Batukaru Ketika Purnama

Pepohonannya beraneka ragam, lebat dan rapat. Berbagai jenis burung, monyet, rusa, babi, sampai kucing hutan masih menjadikannya sebagai rumah. Inilah Batukaru, gunung tertinggi kedua di Pulau Bali.

Batukaru Ketika Purnama

Kabut di Batukaru

Ia menjadi kawasan hutan hujan tropis terbesar di Bali. Penyangga utama mata air dari sungai-sungai yang mengalir di kawasan Bali bagian tengah. Pepohonannya beraneka ragam, lebat dan rapat. Berbagai jenis burung, monyet, rusa, babi, sampai kucing hutan masih menjadikannya sebagai rumah. Inilah Batukaru, gunung tertinggi kedua di Pulau Bali. Puncaknya ada di 2.276 meter dari permukaan laut (mdpl).

Tiba di Pura Luhur Batukaru

Saya akan mendaki Gunung Batukaru bersama Dwiana Putra “Ufo”, teman yang biasa saya ajak bersepeda. Berdua saja.

Menjelang tengah hari, kami telah tiba di pelataran parkir Pura Luhur Batukaru. Hari ini adalah bulan purnama, hari yang disucikan oleh masyarakat Hindu Bali. Maka tak heran, pura ini ramai. Banyak yang datang melakukan persembahyangan.

Pura Luhur Batukaru yang menjadi titik awal pendakian kami merupakan pura kahyangan jagat. Pura yang mana semua orang bisa melakukan pemujaan di sana. Juga merupakan tempat wisata. Berlokasi di sisi selatan gunung. Di ketinggian 800 mdpl. Berlokasi di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali.

Saya akan mendaki Batukaru dari pura ini. Menuju Puncak Kedaton, puncak tertingginya. Lalu kemudian turun ke arah Desa Pujungan di sisi sebelah barat.

Peta Lokasi Gunung Batukaru di Pulau Bali
Jalur Pendakian Batukaru dari Wongaya Gede ke Pujungan

Rintangan Pertama Adalah Perizinan

Beberapa orang pecalang yang berjaga di pelataran pura melihat kami curiga. Jalur pendakian dari sisi selatan ini memang jarang dilalui. Karena prosedur perizinannya yang mengharuskan memakai pemandu, serta mendapatkan surat izin dari polsek dan kantor desa setempat.

Kami tak memiliki semua izin tersebut. Hari Sabtu, kantor desa tentu tutup. Sementara Polsek berada di Penebel, kota kecamatan yang jaraknya cukup jauh. Lagipula, waktu sudah tak memungkinkan untuk bisa mengurus itu semua.

Untuk pemandu, kami keberatan untuk biaya yang harus ditanggung. Juga waktu dan jalur pendakian yang diharuskan kembali di tempat yang sama.

Komunikasi Adalah Kunci

Akhirnya para pecalang ini bisa diyakinkan. Bendesa adat setempat datang. Ufo yang jago berkomunikasi memaparkan rencana pendakian kami. Saya ikut memastikan bahwa peralatan yang kami bawa lengkap dan aman. Makanan dan air minum cukup. Juga penjelasan jalur pendakian yang akan ditempuh.

Bendesa adat yang baik hati ini pun kemudian mengutus salah satu petugas untuk ikut mengantarkan kami sampai ke jalan setapak jalur pendakian. Sekaligus berpesan untuk hati-hati di perjalanan dan mengabarinya jika sudah turun gunung. Siap, Pak!

Mulai Mendaki

Kami melangkahkan kaki memulai pendakian saat waktu menunjukkan pukul dua siang. Terlambat dua jam dari perencanaan. Target kami adalah bermalam di puncak. Ufo ngotot. Harus di puncak, katanya. Pagi-pagi ia harus bisa lihat matahari terbit.

Tapi saya mengambil keputusan bahwa jam enam sore perjalanan harus dihentikan. Demi alasan keamanan. Sesuai standar pendakian gunung yang saya pakai, tak ada perjalanan di hutan dalam kondisi gelap. Ufo manyun. Kalau mau lihat matahari terbit, ia saya sarankan ke Sanur saja pagi-pagi.

