Binaiya (Bagian 4: Jalan Lain ke Tulehu)

Related Articles

“Bli. Siap-siap! Sopir sudah bergerak untuk menjemputmu. Mobilnya warna putih.” kata Adul melalui pesan Whats App di pagi yang baru saja merekah. Saya juga melihat satu panggilannya yang tak terjawab di layar telepon. Segera saya balas dengan singkat: okay!

Sebuah kapal merapat di Pelabuhan Tulehu.

Ke Bandara Lagi

Hari ini adalah waktunya berangkat ke Pulau Seram. Saya dan teman-teman pendakian harus tiba di pelabuhan sepagi mungkin. Supaya bisa menggunakan kapal yang berangkat pertama. Yaitu pukul sembilan sesuai jadwal. Karena itulah, pagi-pagi benar saya sudah dikirimi pesan dan ditelepon.

Adul, lengkapnya Abdul Kholiq, adalah ketua tim. Sekaligus penyelenggara pendakian ke Gunung Binaiya. Pemilik jasa perjalanan terbuka yang bernama Shelter Garut. Sebelumnya, saya pernah ke Gunung Tambora di Sumbawa bersamanya. Ia yang dari Garut, tentunya, jauh-jauh hari sudah berkordinasi dengan semua peserta yang berasal dari berbagai wilayah. Juga berkordinasi dengan pemandu lokal di Ambon untuk persiapan di lapangan.

Ada beberapa peserta dari Jakarta yang tiba di Ambon pagi ini. Saya yang berdua dengan Alazier harus menjemput beberapa rekan kami tersebut di Bandara Pattimura. Maka ketika mobil putih yang dimaksud Adul telah tiba di depan hotel, kami langsung cus walaupun belum sempat sarapan.

Ternyata sampai di bandara, kami harus menunggu. Ketika mengecek Flight Radar 24, pesawat dari Jakarta terlihat baru saja mendarat. Tentu pesawat itu masih memerlukan waktu untuk parkir dan menurunkan penumpang. Setelahnya memerlukan waktu lagi untuk pengambilan bagasi. Untung saja tak ada insiden bagasi tertinggal, seperti yang pernah dialami rekan saya di Bandara Sultan Salahuddin Bima.

Bandara Pattimura Ambon

Teman Perjalanan

Yang ditunggu pun tiba. Mereka adalah Liany dan Naomi Melda. Lalu bergabung bersama saya dan Alazier di mobil putih. Yang tanpa membuang waktu lagi, kami langsung berangkat meninggalkan bandara. Dalam perjalanan, tak banyak yang kami bicarakan. Tapi saya ingat satu hal yang menarik perhatian, yaitu koper yang dibawa Naomi. Ia yang mau mendaki gunung bawa koper. Sedikit aneh, saya pikir. Tapi idenya itu boleh juga. Karena koper bisa dititipkan di rumah singgah atau di desa terakhir sebelum mendaki.

Adul
Ibu Liany
Naomi

Lalu ada Irfan Asdi. Pemuda dari Lampung ini sudah di Ambon sejak beberapa hari sebelumnya. Lebih awal dari kedatangan saya. Ia menunggu kami di Bundaran Dokter Leimena, pertigaan jalan yang akan menuju Jembatan Merah Putih. Mobil bagian belakang penuh dengan tas dan barang bawaan. Akhirnya Irfan berdesakan di kursi tengah bersama Alazier, Liany, dan Naomi. Untung saya kebagian tempat duduk di depan. Hahaha!

Irfan

Jika saja tak buru-buru mengejar kapal yang berangkat pagi, harusnya kami bisa singgah di Natsepa. Itu nama pantai yang dilalui dalam perjalanan kali ini. Di sana bisa mencicipi rujak khas yang dijual di warung-warung pinggir pantai. Atau sekedar berhenti menikmati pemandangan laut Teluk Ambon bagian timur. Dari dalam mobil, udara di balik jendela dan suasana pesisir itu terasa sejuk dan menyegarkan.

