Penutupan Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia 2018 “Menjemput Harimau Jawa”


Peserta Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia 2018 “Menjemput Harimau Jawa” melakukan foto bersama di depan kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, Minggu (8/7/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Alton Phinandhita)

EKSPEDISI – Ekspedisi Pencinta Alam 2018 “Menjemput Harimau Jawa” telah resmi ditutup usai Ujang Asep Kepala Seksi 2 Balai Taman Nasional Ujung Kulon menerima rekomendasi dan rencana tindak lanjut (RTL) dari tim ekspedisi di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, pada pukul 11.00 WIB Minggu (8 Juli 2018).

Ekspedisi dilaksanakan di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon selama 15 hari mulai Minggu (24 Juni 2018) hingga Minggu (8 Juli 2018). Diikuti oleh 50 orang peserta berasal dari anggota organisasi Pencinta Alam se Indonesia yang lolos ketentuan ekspedisi.

Penyelenggara kegiatan sendiri dikelola secara bersama antara ; Yayasan ASTACALA, KAPPALA Indonesia, Peduli Karnivor Jawa (KPJ), PMPA – ASTACALA Telkom University Bandung, Perhimpunan SANGGABUANA, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), MAPALASKA UIN Sunan Kalijaga, KPLH RANITA UIN Syarif Hidayatullah, BINGKAI Indonesia, Lesksa Ganesha Yogyakarta, Kedai JATAM, dan Ikatan Alumni SABHAWANA.

Rangkaian kegiatan penutupan ekspedisi dibuka dengan sambutan oleh Sofyan Eyank. “Pertama, hasil ekspedisi ini semakin meyakinkan bahwa harimau jawa masih ada, punahnya harimau jawa tidak semudah yang dipikirkan, hutan akan terancam karena tidak adanya harimau jawa,” ujarnya dalam sambutan penutupan di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, Minggu (8 Juli 2018).

“Kedua, ekspedisi ini membuktikan jika anggapan degradasi culture terkait dengan kepencintaan alam itu tidak benar,” tambahnya menekankan.

“Artinya tergantung pendekatannya, bagaimana design sebuah kegiatan yang melibatkan pencinta alam itu yang memunculkan tentang kemandirian, tentang kesetiakawanan, dan tentang kebersamaan itu masih tetap ada,” imbuh anggota perhimpunan Sanggabuana tersebut.

“Sementara orang melihat pencinta alam sekarang berbeda dengan generasi 80 atau 90 an dan lainnya, perbedaan pasti ada, mulai dari jaman, teknologi dan lainnya. Tapi pendekatan itu juga seharusnya bisa menyesuaikan, dan ekspedisi kali ini bisa membuktikan bagaimana teman-teman memberikan kontribusi yang luar biasa terkait dengan urusan konservasi. Hal tersebut terbukti dan bisa dibuktikan, itu yang paling penting,” lanjutnya.

“Ketiga, terkait rencana tindak lanjut (RTL) di mana murni muncul sendiri dari peserta. Dan RTL tersebut saling menyambung dan polanya sama, tidak harus menunggu inisiatif pihak luar, tidak harus ada dana yang menyediakan, tidak terhambat sistem perkuliahan yang begitu ketatnya, tapi pensiasatan bisa dilakukan oleh kawan-kawan pencinta alam. Semoga kedepan pola ini (kemandirian, kesetiakawanan, kebersamaan) bisa terus berkembang dan harapan terbesarnya setiap kegiatan pencinta alam itu berkontribusi terhadap konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan negara, itu yang penting,” imbuhnya.

“Terakhir, semoga kita pencinta alam dapat menjalankan mandat dan semoga sesuai kata Eko Teguh Paripurno untuk menjadi pencinta alam yang lebih waras dalam tanda kutip,” ujar alumni ekspedisi harimau jawa tahun 1997 di Taman Nasional Meru Betiri tersebut.

Sambutan perwakilan peserta menjadi rangkaian acara penutupan selanjutnya, Andre Rusmana dari Biocita UPI Bandung mendapat kehormatan menyampaikan kesan mewakili peserta ekspedisi.

“Pertama, terimakasih kepada pihak Taman Nasional yang telah menerima dan menyambut peserta ekspedisi dengan baik. Kedua, terimakasih kepada semua peserta atas kuatnya kekerabatan dalam memperoleh pengalaman baru serta belajar bersama tentang konservasi harimau jawa,” ujarnya mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi tersebut.

“Ketiga, mengenai rekomendasi dan rencana tindak lanjut yang menunjukkan bahwa eksistensi harimau jawa belum punah. Terakhir, besar harapan ke TNUK agar tidak hanya fokus tentang badak jawa, tapi berbagai aspek, terutama pelibatan berbagai pihak dalam kegiatan konservasi, agar bersama bisa menjaga kawasan Taman Nasional dan Indonesia,” lanjutnya disambut tepuk tangan peserta.

