Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 1)

Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 1)

 

Udara sejuk. Pepohonan dan semak di kanan kiri jalan setapak. Di beberapa titik berpasir. Kondisi ini menyebabkan cengkeraman ban tak stabil. Sepeda yang saya gunakan bekerja keras. Terpeleset beberapa kali. Gila! Jalur bersepeda di punggungan Gunung Abang ini sungguh mantap. Memiliki tingkat kesulitan yang sungguh menantang.

* * *

Sabtu pagi, saya bersama Anatoli Marbun “Bolenk” bersiap untuk berangkat bersepeda. Segala perlengkapan sudah masuk ke dalam tas. Sepeda juga sudah terpasang di mobil bagian belakang. Nasi campur bali yang menjadi menu sarapan kami sungguh nikmat. Ditambah teh manis dan beberapa kue basah. Itu semua sudah sangat cukup mengganjal perut. Menjadi amunisi untuk menjajal jalur bersepeda yang tak biasa.

Saya merencanakan untuk bersepeda dari Kintamani ke Klungkung sudah sejak lama. Jalurnya sudah saya susun dengan detail. Titik awalnya berada di gigiran Gunung Abang, Kintamani, Bangli. Dengan tujuan akhir di titik nol Kota Semarapura, Klungkung. Jarak totalnya sekitar 50 sampai 60 kilometer. Dengan elevasi dominan menurun.

Kami ke Kintamani diantar oleh Bapak. Untuk drop sepeda saja. Perjalanan ke Kintamani lancar. Waktu masih pagi. Jalan raya tak begitu ramai. Selama perjalanan, saya menghitung-hitung jarak. Karena arah bersepeda nanti adalah kebalikannya, tapi di jalur yang berbeda. Ternyata naik mobil saja jauh. Apalagi dengan sepeda. Perhitungan di atas kertas berbeda dengan kondisi sebenarnya. Waktu setengah hari yang direncanakan sepertinya akan berubah. Ini akan memakan waktu seharian penuh.

Saya membagi jalur menjadi lima etape. Ini untuk memudahkan ketika merencanakan jalur pada peta. Juga untuk menentukan titik istirahat. Etape pertama, dari sebuah pura di Desa Suter menuju pasar hewan di Desa Pempatan. Etape kedua, dari pasar hewan ke pasar Desa Muncan. Etape ketiga, dari Desa Muncan ke Desa Sangkan Gunung. Etape keempat, Desa Sangkan Gunung ke Desa Tangkup. Dan etape kelima atau etape terakhir adalah dari Desa Tangkup ke Kota Semarapura. Seluruh jalur ini melalui tiga kabupaten di Bali : Bangli, Karangasem, dan Klungkung.

Etape Pertama : Suter – Pempatan

Kami tiba di Desa Suter jam sepuluh pagi. Tujuan sebenarnya yang menjadi titik awal dari perencanaan adalah Pura Bubung Renteng. Pura ini merupakan jalur pendakian ke Gunung Abang, gunung yang menjadi dinding kaldera Danau Batur.

Tapi kami memulainya dari pura yang lain. Pura yang memiliki pemandangan terbuka. Jaraknya sekitar satu kilometer sebelum titik awal yang direncakan sebelumnya. Karena pemandangannya menawan, kami mulai dari sini saja. Danau dan Gunung Batur terlihat anggun.

Sepeda kami turunkan. Botol air minum diisi penuh. Makanan kecil dipastikan tak ketinggalan. Juga peralatan reparasi. Setelah memastikan semuanya siap, Bapak pun kembali ke Klungkung. Tinggal kami berdua, saya bersama Bolenk. Bersiap memulai perjalanan.

Baca juga:   Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 2)

Kayuhan pertama dimulai. Menyusuri jalan beraspal di atas gigiran gunung. Pepohonan besar-besar tinggi menjulang. Angin berhembus sejuk. Tapi jalan yang kami tempuh mendaki. Terang saja, arahnya menuju puncak gunung. Di awal perjalanan sudah dihajar tanjakan. Tak mau segera kehabisan energi, sepeda akhirnya kami tuntun.

Dari Pura Bubung Renteng, barulah jalan menurun. Jalur tak mengarah ke puncak lagi. Tetapi ke selatan. Berpindah punggungan. Beberapa petak hutan telah dibuka menjadi ladang. Jalannya berupa makadam. Beraspal, tapi bebatuannya timbul. Jalan yang rusak. Jarak makadam ini pun pendek. Karena selanjutnya jalan berupa tanah. Makin menyempit dan kemudian berubah menjadi setapak.

