Tambora (Bagian 1: Sejenak di Bima)

Related Articles

“Nanti Gunung Tambora kelihatan”, ucap seorang lelaki paruh baya yang duduk di samping saya. Kami ada di dalam pesawat tujuan Bima di Sumbawa. Sedang bersiap lepas landas dari bandara di Lombok, tempat saya transit beberapa puluh menit setelah terbang dari Bali.

Dari Jendela Pesawat

Saya memang duduk di dekat jendela. Di deretan kursi sebelah kiri. Lelaki itu tahu, saya akan mendaki Gunung Tambora. Sebabnya karena obrolan basa-basi kami. Ia menanyakan, ke mana tujuan saya di Sumbawa.

Dan benar saja. Tiga puluh menit semenjak lepas landas, pesawat yang saya tumpangi terbang di atas Teluk Saleh, teluk besar di bagian tengah Pulau Sumbawa. Gunung tertinggi di pulau itu pun benar-benar kelihatan jelas. 

Awan tipis berarak di sekitar puncaknya. Kalderanya yang besarseperti bisa saya jangkau dengan tangan. Karena rasanya begitu dekat. Lereng-lereng di bagian atas gersang dan kering. Tapi lereng-lereng bagian bawah menghijau seperti permadani, hutan-hutannya tampak cukup lebat.

Tak lama kemudian, ada pengumuman dari pilot. Pesawat akan segera mendarat. Tapi aneh. Pesawat yang sudah siap mendarat kemudian terbang lagi. Katanya angin kencang. Menyebabkan pesawat harus berputar. Harus mengambil ancang-ancang ulang untuk mendarat dengan lebih baik.

Ini membuat saya bisa melihat pemandangan dari atas lagi. Menyaksikan sebagian Sumbawa dari jendela pesawat. Tambora ada jauh di barat laut. Beberapa pegunungan yang lebih kecil juga ada di sekitarnya. Tampak pula bukit-bukit gersang dengan ladang-ladang yang ditumbuhi jagung. Di dekat bandara, saya juga melihat kolam-kolam tambak garam.

Gunung Tambora dililhat dari jendela pesawat yang sedang terbang di atas Teluk Saleh.
Kolam-kolam tambak garam di ujung Teluk Bima.

Tiba di Bima

Akhirnya pesawat mendarat di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin. Nama bandara ini berasal dari nama sultan terakhir Kesultanan Bima. Sultan yang nasionalis. Karena ia pro Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Ia menyatakan kerajaannya menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya tahu tentangnya setelah nanti berkunjung ke museum di pusat kota.

Ketika mendarat, hanya ada pesawat yang saya tumpangi di bandara ini. Merupakan pesawat dari satu-satunya maskapai yang melayani penerbangan ke Bima. Tak ada pilihan maskapai lain ketika saya memesan tiket pesawat beberapa minggu sebelumnya.

Bandara Sultan Muhammad Salahuddin.

“Gejor, ya?” sapa seorang lelaki, ketika saya keluar bandara. Kami berjabat tangan. Namanya Mansur. Saya panggil dengan panggilan Pak Man. Ia adalah sopir yang bertugas menjemput saya. Ia juga yang akan mengantarkan saya ke kaki Gunung Tambora nanti sore, bersama beberapa pendaki lain yang belum datang.

Hari masih siang. Waktu tepat tengah hari. Saya mengajak Pak Man mencari makan siang. Saya memintanya mencari warung makan. Yang enak tentunya. Juga yang tempatnya oke. Kalau bisa, makanan khas Bima. Ia pun bersemangat. Kami sama-sama belum makan siang dan sudah lapar.

Kota Tepian Air

Kota Bima adalah kota terbesar di Pulau Sumbawa. Berjuluk kota tepian air. Disebabkan karena kota ini berlokasi di tepi laut. Tepatnya di sebelah timur sebuah teluk yang bernama sama seperti kotanya: Teluk Bima.