Ujang Asep Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) wilayah dua Handeuleum Balai TNUK memberikan sambutan pamungkas penutupan ekspedisi.

Ujang Asep yang juga tercatat sebagai anggota pencinta alam freelance Universitas Winayamukti Sumedang berjanji akan menindaklanjuti rekomendasi dari peserta ekspedisi.

Dalam sambutannya, Ujang turut menyampaikan terimakasih atas inisiasi ekspedisi para peserta, “saya merasa trenyuh atas kegigihan peserta ekspedisi yang melakukan keseluruhan kegiatan ekspedisi secara mandiri ditambah kerjasama yang baik. Semangat kemandirian dan kerjasama tersebut harus dibawa kesetiap hal dan patut menjadi contoh bagi yang lain.”

Sebagai anggota pencinta alam yang pernah bermimpi mendaki Gunung Kerinci tersebut, Ujang menaruh harapan bahwa dengan rekomendasi yang diberikan dan lengkapnya data dapat mengetuk pimpinan pusat dalam pembuktian bahwa harimau jawa masih ada dan mendapat respon.

“Kita semua memiliki semangat untuk membuktikan eksistensi Macan Lodaya, dan menyadari keterbatasan pengambil kebijakan. Maka hal ini harus diperjuangkan bersama agar ada hasil konkrit yang bisa membanggakan kita semua,” imbuhnya.

“Tentu semua itu dengan catatan pimpinan mendukung. Saya sendiri akan memperjuangkan agar bisa bekerjasama dengan relawan pencinta alam dalam hal pemasangan kamera dititik terindikasi keberadaan harimau jawa,” tutup ujang yang mengaku akan turut berjuang bersama anggota pencinta alam dalam pembuktian keberadaan Macan Lodaya di TNUK.

Hasto Wahyudi dari Yayasan Astacala selaku pengarah mengungkapkan kebanggaannya atas capaian ekspedisi. Tak segan Hasto memgungkapkan keinginannya ekspedisi seperti ini dilanjutkan kembali.

“Prinsip utamanya adalah regenerasi untuk menyebarkan virus konservasi melalui harimau jawa. Dan saya bangga dengan konsep dan semangat peserta, orang normal tidak akan sanggup menjalankan hal seperti ini,” ujar Alumni ekspedisi harimau jawa tahun 1997 Taman Nasional Meru Betiri tersebut.

Setali tiga uang dengan Hasto, Didik Raharyono dari Peduli Karnivor Jawa yang juga pemateri ekspedisi mengatakan kebanggaan terhadap peserta.

“Mantap, saya bahagia. Karena ekspedisi ini untuk regenerasi ke depan. Semangat, kebersamaan dan kepedulian peserta sungguh menjadi contoh. Kita akan lanjutkan hal ini di kawasan seperti Gunung Selamet, Gunung Muria dan Jawa Timur terutama Meru Betiri.

Semangat konservasi nyatanya dibuktikan juga oleh Alvian Rifki Mubarak yang menjadi peserta termuda ekspedisi. Pemuda yang tergabung di organisasi Siswa Pencinta Alam (Sispala) Pala Apel’s SMKN 3 Boyolangu Tulungagung tersebut rela menyisihkan waktu dan tabungannya untuk mengikuti ekspedisi.

“Luar biasa, jadi tambah termotivasi,” ucapnya saat dihubungi WI di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, Minggu (8 Juli 2018).

Mengutip kembali pernyataan Eko Teguh Paripurno, “semoga kita menjadi pencinta alam yang lebih waras dalam tanda kutip.”

Terimakasih kepada :

Yayasan ASTACALA, KAPPALA Indonesia, Peduli Karnivor Jawa (KPJ), PMPA – ASTACALA Telkom University Bandung, Perhimpunan SANGGABUANA, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), MAPALASKA UIN Sunan Kalijaga, KPLH RANITA UIN Syarif Hidayatullah, BINGKAI Indonesia, Lesksa Ganesha Yogyakarta, Kedai JATAM, Ikatan Alumni SABHAWANA, Bio-Explor, Garba Wira Bhuana, Himpunan Mahasiswa Profesi Satwa Liar, Jungle Stone, KMPA ITERA, KPA Biocita Formica, Lembaga Cinta Satwa dan Konservasi Cakra, MAHAKUPALA, Mapala PAWITRA, Mapala STTL, MAPALASKA Karawang, PMPA KOMPOS, Pendaki Indonesia dan Wartapala Indonesia (WI).

Sumber: wartapalaindonesia.com