Kami mulai memasuki wilayah Desa Abang Songan. Di sebuah persimpangan jalan, ada tugu batas wilayah. Kami berswafoto di sana. Mengabadikan perjalanan. Dua orang pesepeda gunung lewat. Kami sempat ngobrol sebentar. Salah satu orang di antara mereka rasanya saya kenali. Ia sepertinya orang yang saya ikuti di Strava. Ia memiliki banyak jalur bersepeda di Bali dan Jawa Timur. Jalur yang akan saya tempuh ini pun saya analisa dari jalurnya.

Di pertigaan ini, ada papan petunjuk untuk sepeda. Cycling route, begitu tulisannya. Tak jauh dari sana, ada pula pengumuman yang berisi larangan pada motor trail untuk melintas. Sepertinya, jalur yang saya lalui ini sering dipakai oleh motor trail sebelumnya. Di lokasi batas hutan, yang banyak ada ladang dan kebun, pemotor trail tak disukai. Bising. Juga merusak lahan. Selain itu, membuat hewan-hewan ternak terganggu. Kalau pesepeda, tak masalah. Kan ramah lingkungan.

Perjalanan dilanjutkan. Jalan mulai menyempit. Licin. Berkelok dan menurun tajam. Bolenk saya minta di depan. Tidak ngebut dan berhati-hati. Sepeda yang kami pakai bukan tipe sepeda yang cocok di medan ekstrim. Baru beberapa menit saya minta hati-hati, Bolenk sudah terjerembab. Saya yang di belakangnya ikut terjatuh karena rem mendadak. Fiuh… Untung tak ada luka yang berarti.

Setelah kejadian ini, kami mulai saling mengingatkan. Jika terjadi kecelakaan serius di etape pertama ini, maka evakuasi akan susah. Sepanjang jalur etape pertama ini merupakan daerah terpencil. Kami bersepeda untuk melihat daerah-daerah baru. Refresing. Bukan bertujuan utama olah raga. Juga bukan untuk balapan. Jadi untuk apa harus ngebut dan buru-buru? Lebih baik santai. Woles, kata anak zaman now. Berhenti di mana saja di tempat yang diinginkan. Atau pelan-pelan dan istirahat jika sudah mulai lelah.

Jalur di punggungan gunung ini merupakan jalur petani. Saya berpapasan dengan pencari rumput beberapa kali. Beberapa dari mereka membawa motor. Membuat saya harus menepi di setapak yang sempit. Jika sempat berhenti dan bertegur sapa, saya menanyakan arah jalan. Atau tempat kami berada di desa mana.

Baca juga:   95 Km Tour de Baduy

Ternyata kami berada di batas alami antara dua kabupaten di Bali. Sebelah timur adalah Karangasem. Sebelah barat adalah Bangli. Gunung Agung terlihat di sisi timur. Menjulang gagah di sela-sela pepohonan.

Di sebuah sadelan kecil, jalan setapak bercabang tiga. Satu lurus tetap melanjutkan jalur di punggungan. Dua sisanya mengarah ke lembahan di kanan dan kirinya. Saya membuka peta. Peta Google Maps yang sudah dipadukan dengan jalur yang saya buat. Dari titik ini, kami harus turun ke lembahan di bagian barat. Menuju Tukad Anyar, sungai yang mengalir di lembahan itu.

Kami turun. Berhati-hati. Jalan makin licin. Berkelok-kelok curam dan sempit. Menjelang dasar lembah, jalan mulai berpasir. Makin lama makin banyak. Kami lebih waspada mengendalikan sepeda. Tidak bisa ngebut. Juga tidak bisa pelan. Jika ngebut, resiko terpeleset dan jatuh makin besar. Jika pelan, sepeda susah dikayuh. Serba salah.

Akhirnya kami tiba di dasar lembah. Tempatnya terbuka. Rerumputan hijau menghampar. Pohon-pohon pinus tumbuh acak di beberapa tempat. Jalan setapak dari punggungan yang telah dilalui mulai melebar. Dipenuhi pasir yang padat. Ada aliran air yang kecil di sana.

Seperti namanya, Tukad Anyar berarti sungai baru. Ia berawal dari tempat ini. Jika musim hujan, maka jalan setapak inilah yang menjadi jalan air. Semalam memang hujan lebat. Untung tak berlanjut sampai pagi. Lapisan pasir menjadi sedikit lebih padat. Cukup menguntungkan bagi rencana saya bersepeda di lembahan ini.

