Binaiya (Bagian 1: Perjalanan Panjang)

Related Articles

Pagi mulai menjelang. Langit terlihat memerah di angkasa timur. Saya yang ‘tertidur ayam’ di kursi dekat jendela, perlahan mulai menggeliatkan badan. Pesawat yang saya tumpangi, sebentar lagi akan mendarat di Ambon. Rasanya, ingin sekali segera tiba di sana.

Pagi itu, ketika pesawat yang saya tumpangi mulai terbang rendah menuju Ambon.

Perjalanan Panjang dari Denpasar

Dari Denpasar, kota tempat saya tinggal, perjalanan ke Ambon memerlukan waktu tak sedikit. Dengan pesawat, perlu setidaknya delapan belas jam hingga saya bisa menjejakkan kaki di ibukota Maluku. Kenapa lama?

Dengan pesawat komersial kelas ekonomi, saya harus melalui tiga kali transit. Pertama ke Surabaya. Di sana transit sekitar satu setengah jam. Lalu ke Makassar dengan waktu transit yang lebih lama: tujuh jam lebih. Setelah itu baru ke Ambon.

Aneh sekali. Melihat berbagai jadwal penerbangan di berbagai situs maskapai dan aplikasi perjalanan, tak ada satu pun penerbangan langsung dari Denpasar ke Ambon. Semua harus transit. Entah harus transit ke Surabaya atau Jakarta dulu. Dan setidaknya pasti dengan satu kali transit di Makassar.

Berbeda sekali dengan beberapa rekan perjalanan asal Jakarta, yang saya temui nantinya. Mereka hanya sekali terbang. Langsung dari Jakarta ke Ambon. Itu hanya butuh tiga setengah jam. Berangkat siang, sore sudah tiba. Atau berangkat dini hari, bisa tiba saat pagi buta.

Jika diambil sisi positifnya, perjalanan yang lama bagi saya rasanya tak masalah. Saya jadi bisa jalan-jalan melintasi tiga zona waktu Indonesia yang berbeda: barat, tengah, dan timur. Sisi negatifnya adalah kita menjadi kelelahan, apalagi jika perjalanan malam. Istirahat di pesawat yang bukan kelas bisnis tentu tak senyaman tidur di kasur.

Berangkat dari Bandara Ngurah Rai di Bali. Butuh delapan belas jam untuk sampai di Ambon.

Makassar, Gerbang Indonesia Timur

Selamat datang di Ujung Pandang, di Bandara Sultan Hasanuddin di Maros. Kurang lebih, seperti itu pengumuman yang saya dengar dari pramugari melalui pengeras suara. Tak ada kata ‘Makassar’ yang disebut. Pun dalam tiket, tujuan yang tertulis memang disebut UPG, singkatan dari Ujung Pandang.

Di Bandara Sultan Hasanuddin.

Dulu, pada masa Presiden Soeharto, nama Makassar diubah menjadi Ujung Pandang. Lalu pada zaman reformasi saat masa Presiden Habibie, kembali lagi dinamai Makassar. Mirip seperti Papua yang pernah diubah namanya menjadi Irian Jaya.

Saya menduga bahwa kode bandara, yang berlaku internasional ini, terdaftar saat kota terbesar di Sulawesi bernama Ujung Pandang. Jadi ketika kembali bernama Makassar, perubahan kode bandara lebih sulit dilakukan. Jadi tetaplah ia dengan kode UPG. Sementara Maros adalah nama kabupaten, yang secara administratif adalah lokasi dari bandara ini.

Saya tiba di Bandara Hasannudin dalam kondisi yang cukup lelah. Gerah. Dan juga lapar. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Penerbangan saya berikutnya ke Ambon adalah pukul empat pagi. Jadi saya memiliki waktu yang banyak. Tujuan pertama saya: mencari makan.

Gerai yang menggoda saya adalah gerai coto makassar. Ada beberapa pengunjung yag makan di sana. Sepertinya oke untuk dicoba, menyantap makanan khas daerah ini. Walaupun harganya tentu dua atau tiga kali lipat lebih mahal dari harga di warung-warung makan pada umumnya. Maklum, ini di dalam bandara. Saya tak ada pilihan lain.

Makan coto makassar di Makassar. Eh, di Maros.

Sebelumnya, saya telah tahu akan transit lama di Makassar. Jadi peralatan mandi sudah saya kemas di daypack kecil yang saya bawa ke kabin, bukan ke dalam ransel besar yang masuk ke bagasi. Maka jadilah selesai makan malam, saya mandi di bandara.