Perlahan obrolan kami, yang baru kenal beberapa menit lalu, mulai mencair seiring laju kendaraan. Liany, yang nantinya saya panggil Ibu Liany, adalah yang paling senior. Sudah travelling ke mana-mana: Annapurna Base Camp dan Everest Base Camp, contohnya. Lalu Naomi, yang sudah cukup banyak mendaki gunung. Ia yang awalnya pendiam lama-lama jadi makin ramai dan gokil. Kemudian Irfan, yang ternyata sudah dua kali ke Ambon dan sudah pernah ke Kepulauan Banda di Maluku.

Perjalanan ini akhirnya memberikan tambahan teman-teman baru untuk saya. Dan mereka, teman-teman baru itu, ibaratnya seperti petualangan baru juga. Saya belum tahu pengalaman dan pelajaran apa yang akan didapatkan dari pertemuan yang telah terjadi. Yang pasti saya berfirasat bahwa akan ada banyak hal hebat dari mereka. Itu bisa menjadi energi penyemangat, baik saat bersama beberapa hari ke depan atau setelah berpisah kembali ke kota masing-masing nantinya.

Tulehu

Tulehu adalah sebuah ‘negeri’ di ujung timur Pulau Ambon. Negeri adalah istilah untuk menggantikan kata ‘desa’ di Maluku. Jadi jika saya menyebut Negeri Tulehu, maka itu berarti Desa Tulehu. Secara administratif, Tulehu bukan bagian dari Kota Ambon. Melainkan menjadi bagian Kecamatan Salahutu di Kabupaten Maluku Tengah.

Peta Maluku dengan keterangan jalur penyeberangan dari Tulehu ke Amahai.

Mendengar Tulehu, saya langsung teringat sebuah novel yang tak selesai dibaca. Ada di rak buku perpustakaan saya: Jalan Lain ke Tulehu. Yang kemudian diadaptasi menjadi film: Cahaya dari Timur. Novel dan film tersebut bercerita tentang tokoh utamanya, yang  berusaha menyelamatkan anak-anak di kampungnya dari konflik agama melalui sepak bola.

Berbicara sepak bola di Maluku, selain Belanda kita tak boleh lupa dengan Tulehu. Banyak pesepakbola terkenal dari sini. Nama-nama seperti Hendra Bayauw, Hasyim Kipuw, Dani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, dan Imran Nahumarury; adalah beberapa di antaranya. Mungkin tak semua orang tahu. Tapi semua nama itu pernah berkiprah membela Tim Nasional Indonesia.

Buku “Jalan Lain ke Tulehu” karya Zen RS.
Judul buku ini juga saya pakai sebagai judul tulisan ini.

Dalam perjalanan ini, kami ke Tulehu bukan untuk mencari pemain bola. Tapi untuk menyeberang ke Pulau Seram. Tulehu adalah pelabuhan, pintu gerbang Pulau Ambon dari dan ke pulau-pulau lain yang ada di sisi timur. Seperti ke Haruku, Saparua, atau Nusa Laut. 

Ada dua jenis kapal yang beroperasi di pelabuhan ini, yaitu kapal ferry dan kapal cepat. Ferry berukuran besar tapi lambat. Biasanya untuk mengangkut penumpang yang membawa kendaraan. Sedangkan kapal cepat berukuran lebih kecil, juga lebih cepat sesuai namanya. Tapi tak bisa mengangkut kendaraan, hanya untuk penumpang saja.

Angkutan kota yang sedang berteduh di bawah pohon, tak jauh dari pelabuhan.
Memasuki pintu gerbang pelabuhan.

Ditinggal Kapal

Saat tiba di pelabuhan, suasananya sangat ramai. Hal ini karena bertepatan dengan waktu mudik Natal. Maklum, ini di Maluku. Banyak yang bepergian menjelang hari raya. Saya merasa sedikit riweuh dengan keramaian. Adul hanya titip pesan, untuk menunggu di tempat saya diturunkan. Lalu ia pergi buru-buru. Karena panas, teman-teman yang semobil dengan saya tadi, pergi ke arah terminal penumpang. Saya pun menyusul.