Pak Man mengajak saya ke tepi pantai Teluk Bima. Tepatnya ke kawasan Taman Panda. Di sana ada banyak warung makan tepi pantai. Menunya berbagai ikan bakar. Juga menyediakan buah kelapa muda. Cuaca panas seperti ini, paduan makanan dan minuman itu terdengar sangat menggoda.

Warung-warung di kawasan taman Panda ini berjajar di sebelah timur jalan utama. Warungnya bukan berkelas restoran mewah. Semuanya adalah warung makan biasa. Dengan meja pendek tanpa tempat duduk. Alias lesehan. 

Pantai Teluk Bima ada di seberang warung, tepatnya di sebelah barat jalan. Di tepi pantai, setiap warung menyediakan tempat untuk pengunjung. Berupa papan-papan membentang. Sebagai tempat untuk duduk menikmati makanan. Sambil melihat matahari terbenam di sore hari.

Jalan di tepi Teluk Bima.
Suasana tepi pantai di Taman Panda. Ada tempat lesehan warung-warung makan.
Masjid terapung di Pantai Amahami Bima.

Warung Ibu Yuli

Pak Man mengajak saya ke Warung Ibu Yuli. Menurutnya, masakan di warung itu enak. Calon presiden Anies Baswedan pernah makan di sana. Agus Harimurti Yudhoyono, yang gagal menjadi calon wakil presiden, penah makan di sana. Bahkan, Joko Widodo, presiden dan bapak salah seorang calon wakil presiden, juga pernah makan di sana. Lho?

“Wah, kok banyak tokoh nasional singgah ke sana?” tanya saya ingin tahu. Apakah ada cawe-cawe di warung tersebut? Usut punya usut, ternyata Ibu Yuli adalah adik kandung dari Hakim Mahkamah Agung sekarang yang juga ipar Presiden Joko Widodo: Anwar Usman. Ia memang orang Bima. Jadi ketika ada tokoh nasional berkunjung ke Bima, warung Ibu Yuli ini direkomendasikan untuk disinggahi. Itu termasuk nepotisme dalam bisnis kah?

Warung Ibu Yuli di Pantai Taman Panda.
Foto Anwar Usman yang terpasang di dinding warung.
Makan siang dulu, Gesss!

Kata Pak Man, ikan yang menjadi menu makan siang kami adalah palumara. Dengan sambal doco. Itu makanan khas Bima, katanya. Heh? Apa bedanya dengan ikan bakar daerah lain? Saya jadi garuk-garuk kepala bingung, memastikan apakah benar itu makanan khas Bima.

Saya cari tahu di internet, palumara adalah masakan berkuah. Tapi ini kok dibakar? Tapi ya sudah, saya terima saja makanan yang disajikan. Toh ikan bakar itu terlihat segar dan menggugah selera. Lengkap pula dengan lima jenis sambal. Dan rasanya: mantap!

Dara Taraha

Usai makan siang, saya mengajak Pak Man ke bukit belakang kota. Dari peta digital, bukit itu bernama Gunung Raja Dara. Di sana ada taman makam keluarga Kesultanan Bima. Namanya Dara Taraha.

Saat saya tiba di sana, kondisinya sepi. Sebuah warung kecil ada di pojokan tanpa penunggu. Saya ingin membeli minum. Tapi karena tak ada orang, niat itu saya urungkan. Di depan pintu masuk pemakaman, ada beberapa tukang yang sedang bekerja merenovasi pagar.

Masjid Agung Kota Bima Al-Muwahiddin, yang kubahnya kuning keemasan tapi belum selesai dibangun, tampak gagah di balik pepohonan. Teluk Bima dengan Pulau Kambing di tengahnya, juga terlihat jelas.

Saya pun masuk ke dalam komplek makam tersebut. Ada beberapa makam lama yang bentuknya biasa saja, tersebar di tanah datar. Ada juga beberapa  makam dengan bangunan lebih bagus sisi yang lebih strategis dan teduh.