Di Bandara Sultan Hasanuddin, ada fasilitas shower room. Sesuatu yang jarang saya temukan di bandara-bandara lain. Ini rasanya karena banyak penumpang yang transit dalam waktu lama di sini. Sehingga pengelola bandara menyediakan fasilitas untuk mandi. Bahkan ada air panasnya, yang sayang sekali, tak berfungsi saat saya mandi. Tapi it’s ok, saya gerah dan tak butuh air panas.

Lihat! Itu ada ruang mandi. Shower room.
Ini penampakan shower room di bandara.

Bahkan fasilitas untuk menunggu penerbangan dibuat lebih nyaman. Kursi-kursi yang ada sebagian besar adalah sofa-sofa yang empuk. Jadi kita bisa istirahat dengan nyaman di sana. Seperti yang saya lihat ketika saya mencari-cari tempat untuk merebahkan badan. Atau kalau mau, ada juga beberapa hotel di dalam bandara yang bisa kita sewa untuk bermalam dan tak perlu takut ketinggalan pesawat.

Santai rebahan di ruang tunggu keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin.
Suasana malam di ruang tunggu Bandara Sultan Hasanuddin.
Banyak yang tidur dan beristirahat di sofa-sofa yang ada.

Satu yang pasti di Bandara Hasanuddin adalah para penumpangnya yang transit menunggu pagi. Mereka sebagian besar adalah penumpang tujuan kota-kota di Indonesia bagian timur. Karena saat penerbangan pertama hari berikutnya dibuka, panggilan dari pengeras suara yang terdengar adalah penerbangan ke Marauke, Jayapura, Biak, Monokwari, Sorong, Ternate, juga Ambon. Maka tak salah bandara ini sering disebut sebagai pintu gerbang Indonesia timur.

Bertemu Rekan Pendaki dari Malaysia

Lewat tengah malam setelah sempat tidur kurang lebih selama satu jam, saya terbangun. Hal yang saya lakukan kemudian adalah mengecek telepon. Hal yang jelek sebenarnya, karena seharusnya saya melanjutkan tidur saja. Supaya bisa lebih banyak istirahat. Jadinya saya pun terjaga lebih lama. Dan yang lebih buruk, saya merasa sedikit tidak enak badan.

Di grup percakapan Whats App, saya membaca sebuah pesan. Sebuah nomor yang tak saya ketahui benar siapa pemiliknya, mengirimkan sebuah foto. Itu gambarnya yang sedang istirahat. Tampak sebagian kakinya dan latar tulisan Sultan Hasanuddin Airport. Wah! Berarti saya ada di dekat mereka.

Foto dari Kak Ad di depan tulisan bandara.

Tujuan saya ke Ambon adalah untuk mendaki gunung. Grup percakapan tadi adalah grup para pendaki di mana saya tergabung di dalamnya. Sebagian besar anggotanya tak saling kenal satu sama lain sebelumnya. Jadi, daripada saya sendirian, saya memutuskan pindah ke tempat mereka. Sedikit lebih jauh dari  pintu keberangkatan pesawat yang akan saya tumpangi. Tapi itu tak masalah.

“Hai! Kalian yang dari Malaysia, ya?” begitu saya langsung menghampiri setelah memastikan itu adalah si pengirim foto di grup. Bisa saya pastikan karena sepatunya pada foto menjadi penanda. 

Dan itu adalah Adrena Sicilza. Panggilannya Ad. Nantinya lebih sering saya panggil dengan Kak Ad. Perempuan dengan banyak tindik di wajahnya itu menyambut uluran tangan saya dengan ramah. Dalam hati saya, gaya Kak Ad ini ‘punk banget’. Pendaki lagi. Sedikit terlihat macho. Gahar!

Ad

Tak jauh darinya, ada Duwi Purniawati. Saya memanggilnya Kak Dwi. Sebenarnya ia warga negara Indonesia. Punya KTP. Hanya saja sudah lama di Malaysia. Juga sudah menikah dengan seorang yang berkewarganegaraan sana. Sesekali, ia lah yang menjembatani percakapan kami jika ada kosa kata yang rasanya kurang nyambung di telinga saya.

Lalu ada Asyraf Azman. Seorang pemuda kekar berotot. Penggemar ‘bina badan’, bahasa Melayu dari bina raga, seperti tulisan yang nanti saya lihat di kaosnya. Ia sedang tidur-tiduran di kursi panjang. Menyambut uluran tangan saya. Kami memperkenalkan diri masing-masing.