Adul kemudian datang. Mencari dan menghampiri saya dengan kabar yang tak terlalu baik. Kapal cepat yang akan kami tumpangi sudah berangkat lima menit lalu, tepat saat kami tiba di pelabuhan. “Itu dia kapalnya” sambung Adul menunjuk kapal yang melaju ke arah timur. Kapal itu masih kelihatan jelas dari tempat kami berdiri.

Saya melihat jam. Waktu masih menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Masih tersisa lima belas menit sebelum jadwal keberangkatan. Artinya kami tak terlambat. Lalu kenapa kapal itu berangkat lebih awal? Adul berjanji akan mencari tahu. Dan juga mengusahakan supaya tiket yang sudah dibeli tak hangus.

Kok kosong? Mana kapalnya?
Sudah berangkat. Kami ditinggal.

Nanti saat keberangkatan kapal cepat berikutnya, barulah saya bisa memperkirakan alasannya. Kapal berangkat lebih awal karena kapasitasnya sudah penuh terisi. Harusnya, kapal penuh jika semua penumpang yang memiliki tiket sudah masuk. Untuk diketahui, semua tiket tertera nomor tempat duduk, seperti naik pesawat. Lalu kenapa penuh, padahal yang punya tiket belum masuk kapal? Silahkan dikira-kira. Ini Indonesia. Saya jadi malu dengan teman-teman dari Malaysia.

Akhirnya Adul mengumpulkan semua peserta pendakian. Di sinilah kemudian saya bertemu dengan seluruh anggota tim. Saya tak langsung hafal semuanya. Yang pasti, berjumlah enam belas orang. Nanti saya akan membahasnya satu-satu di tulisan lain. Yang saya ingat saat berkumpul ini adalah Rizal Pelu alias Ical. Ia pemandu lokal yang nanti akan menemani kami ke Binaiya.

Tiket kapal, yang seharusnya pagi, akhirnya bisa dipakai untuk kapal selanjutnya. Jadwalnya pukul empat sore nanti. Tiket bisa dipakai setelah Adul komplain keras kepada yang berwenang. Kami ditinggal kapal, bukan terlambat. Hal-hal tak adil seperti ini wajib diperjuangkan. Bahkan harus dikritik, supaya manajemen pelabuhan menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Terminal penumpang di Pelabuhan Tulehu.

Lalu ngapain di Tulehu pagi ini? Adul sambil bergurau pun menjawab, “Kita eksplore pelabuhan”. Walau sedikit kecewa, apa boleh buat. Kami pun bubar. Ada yang ke warung mencari sarapan. Ada yang beli kopi. Ada yang ke kamar kecil. Ada yang masih duduk-duduk di pinggir got. Yang akhirnya, kami semua menuju ke sebuah mushola. Sepertinya lebih baik berteduh di sana, berlindung dari sengatan sinar matahari yang panas. Istirahat sambil menunggu keberangkatan kapal.

Cari sarapan di warung-warung sekitar pelabuhan.

Pelabuhan Baru, Suasana Lama

Lepas tengah hari, kami semua beranjak meninggalkan mushola. Walaupun jadwal keberangkatan pukul empat sore, lebih baik masuk ruang tunggu terminal lebih awal. Daripada ditinggal kapal lagi. Jangan sampai jadwal yang telah disusun makin berantakan.

Istirahat di teras mushola.

Setelah masuk, begini pandangan dan pendapat saya tentang pelabuhan ini. Secara kasat mata, bangunan terminal masih cukup baru. Rasanya seusia dengan Pelabuhan Sanur di Bali yang modern. Ia didesain seperti terminal keberangkatan bandara. Saya pikir, sistemnya pun harusnya baru dan profesional.

