Secuplik Kisah dari Kareumbi

Pendidikan Lanjut angkatan Gemuruh Langit sudah sampai di tahap Gunung Hutan. Gunung Kareumbi merupakan salah satu tujuan mereka untuk belajar navigasi dan manajemen perjalanan. Banyak kisah menarik yang termuat. Dari perjumpaan kami dengan babi putih jadi-jadian hingga aksi coret-coret yang berujung sial.

Secuplik Kisah dari Kareumbi

Akhir-akhir ini aku telah menyelesaikan habis buku bacaan karangan Agustinus Wibowo : Titik Nol. Buku yang mengisahkan seorang musafir yang menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya yang sakit. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah kemana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan. (Titik Nol, Agustinus Wibowo).

Dari membaca buku tersebut, hasratku untuk berjalan berkelana ke entah berantah membuncah. Memang tak sejauh dan seberbahaya perjalanan yang dilakukan oleh Agustinus. Toh, aku yakin dari membaca buku itu, setiap perjalanan –Jauh atau dekat, bahaya maupun aman– pasti mempunyai maknanya sendiri-sendiri. Segera saja aku merencanakan perjalanan berharap menemukan  makna dibaliknya.

***

Matahari sudah setengah tinggi. Pukul 09.00 baru kami memulai perjalanan. Warna wajahnya berbeda-beda, ada yang semangat berapi, murung takut pulang terlambat,  biasa-biasa saja karena saking tidak tahunya dia mau kemana dan berbuat apa, atau ah sudahlah yang penting ikut.

Tim Perjalanan (dari kiri ke kanan, Buyung – Aku – Allam – Adit – Talitha – Iqlima – Faris)

Perjalanan kecil kami kali ini dilatarbelakangi oleh Pendidikan Lanjut Gunung Hutan saudara bungsu kami “Gemuruh Langit”. Beranggotakan tujuh orang, yang terdiri dari lima peserta (Allam, Adit, Faris, Iqlima dan Talitha) dan dua pendamping (Aku dan Buyung).

Tujuh pasang kaki melangkahkan kaki bersama sambil menyincing tas berukuran besar di punggung masing-masing. Melewati lorong kampus, menyusuri Jalan Sukabirus kemudian berbelok ke gang sempit PGA. Ada gerak-gerik yang berubah. Pemimpin barisan mulai tak tenang, gerak tangannya tak karuan, mulut sudah komat-kamit.

“ROP (Rencana Operasional Perjalanan) dan surat jalan dimana?” Tanya Allam kepada rekannya.

Semua bergeleng tanda tak tahu. Seketika ia berlari kembali, mencoba meneliti jalan atau putar balik haluan mengambil ROP dan surat jalan yang mungkin tertinggal di sekretariat. Sambil menunggu Allam kembali, aku dan Buyung menggoda mereka –Adit, Faris, Iklima, dan Talitha– atas ketelodaran mereka bersama.

“Harusnya kita sudah ada disini.” Kataku sambil menunjuk titik start  pada peta fotocopyan Bakosurtanal yang kubawa.

Menurut rencana, memang sepatutnya kami sudah berada di titik mula pada pukul 10.00 WIB. Sengaja aku mengundurkan waktu keberangkatan yang awalnya pukul enam pagi menjadi pukul sembilan menjelang siang. Mereka tak siap untuk berangkat. Semua logistik belum masuk ke carrier, baju lapangan belum terlihat di sekretariat, tempel peta saja belum. Dus menyebabkan mereka tidur melewati batas jam istirahat. Itulah gambaran malam sebelum kami berangkat. Karena tak mau ambil resiko, aku memutuskan untuk mengundurkan waktu keberangkatan agar seluruh tim mendapat istirahat yang cukup.

Sosok tinggi putih Allam kembali. Keringatnya membasahi wajah dan bajunya. Berhenti sebentar sambil mengatur nafas yang terengah-engah setelah berlari kencang mencari barang yang tertinggal sebelumnya. Kuberikan sebotol teh yang kubeli baru saja. Ditenggaknya sejadi-jadinya hampir habis sama sekali.

“Lelah sekali rasanya”, Pikirku.

