Petualangan di Balik Gua Tersembunyi: Misi Eksplorasi Divisi Caving di Tasikmalaya

Related Articles

Saat tibanya para Anggota Muda ASTACALA Tahap 2 pada tahap berikutnya setelah menyelesaikan tahap NAVDAR-GH, seakan-akan halaman kosong sedang menantikan kisah-kisah baru untuk diisi. Di hadapan kami terbentang pintu-pintu yang membuka jalan ke berbagai divisi, menawarkan petualangan dan eksplorasi mendalam yang menjanjikan. Di tengah semangat yang membara, perhatian saya tertuju pada pintu yang membuka akses ke Divisi Caving. Pilihan ini mungkin sederhana, tetapi kuat; mengungkapkan wilayah yang belum terlalu banyak dijelajahi oleh rekan-rekan MAPALA lainnya. Hasrat saya untuk mengungkap setiap misteri di dalam lorong-lorong gua membakar semangat saya untuk memilih jalur yang masih penuh dengan keajaiban alam yang menakjubkan.

Izinkan saya memperkenalkan diri, Adrian Kuman Firmansah, dengan nomor anggota AM-024-KH. Dalam perjalanan Pendidikan Lanjut ini, saya akhirnya jatuh hati pada Divisi Caving. Sebagai anggota, kini tanggung jawab koordinasi di divisi ini menjadi milik saya. Perjalanan ini tak hanya tentang mengungkap rahasia gua-gua tersembunyi, tetapi juga tentang memimpin dan memastikan setiap kegiatan berjalan dengan lancar.

Namun, perjalanan ini bukanlah perjalanan sendirian. Teman-teman saya, Nizam dan Alia, juga telah memilih Divisi Caving. Bersama-sama, kami membentuk tim yang kuat, siap menghadapi segala tantangan di dalam dan di luar gua.

Persiapan untuk mengemban peran ini tidaklah mudah. Memahami materi-materi yang kompleks, melalui latihan yang intensif, serta menentukan lokasi yang strategis, semuanya merupakan bagian penting dari persiapan kami. Namun, kami tidak berjalan sendiri dalam perjalanan ini. Instruktur berpengalaman seperti Bang Dono, Kak Fio, Kak Fel, Bang Andre, Bang Husin, dan Bang Tablo menjadi panduan kami dalam menjalankan divisi ini.

Dengan dua kali latihan dalam seminggu, kami menghabiskan 6 hingga 9 jam di Sekretariat, tempat semangat belajar dan petualangan kami menyatu menjadi satu, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Namun, dalam setiap cerita petualangan, selalu ada sedikit rasa sedih yang melintas. Ketika liburan kuliah tiba, berita tak terduga datang bahwa Alia tak dapat bergabung karena urusan keluarga di kampung halamannya. Sehingga, Pendidikan Lanjut di Divisi Caving hanya bisa dijalani oleh saya dan Nizam.

Proses menemukan lokasi adalah sebuah petualangan yang tak terduga. Kami menggunakan Peta Kawasan Bentang Karst dan sumber daya daring untuk mencari wilayah yang berpotensi mengandung gua tersembunyi. Setelah menemukan beberapa lokasi yang menarik, kami memverifikasinya dengan bantuan rekan mapala sekitar. Divisi Caving awalnya merencanakan aktivitas di Kawasan Karst Malang Selatan, tetapi pertimbangan dana mendorong kami untuk mencari alternatif di Tasikmalaya. Informasi tentang gua di wilayah Tasikmalaya tersebut kami peroleh dari teman-teman di Mapala Parahita yang sering menjelajah di daerah tersebut. Titik koordinat gua berada di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya.

Tepat pada tanggal 26 Juli 2023, rencana operasional akan kami laksanakan. Kami berencana untuk berkegiatan selama 3 hari 2 malam di lapangan. Sebelum operasional dimulai, kami melakukan latihan di luar sekretariat, di Jembatan Cincin Unpad. Simulasi operasional selama 3 hari 2 malam di Gua Sanghyang Cipatat juga kami lakukan sebagai bagian dari persiapan untuk menghadapi agenda sesungguhnya. Saat simulasi, tim terdiri dari saya, Nizam, Kak Fio, Bang Husin, Kak Fel, dan Bang Minur.