Asyraf

Dan yang keempat adalah Mazlan. Ia suami dari Kak Dwi. Tak kelihatan tapi terdengar. Tak sempat berkenalan dengan saya. Ia tidur mendengkur di balik sebuah dinding papan reklame. Mengorok dan suaranya kencang sekali. Hahaha.

Dwi dan Mazlan

Saya kemudian lebih banyak mengobrol dengan Kak Dwi. Juga dengan Kak Ad. Sedangkan Asyraf memilih melanjutkan tidurnya. Dan Mazlan tak bangun-bangun juga, masih dengan dengkurannya yang keras. 

“Kenapa dari Malaysia mendaki gunung ke Indonesia?” adalah satu topik pembuka yang saya tanyakan. Itu karena tak ada gunung berapi di Malaysia. Semuanya gunung hutan. Mereka bosan. Dan di Indonesia, menyediakan banyak sekali pilihan: gunung berapi, gunung hutan, gunung es, bahkan gunung di bawah laut. Salah satunya tentu saja Binaiya, gunung yang akan kami daki di Maluku.

Sebagai orang Indonesia, saya sebenarnya cukup tertarik untuk mendaki ke Kinabalu. Itu adalah nama gunung tertinggi di Malaysia. Lokasinya di Sabah, di Pulau Kalimantan. Yang saya dengar, manajemen pendakian di sana sangat baik. Bahkan sering dibilang ke sana itu bukan berpetualang. Tapi hanya jalan-jalan dan menginap di ‘hotel’. Karena di selter-selter jalur pendakiannya, fasilitasnya memang sudah seperti hotel.

Masuk Angin

Kak Dwi bilang bahwa ada saudaranya di Makassar. Jadi ketika ia mengirimkan kabar ke saudaranya itu, mengatakan ia transit di Bandara Hasanuddin, ia dicari ke bandara. Jadilah kemudian ia pergi keluar. Ditemani Mazlan yang dibangunkan.

Lalu saya memutuskan untuk tidur saja. Merebahkan badan di atas papan yang menjadi lantai sebuah panggung kecil. Waktu satu jam atau dua jam ke depan tentu harus saya maksimalkan untuk bisa beristirahat.

Saat rebahan, saya makin merasa tak enak badan. Sepertinya masuk angin. Tenggorokan saya terasa ada radang. Mungkin sariawan juga. Saya mulai batuk sesekali. Gawat. Belum sampai di Ambon dan belum juga mendaki, masa saya harus sakit? Saya sedikit khawatir. 

Saya berusaha untuk memejamkan mata. Sialnya, saya tak bisa terlelap. Sampai kemudian alarm di telepon genggam berbunyi. Mengingatkan bahwa sebentar lagi pukul empat pagi. Saya harus segera ke pintu keberangkatan. Waktu boarding sudah dimulai. 

Hanya ada Kak Ad di kursi. Kak Dwi dan Mazlan sepertinya belum kembali dari pertemuan dengan saudara mereka. Asyraf entah ke mana. Saya pun kemudian hanya berpamitan kepada Kak Ad. Ya, kami harus berpisah di sini. Untuk nanti berjumpa lagi di Ambon. Pesawat kami kan berbeda.

Maka kemudian, pesawat yang saya tumpangi pun terbang meninggalkan Makassar. Langit masih gelap. Saya melihat jam. Saya kalkulasi, tepat menjelang jam enam saat matahari terbit, sepertinya saya sudah akan terbang di atas Maluku. Bersiap mendarat di Ambon. []

Oleh I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Ekspedisi Trulek Jawa 2005

{nl}    {nl}    Anak Burung - BKSDA JATIM II - MAPENSA UNEJ - PEKSIA{nl}HIMBIO UNAIR - Sahabat Burung Indonesia. Baca : Catatan Perjalanan Tim Ekspedisi

Pendidikan Dasar Astacala 20

Pendidikan Dasar Astacala (PDA) 20 yang merupakan tahapan awal yang harus dilalui seorang calon anggota Astacala telah selesai dilaksanakan dan ditutup pada tanggal 15...

HJC Princen, Haji Belanda Pejuang HAM

Hidup penuh pilihan. Poncke, sapaan Princen, seorang serdadi kerajaan Belanda memilih bergabung dengan RI. Bersama Divisi Siliwangi pada 1948 long march ke Jawa Barat....