Saya bertemu dengan Pak Samsudin. Ia adalah penjaga makam yang sedang bersih-bersih. Logat bicaranya mirip logat Bali. Beberapa kali mengatakan “nggih”. Ternyata ia lama di Lombok. Bekerja sebagai pegawai di Kemenpora. Sekarang sudah pensiun. Kembali ke kampung halaman dan mengabdi. Menjadi penjaga makam keluarga sultan.

Pak Samsudin. Penjaga makam keluarga sultan di Dana Taraha.
Masjid Agung Kota Bima Al-Muwahiddin.
Kota Bima dilihat dari Dana Taraha. Terlihat Pulau Kambing dan Perairan Teluk Bima.

Bertemu Bupati Bima

Baru saja saya pamit pada Pak Samsudin, beberapa mobil datang. Kata Pak Man, itu adalah rombongan Bupati Bima: Indah Dhamayanti. Ia anggota keluarga sultan. Mau berziarah ke makam mendiang mertua dan mendiang suaminya.

Mumpung ada bupati, Pak Man menyarankan saya untuk berfoto dengan sang pemimpin Kabupaten Bima. Saya tak tahu siapa bupati itu. Tapi dipikir-pikir, ide tersebut oke juga. Kapan lagi berkunjung ke suatu daerah dan bisa bertemu kepala daerahnya? Ajudan dan pengawal yang bertugas mengizinkan. Kamera pun beraksi. Cekrek! Jadilah saya punya foto bersama sang bupati.

Saya bersama Ibu Bupati Bima.

Museum Asi Mbojo

Jika berkunjung ke suatu kota, tak lengkap apabila tak tahu sejarahnya. Dan untuk mengetahui sejarah itu, datang ke museum adalah salah satu caranya.

Maka dari itu, tujuan saya selanjutnya adalah ke Museum Asi Mbojo. Museum ini adalah bekas istana Kesultanan Bima. Letaknya tak jauh dari masjid agung kota, yang tadi saya lihat dari Dana Taraha.

Istana Kesultanan Bima dibangun pada tahun 1927 – 1930. Oleh seorang arsitek dari Ambon. Ia datang ke Bima atas undangan pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Bangunannya berlantai dua. Tampilannya cukup eksotik bergaya Eropa. Karena bangunan lama, saat ini ia tampak tua dan rapuh.

Dulu, selain sebagai pusat pemerintahan, istana kesultanan ini merupakan lambang identitas bangsa. Di istana inilah, bendera merah putih pertama kali berkibar di Bima. Tiangnya, yang berupa tiang perahu, masih ada di halaman museum sampai saat ini.

Ditemani seorang petugas, saya berjalan-jalan ke dalam. Ada kamar-kamar sultan dan anak-anaknya. Ada kamar Bung Karno, presiden pertama Indonesia, yang pernah dua kali berkunjung ke Bima. Sang proklamator bermalam di kamar tersebut. Ada juga foto-foto Sultan Bima dari masa ke masa.

Di bagian lain, ada foto-foto dan poster-poster tentang Gunung Tambora. Lengkap dengan sejarah letusannya yang mengguncang dunia. Juga kisah tentang Kesultanan Bima dan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Sebagian besar informasi tentang gunung ini, saya sudah baca sebelumnya.

Ada juga koleksi pusaka dan senjata. Pusaka dan senjata itu terbuat dari emas. Jumlahnya banyak. Pasti mahal dan sangat berharga. Karena itulah, benda-benda tersebut ditempatkan di dalam lemari yang dilindungi terali besi.

Museum Asi Mbojo.
Prasasti Maklumat Kesultanan Bima.
Lukisan tiga perempuan Bima yang memakai rimpu atau jilbab tradisional.
Kamar Bung Karno.
Pusaka yang disimpan di lemari, dalam terali besi.
Monumen Kasi Pahu, tiang kapal angkatan laut Kesultanan Bima.

Kenapa Bernama Bima?

Dari museum ini, saya jadi bertanya-tanya. Kenapa kesultanan dan kota ini dinamai Bima? Kenapa pula orang-orangnya disebut sebagai orang Bima? Kenapa bukan Yudistira atau Arjuna? Bukan Nakula maupun Sahadewa?

