Dua Belas Matahari Siung

Dua Belas Matahari Siung

Suara bising yang terdengar di ruangan enam kali lima meter itu masih saja teringat di ingatanku, lalu lalang khususnya para anggota muda Astacala dengan senyuman bahagia tampak jelas terlukis di wajah mereka. Langit senja yang menambah keharmonisan pada saat itu sungguh melengkapi suasana rumah mungil Astacala. Balkon di luar rumah ini yang langsung bersapaan dengan matahari membuat kami merasa sangat syahdu untuk bercengkrama bergantian menikmati segelas kopi hangat sembari memandang matahari senja kala itu. Petikan gitar yang nadanya tak lagi merdu tetap menjadi hiburan kami selalu apalagi saat berkumpul bersama. Tidak perlu ada drama, kami menikmati setiap momen sepele dikata orang sebelum berpisah untuk sesaat.

Suara musik dari youtube selalu bergema di ruangan sekre kami. Kumpulan orang-orang yang menyempatkan waktu dan menikmati kebersamaan sesaat ini selalu menjadi ciri khas rumah mungil di lantai tiga Gedung Serba Guna. Pada saat itu kami saling berpamitan sembari menggendong carrier. Segera saja kami memindahkan barang muatan kami ke mobil karena sesaat lagi akan kami menuju Stasiun Kiaracondong menuju Stasiun Lempuyangan.

Sepanjang perjalanan menuju stasiun, kawanku yang akrab disapa “Jarwo” sangat antusias. Perjalanan ini merupakan pertama kali ia menggunakan kereta, “Akhirnya mimpiku tercapai nih !! Bisa naik kereta wuhuuuuu !!” kata Jarwo kepada kami di sekitarnya.

Lelaki kelahiran Bali itu mengaku sangat menantikan perjalanan ini dari dulu sejak pertama kali berkuliah di tanah Pasundan. Tidak habis cerita dan penantian yang ia tuturkan dengan wajah berbinar kepada kami.” Semoga hati mu cukup kuat untuk menahan pedihnya harapan manis mu.” ucapku dalam hati sambil menahan kantuk yang sudah siap mengambil alih kesadaranku.

Kereta kami tiba di stasiun pukul setengah sembilan malam. Hiruk pikuk kesibukan terdengung di telingaku. Lalu-lalang orang membuat suasana stasiun terasa padat. Sambil menenteng carrier, aku menikmati antrian pejalan kaki yang sesak memenuhi stasiun. Gerbong demi gerbong kami lewati sampai kami bertemu dengan kereta yang akan kami tunggangi.

Angin terasa begitu sejuk. Malam juga begitu tenang. Kami mulai menata bawaan kami di kabin kereta. Sesekali aku menengok ke Jarwo. Sumringah betul. Senyumnya begitu lebar. Wajahnya pun terlihat terang. Nampak sekali kebahagian  sedang menerpa dirinya.

Saat pusat informasi memberitahukan bahwa kereta akan segera berangkat, Jarwo sangat senang karena akhir penantiannya akan segera berakhir. Setelah kereta mulai berjalan, ia mengaku sangat senang merasakan pengalaman naik kereta ini. Satu jam pertama ia dengan antusiasnya menceritakan kesannya di kereta ini,

Belum lagi seperempat perjalanan, Jarwo sudah mengeluh “ Aduh.. ternyata begini ya rasanya naik kereta. Tidak begitu nyaman dan senang seperti yang ku harapkan.” Ia tampak lesu dan hanya terdiam. “Kak jam berapa kita sampai Jogja?”

“Jam enam, masih lama, tidur saja!” Jawab Kak Aya singkat sambil asik membaca buku.

“Astagaaa, sekarang masih jam sepuluh.”

Tak karuan Jarwo. Jawaban dari Kak Aya seolah mencabut nyawa dari raganya. Malang betul.

Tingkahnya jadi hiburan kami, sengsaranya pun jadi bahan tawaan juga. Kak Aya pun tak ada habisnya tertawa sambil menutup mulutnya.

***

Perjalanan ini kami tempuh kurang lebih selama sehari. Siang hari dari Stasiun Lempuyangan kami di jemput menggunakan mobil bak untuk menuju Tebing Siung. Panasnya matahari yang kami ratapi selama perjalanan bukan main, apalagi dengan mobil bak yang pada hakikatnya tidak memiliki atap sebagai naungan kami berlindung dari teriknya senyum matahari.

Selama berjam-jam kami berusaha mencari posisi nyaman untuk duduk maupun tidur di mobil bak tersebut. Permukaan alas mobil tersebut tidaklah rata sehingga bokong kami tergesek-gesek sepanjang perjalanan. Belum lagi, sopir mobil mengemudi secara ugal-ugalan. Lupa bahwa yang duduk di bak mobilnya itu bukan barang-barang kiriman atau sejenisnya melainkan manusia biasa dari Bandung yang segenap usaha berupaya untuk menolak belang dan muntah tentunya.

