Navigasi Darat Sembari Nostalgia

Setelah memasang point di dua titik tersebut, pukul 12.00 WIB kami kembali ke titik kumpul lagi untuk makan siang bersama. Sekitar pukul 14.00 WIB kami mencari point yang sudah dipasang oleh kelompok lain. Kami kebagian mencari point kepunyaan kelompok 5 yaitu point 9 dan point 10.

Navigasi Darat Sembari Nostalgia

Tanggal 16—17 Februari 2019, bersama saudara angkatanku Gema Bara berangkat menuju lapangan alias tempat operasional untuk melaksanakan Pendidikan lanjut Navigasi Darat Anggota Muda Astacala. Pemberangkatan Mabim Navdar angkatan Gema Bara dibagi menjadi tiga kloter, yang pertama pada pukul 10.00 WIB menggunakan truk yang sudah disewa terlebih dahulu, sedangkan yang kedua pada pukul 12.30 WIB dan ketiga pada pukul 16.30 WIB. Pemberangkatan kedua dan ketiga menggunakan motor pribadi bersama-sama. Karena perbedaan waktu kedatangan dari tiga kloter tersebut terjadi juga perbedaan jalur yang dilalui.

Kloter pertama sampai di titik start sekitar pukul 12.30 WIB. Perjalanan kloter satu cukup berat karena melewati rawa-rawa yang tinggi, airnya yang mencapai betis membuat air masuk semua ke dalam sepatu. Sambal sedikit bernostalgia, kloter satu sempat singgah di titik camp 2 saat pendidikan dasar lalu untuk navigasi darat. Setelah navigasi darat di titik camp 2, kloter satu melanjutkan perjalanan menuju Leuweung Jero, titik camp saat itu. Kira-kira pukul 14.00 WIB kloter satu sampai pada Leuweung Jero. Semua peserta mengerjakan tugasnya masing-masing, ada yang mendirikan flysheet, mencari kayu untuk membuat api memasak makan siang—yang sudah sangat telat, dan lain-lain. Pukul 16.00 WIB kloter satu makan siang—yang sudah tidak siang lagi, lalu pukul 17.00 kloter siang datang menyusul. Tidak lama setelahnya kira-kira pukul 18.00 WIB hujan turun menyusul datangnya kloter dua.

 

Sedangkan kloter kedua berangkat dari Telkom University pada pukul 13.00 WIB menggunakan motor pribadi. Dipandu oleh bang Umar CA, kloter dua konvoi motor bersama-sama menuju Rancawalini. Di perjalanan menuju Rancawalini sempat terjadi kendala pada motor Imam, salah satu kawan kami. Engsel ban belakang motor imam sempat longgar yang menyebabkan rantainya longgar. Kira-kira menghabiskan waktu dua puluh menit di bengkel untuk memperbaiki. Kloter dua tiba pada pukul 15.30 WIB lalu menyimpan motor di samping masjid Rancawalini. Perjalanan yang dilalui oleh kloter dua sama seperti kloter satu. Hanya saja, kloter dua sempat diguyur hujan saat di perjalanan menuju tempat camp. Kurang lebih pada pukul 17.00 WIB kloter dua sampai pada tempat camp.

Aku sendiri berangkat pada kloter ketiga. Aku berangkat bersama sebelas kawan lainnya. Kami konvoi menggunakan motor dari Telkom University dan dipandu oleh dua kakak tingkat kami, yaitu bang Andre LC dan bang Kemal LC. Perjalanan dari Telkom University menuju Ranca Upas berjalan lancar dan tidak ada kendalan besar, hanya saja kami tersiram hujan yang cukup deras. Kloter tiga sendiri memutuskan menyimpan motor di Ranca Upas karena apabila menyimpan motor di Rancawalini dan memulai perjalanan menuju camp dari Rancawalini sangat tidak memungkinkan dikarenakan waktu yang sudah malam dan berdasarkan Standar Operasional (SOP) dari Astacala sendiri sebenarnya tidak diperbolehkan untuk melakukan perjalanan pada malam hari selama berada di dalam hutan.