Sebuah papan silsilah, yang terdapat di salah satu ruangan, menerangkan asal muasal orang Bima. Diterangkan bahwa nama Bima berhubungan dengan Pandawa, tokoh pewayangan dalam cerita Mahabharata.

Seorang petugas museum menunjukkan silsilah keluarga Kesultanan Bima.

Tapi saya kurang yakin dengan silsilah tersebut. Bagaimana ceritanya, Bima di India bisa sampai ke Sumbawa? Tidakkah itu karena namanya saja yang digunakan? Sepertinya kita sering mengaburkan fakta sejarah dengan legenda. Lagipula, Bima dalam Mahabharata adalah tokoh dari sebuah epos atau wira carita. Karangan seorang resi pada masa lampau, yang fiksi dan non fiksinya abu-abu.

Kembali lagi pada pertanyaan, kenapa Bima? Sebuah kitab yang disebut Kitab Bo mengisahkan legenda itu. Namanya saja kegenda, kita tak bisa memastikan kesahihannya secara tersurat, walaupun mungkin ada maksud yang tersirat. Di sana diceritakan tentang Pangeran Bima dari Majapahit di Jawa, bukan dari Hastina Pura di India.

Kisah singkatnya adalah tentang Pangeran Bima yang datang ke Sumbawa. Ia berlabuh pertama kali di sebuah pulau kecil yang bernama Satonda. Menikahi seorang putri. Kemudian pemimpin-pemimpin lokal di Sumbawa mengangkat Bima menjadi raja. 

Karena harus kembali ke Jawa, maka permintaan menjadi raja itu tak disanggupi. Anaknya lah yang menjadi raja. Yang kemudian menurunkan raja-raja penerusnya. Karena itulah, wilayah dan orang-orangnya ini disebut dengan Bima.

Sementara versi lain menyebutkan hal berbeda. Bahwa Bima memang benar diambil dari nama tokoh wayang. Tapi nama itu lebih dititikberatkan pada karakter tokoh. Yang identik sebagai seorang yang besar, kuat, kasar, menakutkan, tegas, tapi lemah lembut. Dan itu konon mewakili tipikal orang-orang di Bima.

Orang-orang kuat dan berani yang mendiami daerah Bima, sering menyebut dirinya sebagai Dou Mbojo atau orang Mbojo. Itulah yang diartikan sebagai Bima. Sebuah nama yang melekat dengan kebanggaan dan jati diri.

Bertemu Alazier dan Siska

Tak terasa, hari pun menjelang sore. Pak Man harus segera ke bandara untuk menjemput dua rekan yang akan mendaki bersama saya ke Gunung Tambora. Mereka yang akan dijemput sore ini adalah Alazier dan Siska. Kami tak saling kenal sebelumnya. Hanya dipertemukan oleh takdir dari kesamaan hobi mendaki gunung.

Alazier adalah seorang pemuda dari Aceh. Ia seorang tenaga medis, pegawai Kementerian Kesehatan. Sedang bertugas di Sumbawa. Sedangkan Siska adalah seorang ibu satu anak dari Jakarta. Ia tenaga ahli bagian pemasaran di sebuah perusahaan teknologi. Pesawat yang ditumpangi Siska, akan mendarat di Bima pada sore hari ini.

Sebelum ke bandara, saya mengajak Pak Man ke kawasan Taman Panda lagi. Ke Warung Ibu Yuli. Untuk minum es kelapa muda. Setelah jalan-jalan ke Dana Taraha dan ke Museum Asi Mbojo, kami haus. Segar sekali rasanya, tenggorokan yang kering disiram air kelapa, sebelum melanjutkan perjalanan.

Di depan bandara, saya turun di sebuah toko kelontong modern. Saya mau melengkapi perbekalan. Sementara Pak Man lanjut ke dalam bandara, untuk menjemput Siska. Dari dalam toko, saya melihat seorang pemuda dengan carier besar di punggungnya. Dan benar sesuai dugaan, ia adalah Alazier.