Jalur pendakian dari Wongaya Gede ini menyusuri punggungan gunung di sebelah barat pura. Melalui sungai berbatu dengan aliran airnya yang jernih. Jalan setapak dari pura menuju sungai ini terpasangi paving block yang rapi. Hijau penuh lumut dan penuh serasah dedaunan. Pepohonan hutan rapat. Suara burung dan tonggeret bersahutan.

Menyeberangi Sungai di Sebelah Barat Pura Luhur Batukaru

Gunung yang Disucikan

Setelah menyeberangi sungai, kami bertemu beberapa orang. Beberapa pemuda dan orang tua. Mereka baru usai melakukan persembahyangan dari sebuah pura yang terletak tak jauh dari sungai ini. Dumogi rahayu, begitu kata mereka ketika mengetahui bahwa kami akan ke puncak.

Seperti lazimnya gunung-gunung di Bali, Gunung Batukaru adalah gunung yang disucikan. Dipuja sebagai Hyang Giri Batukaru. Sering juga disebut Batukau maupun Batukahu. Yang artinya batu tempurung kelapa. Karena jika dilihat dari jauh, bentuk gunung ini demikian.

Baca juga:   Menyusuri Kabut Cikuray

Di beberapa tempat, selalu ditemui pelinggih. Pelinggih adalah bangunan atau tugu yang disucikan. Lengkap dengan sisa-sisa canang dan dupa. Juga kain putih kuning atau hitam putih yang telah lusuh. Menambah aura magis hutan yang makin redup.

Salah Satu Pelinggih atau Tugu Tempat Pemujaan di Sepanjang Jalur Menuju Puncak Kedaton
Pelinggih-pelinggih yang Ada di Puncak Kedaton

Navigasi dengan Google Map

Jalan setapak yang cukup lebar perlahan mulai menyempit dan makin menanjak. Karena jalur sisi selatan ini jarang dilalui, menyebabkan alurnya tak jelas. Kadang mengarah jauh ke kanan atau ke kiri. Selain itu, ada banyak pohon tumbang yang merintangi. Menyebabkan perjalanan harus memutar.

Dalam mengenali gunung dan bernavigasi, ada istilah punggungan dan lembahan. Punggungan adalah bentukan geologis yang memiliki posisi tanah lebih tinggi dibandingkan tanah di kedua sisinya. Sedangkan lembahan adalah kebalikannya. Memiliki posisi tanah lebih rendah dari tanah di kedua sisinya.

Selama jalur tetap dijaga di satu punggungan yang telah direncanakan, maka kemungkinan tersesat lebih kecil. Saya memakai patokan lembahan curam di sebelah timur. Karena di sebelah barat, lembahannya cenderung landai dan banyak pertemuan dengan punggungan-punggungan lainnya.

Dalam pendakian gunung ini, saya menggunakan aplikasi Google Maps secara offline. Dengan penampakan kontur atau ketinggian tanah. Ini pertama kali saya lakukan. Sebelumnya, saya biasa membawa peta topografi manual. Dan menurut saya luar biasa. Cukup akurat.

Navigasi dengan Google Maps

Perjalanan yang Lambat

Hutan makin lama makin redup. Pepohonan rapat dan matahari makin condong ke barat. Saya masih jauh dari puncak. Setiap kali istirahat dan melihat peta, perubahan ketinggian tak pernah lebih dari lima puluh meter. Lambat.

Punggungan yang kami lalui ini memang cukup panjang. Bisa dibilang punggungan terpanjang dari punggungan-punggungan Batukaru lainnya. Karenanya menyebabkan jalur pendakian cukup landai. Tapi jaraknya makin jauh. Waktu yang diperlukan juga lebih lama. Di atas kertas, elevasi yang harus kami tempuh adalah sekitar 1.200 meter dengan jarak mendatar lima sampai enam kilometer.

Saya sudah tak sering mendaki gunung. Dengan berat beban di punggung yang lumayan, saya melangkahkan kaki santai saja. Tak mau diburu waktu. Ketika lelah dan nafas tak beraturan, saya berhenti saja. Ketika nafas mulai stabil, saya lanjutkan lagi. Demikian terus.

