Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 2)

Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 2)

 

Saya bersama Anatoli Marbun “Bolenk” bersepeda dari Kintamani ke Klungkung. Sebelumnya, kami telah melalui etape pertama dari lima etape yang saya susun. Menyusuri punggungan Gunung Abang dan lembahan Tukad Anyar. Hingga akhirnya kami tiba di pasar hewan Desa Pempatan sebagai titik akhir etape pertama.

Tepat jam dua belas siang. Kami yang belum lapar memutuskan untuk menunda makan. Melanjutkan perjalanan menyusuri jalur etape berikutnya. Jika lapar, cari warung saja di pinggir jalan. Toh perjalanan akan melewati banyak desa.

Etape Kedua : Pempatan – Muncan

Jalur etape kedua ini bervariasi. Elevasinya masih dominan menurun. Jalur perjalanan akan banyak memotong sungai dan lembahan. Ini menyebabkan akan ada banyak tanjakan sekaligus turunan.

Dari pasar hewan, kami menyusuri jalan beraspal. Ini adalah Jalan Raya Besakih – Pempatan. Juga sering disebut sebagai Jalan Pasar Hewan Besakih. Di sepanjang jalan, ada banyak sapi. Di Bali bagian timur, Desa Pempatan dan Desa Besakih dikenal sebagai penghasil sapi terbaik. Ketika Gunung Agung erupsi, sapi-sapi ini banyak dijual murah. Beberapa ada juga yang diungsikan ke Klungkung.

Kami menyusuri jalan beraspal sepanjang kurang lebih dua kilometer. Ke arah timur. Jalan menanjak dan menurun. Silih berganti. Energi saya terkuras di sini. Apalagi belum makan siang.

Di sebuah belokan, kami masuk ke jalan kecil. Ke sebuah tegalan yang banyak terdapat pohon bambu. Jalannya menanjak curam. Hanya seukuran kendaraan roda empat kecil. Sebuah mobil bak terbuka yang membawa batu ikut masuk ke jalan kecil ini. Menyalip kami. Tapi beberapa meter di depan, mobil itu mogok. Tak sanggup menanjak. Mobil itu kami salip balik.

Setelah melewati tanjakan dan kebun penduduk, kami tiba di tanah datar. Ada rumah-rumah yang satu sama lain jaraknya berjauhan. Ada banyak anjing. Sepertinya setiap rumah memelihara anjing. Mereka menggonggong kami. Ribut. Beberapa ada yang mengejar. Bolenk saya minta untuk tak ngebut. Kalau ngebut, biasanya anjing makin mengejar. Ia pun mengayuh santai. Sambil bernyanyi lagu Sayur Kol.

Baca juga:   Perjalanan Anggota Muda Astacala Step Into the Unknown di Harian Pikiran Rakyat

Di tempat yang banyak anjing inilah kami mulai banyak nyasar. Salah jalan. Ada yang berujung di kandang sapi. Ada yang berujung di tepi jurang. Ada yang jauh menyimpang dari jalur yang sudah direncanakan. Dan yang paling menyebalkan dari nyasar adalah : kami harus berbalik arah. Padahal sudah enak meluncur turun. Ketika balik, terpaksa harus menanjak lagi. Capek. Lapar. Belum makan.

Akhirnya setelah beberapa kali nyasar,  jalur yang benar akhirnya didapat. Jalan makadam. Melalui rumah-rumah penduduk yang jaraknya berjauhan. Masih banyak anjing. Ribut menggonggong kami. Ditambah ayam-ayam yang ikut berkeliaran panik. Jika di etape pertama tantangannya adalah pasir dan licin; di etape kedua tantangannya adalah tanjakan, nyasar, dan dikejar anjing.

Di jalur yang masuk ke dalam kawasan Desa Besakih ini, ada banyak pohon salak di pinggir jalan. Sebagai pagar pekarangan rumah. Atau sebagai pagar kebun. Besakih  sebagai salah satu desa di Karangasem adalah penghasil salak bali yang terkenal itu.

Setelah melalui jalan makadam yang berliku, turun dan menajak, kami kemudian tiba di Jalan Raya Menanga – Besakih. Jalan utama dari Denpasar atau Klungkung menuju Pura Besakih, pura terbesar di Bali. Suasananya ramai. Banyak kendaraan besar seperti bus-bus pariwisata. Saya harus menunggu beberapa menit untuk melintas. Sekitar seratus meter mengikuti jalan raya, jalur perjalanan kami akan masuk ke jalan kecil lagi.

Bersepeda di jalan-jalan kecil itu menyenangkan. Makadam, jalan desa, setapak, pematang sawah, atau gang-gang perumahan. Selain tak banyak kendaraan bermotor, sensasinya juga lebih mantap. Blusukan. Menjelajah tempat-tempat tersembunyi. Kalau lokasinya di hutan, kebun, atau sawah; udaranya juga segar.