Kami pun berkenalan. Saling bercerita. Sambil menunggu Pak Man kembali datang menjemput kami. Dari perkenalan ini, saya sedikit tahu tentang Alazier. Ia ternyata sudah tinggal di Sumbawa lebih dari satu tahun. Tinggal di desa-desa yang jauh di luar kota. Untuk mendukung program kerja Kementerian Kesehatan.

Alazier.

Tak lama berselang, Pak Man pun datang. Ia bersama Siska yang sudah duduk di dalam mobil. Raut wajahnya sedikit panik. Ada kabar buruk. Tas, yang berisi sebagian perlengkapan mendakinya, tertinggal di Bandara Lombok. Bukan kesalahannya. Tetapi kesalahan maskapai. Petugasnya ceroboh, tidak membawa bagasi penumpang yang transit di Lombok.

Setelah melakukan kordinasi, Siska memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sesuai jadwal yang telah disepakati. Tentu tanpa barang bawaannya yang tertinggal itu. Besok pagi, barang bawaan itu akan dikirimkan ke Bima. Begitu penjelasan dari pihak maskapai. Padahal besok pagi kami sudah harus memulai pendakian. 

Siska menyebutkan barang-barangnya yang tertinggal. Antara lain: carier, kantong tidur, pakaian ganti, senter, dan beberapa barang lain yang tak ia ingat. Barang-barang itu kemungkinan besar bisa dicarikan gantinya. Akan diusahakan oleh pemandu pendakian kami di Dusun Pancasila, tempat kami akan memulai perjalanan mendaki esok hari.

Maka, jadilah sore itu kami berangkat. Menuju Dusun Pancasila. Jaraknya jauh. Kurang lebih, membutuhkan waktu enam jam untuk sampai ke sana dari Kota Bima. Sekarang pukul lima sore. Berarti tengah malam nanti kami akan tiba di tujuan.

Seven Summits Indonesia

Dari obrolan selama perjalanan, saya mengetahui bahwa Siska adalah teman sependakian Abe. Di mana Abe ini adalah kenalan saya, sewaktu mendaki Gunung Agung di Bali beberapa waktu lalu. Obrolan saya dengan Siska pun menjadi lebih tersambung.

Siska dan Abe adalah dua perempuan tangguh. Mereka memiliki ambisi sama. Mau mewujudkan mimpi menyelesaikan pendakian seven summits Indonesia. Istilah ini merujuk pada gunung tertinggi di tujuh pulau atau kepulauan di Indonesia. Ketujuh gunung tersebut adalah: Kerinci di Sumatera, Semeru di Jawa, Rinjani di Nusa Tenggara, Bukit Raya di Kalimantan, Latimojong di Sulawesi, Binaia di Maluku, dan Puncak Jaya di Papua.

Keduanya sudah menyelesaikan enam gunung. Tersisa satu saja yang belum didaki. Yaitu yang di Papua: Puncak Jaya. Gunung yang dikenal dengan Cartenz Pyramid itu adalah gunung dengan tingkat kesulitan paling tinggi di antara gunung lainnya. Juga paling mahal biayanya. Gunung itu menjadi gunung tertinggi di Indonesia. Bahkan menjadi bagian dari seven summits dunia.

Siska.

Mengetahui Siska sudah mendaki hampir semua dari ketujuh gunung tersebut, membuat saya termotivasi. Seru dan menantang. Semoga saya juga bisa mendaki semua gunung tersebut. Melihat sudut-sudut Indonesia dari titik-titik tertinggi.

Tentang Pak Man

Oh ya. Karena hampir seharian ini saya jalan-jalan di Kota Bima ditemani oleh Pak Man, saya jadi sedikit tahu tentangnya. Ia bercerita banyak mengenai keseharianny dan sekelumit kehidupan pribadinya.

Usia Pak Man saat ini empat puluh lima tahun. Sehari-hari bekerja sebagai sopir pariwisata. Ia banyak memiliki kenalan dari luar Sumbawa. Termasuk dengan pemandu gunung kami, yang berasal dari Garut di Jawa Barat. Ia bahkan beberapa kali melayani para pejabat atau tokoh nasional.

