Di Bukit Tunggul, Kami Bersua untuk Pertama Kalinya

Related Articles

Jika melihat angkatan-angkatan sebelum kami, mereka melakukan pendidikan dasar (pendas) secara offline atau berkegiatan langsung di lapangan, tetapi lain halnya dengan angkatanku. Angkatanku, Jemari Bumantara, sangat istimewa karena adanya pandemi yang menghalangi kami untuk melakukan pendas secara langsung di lapangan. Setelah rangkaian pendas yang kami lalui hanya secara online, akhirnya kami berkegiatan di lapangan untuk pertama kalinya. Kegiatan tersebut adalah navigasi darat (navdar) yang merupakan rangkaian pendidikan lanjut. Kegiatan navdar mempertemukan angkatan kami, Jemari Bumantara, untuk pertama kalinya.

Menyapa suasana baru…

Sabtu, 28 Agustus 2021, adalah hari angkatanku melaksanakan kegiatan navigasi darat yang berlokasi di Bukit Tunggul. Perjalanan pagi hari, kami mulai dari sekretariat Astacala. Namun, sesaat sebelum sampai di titik awal untuk kegiatan ini, kami terpaksa menepi di pos penjagaan awal. Kami sempat mengalami kendala perizinan karena adanya miskomunikasi antara pihak keamanan setempat dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Sekretariat Astacala
Pos Penjaga Awal

Setelah perizinan berkegiatan dirasa aman, kami pun memulai perjalanan yang tertunda. Dalam perjalan tersebut kami sembari melakukan navigasi dan orientasi medan untuk menentukan posisi kami berada. Jujur, aku sendiri cukup kesulitan saat melakukan navigasi. Sulit rasanya membaca kontur sekitar dan menyamakannya dengan kontur di peta, walaupun menurut Bang Cules kontur itu sudah terlihat jelas. Sampai akhirnya, aku dibantu olehnya dan kembali berjalan sampai titik untuk mengambil air. Kami semua mengisi jerigen secara estafet, lalu mengemasnya kembali ke dalam carrier dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju titik kamp. Tetapi sebelum itu, kami diminta untuk mengumpulkan alat navdar dan barang yang sensitif, serta mudah rusak sekiranya terkena air.

Setelah barang diamankan, satu persatu dari kami dipanggil untuk kembali ke bawah, ke tempat tadi mengambil air untuk melakukan test packing. Aku mulai khawatir pada carrier-ku karena trashbag yang aku pakai ternyata berlubang, padahal sebelumnya semua pendamping sempat bertanya mengenai keyakinan kami terhadap packingan dan aku dengan santainya menjawab “Iya, udah yakin”. Selesai test packing, perjalanan berlanjut menuju titik kamp. Sesampainya di tempat kamp, kami semua langsung membuka carrier untuk mengecek bocor atau tidaknya isi trashbag dan, ya, sesuai dugaanku, trashbag-ku bocor dan perlengkapan tidurku basah. Walaupun sebenarnya tidak terlalu kupikirkan, toh nanti pun bisa aku jemur dekat api.

Sudah puas mengecek carrier, kami pun mengeluarkan logistik untuk dimasak dan menyiapkan makan siang. Saat akan memulai masak, salah satu dari kami menyadari tidak ada minyak untuk memasak, lalu bertanya “Ada yang bawa minyak, gak?” kami semua pun tidak ada yang merasa membawanya dan hanya bisa tersenyum, “Yah, kayanya lupa dibawa deh” ucapku pasrah. Segera kami beritahukan pada pendamping masalah ini dan aku mengusulkan kembali ke bawah untuk membeli minyak. Usulku pun diterima dengan syarat memasang marker tali saat pergi dan melepaskannya saat kembali. Aku menyanggupinya. Langsung saja aku jalan bersama Cungkring a.k.a Naufal di temani Kak Fel untuk ke bawah.

Pemasangan flysheet

Aku dan Cungkring menargetkan waktu tiga jam untuk waktu perjalanan pergi dan kembali ke kamp. Di perjalanan pergi, aku berjalan cepat sampai berlari agar menghemat waktu. Sebenarnya aku sempat ditegur oleh Cungkring untuk tidak berlari, tetapi berjalan cepat saja dan tetap stabil agar tidak kelelahan di tengah jalan. Aku pun meng-iyakan.

Kurang lebih selama satu jam berjalan akhirnya kami sampai di bawah, tetapi sayang, warung yang kami tuju itu tutup. Setelah bertanya ke warga sekitar, ternyata ada warung lain yang juga menjual minyak di bawah dekat masjid. Beruntung sekali, setidaknya usaha kami membuahkan hasil. Sudah mendapatkan apa yang dibutuhkan, kami beristirahat sejenak sembari membeli minum. Tidak sampai lima menit, kami memutuskan berjalan kembali ke titik kamp dengan terburu-buru karena takut terlalu lama dari waktu yang ditargetkan. Selagi berjalan, tidak lupa juga kami melepaskan marker yang dipasang di awal perjalanan.

Di tengah perjalanan, langkahku mulai berat karena jalur yang menanjak membuatku sesak. “Kring berhenti dulu apa, engap banget nih.” keluhku sepanjang jalan. “Jalannya santai aja gak usah buru-buru, tapi jangan banyak berhenti.” ucapnya menjawab keluhanku. Setelah satu jam lebih berjalan, aku sampai di kamp. Tanpa disadari, aku meninggalkan Cungkring dan Kak Fel di belakang. Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai dan kami semua mulai makan siang.