Dan jalan kecil berikutnya setelah melalui Jalan Raya Menanga – Besakih adalah di tengah tegalan. Diselingi beberapa rumah penduduk. Ada anjing juga tentunya. Pohon-pohon besar dan tinggi di sepanjang jalur. Jadinya rindang. Jalurnya berupa paving blok yang rapi. Halus. Kami bisa menambah sedikit kecepatan.

Jalan kecil berpaving blok berakhir di jalan beraspal lagi. Ketika di ujung jalan ada pondokan, kami berharap itu adalah warung makan. Tapi ternyata bukan. Kecewa. Karena perut makin berteriak lapar.

Baca juga:   Aksi Hari Bumi IT Telkom

Saya bernavigasi. Dalam peta, jalur yang akan kami tempuh akan melalui sebuah sekolah. SMP Negeri 3 Rendang. Jaraknya tak jauh lagi. Di dekat sekolah, harusnya ada warung makan. Siapa tahu ada yang menjual nasi lawar dan sate, makanan yang tiba-tiba  menggiurkan kala bersepeda ini. Sementara Bolenk sudah berangan-angan akan makan rendang. Porsi dobel katanya. Ia kira nama rendang yang saya sebutkan adalah makanan. Padahal Rendang yang saya maksud dari tadi adalah dengan R kapital. Merupakan nama kecamatan di lokasi kami sekarang. Dasar Jaka Sembung bawa celeng. Nggak nyambung, Lenk.

Ketika kami tiba di SMP N 3 Rendang, sepi. Murid-murid dan para guru tentunya sudah pulang. Ini sudah menjelang jam dua siang. Apalagi hari sabtu. Harapan bertemu warung makan sirna sudah. Di sekitar sekolah ada warung, tapi bukan warung makan. Kami harus mengayuh lagi menuju Desa Muncan. Di sana ada pasar. Desanya cukup besar. Pasti ada warung makan.

Jalan utama di depan sekolahan SMP ini beraspal baik. Kami ngebut meluncur turun. Menuju aliran sungai Toya Sah. Jalan menuju sungai lebih kecil dan rusak. Berbelok ke timur dari jalan utama yang ke selatan. Sawah-sawah terlihat menghijau di tepian sungai. Juga kebun-kebun bunga gumitir yang cantik.

Sungai Toya Sah adalah hulu Sungai Yeh Unda. Saya sudah berdiri di tepiannya. Jalan putus. Karena diterjang lumpur dan lahar dingin Gunung Agung, waktu erupsi dulu. Sebelumnya, di tempat ini ada mata air yang disucikan. Berupa pancuran dan telaga yang jernih. Tapi kini, hanyalah hamparan pasir dan bebatuan yang dialiri air. Kami harus menyeberanginya. Lebarnya sekitar seratus meter. Bolenk memanggul sepeda ke bawah. Kemudian saya menyusulnya. Seorang petani ikut menyeberang bersama kami. Menuju sawahnya.

Di seberang sungai, ada banyak batu kali di pinggir jalan. Musibah banjir lahar dingin ternyata membawa rezeki bagi sebagian orang. Pasir dan batu menjadi bertambah banyak. Bisa ditambang dan dijual.

Sepeda kembali dikayuh. Di depan sudah ada bukit menghadang. Jalan yang kami tempuh ini berujung di sana. Menanjak terjal dan menghilang di balik tikungan. Semangat mulai goyah. Kami harus mendaki. Sepeda dituntun saja. Di pertengahan pendakian, kami istirahat. Tak kuat menuntun sepeda di tanjakan yang panjang. Bekal kue yang tersisa langsung disikat habis. Belum bertemu warung dari tadi.

Baca juga:   Penanaman Pohon di Upacara Penutupan Pendidikan Dasar Astacala Tel-U.

Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Harus semangat. Kue sudah habis. Air minum juga menipis. Kali ini harus segera bertemu warung makan. Ketika jalan mulai mendatar dan mulai memasuki rumah-rumah penduduk, anjing-anjing mulai menyambut. Bolenk bernyanyi Sayur Kol lagi.

Di bale banjar yang kami lewati, ada banyak pemuda yang sedang membuat ogoh-ogoh. Ada juga baliho caleg tak jauh dari sana. Lagu bali mengalun dari sebuah load speaker. Hari Raya Nyepi beberapa minggu lagi. Berbarengan dengan musim kampanye. Wajar jika hampir di tiap bale banjar ada ogoh-ogoh. Juga wajar ada baliho. Semarak.

Tiba di pasar Desa Muncan, pasarnya sepi. Sudah tutup. Sebuah warung makan di dekatnya juga sedang berkemas, bersiap tutup. Jam dua siang lewat. Ini di desa. Pasar tentu tak buka sampai sore. Akhirnya kami kelimpungan mencari warung. Di sebuah perempatan, ada gerobak bakso. Jualannya mie ayam. Tak ada nasi. Ya sudah. Kami makan mie saja. Daripada tidak makan sama sekali. Lagi pula ini sudah akhir etape kedua. Masih ada tiga etape lagi yang harus ditempuh. []

Tulisan dan Foto oleh I Komang Gde Subagia