Pak Man.

Satu hal yang membuat saya terkejut. Ia memiliki tiga orang istri. Iya, tiga. Belum empat, imbuhnya sambil tertawa. Masing-masing istrinya tinggal di rumah yang berbeda. Tapi mereka tetap rukun. Pak Man bebas mau pulang ke rumah mana saja, karena banyak pilihan.

Mantap sekali Pak Man ini. Alazier dan Siska terperangah ketika mengetahui hal itu. Alazier yang masih bujang, sambil bercanda, bertanya. Apa rahasia Pak Man bisa memiliki tiga istri dan tetap rukun? Siapa tahu, ilmunya bisa diterapkan. Hahaha!

Perjalanan Menuju Dusun Pancasila

Ketika perjalanan sudah memasuki Kabupaten Dompu, sore pun menjelang malam. Matahari perlahan turun di balik bukit. Suasananya panas dan gersang. Terkesan suram. Kesuraman itu seperti beradu kekuatan dengan kesan keindahan pada langit senja di ufuk barat. 

Melihat pemandangan yang demikian, rasanya alam semesta menunjukkan harmoninya yang saling bertentangan: tak ada keindahan tanpa keburukan, tak ada bumi tanpa langit, tak ada malam tanpa siang. Dan kita dapat melihat dualitas ini di mana pun dalam berbagai bentuk. Mereka ada dan saling melengkapi satu sama lain.

Pemandangan dalam perjalanan di Dompu.

Jika kami berangkat dari Bima tak terlalu sore, kami bisa singgah untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di Doro Ncanga. Itu adalah padang sabana di Dompu. Dengan latar belakang Gunung Tambora. Jadi pemandangannya bisa lebih indah. Di sana juga ada banyak sapi dan kuda.

Karena kami melewatinya sudah malam, pemandangan itu tak kami dapatkan. Tapi beberapa kali kami berpapasan dengan sapi dan kuda yang menyeberang jalan. Ada juga domba dan kambing. Kata Pak Man, hewan-hewan itu adalah peliharaan warga. Yang memang banyak berkeliaran di padang rumput itu, menyeberang dari satu sisi ke sisi lain.

Para penyeberang jalan. Foto diambil saat perjalanan kembali ke Bima.

Jalanan di Dompu pada malam hari cukup sepi. Gelap sekali. Tak ada lampu merkuri penerang jalan. Cahaya lampu yang terang baru ada ketika kami melewati pemukiman penduduk. Perlahan, percakapan kami juga mulai sepi. Bahan obrolan seperti sudah enggan untuk diucapkan. Sepertinya kami semua sudah cukup lelah. Satu per satu kami terlelap. Kecuali Pak Man, yang tetap harus terjaga mengemudi.

Saya sebenarnya tak tidur. Hanya merebahkan badan di kursi. Larut dalam sunyinya perjalanan. Sekilas, saya bisa melihat lautan Teluk Saleh di sisi selatan. Pemandangan teluk terbesar di Sumbawa itu tampak timbul tenggelam di balik kontur perbukitan. 

Sedangkan di sisi utara, Gunung Tambora terlihat gagah. Ia samar-samar dalam gelap malam. Gunung itu seperti memanggil-manggil kami, untuk segera mendaki ke puncaknya. []

I Komang Gde Subagia | Sumbawa, September 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Selamat Datang Angkatan Baru

Langkah-langkah itu begitu berat, limbung dan kaku. Tatapan mereka begitu layu, seperti tak kuat menahan lelah. Rambut kusut dan baju yang penuh lumpur, seperti...

Pemecahan Rekor Selam Dunia

     Come and join in the international event Sail Bunaken 2009 for sharing new experience and exploring the marine beauty along with the marine...

Inovasi di Kala Pandemi

Oktober 2020 lalu, Astacala mengikuti kompetisi Sosiopreunership di bidang teknologi digital yang diadakan oleh PT.Telkom Indonesia dan Telkom University yang bernama Innovillage. Tapi tahukah...