Mari kita bahas. Ke ruang tunggu penumpang, kita harus check in dengan pemeriksaan tiket. Lalu melalui detektor logam dan pemindai barang. Di ruang tunggu yang berpendingin, kursi yang ada cukup banyak dan dalam kondisi baik. Juga ada banyak colokan listrik untuk mengisi daya telepon genggam. 

Untuk masuk ke kapal, sama persis dengan masuk ke pesawat. Tiket ditunjukkan di gate, lalu penumpang berjalan ke kapal. Kemudian duduk di kursi masing-masing, sesuai nomor kursi yang tertera di tiket.

Tapi praktik di lapangan berkata lain. Walaupun sudah check in, penumpang masih bisa keluar masuk tanpa diperiksa ketat. Detektor logam dan pemindai barang tak digunakan. Pendingin ruangan tak maksimal, mungkin karena ruangan penuh orang. Kamar kecil terkunci, hanya petugas terminal yang bisa membuka dan memakainya. 

Yang lebih parah, masuk ke kapal berdesak-desakan. Pedagang asongan berseliweran ikut masuk. Kursi tidak jelas. Malah ada penumpang yang menempati kursi yang bukan haknya sehingga sempat bersitegang. Saya jadi curiga, mungkin banyak penumpang yang tak punya tiket.

Ruang tunggu penumpang.
Pemandangan penumpang saat masuk kapal.

Tapi yang bagus di pelabuhan ini adalah airnya yang jernih. Berpendar kebiruan memantulkan warna langit. Ikan-ikan kecil tampak berseliweran di dalamnya. Berbeda sekali dengan Pelabuhan Muara Angke di Jakarta. Dulu, waktu saya ke Kepulauan Seribu dan berangkat dari Angke, airnya menghitam dan berbau busuk.

Sebuah Kapal

Sebelum kapal cepat yang saya tumpangi berangkat, saya melihat sebuah kapal ferry datang merapat. Setelah menurunkan penumpang, ia bersandar dengan tenang. Menyaksikan itu, saya teringat sebuah kutipan berbingkai di dinding Sekretariat Astacala. Tertulis: sebuah kapal akan aman jika ia tertambat di pelabuhan, tapi bukan untuk tujuan itu kapal dibuat.

Kutipan itu menganalogikan manusia, yang tak selalu aman dalam mengarungi lautan kehidupan. Pasti menemui badai dan gelombang. Tapi itu yang menjadikan manusia lebih kuat dan berarti. Bukankah memang demikian? Bahwa laut yang tenang, tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh? Maka berbahagialah kita yang bisa melalui berbagai rintangan dan masih bersemangat hingga hari ini.

Sebuah kapal merapat ke pelabuhan.

Berangkat ke Seram

Pukul tiga sore, kapal cepat yang kami tumpangi pun melaju meninggalkan Tulehu. Satu jam lebih cepat dari jadwal keberangkatan yang tertulis di tiket. Memang aneh. Pesawat di bandara biasanya delay. Tapi di Tulehu, kapal berangkat lebih awal.

Sudahlah. Yang penting sore ini kami sudah bergerak. Tujuan kami di Seram adalah berlabuh di Pelabuhan Amahai. Kemudian akan berlanjut ke Kota Masohi, tepatnya ke sebuah rumah singgah. Kami akan bermalam di sana. []

Oleh I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Sungai Bawah Tanah Terancam

Dulu, hampir tidak ada yang mau melirik tanah gersang dengan batuan karst. Bagaimana tidak, untuk lahan pertanian saja sering tidak optimal. Lahan tersebut dianggap...

Napak Tilas Sumpah Pemuda

Delapan puluh lima tahun silam, 28 Oktober 1928, tanpa teknologi telekomunikasi, transportasi yang tak mudah, serta dalammasa penjajahan, para pemuda nusantara mampu mengatasi ego...

Kita Panggil Dia Kartini

Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar daripada menolong orang lain. Dan siapa...