Sesampai di Tebing Siung, kami disambut oleh suara gesekan ombak dan pasir di pantai. Angin di dataran pasir cokelat keputih-putihan itu dengan cepat membuat tubuhku terasa lengket. Mungkin karena keringat yang aku keluarkan selama perjalanan express yang tak ingin rasanya ku ulangi untuk sementara waktu dekat ini. Entahlah aku sudah terlalu asik memandang birunya lautan layaknya cerminan langit angkasa.

Blok D merupakan salah satu spot pemanjatan yang cukup populer di Tebing Siung sebagai jalur pemanjatan artifisial untuk pemula. Selain dari jalurnya yang tidak begitu susah, pemandangan yang menunggu di puncaknya juga sangat indah. Kamu juga dapat melihat Pantai Siung dari ketinggian dan lautan yang begitu luas. Jenis batuan pada tebing yang pantainya dikatakan mirip seperti taring monyet (siung) oleh masyarakat sekitar adalah karst. Juga sering kali terdapat monyet berekor panjang dari tebing yang turun untuk mencari makanan.

Kami memulai pemanjatan artifisial di blok ini pada hari Sabtu. Di blok ini terdapat dua jalur yang kami gunakan. Jalur kedua merupakan jalur yang wajib aku dan tim ku tempuh menuju pucak blok ini. Timku berisikan empat orang dan tim lainnya tiga orang menggunakan jalur pertama. Kami memulai pemanjatan pada pukul setengah delapan pagi. Namun semua hal lancar berakhir di sesi ini, Setidaknya bagi ku sebagai orang pertama dalam pemanjatan artifisal ini.

Aku sebagai orang pertama memiliki kewajiban untuk meng- install sistem hanging belay & jumaring sehingga otakku yang tidak seberapa ini harus berpikir dan berpikir dalam menerapkan wejangan wejangan yang dibekalkan kepada kami selama masa latihan di sekre. Mulai dari penerapan pengaman sisip selama aku melakukan pemanjatan, pemasangan fix rope dan semacamnya. Karena keasikan menggunakan sling webbing dalam pemanjatan ini akhirnya sling webbing-ku habis di teras untuk menginstall fix rope.

Aku mulai menengok pengaman sisip yang aku bawa seperti phyton,friend,chok dan lain lain. Awalnya semua lancar ketika menggunakan phyton yang aku yakini kuat untuk menahan tali serta pemanjat-pemanjat berikutnya maupun yang jumaring. Namun seperti kata pepatah dari negeri paman sam yaitu “Fortune comes alone but misfortune isn’t coming  alone “ ya benar sekali phyton yang aku bawa hanya berjumlah tiga yang sama sekali tidak cocok untuk menginstall fix rope untuk hanging belay dan jumaring secara bersamaan.

Pada saat itu yang aku lakukan cuma mengangkat kepala ku ke langit melihat matahari dan senyumnya yang begitu mencemoh seraya ditemani tawa ombak yang begitu keras. Aku terus berpikir dan akhirnya mendapatkan ide alternatif menggunakan webbing sebagai pengganti sling webbing. Namun momen itu cuma sesaat terasa manisnya.  Aku tidak dapat menemukan lubang tembus yang tepat. Berkali kali aku kembali mencoba chok & friend namun semuanya sia-sia karena tidak menemukan lubang yang tepat.

Sekali lagi aku mengangkat kepalaku yang penuh akan keringat. Rambut lebatku juga turut membantu membuat aku pusing dan merasa sangat serba salah. Berjam-jam aku di teras ini memikirkan solusinya dan lama kelamaan matahari yang menjadi penonton setiaku terasa tak sendirian lagi, dan benar ketika aku memandang bola kuning di langit itu, betapa kagetnya aku bahwa matahari sepertinya berganda. Mulai dari satu hingga dua belas. Aku  sekejap duduk terdiam menatapi matahari dan mulai membuka tas panjat kecil hitam yang selama ini di belakangku membisu menolak membantuku. Ku keluarkan makanan dan minuman. Sambil beristirahat aku juga berpikir apa solusi yang aku butuhkan.

Yah lumayan lah mulai pemanjatannya pukul setengah delapan pagi dan berakhir pada pukul empat sore, Cukup untuk mengetahui bahwa di Siung terdapat dua belas matahari. Semuanya tidak sia sia hahaha.

Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang aku pelajari selama aku berteman dengan dua belas matahari ku di teras itu. Terimakasih banyak atas dukungan saudara saudara tim RC ku yang terus berjuang mendukungku dan mengajari ku berbagai ilmu selama di lapangan. Juga berkat instruktur serta partisipan yang setia nan sabar mengajariku dan menungguku kembali ke dasar tebing.

A S T A C A L A ! ! !

 

 


Tulisan Oleh Andi Muhammad Nur (AM – 010 – Gemuruh Langit)

Foto Dokumentasi ASTACALA