Sampai akhirnya jam enam sore kami tiba di ketinggian 1.500 mdpl. Kurang lebih. Sebuah tempat datar yang cukup luas kami temui. Ada banyak kain-kain lusuh terbentang dan terlilit di pepohonan. Saya kurang suka dengan pemandangan ini. Membuat kami harus mendaki beberapa meter lagi untuk mendapatkan tempat bermalam yang pas.

Kalau Capek, Ya Istirahat Sambil Berswafoto
Perjalanan Menyusuri Punggungan Batukaru dari Wongaya Gede
Kondisi Hutan di Sepanjang Perjalanan di Batukaru

Purnama di Batukaru

Ketika malam turun, hutan tak menjadi gelap. Bulan bersinar terang. Langit bersih. Sesekali awan tipis melintas. Suara burung-burung makin sepi. Tenda sudah terpasang. Ufo memasak makan malam. Sedangkan saya mengumpulkan kayu-kayu kering untuk api unggun.

Menu makan malam kami adalah nasi putih hangat yang baru selesai dimasak. Ditambah be gorengan yang dibeli tadi siang. Tempe dan jukut undis yang dicampur sayur jepang. Serta teh hangat yang nikmat. Bekal yang cukup banyak. Sangat mantap untuk mengganjal perut, saat malam dan dingin di gunung seperti ini.

Purnama di Batukaru
Menghangatkan Diri di Samping Perapian

Perjalanan di Hari Kedua

Pagi-pagi benar, Ufo sudah bangun. Ia mau sesegera mungkin ke puncak. Kegiatan memasak pun dipercepat. Apa saja yang bisa matang dengan cepat. Salah satunya adalah menghangatkan lauk dan sayur sisa kemarin.

Kata Ufo, saya mengigau semalam. Mungkin karena saya tak tidur di dalam tenda. Saya tidur di luar, di bawah flysheet. Tak jauh dari api unggun yang telah padam. Tanahnya kurang rata yang mungkin menyebabkan tidur saya tak nyaman.

Usai sarapan dan berkemas, perjalanan kami lanjutkan. Saya memasang target akan sampai di Puncak Kedaton sebelum jam sepuluh pagi. Yang ternyata target saya itu tak realistis. Nyatanya, kami akan sampai di puncak jam dua belas siang.

Baca juga:   Pendakian Atap Tertinggi Bumi Pasundan, Langit Biru di Balik Awan Kelabu
Perjalanan di Hari Kedua, Masih Menyusuri Punggungan Batukaru dari Arah Wongaya Gede

Cagar Alam Batukaru

Gunung Batukaru merupakan gunung tertinggi di kawasan Cagar Alam Batukaru. Penamaan cagar alam ini sepertinya mengambil dari sudut pandang ini. Gunung tertingginya. Luasnya 15 ribu hektar lebih. Membentang dari Kecamatan Banjar dan Sukasada di Kabupaten Buleleng. Sampai ke Kecamatan Baturiti, Penebel, dan Pupuan di Tabanan.

Selain Gunung Batukaru, ada gunung-gunung berhutan tropis lainnya. Ada Gunung Sanghyang yang memiliki dua puncakan. Ada Gunung Lesong yang kawahnya telah mati seperti lesung. Ada Gunung Pohen dan Gunung Tapak yang ada pembangkit geothermal tak jauh darinya. Serta Gunung Adeng yang masuk ke dalam kawasan heritage Unesco.

Kami melangkahkan kaki santai saja. Menyusuri setapak yang tak landai. Sesekali bebatuan besar yang penuh lumut timbul tenggelam di jalur yang kami lalui. Bebatuan ini konon hasil letusan gunung api purba Batukaru masa lampau.

Matahari belumlah tinggi. Masih jam delapan kurang. Suara ayam hutan sesekali nyaring terdengar dari balik pepohonan. Di satu tempat, saya melihat burung-burung dengan ekornya yang panjang. Nantinya saya tahu bahwa itulah burung srigunting, salah satu spesies penghuni hutan di Batukaru.

Kala istirahat, seringkali tawon atau lebah terbang mengganggu. Rasanya, ada banyak sekali hewan-hewan kecil ini. Pacet yang katanya ada banyak malah tak saya temui. Mungkin karena bukan musim penghujan. Pacet biasanya banyak jika kondisi lembab dan banyak air.