Setelah makan siang selesai, kami mulai membereskan bekas makan siang dan peralatan masak, kemudian packing kembali untuk berjalan menuju tempat kamp baru karena tempat kamp sebelumnya kurang nyaman digunakan untuk memasang flysheet. Sesampainya di kamp yang baru, kami semua mulai membagi tugas untuk merapikan tempat kamp, memasang flysheet, memasak, membereskan logistik, mencari kayu, dan membuat api. Tidak menunggu lama, kami semua mulai mengerjakan tugas masing-masing. Aku pun mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak karena kebetulan aku menjadi penanggung jawab (PJ) masak makan malam. Ketika semua orang sudah siap dan api sudah menyala, ternyata makan malam belum selesai dimasak, ditambah aku baru sadar bahwa nasinya kurang sehingga harus memasak kembali dan itu cukup memakan waktu. Kami langsung memulai makan ketika makanan sudah siap. Setelah selesai makan, kami semua berkumpul di depan api untuk evaluasi kegiatan hari ini, kemudian briefing untuk besok dan membicarakan tentang kesulitan navdar hari itu. Tak lama sehabis itu kami bersiap tidur.


Keesokan harinya Minggu, 29 Agustus 2021, salah satu saudara kami, Fio, datang menyusul bersama Bang Della untuk mengikuti kegiatan navdar ini. Kami memulai kegiatan dengan sarapan terlebih dahulu, setelah itu packing dan bersiap untuk melanjutkan kegiatan. Kami berjalan menuju tempat yang akan dijadikan titik kumpul selama kegiatan meletakkan dan mencari poin sekaligus tempat untuk makan siang. Di tengah perjalanan, kami mengambil air terlebih dahulu, setelah itu melanjutkan perjalanan kembali.

Kuluk-kuluk sarapan pagi

Setelah sampai di titik yang dimaksud, kami berkumpul dengan kelompok yang sudah dibagi pada saat briefing untuk meletakkan poin. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, aku berada di Kelompok Satu bersama Ade Rian, Ammar, Nanda, dan didampingi oleh Bang Rizky dan Bang Yayat. Semua kelompok mulai berjalan dengan arah yang berbeda, kelompokku berjalan ke bawah kembali melewati tempat kami mengambil air. Tidak jauh setelah melewati titik air, kami sampai pada persimpangan jalan dan kami diminta untuk resection,  sesudah itu kami dibagi menjadi dua tim untuk meletakkan poin agar mempersingkat waktu. Selesai meletakkan poin, kami kembali ke titik awal.

Sembari menunggu kelompok lain yang belum kembali, kami saling berbincang. Setelah semua berkumpul, kami mulai makan siang, setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan mencari poin kelompok lain yang telah ditukar. Kelompokku mendapatkan instruksi untuk mencari poin Kelompok Dua yang berjumlah dua buah poin, tidak berlama-lama kami pun mulai mencarinya. Pada awalnya kami kesulitan untuk menemukan poin tersebut, sampai pada akhirnya, Nanda dan Ade mencari poin satu ke bawah. Saat aku dan Ammar mencari poin dua, di seberang kami terlihat sesuatu seperti penanda poin yang diikatkan pada pohon, aku dan Ammar pun berjalan menuju tempat poin itu untuk memastikan, dan ternyata benar, itu poinnya. Tak lama, Ade dan Nanda berserta Bang Rizky juga Bang Cules menyusul dengan membawa poin yang didapatkan.

Setelah mendapatkan kedua poin, aktivitas dilanjut dengan pemaparan materi komunikasi lapangan. Sebetulnya ini sudah dipelajari saat pendidikan dasar, hanya saja, belum pernah kami praktikkan secara langsung. Kami pun mempraktikkan satu per satu apa yang sudah dicontohkan. Materi komunikasi lapangan selesai, kami pun kembali ke titik kumpul untuk bergabung dengan kelompok lain. Sesampainya di titik kumpul, Bang Candra, selaku pendamping Kelompok Tiga yang harus mendapatkan poin kelompok kami, mengeluhkan posisi poinnya yang tidak terlihat jelas, kami menanggapinya dengan tertawa karena memang itu tujuannya.

Rangkaian kegiatan pun telah selesai, kami membereskan peralatan masak juga sisa logistik untuk di-packing kembali dan memulai perjalanan pulang ke titik start, tempat kami memulai perjalanan. Pada pukul 16.30 WIB, kami sampai di titik start dan sudah ada angkot yang menjemput kami untuk kembali ke sekretariat Astacala. Di perjalanan pulang, tidak ada kendala apa pun. Semua berjalan dengan lancar dan selamat sampai tujuan. []

Saudaraku, Jemari Bumantara

Tulisan Oleh Nida Mufidah | AM-009-JB

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Undangan Musyawarah Anggota Astacala 2015

Musyawarah Anggota ASTACALA merupakan sebuah forum yang kekuasaan dan kedudukannya paling tinggi dalam struktur organisasi Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA Universitas Telkom. Dalam acara...

Coming Soon : Astacala Lintas Alam X

... kalau biasanya engkau membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat ... Demikian ditulis dalam sebuah situs tentang kebosanan, yakni ketika pikiran menginginkan perubahan, mendambakan...

Anggraeni dari Sebelat

“Abu Kamil,” ujar orang yang baru kukenal ini. Kemudian ia mengulurkan tangannya. “Tadi pagi Pak Aswin bilang kalau akan ada tamu yang mau masuk ke...