Setelah simulasi selesai, kami mempersiapkan segala kebutuhan operasional, termasuk mengurus perizinan, memeriksa peralatan yang kurang, dan Tes alat sesuai SOP ASTACALA agar kami siap melakukan penelusuran gua. Kak Fio dan saya berangkat untuk mengurus perizinan. Meskipun lampu motor saya rusak, kami berhasil mengatasi hambatan itu dan tiba di Kantor Desa Parung tepat waktu.

Pukul 16.00 WIB, urusan perizinan selesai kami atasi. Setelah berkonsultasi, kami memutuskan untuk segera mengeksplorasi gua yang telah kami temukan berdasarkan koordinat dari aplikasi “Avenza Maps”. Kendaraan kami kami titipkan di saung milik Mang Cau(Warga lokal). Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di sekitar gua, pemandangan sawah yang luas dan aliran sungai yang mengalir menambah pesona petualangan kami.

Ketika kami tiba di mulut Gua Batu Numpang dan Gua Cigerewik, kami sadar bahwa kami telah mencapai area yang penuh potensi. Gua Batunumpang terlihat jelas sebagai gua vertikal, sementara Gua Cigerewik masih perlu kami telusuri lebih dalam karena aliran air yang deras.

Dengan matahari yang perlahan tenggelam, kami memutuskan untuk kembali ke Saung Mang Cau. Setelah menjelajah gua, kami berangkat menuju rumah Bang Tablo yang sebelumnya telah kita janjikan untuk mengunjunginya untuk bersilaturahmi. Perjalanan pulang terasa suram karena lampu motor padam dan penerangan jalan umum yang minim. Setibanya di rumah Bang Tablo, kami dijamu dengan semangkuk mie ayam yang lezat. Setelah menikmati makan malam, kami melanjutkan perjalanan menuju Pool Primajasa dan Transmart Tasikmalaya untuk mengumpulkan informasi mengenai transportasi umum dan harga. Setelah mengumpulkan data yang diperlukan, kami kembali ke Bandung dan tiba di sekretariat sekitar pukul setengah 12 malam. Setelah selesai mengurus izin operasional, Kepanitiaan Peminatan Angkatan Kelana Halimun mengadakan rapat untuk memutuskan keberangkatan kami. Singkatnya, tanggal operasional Divisi Caving kami mundur menjadi 29 Juli 2023, untuk mengatasi keterbatasan alat yang telah dipinjam oleh Divisi Rock Climbing pada tanggal 25-27 Juli 2023.

Namun, pada titik ini, masih ada materi yang perlu kami kuasai, yaitu teknik self rescue. Sehingga kami mengadakan latihan terakhir untuk menyelesaikan pemahaman tentang caving dan sekaligus melakukan tes alat. Tes alat melibatkan dua tahap, yaitu mengenakan peralatan SRT (Single Rope Technique) dengan mata tertutup selama maksimal 15 menit, dan melakukan SRT dengan mata tertutup dari ketinggian hingga ke bawah selama maksimal 5 menit.

Setelah latihan dan tes alat selesai, kami semua bekerja keras untuk melengkapi peralatan yang kurang dengan meminjam dari beberapa anggota MAPALA lainnya. Pada saat itu, yang masih kurang adalah dua set seat harness. Namun, akhirnya kami berhasil memperolehnya pada H-2 sebelum operasional.

H-2 sebelum operasional, kami fokus pada berbelanja logistik kering serta menyusun daftar peralatan yang diperlukan. Baru pada H-1, kami membeli logistik basah dan melakukan packing perlengkapan yang akan kami bawa. Setelah semua perlengkapan terkumpul dan dikemas, kami mengadakan sesi evaluasi dan briefing untuk agenda hari berikutnya, kemudian beristirahat di sekretariat.