Gunung Agung Terlihat Gagah di Timur. Juga Gunung Rinjani yang Lebih Jauh ke Timur lagi.

Bertemu Pelari dan Rombongan Pendaki

Perjalanan hari kedua masih cukup panjang. Di peta, tempat kami bermalam kurang lebih tepat berada di tengah. Di antara Pura Luhur Batukaru dan Puncak Kedaton. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Kami menambah ketinggian perlahan-lahan. Tak bisa ngebut.

Selepas ketinggian 2.000 mdpl, jalan makin terjal. Kadang harus berpegangan pada akar-akar pepohonan seperti sedang memanjat tebing. Tas di punggung memiliki beban yang tak ringan. Stamina cukup banyak terkuras.

Dari atas, saya mendengar suara-suara orang. Ternyata ada rombongan pendaki yang sedang turun dari puncak. Mereka ada belasan orang. Warga setempat. Dari Desa Wongaya Gede. Mereka mendaki dari arah Jatiluwih, di sisi tenggara. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa mereka mendaki gunung sambil bersih-bersih sampah plastik. Mantap juga.

Setelah berpisah dengan rombongan tadi, berikutnya kami bertemu dengan seorang bule. Asal Perancis. Tapi sudah tujuh tahun tinggal di Bali. Ia seorang diri di Batukaru. Baru databg dari bawah. Berlari dari Jatuluwih menuju puncak. Wow! Saya mempersilahkannya untuk duluan.

Sampai di Puncak

Ketinggian kami di peta sudah menunjukkan 2.200 mdpl lebih. Ini sudah kawasan puncak. Kondisi di atas terang. Tak terhalang lagi pepohonan tinggi. Kebanyakan semak-semak. Bahkan semak-semak membentuk lorong sempit seperti gua.

Saya merangkak melewati lorong tersebut. Panjangnya mungkin sekitar sepuluh meter. Tas yang saya bawa harus dilepas. Karena jika dipakai, tak akan muat untuk dilalui. Malah nyangkut ke mana-mana.

Jam dua belas siang, setelah melalui lorong semak-semak, kami akhirnya sampai di puncak. Di lereng sebelah barat. Vegetasi yang mendominasi adalah semak. Hanya beberapa pohon kecil. Pemandangan terbuka. Tanahnya cukup luas dan datar.

Di tengah puncak, di titik tertinggi, ada pelinggih-pelinggih yang disucikan. Juga sebuah pos berupa bangunan beratap seng. Rerumputan kering tumbuh di sekitarnya. Beberapa sampah plastik berceceran di sana sini. Juga sebuah plang bertuliskan : Pura Pucak Kedaton.

Desa Pujungan Terlihat Menjelang Puncak Kedaton. Juga Pegunungan di Bali Bagian Barat. Serta Gunung Raung, Ijen, dan Sekitarnya di Pulau Jawa.

Pura Pucak Kedaton

Pura Pucak Kedaton ada dua. Yang pertama adalah yang menggunakan pelinggih-pelinggih berupa bangunan baru. Lokasinya ada di sebelah barat. Ini milik Desa Adat Batungsel, desa di kaki gunung di lereng barat. Yang kedua adalah pelinggih berupa batu-batu alami di sebelah timur. Yang kedua ini milik Desa Adat Pujungan, desa tempat tujuan kami nanti untuk turun gunung.

Baca juga:   Summit Attack Gede Pangrango

Nantinya saya ketahui bahwa upacara piodalan di pura milik Desa Pujungan ini adalah saat purnama kapat. Yaitu bulan purnama yang keempat, sesuai penanggalan Bali. Seluruh warga Pujungan akan berdatangan dan melakukan upacara di puncak gunung ini di tanggal tersebut.

Angin berhembus sejuk. Matahari tepat di atas sana. Kami mulai memasak makan siang. Sambil makan buah jambu yang saya bawa sebagai bekal.

Di ufuk barat, terlihat Gunung Raung. Di ufuk timur, ada Gunung Agung dan Rinjani. Di selatan, terlihat samudera biru. Sementara di utara, awan tebal berarak di balik Gunung Sanghyang. Seharusnya tiga danau di kawasan Bedugul terlihat.

