Kalahnya Udara Dingin dalam Kehangatan Warga Kampung Londok

Related Articles

Halo, aku ingin bercerita mengenai perjalananku menjadi tim desa di Kampung Londok, Desa Sugihmukti. Sebuah kampung terakhir yang merupakan perbatasan antara pemukiman warga dengan cagar alam. Seperti yang kita tau, cagar alam merupakan wilayah konservasi karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami, sehingga tidak mudah untuk memasuki wilayah tersebut dan terdapat larangan berkegiatan oleh BKSDA selain untuk penelitian atau kegiatan yang menunjang budidaya cagar alam. Hal ini menarik bagi kami karena tempat tinggal masyarakat dan juga kehidupan mereka berjalan persis bersebelahan dengan pintu rimba Cagar Alam Gunung Simpang.

Saat itu aku tinggal dirumah Pak Jono, seorang pria tua yang kesehariannya adalah pemetik daun teh. Di desa itu, seluruh warganya merupakan karyawan dari perusahaan teh PT Sangkawangi, karena kampung di daerah Desa Sugihmukti merupakan tanah kontrak HGU (Hak Guna Usaha) milik perusahaan tersebut sejak tahun 2004 dengan lama kontrak hingga 25 tahun, setelah perpindahan dari Astra Group.

Hari pertama aku dan tim desa (Tiara, Bang Yayat, dan Kak Fel) lakukan adalah silaturahmi sekaligus mengurus perizinan tidak tertulis ke aparat desa, seperti Pak RT dan juga Pak RW yang lokasi rumahnya jauh dari rumah Pak Jono yang berada di Kampung Londok. Di Desa Sugihmukti ini terdapat delapan Rukun Tetangga (RT) dan satu Rukun Warga (RW), Kampung Londok merupakan wilayah RT. 08 sedangkan rumah Pak RW ada di Kampung Cawan, RT. 05.

Kami disambut dengan hangat oleh Pak Deden (Ketua RW) di rumahnya. Beliau merupakan mandor di perusahan teh dan memiliki warung di dalam rumahnya. Kami juga berkenalan dengan anaknya Pak RW yang bernama Teh Neni, Teh Neni Merupakan mahasiswi D3 jurusan Keperawatan di kampus UPI. Disitu kami bercerita banyak salah satunya adalah budaya masyarakat yang menikahkan anaknya di usia dini karena faktor ekonomi dan susahnya akses pendidikan di desa tersebut. Hanya ada tiga anak di Desa Sugihmukti yang berkuliah. Sebenarnya pendidikan dengan jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) terbuka ada di desa tersebut, tetapi untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) anak-anak perlu keluar dari desa dan merantau ke Ciwidey untuk melanjutkan pendidikan, aku kagum dengan semangat Teh Neni yang memperjuangkan pendidikannya dan terlebih alasannya masuk ke jurusan keperawatan untuk kembali mengabdi pada desanya yang tidak ada sama sekali pelayanan Kesehatan.

Setelah bertemu dengan Pak Deden dan keluarganya, kami berpamitan pulang dan kembali ke Kampung Londok. Jarak yang ditempuh dari Kampung Cawan menuju Londok adalah sekitar 1 jam 30 menit dengan berjalan kaki, kala itu hari sudah malam dan sampai dirumah abah kami beristirahat dan merekap hasil data dari obrolan kami dengan masyarakat desa tersebut.


Hari kedua tim desa di Kampung Londok, kami memutuskan untuk membagi menjadi dua tim dengan masing-masing tim terdiri dari dua orang. Tim A menuju sekolah dan Tim B melakukan antropologi penduduk kampung dan membantu Pak Jono bekerja memetik daun teh. Aku dan Bang Yayat menjadi tim yang pergi ke sekolah, untuk menuju ke sekolah kami berangkat pukul 6 pagi dan menunggu truk sekolah untuk berangkat. Iya, untuk menuju ke sekolah anak-anak SD tersebut berangkat menggunakan truk dan butuh waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai di titik turun sekolah SDN Sugihmukti.

Anak-anak yang bersiap untuk berangkat ke sekolah menggunakan truk

Sampai di sekolah kami bertemu dengan Bu Devi, Bu Devi merupakan seorang guru baru yang berasal dari luar kampung. Guru muda itu membawa perubahan dan semangat baru bagi sekolah tersebut. Hanya ada tujuh guru di sekolah tersebut termasuk satu kepala sekolah yang selalu berada di luar desa untuk mengatur segala administrasi sekolah ke dinas pendidikan. Sebelumnya, prinsip mereka adalah yang terpenting murid-murid bisa membaca dan menghitung, tetapi sekarang murid-murid lebih disiplin dan mempunyai mimpi supaya lanjut bersekolah dan memiliki pekerjaan selain menjadi karyawan kebun teh.