Akhirnya, pada tanggal 29 Juli 2023, hari operasional yang kami tunggu-tunggu tiba. Kami bangun pada pukul 05.00 WIB, menunaikan sholat, pergi ke toilet, dan membeli sarapan. Setelah sarapan, kami mulai bersiap-siap untuk berangkat sambil tidak lupa berdoa dan mengambil foto bersama di depan sekretariat.

Pukul 06.00 WIB, kami memulai perjalanan longmarch menuju pintu tol Buah Batu dengan membawa beban yang cukup berat. Setiap anggota membawa carrier berukuran minimal 60 liter dan sebuah duffle yang kami bergantian membawanya. Bang Andre berangkat langsung menuju Tasikmalaya dengan motor untuk menunggu kami di sana.

Akhirnya, kami tiba di pinggir jalan tol setelah melewati jalur dekat Transmart Buah Batu. Kami menunggu bus Primajasa trayek Bekasi-Tasikmalaya yang tiba pukul 07.00 WIB. Karena kelelahan, saya mencoba tidur di dalam bus karena kurang tidur semalam akibat gigitan nyamuk di sekretariat. Perjalanan menuju Tasikmalaya memakan waktu 3 jam dan biaya Rp42.000 per orang karena kami masuk dari jalan tol. Namun, jika memasuki dari Cileunyi, biayanya hanya Rp35.000 per orang. Kami memberi tahu konduktor bahwa kami akan turun di Transmart Tasikmalaya.

Setelah tiba di lampu merah dekat Transmart Tasikmalaya, kami mencari transportasi yang akan membawa kami ke Karangnunggal. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya ada bus yang kami tumpangi. Saya, Kak Fio, dan Bang Icul naik ke dalam bus, sementara Nizam naik motor bersama Bang Tablo dan Bang Andre untuk mengurus perizinan di kantor desa karena ada perubahan tanggal operasional. Sayangnya, surat perizinan yang sudah disiapkan masih berada di dalam carrier yang dititipkan kepada Nizam yang naik bus bersama kami. Kami menuju desa Parung dengan perjalanan selama 1,5 jam dan biaya Rp20.000 per orang. Kak Fio turun lebih dulu di kantor desa, sedangkan saya dan Bang Icul turun di pinggir jalan yang mengarah ke Saung Mang Cau, sekitar 200 meter dari kantor desa.

Sesampainya di pinggir jalan, saya dan Bang Icul merenung bagaimana cara membawa carrier yang berat dan duffle yang besar menuju Saung Mang Cau. Tak lama kemudian, Bang Tablo dan Bang Andre tiba dengan motor. Akhirnya, kami sepakat bahwa saya dan Bang Tablo akan membawa carrier kami sendiri sementara Bang Andre akan membantu membawa carrier satu per satu dengan menggunakan motor. Kami menyadari bahwa jarak yang harus ditempuh dari pinggir jalan menuju Saung Mang Cau sejauh 1,2 km dengan kondisi cuaca panas yang membuat perjalanan terasa lebih melelahkan.

Setibanya di Saung Mang Cau, kami sempat beristirahat sejenak untuk mengambil nafas dan minum. Di dalam saung, kami bertemu dengan Mang Cau yang sedang duduk santai. Kami mengobrol sebentar sambil menunggu Kak Fio dan Nizam. Tak lama kemudian, mereka datang dengan membawa makan siang dari warung nasi padang.

Dari Saung Mang Cau, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari lokasi mulut gua Liang Boeh. Pada saat itu, Mang Cau yang menjadi pemandu kami mengatakan bahwa dia tahu jalur menuju gua yang kami tuju, meskipun dia tidak akan mengantarkan kami hingga ke mulut gua. Namun, saat kami tiba di area yang dimaksud, kami menyadari bahwa titik koordinat gua Liang Boeh berbeda dengan yang tertera di aplikasi “Avenza Maps”. Kami memutuskan untuk meninggalkan carrier kami sejenak dan mulai mencari jalur menuju gua. Pada saat itu yang berhasil mencapai titik gua liang boeh adalah kak fio sendirian, karena dia naik keatas sendirian. Meskipun kami telah memanggil “kuluk” (kode untuk berkumpul) dua kali sebelumnya, tetapi karena jarak yang jauh, panggilan kami kurang terdengar. Kami akhirnya harus menelepon Kak Fio untuk memastikan posisi Kak Fio yang sebenarnya sudah berada di mulut gua. Kak Fio memberitahu bahwa dia sudah sampai di atas dan akan mendekati titik gua Liang Boeh. Meskipun demikian, kami tetap menunggu di bawah sambil makan siang. Setelah makan siang saya, Nizam, dan Bang Andre memutuskan untuk melanjutkan menuju gua Liang Boeh dengan membawa carrier dan duffle kami. Sementara itu, Bang Icul dan Bang Tablo tetap di bawah untuk menunggu Kak Fio yang akan turun kembali.