Di ujung puncak bagian timur, ada panel surya penghasil tenaga listrik dengan aki penyimpanannya. Dilengkapi pula oleh tiang penangkal petir. Sepertinya biasa dipakai pada saat upacara piodalan.

Beberapa menit kemudian, saat kami masih memasak, datanglah empat orang pendaki. Dari Denpasar. Semuanya mahasiswa. Mereka datang dari arah Pujungan. Baru sampai di puncak setelah mendaki selama empat jam. Iseng ke Batukaru. Salah satu dari mereka ada ujian keesokan harinya. Biar tambah semangat.

Pura Pucak Kedaton di Puncak Gunung Batukaru
Panel Surya dengan Penangkal Petir di Belakang Pura Pucak Kedaton

Turun ke Arah Pujungan

Jam dua siang, kami turun. Ke arah barat laut. Menuju Desa Pujungan. Tepatnya di Pura Malen, sebuah pura pasraman yang ada di desa rersebut. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hampir dua jam lamanya kami di puncak beristirahat.

Jalur ke Pujungan lebih pendek dibandingkan dengan ke Wongaya Gede. Ini menyebabkan jalur perjalanan akan terjal. Peta di Google Maps juga menunjukkan gambaran seperti itu. Tapi tak mengapa, kami tetap santai saja. Tak mau diburu waktu.

Sesekali telepon genggam saya mendapatkan sinyal. Walau lebih sering tak dapat. Jika ada sinyal, saya mengirimkan laporan pendakian ini ke beberapa teman. Juga istri saya. Tentang kondisi dan posisi saat itu. Supaya kami tetap termonitor. Jaga-jaga jika terjadi sesuatu.

Vegetasi hutan di lereng bagian barat ini tak jauh berbeda. Ada banyak pohon-pohon tinggi yang mati terbakar. Hangus. Batangnya hitam menjadi arang. Sepertinya pepohonan ini menjadi sasaran petir kala cuaca buruk.

Kondisi Hutan di Jalur Turun Menuju Desa Pujungan

Akhirnya Sampai di Pujungan

Empat jam lamanya waktu yang kami butuhkan untuk sampai di Pura Malen. Beberapa ekor anjing menyambut kami. Sepertinya anjing-anjing peliharaan pasraman di pura ini. Yang awalnya menyalak, menjadi bersahabat. Karena beberapa potong biskut saya bagi untuk mereka.

Kaki saya sudah mulai sakit dan pegal. Tantangan turun gunung memang demikian. Otot kaki dipaksa menahan beban. Berjalan turun, jauh, dan lama.

Menjelang jam enam sore, kami sudah istirahat di sebuah bale bengong. Langit senja mulai memerah. Matahari sedang bergerak perlahan tenggelam di balik awan. Pemandangan yang indah. Saya menghabiskan biskuit sambil ditemani oleh anjing-anjing tadi.

Seorang petani lewat. Ia baru pulang dari kebunnya. Menyapa kami dengan ramah. Ia cukup terkejut ketika tahu bahwa kami mendaki dari Wongaya Gede sehari sebelumnya. Katanya, jarang yang melakukan pendakian seperti itu. Kebanyakan yang turun di Pujungan, datangnya dari Pujungan juga. Tapi syukurlah katanya, kami telah selamat kembali ke bawah.

Anjing-anjing yang Ramah Ketika Kami Sampai di Halaman Depan Pura Malen di Desa Pujungan
Matahari Terbenam Dilihat dari Desa Pujungan

Malam mulai turun. Dalam perjalanan menuju Denpasar, saya melihat Gunung Batukaru samar-samar di belakang. Waktu saya masih kecil, saya sering memandang gunung ini dari Desa Bantiran di Pupuan. Desa tempat kakek dan nenek saya bertani dan juga tinggal.

Gunung itu berdiri anggun. Tinggi menjulang. Terharu rasanya ketika saya baru saja dari puncaknya. Hal yang tak terbayangkan sewaktu saya kecil dulu. Melalui malam di hutannya yang lebat. Di bawah langit bersinarkan purnama dan bintang-bintang. Rasanya, Batukaru begitu ramah dan bersahabat. Melekat dan selalu dekat dalam ingatan. []

Tulisan dan Foto oleh I Komang Gde Subagia