Cerita dari Timur Jauh

Kalau saja nasib menjatuhkanmu untuk lahir sedikit lebih ke timur maka kamu akan menjadi warga Papua Nugini. Jika angin meniupmu jauh ke barat maka kamu akan menjadi Indonesia. Seperti itulah dahulu saat penentuan garis ini sehingga menunjukkan siapa aku, siapa kamu.

Cerita dari Timur Jauh

Ibarat sebuah rumah yang dibatasi oleh pagar, dengan pekarangan luas, begitu pula rumah kita : Indonesia. Suka atau tidak kita memiliki batas yang sudah ditentukan dan diakui bersama. Batas itu sejatinya adalah hanya garis khayal buatan manusia yang membatasi sebuah tanah, wilayah, pekarangan dan kekuasaan. Kita menyebutnya sebagai garis kedulatan, harta paling berharga, harga mati yang rela kita pertaruhkan demi sejengkal tapal pembatas. Batas ini hanya dikenal oleh kita manusia modern dan beradab. Alam dan seisi bumi tidak mengenal dan mungkin tidak ingin mematuhinya. Bahkan tuhan yang kita tinggikan tidak mengenal batas ini. Batas khayal ini sungguh hebat, ia dapat menetukan apapun dalam hidup dan kehidupan orang yang berada di dalamnya.

Kalau katanya manusia tidak boleh dibeda-bedakan rasanya terlalu naif, di saat kita meminta kepada sesama untuk tidak membeda-bedakan, namun justru kita hidup dalam pembedaan. Entah membedakan dari segi suku, warna kulit, agama, ras bahkan dari batas khayal tetapan kita sendiri. Batas wilayah khayal ini pula yang membuat peta atlas dunia bergaris dan membelah-belah daratan, sungai, gunung dan lautan menjadi beberapa bilah pecahan tak teratur. Garis ini adalah garis takdir yang tidak bisa dipilih oleh manusia yang lahir di dalamnya. Sama seperti kita tidak boleh memilih lahir dari siapa dan dimana.

Titik perbatasan. Titik terjauh sebelum menyeberang garis batas antar dua negara. Di seberang adalah wilayah Papua Nugini masih hutan dan sepi.

Pagar Pembatas Tanah

Saya berkesempatan berkunjung ke sebuah wilayah ‘pagar pembatas’ Indonesia bagian paling timur. Saya menyebutnya timur jauh. Karena selain berasa di timur Indonesia, di sini terdapat kerabat dekat yang selalu dianggap jauh : Papua. Jika diumpamakan dengan pagar halaman rumah, tempat ini seperti pembatas pekarangan belakang. Garis pembatas daratan ini memiliki panjang nyaris 700 kilometer terbentang dari laut bagian utara Jayapura hingga ke pantai selatan Merauke di sisi Indonesia. Membelah Pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland menjadi bagian timur dan barat. Membelah pegunungan dan rimba belantara beserta kekayaan yang terkandung di dalamnya. Pintu masuk ke Papua Nugini yang terbesar adalah di sisi Jayapura yang terlihat seperti layaknya jalur lintas batas. Kali ini saya berkesempatan berkunjung ke bagian selatan di wilayah kabupaten Merauke.

Garis batas ini telah banyak mengubah bentuk rupa muka bumi, kebudayaan, kebiasaan dan paling terasa adalah merubah aku-kamu. Aku Indonesia kamu bukan. Aku putih kamu hitam. Dan aku-kamu yang lain. Menuntut manusia untuk saling memandang ke arah yang berbeda, menurut kepada tuan masing-masing dan hormat kepada simbol dan bendera yang berbeda.

Baca juga:   Menemukan Keteguhan Hati di Gunung Kilimanjaro

Setelah lebih dari satu jam berangkat dari Merauke saya tiba di Distrik Sota. Siang itu hari terasa terik dan menyengat saat saya memasuki pintu gerbang yang dijaga oleh pasukan penjaga perbatasan. Perjalanan dari Merauke menyajikan pemandangan alam homogen yang indah. Sebelum memasuki area netral perbatasan, pasukan penjaga perbatasan memeriksa identitas kami dan mempersilakan untuk menuju ke titik akhir tanah kekuasaan Indonesia. Menurut informasi dari teman yang menemani saya, kondisi perbatasan Sota yang kini saya kunjungi berubah jauh lebih baik sejak seorang tokoh masyarakat non-Papua yang merawat. Beliau adalah polisi yang berdinas di Sota dan merubah rupa perbatasan ini.