Ketika kami mencapai mulut gua Liang Boeh, saya langsung menyadari bahwa diameter gua tersebut sangat kecil dan ruang untuk mendirikan perkemahan sangat terbatas. Dengan pertimbangan ini, saya dan Nizam memutuskan untuk melakukan penjelajahan lebih lanjut di Gua Bela, yang terletak tidak jauh dari Gua Liang Boeh. Setelah menempuh jalur yang agak menanjak, kami beristirahat sejenak di dekat Gua Bela. Kemudian, Bang Andre memberikan instruksi kepada saya dan Nizam untuk mengambil air dari sungai di dekat mulut Gua Cigerewik. Perjalanan kami mengambil air memakan waktu sekitar 15 menit. Setelah membawa air yang cukup, kami kembali ke Gua Bela.

Ketika kami tiba di Gua Bela, kami menemukan Kak Fio, Bang Icul, dan Bang Tablo sudah ada di sana. Mereka sedang sibuk membangun perkemahan. Tanpa ragu, saya dan Nizam bergabung membantu membangun perkemahan tersebut. Pada pukul 18.00 WIB, perkemahan telah selesai dibangun meskipun hari sudah mulai gelap. Segera setelah itu, saya mulai memeriksa perlengkapan untuk memastikan semuanya lengkap. Setelah pemeriksaan selesai dan tidak ada yang terlewat, kami memutuskan untuk makan malam.

Setelah makan malam, kami melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah kami lakukan pada tanggal 29 Juli 2023 dan melakukan briefing untuk agenda selanjutnya. Dari hasil briefing tersebut, kami sepakat untuk melanjutkan kegiatan rigging pada pukul 22.00 WIB. Ini memberi kami waktu istirahat selama dua jam dari setelah waktu eval dan briefing.

Ketika waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, kami sudah siap dengan peralatan rigging. Bang Icul dan Bang Tablo menjadi tim yang bertanggung jawab di basecamp, sementara yang melakukan penelusuran di dalam gua hanya kami berempat: saya, Nizam, Kak Fio, dan Bang Andre. Saya menjadi first man, sementara Nizam menjadi second man. Oleh karena itu, tanggung jawab menentukan lokasi anchor terletak pada saya. Di awal perjalanan, kami memasang string line dan pengaman di depan mulut Gua Bela. Namun, saat kami mulai menjelajahi bagian dalam gua, kami menyadari bahwa masih memungkinkan untuk turun dengan menggunakan webbing sebagai pegangan. Akhirnya, kami memutuskan untuk melepas string line.

Saya adalah orang yang pertama memasuki gua. Begitu saya masuk, saya disambut oleh ruang yang luas, dengan ujung ruangan terdapat pintu masuk vertikal. Kami memulai proses rigging di dalam ruangan tersebut, yang melibatkan pemasangan string line, pengaman, dan anchor. Kami menggunakan berbagai jenis anchor, seperti lubang tembus, batu tanduk, dan rekahan. Setelah proses rigging selesai, kami melanjutkan dengan pemetaan dari pintu masuk horizontal hingga ruangan tersebut. Setelah pemetaan ruangan selesai, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan penjelajahan ke bagian vertikal gua pada malam itu. Kondisi fisik kami yang sudah sangat lelah membuat kami memutuskan untuk kembali ke basecamp sekitar pukul 04.00 WIB subuh dan beristirahat hingga pukul 09.00 WIB.