Turunlah kami dari angkot. Tak lupa Iqlima memberikan upah kepada pak sopir angkutan atas jasanya telah mengantarkan kami ke perempatan Buah Batu seharga lima ribu Rupiah per kepala. Menunggulah kami dibawah terik matahari tanpa atap, tanpa payung. Tak begitu lama yang dinanti akhirnya tiba. Bus berwarna biru besar dan ber-AC berjuluk bus Damri.

Allam dan yang lain mengambil posisi duduk paling belakang. Aku dan Buyung berada pada kursi di depan mereka. Fokus kami terpecah belah. Buyung asik mengagumi sesosok wanita yang berada di seberang bangkunya. Allam dan gengnya serius tapi santai mengobrol dengan penumpang lain menanyakan transportasi menuju dan meninggalkan Kareumbi, sedang aku menikmati lagu lawas milik Acha dan Irwansyah yang diputar oleh bapak sopir bus.

“…Berdua denganmu pasti lebih baik. Aku yakin itu, bila sendiri….”

Jam tanganku menunjukan pukul satu siang. Belum juga kami sampai di titik awal. Masih di kawasan Warungkawat. Selepas turun dari angkutan, tanpa pikir panjang kami melakukan navigasi. Samakan arah utara peta, amati area sekitar, kalau perlu jalan mondar-mandir mencocokan titik ekstrem peta dengan medan sebenarnya. Setelahnya, jika kau cermat, pasti posisi kita berada  ditemukan. Sebenarnya tak jauh dimana kita turun, terdapat bapak-bapak yang menawarkan jasa ojek kepada kami. Namun ihwal dana yang terbatas, kami memilih untuk berjalan jauh menuju tempat yang dimaksud.

Warungkawat, tim perjalanan sedang melakukan navigasi

Kali ini barisan dipimpin oleh Faris alias Young Lex, Buyung memanggilnya demikian karena Faris mengenakan topi khas rapper papan atas Indonesia, Young Lex. Anak swag yang biasa menyebut diri mereka “Ganteng tapi Swag”, lain dengan Faris yang “Diam tapi swag”, Memang anak ini pendiam sekali, dari awal bergabungnya ia dengan Astacala sampai tahap Pendidikan Lanjut Gunung Hutan sekarang ini, jarang sekali ia mengeluarkan sepatah kata pun. Tapi dari perjalanan kali ini kutemukan hal lucu darinya,  karakter diam tapi gaya layaknya rapper idola.

Sementara Young Lex mengisi pos depan, Talitha menguntit dari ujung belakang barisan. Pendek, gemuk, dan berkulit putih merupakan gambaran sosok Talitha. Lambat sekali pergerakannya, suka mengeluh ketika berjalan, tak sabar aku menungguinya. Tak jarang pula dia memperagakan mimik mual seakan ingin memuntahkan isi perutnya dari sarapan pagi tadi. Bibir manyun, muka cemberut adalah raut wajah Talitha sepanjang kita menyusuri jalan beraspal yang tidak begitu menanjak. Ia berdalih, kondisi mengenaskannya tersebut karena ia sedang lapar. Tak sesuai apa yang diucap, baru beberapa langkah kaki kami berjalan lepas makan siang, raut wajahnya sudah masam lagi. Dari situ sampai sore hari, aku dan Buyung menghardiknya sampai habis.

Young Lex sebagai koordinator harian waktu itu, segera membagi tugas. Ia, Allam, dan Buyung mendirikan shelter, Iqlima mengurus dapur, sementara aku dan Adit bekerjasama mencari bahan bakar api. Pukul lima sore kami baru mulai mendirikan camp, tak jauh dari titik start itulah tempat kami mendirikan tempat beristirahat memulihkan kembali tenaga yang lumayan terkuras.

***

Mulai dari sini, lintasan yang kami lalui mulai menanjak. Menurut plotingan tinta warna merah yang tergaris di peta, kami harus mendaki punggungan sebelah barat kami. Wujud vegetasi mulai berubah, dari mula pohon bambu berevolusi jadi semak dipadu dengan pohon-pohon besar. Tak ada yang berubah dari formasi barisan, Allam masih sering memimpin barisan, kadang bergantian dengan YL (Young Lex), Posisi tengah ditempati Ikilma dan Adit, sementara dibelakang diisi tak lain oleh Talitha. Semakin menjadi-jadi lamanya ia berjalan. Dua tiga kali langkah lalu berhenti. Aku dan Buyung yang mulai tidak sabar memutuskan bernyanyi. Bukan untuk menghibur diri, melainkan untuk mencela Talitha yang lambatnya Naudzubillah.