Ada banyak hal menarik bagi saya saat berkunjung ke perbatasan Sota. Selain dari pengalaman telah mengunjungi ujung Indonesia paling timur namun juga pengalaman melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda. Saat di sini, saya melihat Indonesia sebagai negara maju sekaligus lemah. Jika dibanding dengan daerah perbatasan lain di Indonesia, perbatasan Sota kurang diangkat dalam pemberitaan karena tak banyak isu menarik. Isu lebih didominasi oleh konflik perbatasan antara Malaysia – Indonesia. Isu kesenjangan sosial yang disebut menjadi penyebab beberapa warga menyeberang ke tetangga. Ada pula isu saling mencatut luas tanah kekuasaan.

Di Sota, saya melihat hal berbeda. Indonesia di titik ini seperti di atas angin, tak perlu kekhawatiran berlebih seperti di perbatasan Malaysia. Di sini yang bertukar datang adalah warga Nugini setiap pagi hilir mudik melintasi batas dengan membawa sesuatu dari tanah mereka. Warga Papua Nugini membawa serta barang dagangan untuk dijual dan mengharap warga di Indonesia berminat menukar barang bawaan dengan beras, gula atau pakaian. Saya beberapa kali bertemu dengan kelompok kecil warga Nugini melangkah cepat menghampiri kami. Datang dengan menawarkan barang seperti madu, daging rusa, tas anyaman, dan pernak-pernik ala Papua. Ada beberapa dari mereka bahkan sudah berbahasa Indonesia dengan logat Papua yang sangat kental. Di sini mereka datang mencari sesuatu ke Indonesia untuk menutupi kebutuhan hidup di tanah mereka sendiri. Terbersit dalam hati, mungkin saja apa yang mereka rasakan adalah sama seperti saudara di wilayah Entikong yang jauh dari jangkauan dan perhatian Jakarta.

Garis batas ini telah membelah hutan, gunung, dan lembah. Membagi lahan menjadi barat milik Indonesia dan timur milik Papua Nugini. Memecah lokasi suku nomaden, membelah tanah adat yang telah diakui dan diduduki secara turun temurun dan membelah tanah leluhur. Kini tanah leluhur telah berada di seberang garis batas yang ditentukan oleh penguasa atau dahulu disebut penjajah. Pengakuan mereka atas tanah adatnya tak diakui hukum dunia modern. Kini warga sudah tidak bisa saling berburu, mencari makan, berbagi dan berbaur seperti dahulu sebelum garis-garis batas memisahkan mereka. Kasus suku terpisah oleh garis batas juga terjadi di bagian perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Walau sesama suku Timor namun terpisah secara administratif dan memaksa mereka untuk hormat kepada tuan yang berbeda.

Baca juga:   Penggalan Kenangan di Bulan Ramadhan

Kalau saja nasib menjatuhkanmu untuk lahir sedikit lebih ke timur maka kamu akan menjadi warga Papua Nugini. Jika angin meniupmu jauh ke barat maka kamu akan menjadi Indonesia. Seperti itulah dahulu saat penentuan garis ini sehingga menunjukkan siapa aku, siapa kamu. Saat mereka yang hidup secara nomaden kebetulan sedang berpindah ke timur maka tidak dianggap Indonesia. Sungguh seperti memilih sisi mata uang, hanya ada dua pilihan sama besar. Mereka terpilih untuk menjadi bagian yang mana, walau jika boleh mereka tidak akan meilih keduanya.