Ketika pukul 09.00 WIB tiba, kami bangun dengan semangat dan memulai hari dengan sarapan yang mengisi tenaga kami. Pukul 10.00 WIB, kami bersiap-siap untuk melanjutkan penjelajahan gua. Saya menjadi orang pertama yang turun, sambil memasang deviasi untuk menghindari gesekan yang berlebihan. Bang Andre mengikuti sebagai orang kedua yang turun, sambil melakukan pengukuran ketinggian dan mengumpulkan data pemetaan yang diperlukan. Begitu kami berdua sampai di bawah, kami melihat sebuah kerangka yang mirip kadal besar, yang mungkin jatuh dan mati kelaparan di dalam gua.

Setelah itu, giliran Nizam dan Kak Fio turun. Setelah semua anggota tim sampai di dasar gua, kami melanjutkan proses pemetaan gua. Peran saya saat itu adalah sebagai shooter yang bertugas mengambil data pemetaan. Kami mencatat semua detil ruangan di dasar gua. Setelah selesai di dasar, kami memutuskan untuk menjelajahi lorong gua yang lebih dalam. Untuk mencapai lorong tersebut, kami harus memanjat tebing terlebih dahulu. Saya mencoba menjadi yang pertama naik, namun hard luck, saat saya sudah naik cukup tinggi, tiba-tiba pegangan batu yang saya genggam hancur dan bongkahan batu jatuh ke arah saya. Saya terjatuh dan akhirnya baju coverall saya robek akibat gesekan dengan tebing. Beruntungnya, helm yang saya kenakan cukup kuat untuk melindungi kepala saya, sehingga cedera hanya berupa sedikit pusing dan tidak lebih serius.

Karena lorong yang ingin kami eksplorasi ternyata cukup sulit untuk dijelajahi, kami memutuskan untuk kembali ke atas dan mencari gua horizontal yang dapat kami lakukan pemetaan. Pada saat itu, jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Setelah berhasil naik ke permukaan gua, kami segera cleaning peralatan rigging yang telah kami pasang sebelumnya dan melanjutkan perjalanan kembali ke basecamp untuk makan dulu.

Setelah menikmati makan malam, kami melanjutkan perjalanan menuju entrance gua liang boeh yang memiliki rongga masuk horizontal. Pada saat itu, hanya kami bertiga yang bersiap untuk melanjutkan eksplorasi: saya, Nizam, dan Kak Fio. Begitu kami memasuki dalam gua, kami disambut oleh sebuah ruang besar yang disebut chamber. Namun, pemetaan di lorong gua ini juga menghadirkan tantangan. Untuk mencapai lorong tersebut kami perlu memanjat, meskipun di gua ini sudah tersedia tali sebagai bantuan untuk memanjat. Meskipun ada tali, kami masih merasa kesulitan dalam memanjat karena permukaan tebing yang licin dan stamina saya yang mulai berkurang.

Saat kami tengah melakukan penelusuran di gua Bela, kebetulan Bang Icul tanpa sengaja menemukan pintu masuk gua horizontal yang tersembunyi di sekitar kawasan camp. Temuan ini mengundang kegembiraan di antara kami, dan dengan semangat penuh, kami memutuskan untuk menjelajahi gua tersebut. Begitu memasuki gua, kami dihadapkan pada pemandangan yang luar biasa indah; ornamen-ornamen gua yang masih hidup dan juga yang sudah mati memperkaya suasana di dalam sana. Pilar-pilar gua yang berukuran besar dan ada juga yang bentuknya menyerupai gigi-gigi tajam memberikan kesan yang mengagumkan. Tidak hanya itu, stalagtit yang tetap tumbuh dengan kokohnya juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pemandangan di gua tersebut.