Baca juga:   Temu Wicara Kenal Medan XXVI

Sesampainya di Ranca Upas sekitar pukul 19.00 WIB kami membeli tiket masuk Ranca Upas terlebih dahulu seharga Rp12.500,00/orang. Setelah menyimpan motor, kami bersiap untuk memulai perjalanan memasuki hutan. Pukul 19.15 WIB kami berangkat dari Ranca Upas menuju titik camp, dimana kloter 1 dan 2 sudah berada di sana terlebih dahulu. Selama perjalanan menuju camp, tidak ada kendala selain hujan yang tak kunjung berhenti bahkan sampai kami tiba di camp.

l

Sesampainya di camp sekitar pukul 20.00 WIB, keadaan di camp ternyata tidak lebih baik dengan keadaan saat kami di jalan. Baru terdapat 3 Flysheet yang sudah berdiri dan aman, di mana itu belum cukup untuk menampung seluruh peserta yang ikut, satu shelter api, satu tenda dapur, dan satu dome medis. Sebagian dari kami, kloter 3, ikut membantu membangun dua flysheet tambahan, sisanya membantu menyiapkan makan malam dan membuat api menjadi stabil.

Dikarenakan hujan yang cukup deras dan tidak kunjung berhenti, kegiatan menjadi terhambat dan tidak sesuai dengan jadwal. Seharusnya pada pukul 19.00 WIB kami sudah mulai makan malam, tetapi pada pukul 20.30 WIB kami semua baru mulai makan malam. Makan malam pun dibagi menjadi dua kloter. Setelah makan malam selesai, sekitar pukul 22.00 WIB kami melakukan evaluasi untuk hari pertama dan briefing untuk kegiatan esok harinya atau hari kedua. Pukul 24.00 WIB kami semua sudah berganti pakaian dan mulai bergegas memasuki sleeping bag atau sarung bag masing-masing untuk beristirahat.

***

Keesokan harinya, Minggu, 17 Februari 2019 pada pukul 06.00 WIB setelah semua sudah melakukan ibadah dan berganti pakaian lapangan kembali, aktivitas mulai berjalan lagi seperti biasa. Semua peserta melakukan tugasnya masing-masing. Sebagian memasak dan mempersiapkan sarapan, lalu sebagian lagi merapikan alat-alat yang digunakan untuk mendirikan tempat kita beritirahat semalam, termasuk perlengkapan pribadi dan logistik bersama. Pukul 08.00 WIB sarapan sudah siap dan hampir semua perlengkapan sudah terkemas dengan baik, kecuali perlengkapan masak belum dirapikan semuanya, kami semua mulai sarapan bersama. Setelah sarapan kami melanjutkan mengemas perlengkapan masak dan melakukan cleaning di area sekitar kami bermalam.

Baca juga:   Longsor Ciwidey

Sekitar pukul 08.30 WIB kami semua berangkat menuju Rancawalini untuk pemasangan point sekaligus tempat peristirahatan makan siang kami yang kebetulan menjadi tempat istirahat kami pada saat pendidikan dasar Desember lalu. Sebelum pukul 11.00 WIB kami sudah sampai Rancawalini. Setelah duduk-duduk sebentar mengistirahatkan badan sejenak, pukul 11.00 WIB kami mulai pemasangan point. Pemasangan point sendiri dibagi atas lima kelompok, di mana perkelempok terdiri atas 9—10 anggota.

 

Aku tergabung di kelompok 4 bersama dengan Gilang Purwana (AM-039-GB), Tania Issabel (AM-042-GB), Trias Putra (AM-047-GB), Putri Paramita Dhyani (AM-035-GB), Evi Indah Hapsari (AM-043-GB), Dalilah Salsabila (AM-045-GB), Rizkia Siti Afifah (AM-041-GB), Hadi Rhizky Muhammad (AM-034-GB) dan dipandu oleh bang M. Seno Maulana (A-129-CA) dan bang Iqbal Kemal Fasya (A-149-LC). Kami memasang dua point, point 7 dan point 8. Untuk point 7 kami memutuskan untuk memasang di titik koordinat 8’ 24’’ BT dan 22’ 50’’ LS. Untuk point 8 kami memasang di titik 8’ 13’’ BT dan 22’ 47’’ LS.

Setelah memasang point di dua titik tersebut, pukul 12.00 WIB kami kembali ke titik kumpul lagi untuk makan siang bersama. Sekitar pukul 14.00 WIB kami mencari point yang sudah dipasang oleh kelompok lain. Kami kebagian mencari point kepunyaan kelompok 5 yaitu point 9 dan point 10. Setelah kami menemukan point 9 dan 10, kelompok lain juga menemukan point mereka masing-masing dan kami kembali lagi berkumpul untuk pulang kembali ke Telkom University.

Pukul 15.00 WIB truk datang menjemput kami untuk pulang kembali ke Telkom University. Tidak ada kendala selama perjalanan pulang. Cuaca cerah, lalu lintas tidak terlalu macet dan semua selamat sampai tujuan, baik yang naik truk maupun konvoi menggunakan motor.

 


Tulisan Oleh : Ardis Firdais (AM – 036 – GB)

Foto Dokumentasi Astacala