Kami menghabiskan beberapa menit untuk beristirahat. Makan biskuit coklat sambil melihat langit yang cerah. Ada beberapa ekor burung yang terbang rendah. Karena saya membawa GoPro, banyak waktu yang dihabiskan untuk syuting diri-sendiri. Memasang kamera. Lalu kami bersepeda melewatinya sampai jauh. Kemudian kembali lagi mengambil kameranya. Cukup lucu juga. Seperti orang iseng tak punya kerjaan. Dan kami memang iseng.

Dari titik awal di dasar lembah, jalur kami akan terus mengikuti lembahan. Menuju akhir etape pertama, di pasar hewan Pempatan. Jalanan berpasir. Berbatu. Juga dialiri air. Sesekali waktu saya terpeleset. Begitu juga Bolenk. Karena tak ngebut, tak sampai jatuh terjerembab lagi. Aman.

Sampai akhirnya, jalan lembahan mulai melebar. Ada mobil bak terbuka yang sedang mengangkut rumput. Ini artinya jalurnya sudah mudah diakses dan dekat dengan jalan besar. Dan benar saja. Beberapa puluh meter berikutnya, kami tiba di jalan beraspal.

Di pinggir jalan, ada tugu batas wilayah antara Banjar Pemuteran dan Banjar Teges. Kedua banjar ini ada dalam satu wilayah desa, yaitu Desa Pempatan. Beberapa pengendara motor yang lewat memperhatikan kami. Kami berhenti cukup lama di titik ini. Bernavigasi. Jalur berikutnya masih berlanjut masuk ke lembahan. Ada jalan setapak kecil di sana.

Baca juga:   Suatu Hari di Tulamben

Kayuhan pedal berlanjut. Kondisi medan masih sama seperti sebelumnya. Setapak berpasir, berbatu, dan dialiri air. Pepohonan besar yang tak rapat tumbuh di kanan dan kiri jalur. Serta semak-semak yang padat di sekitarnya. Di beberapa titik, ada genangan air yang cukup luas. Lumayan untuk dijadikan tempat bergaya. Syuting bersepeda, meluncur di tepian genangan sehingga menimbulkan cipratan air. Byuuur!

Setelah menempuh perjalanan ratusan meter, kami tiba di tempat terbuka. Ada umbul-umbul berwarna-warni. Ada pondok-pondok beratapkan jerami. Ada tangga-tangga dari kayu yang tersusun rapi di antara bebatuan di kaki tebing. Ada tulisan-tulisan besar dari logam yang terpasang di beberapa titik. Tempat apa ini?

Di salah satu pondokan, saya melihat beberapa orang sedang makan. Saya bertanya pada mereka. Katanya ini adalah tempat wisata. Miliknya pribadi. Sebagai tempat swafoto kekinian. Apakah ada yang datang ke sini? Suasananya sepi. Apalagi tempatnya terpencil. Tapi kata sang pemilik, ada saja yang berkunjung. Hmmm…

Dalam hati, saya sebenarnya kurang begitu suka. Tempat-tempat alami disulap dengan berbagai pernak-pernik. Juga diisi tulisan penanda. Untuk keperluan wisata. Untuk foto-foto. Rasanya kurang kreatif. Kalaupun digunakan untuk motif ekonomi, untuk mendapatkan uang tiket misalnya, rasanya lebih bagus jika alami saja. Yang penting promosi dan pengelolaan yang tepat. Bukan dengan memasang umbul-umbul dan tulisan. Tapi selera orang memang berbeda.

Akses ke tempat berumbul-umbul ini tak begitu jauh dari jalan besar. Beberapa puluh meter kemudian, kami tiba di pasar hewan Pempatan. Ini adalah akhir etape pertama. Yang juga awal etape kedua. Pepohonan rindang. Angin bertiup sepoi-sepoi. Segar. Ada beberapa warung makan. Ada beberapa truk pencari pasir parkir di pinggir jalan. Ada beberapa ekor anjing berkeliaran.

Kami istirahat di salah satu warung. Mengisi ulang air minum dan menambah sedikit perbekalan. Waktu tepat tengah hari. Jam dua belas siang. Saya belum lapar. Bolenk setuju kami tak makan siang di sini. Di Muncan saja. Di titik akhir etape kedua. Tapi Muncan masih jauh. Kalau dalam perjalanan lapar, kami mampir di warung saja. Etape kedua kali ini jalurnya akan lebih bervariasi. Melewati banyak desa. Jalan aspal, makadam, dan perkebunan. []

Tulisan oleh I Komang Gde Subagia
Foto oleh Anatoli Marbun