Kemudian, pemetaan yang semula direncanakan kami ubah dengan menerapkan konsep Teknik Penelusuran Gua Horizontal (TPGH), sementara kami memulai eksplorasi menyeluruh ke seluruh lorong gua. Kami dengan seksama menelusuri setiap sudut dan celah, mendekati setiap ornamen dan formasi alami gua. Pengalaman ini menjadi sarana untuk lebih memahami keindahan serta kompleksitas gua bawah tanah. Melalui perjalanan eksplorasi ini, kami semakin terhubung dengan keajaiban alam dan keragaman yang ia tawarkan. Setelah menjalani eksplorasi yang begitu memikat, kami akhirnya Kembali ke basecamp sekitar pukul 9 malam. Setelah itu, kami melanjutkan dengan sesi evaluasi dan briefing untuk rencana agenda besok. Berikutnya, nizam dan saya mengambil inisiatif untuk melakukan pengecekan kembali terhadap seluruh peralatan caving kami. Sambil melakukannya, kami dengan cermat mempersiapkan alat-alat caving untuk dimasukkan ke dalam carrier, yang akan kami minta bang andre membawanya esok hari. Hal ini disebabkan oleh rencana pulang lebih awal yang akan dijalani oleh bang andre dan bang tablo, di mana mereka dijadwalkan untuk pulang pada pukul 6 pagi esok. Setelah tugas-tugas tersebut selesai, kami pun beristirahat yang layak hingga pukul 8 pagi, mempersiapkan diri untuk hari yang akan ating dengan semangat yang tinggi.

Begitu fajar menyingsing, kami bangun tepat pada pukul 8 pagi. Langkah pertama adalah mempersiapkan sarapan dan memasak makanan yang akan kami bawa, sembari melakukan packing perlengkapan. Hingga menjelang pukul 11 siang, kami sibuk dengan persiapan tersebut. Tapi sebelum bergegas kami foto-foto dulu di depan mulut gua bela.

Pukul 12 siang, kami bergerak menuju Gor Desa Parung dengan jalur belakang yang memungkinkan kami mencapai tujuan dengan lebih efisien. Perjalanan menuju Gor berlangsung hingga pukul 12 siang.

Setelah selesai di Gor, perjalanan kami dilanjutkan menuju Terminal Indihiang, dimana kami menghabiskan waktu hingga pukul 2 sore. Di tengah perjalanan, kami menjalani aktivitas ISHOMA (Istirahat, Sholat, Makan) dalam bis yang membawa kami menuju kota Bandung. Hingga akhirnya, jam menunjukkan pukul 6 sore saat kami tiba di Bandung.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju sekretariat. Kedatangan kami di sekretariat terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Setelah itu, waktu beranjak ke pukul 8 malam, di mana kami melaksanakan ISHOMA sambil juga list alat yang akan kami butuhkan.

Tak lama setelah itu, kami menggelar evaluasi serta briefing untuk merencanakan agenda kegiatan selanjutnya, yang berlangsung hingga pukul 9 malam. Dalam suasana malam yang semakin tenang, kami berkesempatan untuk membersihkan dan mencuci alat-alat yang telah kami gunakan dalam petualangan kami.

Inilah bagian dari petualangan saya, dimana setiap langkah dan aktivitas memiliki arti tersendiri dalam perjalanan kami. Dari persiapan pagi hingga evaluasi malam, setiap momen adalah bagian dari cerita kami yang tak terlupakan.

ASTACALA!!!


Tulisan Oleh: KUMAN | AM-024-KH

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Menhut Tegaskan Terus Berantas Pembalakan Hutan

Surabaya - Menteri Kehutanan MS Ka`ban menegaskan akan terus memberantas illegal logging atau pembalakan liar, dengan mengintensifkan kerjasama beserta aparat keamanan menyusul keberhasilannya dalam...

Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 2)

  Saya bersama Anatoli Marbun "Bolenk" bersepeda dari Kintamani ke Klungkung. Sebelumnya, kami telah melalui etape pertama dari lima etape yang saya susun. Menyusuri punggungan...

Let We See : Astacala Lintas Alam Video

Astacala Lintas Alam atau biasa disebut ALA, merupakan kegiatan rutin yang ditujukan bagi civitas akademika Telkom University. Selain memberikan hiburan, ALA menekankan pada pengabdian...