Pemandangan sekolah di SDN Sugihmukti Kampung Cibadak

Setelah sharing singkat tentang matematika dengan anak kelas 6 SD, aku dan Bang Yayat pulang lebih awal dibanding anak-anak sekolah itu. Kami berjalan kaki menuju Kampung Cawan karena sudah berjanji untuk mampir ke rumah Pak Angger (Koordinator Security Desa Sugihmukti) beliau mengatakan banyak warga yang ingin bertemu dan berbicara kepada kami, berharap kami bisa membantu mengembangkan desa. Setelah melakukan kegiatan di hari itu, malamnya kami melakukan evaluasi dan briefing untuk kegiatan esok hari, kami berencana untuk ke daerah Cerem untuk cleaning alat yang hilang saat dibawa Tim B kemarin, lokasinya di atas bukit dan katanya daerah Kampung Cerem biasa dipakai untuk “nyinyal” atau istilahnya mencari sinyal bagi warga-warga setempat.


Paginya kami langsung cleaning untuk mencari alat, namun pencarian tidak ditemukan sampai kami sudah pasrah dan mendapatkan kabar dari tim hutan via Handy Talkie (HT). Siangnya, ada ibu yang menyapa kami dan mengatakan bahwa seorang warga bernama Bu Yani menemukan alat aneh berwarna hitam seperti kepala senter, akhirnya Tiara pun kembali ke Kampung Cerem bersama Kak Fel sedangkan aku bersama Bang Yayat melakukan plotting lokasi keberadaan tim hutan di petaku.

Setelah mendapatkan bagian dari kamera dan turun ke bawah bukit sampailah kita kembali di Kampung Cawan. Aku lupa bilang… selain terdapat rumah dari Pak RW, di kampung itu juga merupakan lokasi pabrik teh dari PT Sangkawangi. Kembali kami membagi menjadi dua tim. Aku bersama Kak Fel menelusuri pabrik dan Tiara bersama Bang Yayat menemui Pak RT di Kampung Cawan. Setelah adzan berkumandang dan beristirahat di rumah Pak RW di Kampung Cawan, kami memutuskan untuk kembali ke Kampung Londok setelah mendapatkan informasi mengenai tokoh masyarakat terkenal yang sering sekali dikaitkan dengan macan hingga memiliki panggilan Aki Meong.

Aki Meong berada di Kampung Paranggong, RT. 01 Desa Sugihmukti. Beliau lah yang katanya merupakan orang sakti yang berduel dengan macan dan menangkap macan tutul di Kampung Londok. Besok, kami berencana untuk berangkat menuju Paranggong mencari Aki Meong.

Di malam itu, aku dan Tiara bersilaturahmi ke rumah Bu Euis dan Pak Memen, beliau merupakan pemilik basecamp motor trail di kampung itu. Kami dijamu dengan hangat dan memasak ayam bakar bersama di dalam rumah, ada Abah Jono dan juga Pak Dadang (Ketua RT. 08) yang juga ikut meramaikan pesta ayam bakar kecil-kecilan kami. Suasana sangat hangat dan nyaman, tidak ada internet saat itu, membuat kami merasa lebih dekat dan akrab.

Malam itu juga kami kedatangan support system dari Bandung, tim desa yang akhirnya mendapatkan bantuan personel. Kak Rizky, Kak Gian, Kak Della, dan Kak Ivan akhirnya datang dari sekre dan ternyata mereka sudah lama berada di rumah Pak Taryana (Guru SDN Sugihmukti) yang rumahnya berada di Kampung Londok atas. Saat malam, kami briefing untuk melakukan pencarian Aki Meong dengan membagi dua tim. Sebagian menuju Kampung Paranggong (Tempat Aki Meong tinggal) dan sebagian menuju Kampung Cawan tempat pabrik teh, karena katanya, saat siang Aki Meong bekerja di daerah kebun cawan.


Setelah mendapatkan tambahan personel, pagi itu kami berangkat pagi untuk mengejar truk sekolah agar bisa menumpang sampai di Kampung Cawan dan Kampung Cibadak, lalu melanjutkan jalan kaki menuju Kampung Paranggong. Tapi ternyata kami telat sedikit, truk sudah berangkat menuju sekolah. Akhirnya tim yang menuju Kampung Paranggong berangkat menggunakan motor yang menyusul karena lokasi keberadaan Kampung Paranggong sangat jauh. Saat itu Aku, Kak Ivan, Kak Della, dan Kak Rizky yang berangkat menuju Kampung Paranggong, sementara Tiara, Kak Gian, Kak Fel, dan Bang Yayat berjalan kaki menuju Kampung Cawan.

