhenti di kedalaman 190 meter karena air sungai yang membanjiri lorong gua. 

Berlanjut pada tahun 2016, tim ekspedisi gua dari Italia yang berhasil mencatatkan diri sebagai tim kedua yang mencapai dasar Gua Hatusaka. Mereka juga berhasil memetakan satu segmen lorongnya.

Kemudian pada tahun 2017, Mapala Universitas Indonesia (Mapala UI) yang termotivasi. Namun tim mapala pertama di Indonesia ini pun juga gagal menjadi tim Indonesia pertama yang mencapai dasar gua. Mereka terhenti di kedalaman 220 karena banjir memasuki lorong gua. 

Hingga akhirnya pada tahun 2018, Balai Taman Nasional Manusela yang melakukan ekspedisi untuk mengungkap potensi dan karakteristik Gua Hatusaka secara lebih lengkap. Di sini, pihak taman nasional menggandeng ASC. Sehingga ASC tercatat dalam sejarah menjadi orang Indonesia pertama ke dasar gua terdalam ini.

Gua Hatusaka.
Gambar bersumber dari Kompas.

Pantai Ora

Dari tebing batu, perjalanan kami berlanjut ke Pantai Ora. Inilah spot utama yang belakangan naik daun di Maluku. Beberapa sudut terlihat familiar karena saya sering melihatnya di internet. 

Pantai Ora.
Bungalo-bungalo di Pantai Ora.

Di pantai ini ada satu penginapan: Ora Beach Eco Resort. Konon dimiliki oleh seorang anggota dewan perwakilan rakyat. Bungalo-bungalo penginapan berdiri di atas laut, tak jauh dari bibir pantai. Sekilas mengingatkan saya seperti gambar-gambar bungalo di pantai-pantai Maladewa.

Di sekitar penginapan, pantainya berpasir putih. Ombak dari laut berdebur pelan, mandamaikan suasana hati jika kita mendengarnya. Sementara airnya sangat jernih berwarna hijau kebiruan. Dari atas dermaga, saya dengan mudah melihat beraneka karang dan ikan di bawah sana.

Saya dan teman-teman tak ada berenang di pantai ini. Kalau saya sendiri beralasan karena kondisi yang tak begitu fit. Saya menghindari kemungkinan sakit. Sedangkan teman-teman saya sepertinya karena enggan berbasah-basahan lagi. Saya jadi berpikir, berkunjung ke Saleman harusnya dilakukan nanti saja, setelah kami mendaki gunung. Tentu menyenangkan, capek dari gunung langsung bersantai di pantai.

Tak lama di Ora, kami dibawa oleh perahu kembali ke Saleman. Melewati satu titik wisata lagi yang disebut Pantai Air Belanda. Dulu pasukan Belanda pernah membangun markas di sana. Sepertinya, karena sebab tersebut pantai itu mendapatkan namanya. Airnya jernih. Di sana ada pertemuan muara sungai sehingga airnya cenderung dingin. Itu daya tariknya. Sayang, kami tak singgah ke sana karena hari sudah beranjak siang.

Jembatan kayu menuju dermaga di Pantai Ora.
Perahu yang saya tumpangi tertambat di dermaga Pantai Ora.
Rombongan pendaki Gunung Binaiya ‘tersesat’ di Pantai Ora.

Dodol Durian

“Enak itu, Kakak” kata ibu pemilik warung. Saya bertanya tentang dodol yang dijualnya ketika membeli air mineral. Dodol-dodol berbentuk bunga itu dibungkus plastik yang dipajang di atas meja. Bahannya dari durian. Sehingga disebut dodol durian. Di kota, Masohi atau Ambon, rasanya tak ada yang menjual dodol seperti ini.

Di Seram, termasuk di Saleman dan Sawai, banyak warga bercocok tanam durian. Ketika panen tiba, durian melimpah dan harganya sangat murah. Jika membeli langsung, harganya bisa sampai lima ribu rupiah per buah. Sangat murah. Bahkan bertolak belakang dengan harga kebutuhan lain yang cenderung lebih mahal di pesisir utara ini.

Dodol durian.
Mau?

Tak terasa, hari pun makin beranjak siang. Saya menyudahi istirahat di warung. Hari ini sebelum sore, kami harus tiba di Masohi kembali. Juga sudah harus mencapai titik awal pendakian Gunung Binaiya sebelum malam. Roda empat mobil-mobil yang kami tumpangi pun meninggalkan perkampungan. Membawa oleh-oleh kenangan berharga dari indahnya laut Negeri Saleman. []

Oleh I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Sepenggal Perjalanan ke Rinjani

“Udah mau liburan nih, enaknya jalan-jalan kemana ya? Bosen nih kalo engga kemana-mana.”. Pertanyaan inilah yang muncul di benak saya saat liburan akan tiba....

Chris Sharma, Wawancara La Dura Dura

Tebing La Dura Dura merupakan medan panjat tebing paling sulit di dunia. Tebing yang memiliki grade 5.15c / 9b+ ini terletak di Oliana, Spanyol.

Orang-orang Aceh yang Luar Biasa

Di gelap malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang menuju Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat barisan kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka mobil milik LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju dari dan ke Banda Aceh. Dalam gelap saya terisak: merasa tak berarti dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu menyusun hidup baru setelah tsunami merenggut semuanya dari mereka, tiga tahun lalu.