Petualangan ke Gunung Cibunar: Melewati Rintangan di Hutan Sumedang

Related Articles

Perjalanan menuju Gunung Cibunar di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, merupakan petualangan ketiga saya dengan ASTACALA setelah sebelumnya mengikuti Mountaineering Course dan PDA XXX. Cerita ini berawal dari pengalaman unik yang di luar kebiasaan seperti persiapan ataupun cerita capeknya menyusuri gunung.

Saya merupakan anggota kelompok satu yang terdiri dari sebelas orang, dengan rencana memulai perjalanan dari Desa Cibunar dan finish di Desa Cikujang dengan target hari yaitu tiga hari dua malam. Namun, perjalanan ini tidaklah mulus seperti yang direncanakan.

Pada hari pertama, di saat hari masih belum bersinar, saya dan kawan-kawan sudah bersiap dan menunggu transportasi pergi ke tempat start. Saat sampai ke tempat tujuan, dimulailah petualangan kelompok satu. Perjalanan menuju puncakan dengan melewati punggungan terasa begitu lama, kami terlalu banyak bersantai dalam perjalanan sehingga mengalami keterlambatan dari rencana perjalanan yang telah ditentukan.

Saya yang menjadi koordinator hari ini merasa kurang mampu dalam membawa perjalanan secara efektif karena sudah pukul sepuluh siang, sedangkan setengah perjalanan pun belum terlewati. Saya berpikir untuk sampai ke titik yang telah direncanakan ketimbang melihat waktu yang berlalu, sehingga melewatkan jam istirahat dan makan siang tanpa memikirkan sisa tenaga dan rasa lelah anggota lain. Karena hal itu, saya baru tersadar bahwa istirahat pada waktunya penting dalam perjalanan.

Saat waktu telah menunjukan pukul setengah empat sore, kami telah sampai pada titik kamp pertama. Cuaca telah menunjukan tanda-tanda akan turun hujan. Kami langsung bersiap membangun bivak alam sebagai tempat bermalam.

Pembuatan Bivak Alam

Bekerja sama dalam mengumpulkan resource dan membangun kamp, kami membagikan tugas masing masing kepada setiap anggota, ada yang bertugas sebagai pengumpul kayu, ada yang bertugas mengumpulkan tanaman untuk mengikat, dan ada yang bertugas mencari daun-daun yang digunakan sebagai atap. Pembuatan kamp selesai pada jam delapan malam, kita berkumpul untuk istirahat dan makan, setelah itu melakukan evaluasi harian dan pergi tidur pada malam pertama di hutan Cibunar.

Pagi hari pada hari kedua, kami bangun dengan kondisi aman. Bivak alam yang kami buat cukup aman dan nyaman, tidak ada air atau embun yang menerobos masuk ke dalam. Pukul lima pagi hari, kami sudah diinstruksikan untuk bersiap melakukan tidur kalong. Pemberian materi bagaimana cara melakukan tidur kalong dan syarat apa saja yang diperlukan agar kita bisa melakukan hal tersebut. Saya memanjat pohon cukup tinggi dan duduk di ketiak pohon dengan menggunakan ponco serta menjaga api pada lilin.

Kegiatan Tidur Kalong

Waktu berlalu dengan cepat, tiga puluh menit sudah berada di atas pohon, waktunya bersiap siap untuk melakukan perjalanan kembali menuju puncak Gunung CIbunar. Sebelum melakukan perjalanan kami melakukan navigasi terlebih dahulu untuk memastikan di mana kita berada, setelah itu kami melakukan perjalanan. Saya diposisikan sebagai pembuka jalur, berada paling depan dan menggunakan parang untuk menebas semak-semak dan tumbuhan yang menghalangi jalan.

Dalam perjalanan, banyak semak berduri yang menghalangi jalan membuat tangan dan bagian tubuh lainnya tersayat oleh duri semak tersebut, terasa perih pada bagian yang terluka ditambah terkena air keringat membuatnya semakin sakit. Namun, dengan semangat saya membuka jalan dan melewatinya seakan tidak ada yang terluka.

Saat tiba di puncak Cibunar kami beristirahat, memasak, dan makan siang. Setelah itu ada materi tentang zoologi yaitu mempraktikkan pembuatan trap jerat, semua berjalan lancar dan setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan. Perjalanan dimulai kembali dengan menuruni punggungan puncak Cibunar, jalan lumayan curam dan licin. Saya masih sebagai pembuka jalur, berjalan turun menuju titik pengambilan air.