Jarak dalam Batas

Di tepi garis batas terlihat sisi perbedaan pembangunan dan infrastruktur dari kedua negara. Distrik Sota memiliki akses jalan beraspal dan memiliki penerangan yang cukup untuk daerah sekitar titik perbatasan. Terdapat warung souvenir, cinderamata dan aneka jajanan pelepas dahaga. Sebuah monumen kecil sebagai bentuk ikon perbatasan pun tersaji rapi dengan cat yang masih segar. Sungguh berbeda begitu Anda menjejakkan kaki ke tanah Nugini. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan hutan dan padang rumput yang luas. Padang rumput dataran rendah dan ribuan musamus berdiri alami. Semua kenyamanan tersebut tak terlihat di seberang sana walau hanya berjarak beberapa langkah. Perbedaan bagai siang dan malam. Tak ada aspal sebagai akses jalan, penunjuk arah, atau sekedar tulisan perbatan maupun tugu selamat datang. Semua serba alami.

Dari penjaga pintu masuk perbatasan, saya diberitahu bahwa warga Nugini setiap hari datang ke Indonesia untuk menukar barang bawaan. Dengan beras, gula, baju, dan kebutuhan hidup lainnya. Mereka datang dalam kelompok kecil tanpa alas kaki dan berpakaian seadanya. Tak tampak perbedaan perawakan dengan Papua Indonesia. Walau kulit sama hitam dan rambut sama keriting, warga Papua Indonesia dapat mengetahui dengan jelas mana suku Papua yang berasal dari Indonesia atau Papua Nugini. Menurut warga sekitar, meski sama hitam tapi kami berbeda. Kami lebih bersih, lebih rapi dan keren. Mereka menuturkan penuh semangat, kemudian tertawa lepas dengan mulut merah merekah karena mengunyah sirih.

Baca juga:   Ekspedisi Astacala Facing Giant Rock di National Geographic Traveler

“Kami lebih keren karena memiliki baju baru yang kami beli di Pasar Merauke sana”. Walau sebagian bahasa lokal memiliki kesamaan namun warga Papua di sini lebih sering bertutur dalam bahasa Indonesia. Akan terlihat lebih modern dan gagah jika menggunakan bahasa Indonesia. Begitulah rasanya di atas angin. Inilah salah satu gambaran tentang makna cinta tanah air. Dari perbincangan itu pula saya mendengar bahwa jika saja boleh berpindah mereka akan memilih berpindah ke Indonesia. Kisah di Sota bertolak belakang dengan cerita di perbatasan dengan Malaysia. Bagaimana jika berhadapan dengan negara serumpun melayu seperti Malaysia? Akankah Malaysia merasa di atas angin dan Indonesia bagai Papua Nugini? Semoga tidak.

Menolak Mengakui

Garis batas ini sudah terlanjur mendarah daging bagi manusia yang ada di dalamnya. Namun kenyataannya, masih ada yang tidak ingin mengakui dan bahkan menolak. Sebagian melakukan resistensi terhadap kesepakatan internasional pada garis yang diakui PBB dan negara lain. Ada pula yang ingin melepaskan semua atribut dan membuat garis batasnya sendiri. Membuat garis khayal baru antara Indonesia dan pulau Papua dimana ini sungguh menyulut harga mati bagi Jakarta dan daerah lain.

Terlepas dari garis batas yang membentuk segala tingkah laku, aturan, cara main dan pandangan; ada hal mendasar yang harus ditepati oleh pembuat dan penerus garis batas. Yaitu kesamaan perhatian dan hak berkeadilan. Hal inilah yang menjaga agar semua unsur yang ada di dalamnya menjadi sebuah ikatan yang kuat. Jika hal mendasar ini tidak dirasakan oleh orang yang sudah terlanjur terpecah garis batas buatan kolonial dan penjajah, maka jangan marah jika mereka menganggap masih dijajah dan belum merdeka. Sebaliknya tuan rumah tidak boleh marah jika ada anggota keluarga pindah rumah dan mencari atau membuat rumahnya sendiri. Tuan rumah harusnya merasa malu pada kenyataan, bahwa dengan mempunyai rumah dan halaman yang luas ia tidak kuasa merawat dan menjaga. Semoga kita tidak terlalu lama merasa di atas angin sehingga gampang terlena dan goyah. Karena kapan angin bertiup kencang, tidak ada yang tahu. []

Merauke, 2015

Oleh Isack Farady