Setibanya kami di Kampung Paranggong kami lansung mencari rumah Pak Dedi, tetapi apa yang kami takutkan benar, Pak Dedi dan Aki Meong tidak berada dirumahnya. Kami pun mencari Bapak ketua RT. 01, Pak Aip namanya dan kami bertemu di jalan saat beliau hendak balik ke rumahnya. Di rumahnya kami menjelaskan tentang maksud dan tujuan kami berada di desa tersebut dan mencari keberadaan Aki Meong dan juga Pak Dedi yang katanya terkenal sebagai penakluk macan. Hasil yang kami dapatkan adalah bahwa Kampung Paranggong merupakan kampung yang paling sering berkonflik dengan macan dan hewan-hewan liar di hutan, salah adanya. Dan ternyata Aki Meong sudah pindah ke sebuah desa di daerah Cianjur sementara Pak Dedi sedang balik ke Desa Mekarjaya. Setelah berbincang dengan Pak Aip aku mendapatkan pesan masuk dari Kak Adam untuk tim desa, pesan itu berisi bahwa tim hutan akan kembali untuk mengisi logistik dan melakukan penelusuran di daerah Patok Wesi yang aksesnya dilalui dengan melewati Kampung Londok.

Perjalanan pulang menuju Kampung Londok bersama tim support system

Kami bergegas balik dan menjemput Tim B yang berada di daerah Cawan dan setibanya kami di Kampung Londok, tim hutan sudah berada disana. Wilayah rumah Abah Jono dan Bu Dewi pun jadi ramai karena ada seluruh peserta saat itu. Kami tim desa membantu menyiapkan logistik dan juga makan siang tim hutan dan setelah mereka kembali pergi memasuki rimba, desa menjadi sangat sepi seolah tidak terjadi apa apa. Kami tim desa melanjutkan kegiatan kami dengan bersilaturahmi ke rumah Pak Dadang, yang rumahnya berada di depan rumah Bu Dewi. Pak Dadang merupakan salah satu warga favoritku di kampung itu, beliau orangnya sangat ramah dan lucu. Beliau bercerita tentang ciri-ciri orang yang memiliki leluhur harimau dan juga mitos tentang kepercayaan warga terhadap macan yang turun ke desa.

Pak Dadang bersama istri dan cucu dengan ceritanya tentang mitos macan tutul

Setelah selesai melakukan antropologi desa, sembari menunggu tim hutan balik ke desa, kami tim desa berkeliling Kampung Londok dan berpamitan untuk pulang ke warga satu persatu. Aku akan  benar-benar merindukan kehangatan Kampung Londok dan rumah Abah Jono walaupun benar-benar sederhana dan jauh dari gawai, tapi rasanya benar-benar ringan tinggal jauh dari urusan duniawi, dengan pendapatan yang pas-pasan di desa itu tetapi mereka tetap bisa hidup dan saling bertukar senyum. Aku berharap aku bisa segera kembali ke Kampung Londok bersama saudara-saudaraku dan bertemu dengan Abah jono juga masyarakat Kampung Londok.

Apa benar cara untuk bahagia adalah memiliki segalanya?

Menurutku, kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya. Namun, kebahagiaan akan menghampiri mereka yang terus bersyukur atas nikmat-Nya. Aku telah menghadapi begitu banyak tantangan setahun terakhir ini, tetapi aku diberkati untuk memiliki pengalaman berkesan selama ini bersama Astacala dan memiliki beberapa orang luar biasa yang berdiri tepat di sisiku melalui semua itu. You know, who you are. Yang bisa aku katakan adalah terima kasih banyak dari lubuk hati yang terdalam. I am extremely grateful.


Tulisan Oleh: Erinna Agnes A | AM-004-JB

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Binaiya (Bagian 3: Kota Musik dan Trauma Masa Lalu)

Ambon City of Music. Walaupun saya membacanya terbalik, tulisan raksasa itu seperti menyambut. Posisinya membelakangi saya. Itu terlihat di tepi pantai Teluk Ambon, saat...

More than Ranking, UI Greenmetric Gives Many Valuable Lessons

“Greening Your Campus, Greening Your Life!" Sebuah jargon tersirat dari acara National Student Leaders on Sustainability Meeting (NSLSM) 2021 yang berlokasi di Kampus UIN Raden...

Diktat Panjat Tebing (Rock Climbing) Astacala – Bagian 5 : Pengenalan Tebing dan Teknik Dasar

{nl} Seperti halnya jenis olah raga lain, Panjat Tebing memerlukan tingkat fisik dan mental yang baik. Satu hal yang mungkin perlu diingat yaitu bahwa dari...