Srikandi ASTACALA Berbagi, Peduli Lingkungan, dan Tangguh

ASTACALA kembali mengadakan kegiatan sosial yang bertema “Kartini yang berbagi, Tangguh dan Peduli Lingkungan” yang dilaksanakan pada 28-29 April 2018 di Tebing Citatah 48, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat bersama beberapa Mapala UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) untuk berpartisipasi dalam meramaikan acara. Antara lain, Khauf, Mapach, Pamor serta Biocita.

Srikandi ASTACALA Berbagi, Peduli Lingkungan, dan Tangguh

Bandung, astacala.org – ASTACALA kembali mengadakan kegiatan sosial yang bertema “Kartini yang berbagi, Tangguh dan Peduli Lingkungan” yang dilaksanakan pada 28-29 April 2018 di wilayah Karst Gunung Manik atau sering disebut dengan Tebing Citatah 48, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat.

Dalam kegiatan ini Srikandi ASTACALA mengajak beberapa Mapala UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) untuk berpartisipasi dalam meramaikan acara. Antara lain, Khauf, Mapach, Pamor serta Biocita.

Kegiatan dimulai dengan kegiatan ekofeminisme tentang pengenalan Konservasi kepada siswa Sekolah Dasar Negeri Citatah serta menanam pohon buah untuk melestarikan habitat satwa disana, salah satunya adalah monyet.

“Sasaran utama kita pada kegiatan ini adalah anak Sekolah Dasar, karena anak-anak merupakan masa yang paling tepat untuk menerima informasi dan nilai-nilai yang disampaikan. Oleh karena itu, dengan memberikan edukasi kepada anak usia dini diharapkan menumbuhkan rasa cinta terhadap alam dan cinta terhadap lingkungan,” kata Verli Harlina selaku Koordinator kegiatan.

Ia juga mengatakan pentingnya edukasi dini, karena sosialisasi terhadap masyarakat umum dirasakan tidak menuai hasil yang begitu optimal, karena alasan kesibukan dan ketidak inginan untuk ikut serta. Maka dari itu, sosialisasi ini harus bisa masuk ke dalam lingkungan pelajar.

Dengan cara ini, kepedulian terhadap pohon akan berkembang pada diri masing- masing pelajar. Mengapa? karena sikap kepedulian pada diri siswa siswi ini masih tahap pembentukan, sehingga siswa siswi dengan pemikiran yang masih sederhana ini mudah untuk dibentuk karakter cinta dan peduli terhadap lingkungannya.

Tetapi perlu diingat, pembentukan karakter ini harus terus menerus dengan jangka waktu yang panjang hingga remaja. Tujuan seperti ini adalah agar karakter peduli lingkungan yang sebelumnya dibentuk pada usia dini dapat termediai, sehingga karakter tersebut bisa berkembang jauh lebih kuat.

Apalagi kawasan mereka terancam kegiatan penambangan kapur yang semakin eksploitatif semenjak 10 tahun terakhir. Nurdin, salah satu pemuda yang peduli Kars Citatah saat ini berupaya mempertahankan Gunung Manik agar tidak terjadi eksploitasi berkelanjutan. Menurut dia, kepentingan ekonomi justru datang dari para pengusaha dan bukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Selain kegiatan penghijauan, para Srikandi juga melakukan kegiatan face painting kepada siswa sebagai wujud berbagi bersama siswa SD Negeri Citatah. Tujuannya antara lain untuk seru-seruan serta mengajarkan siswa tentang keterampilan sesuai imajinasi dan kreatifitas yang diinginkan.

Tidak hanya itu, untuk menggambarkan wanita tangguh, para Srikandi juga melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan kebanyakan dilakukan oleh kaum laki-laki, yaitu Rock Climbing. Tempatnya di balik Gunung Manik itu sendiri yang nantinya akan dijadikan salah satu lahan konservasi yang dinamakan Jungle Stone.

 


Tulisan oleh Verli Harlina (A – 140 – Duri Samsara)

Foto Dokumentasi Astacala