Di pertengahan jalan, terdapat jurang yang lumayan dalam yang dihalangi oleh semak berduri dan kemungkinan bahwa jalan sudah melenceng sehingga tidak mengikuti turunan punggungan. Saya memutuskan untuk mengambil jalan lain, berbelok ke arah kanan untuk menemukan punggungan kembali, tetapi selagi saya membuka jalan untuk menemukan punggungan, teman saya yaitu Zabar, terjatuh ke dalam jurang yang tadi saya temukan karena dia tidak memperkirakan tanah yang dia pijak akan runtuh. Dengan bantuan dari anggota yang lain, Zabar dapat ditolong untuk naik kembali.

Seiring perjalanan menuruni punggungan, akhirnya sampai juga pada titik pengambilan air. Saya langsung mengambil air dan melakukan navigasi untuk menentukan arah titik kamp dua. Saat perjalanan ke kamp dua melewati sungai yang sepertinya buatan, kami menemukan jejak seperti sebuah jejak macan, tetapi setelah info yang ada, bahwa ternyata jejak tersebut hanyalah jejak kucing hutan.

Hari mulai gelap, jam setengah empat sudah terlewati, kami belum menemukan tempat kamp yang aman. Pendamping kami, yaitu bang Nitos, langsung mengambil alih dan mencari tempat kamp yang aman karena hari sudah mulai gelap. Saya dan yang lain mengikuti pergerakannya dan membantu dalam pencarian tempat kamp.

Pada jam empat lebih, akhirnya kami menemukan tempat kamp yang cocok. Kami mendirikan tempat teduh darurat untuk 11 orang menggunakan flysheet, karena tidak bisa tidur di bivak ponco sendiri sendiri. Keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan waktu yang menuju gelap, cuaca hujan deras, suhu yang mulai dingin, dan tempat yang tidak tersedia.

Waktu telah berlalu, kamp kedua sudah siap dan api pun telah nyala. Pukul delapan malam, kami makan malam bersama dan melakukan evaluasi untuk hari kedua. Setelah itu, saya menghangatkan diri di depan api dan mengobrol tentang kisah-kisah di ASTACALA. Setelah itu pergi tidur, walaupun agak berdesak-desakan namun tetap nyaman untuk tidur.

Hari ketiga telah tiba, jam lima pagi kita sudah bersiap-siap, merapikan perlengkapan dan memasak. Setelah itu, sarapan pagi dan kami mempraktekkan pembuatan ponco masing masing. Sehabis itu, ada pemaparan materi tentang fotografi dan kami mempraktekkan menggunakan kamera. Kemudian, melakukan navigasi  untuk menemukan lokasi kita pada peta dan menentukan jalur untuk balik ke desa finish. Setelah itu, kami berjalan sesuai dengan arah yang telah ditentukan, tetapi karena sudah ada jalan yang tersedia kami pun menuruni punggungan dengan jalan tersebut sambil memperhatikan lokasi pada peta. Perjalanan di hari ketiga sama sulitnya dengan hari kedua. Kami harus turun dan menemukan pemukiman untuk pulang.

Meskipun kami mengalami banyak kendala, tetapi perjalanan ini memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Kami belajar tentang kehidupan alam dan kekuatan alam memengaruhi perjalanan kami. Perjalanan ini juga membawa kami lebih dekat satu sama lain dan membangun kerjasama tim yang lebih baik.

Tulisan Oleh: Roberto Sunjaya | AM-014-KH

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Perjalanan PDA XXIII

Jika kamu bisa membaca sambil duduk, mengapa tidak mencoba membaca sambil meloncat untuk keluar dari zona nyaman dan ingin sesuatu yang baru. Mungkin inilah...

Mountain Bike

Dengan kecepatan yang bisa mencapai 80 km per jam, turunan tanpa aspal sejauh 800 meter dilibas dalam waktu kurang dari satu menit. Penikmat hobi...

Pembukaan Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia 2018, Menjemput Harimau Jawa

  Moh. Hariono, mewakili Kepala Direktorat Jenderal KSDAHE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuka Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia 2018 "Menjemput Harimau Jawa" di kantor Seksi...