Talitha memperburuk kondisinya, ia kesulitan untuk beranjak naik. Terpeleset dia banyak sekali. Makin lebar tawaku dan Buyung. Bajunya jadi dekil dan kotor. Perawakannya mirip babi. Kecil, putih, dan jorok karena tanah. Buyung bertingkah lagi, otaknya mulai jahil. Setelah YL, gelar Bahu alias babi hutan ia sematkan ke Talitha. Aku punya versi sendiri dalam memanggilnya, Babi atau Babi Kareumbi. Hal ini menjadikan hiburan sendiri bagiku dan Buyung. Talitha berusaha tak acuh dengan celaan dari kami. Tingkah lucunya tidak habis sampai disini. Sepatu yang ia pakai seakan tidak berfungsi, karena mungkin saking tidak kuatnya, dia menggantikan fungsi kaki dengan lutut. Talitha menaiki punggungan dengan lututnya. Padahal sepatunya yang bewarna pink dipadu hijau ia beli baru demi kelancaran dalam menghadapi perjalanan.

Kami tiba di puncak punggungan. Sempit sekali konturnya, mungkin kalau diukur lebarnya hanya seukuran dua ubin yang terpasang di rumah pada umumnya. Jurang terlihat jelas di kanan kiri kami. Kakiku gemetaran, ritme langkahku mulai melambat. Aku mulai tertinggal di barisan paling belakang. Talitha yang tadinya tertinggal, sekarang sudah berada didepanku. Jalannya lempeng sama sekali, tak peduli bila terjatuh dari ketinggian. Memang anak ini aneh. Dari depan Buyung menertawaiku yang kalah cepat dari Talitha.

Punggungan sempit Gunung Kareumbi

Cukup sulit untuk menemukan lokasi camp. Kami berpencar untuk menentukan tempat kami beristirahat.

“Kuluk!”, Teriakku keras memanggil yang lain.

Sudah kutentukan disini, punggungan sebelum puncak Kareumbi adalah lokasi kami beristirahat.

***

Elok sekali pemandangannya, barisan pengunungan terlihat jelas. Dibawah terlihat lembah yang masih perawan. “Cocok dijadikan tempat untuk survival.” Kata Buyung. Sayang jika kami tidak melakukan navigasi disini. Strategis pula untuk belajar navigasi dengan teknik resection. Satu-satunya yang kurang disini adalah sumber air. Sulit sekali. Mustahil bagi kami menuruni lembahan yang curamnya hampir mendekati 90°. Sedangkan sisa air yang kami bawa hanya tinggal satu setengah kali dua buah lima liter jerigen. Kami harus menghematnya. Panas seakan membujuk kami untuk mengurangi bawaan air. Aku bahkan harus meminum sebutir air yang ada di helai daun untuk sedikit mengganjal dahagaku.

Titik ekstrem untuk bernavigasi

Di puncakan yang menyengat, mereka berunding. Sementara aku dan Buyung meluruskan kaki untuk membuang pegal. Buyung mengambil bolpoin yang terletak di tas kecilnya. Mulailah dia berkreasi. Bukan dikertas bukan juga di kanvas, melainkan di sebuah daun hijau kecil, sambil mengusir bosan, menunggu peserta dalam bernavigasi. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya sehingga ia melakukan tindakan yang tidak ada artinya tersebut. Allam mendatangi kami, menuturkan rencana yang telah mereka buat. Mereka mengajukan untuk berganti jalur karena beberapa pertimbangan :

  1. Sumber air di jalur awal dirasa mustahil untuk ditemukan
  2. Lambatnya salah seorang di tim dalam berjalan, mengingat kontur didepan akan sangat menanjak dan sempit, sehingga akan sulit untuk menemukan tempat camp yang aman.

Dari tempat itu kami berpindah haluan ke arah selatan menuju Desa Tegalmanggung, meninggalkan tujuan awal kami, Gunung Kerenceng. Jalan sudah tidak beranjak naik, melainkan turun ke dataran yang lebih rendah. Jarak antar barisan merenggang. Allam, Iklima, Adit, dan YL berada jauh di depan. Kadang aku berhenti beristirahat sendiri, sambil menunggu Talitha yang jauh tertinggal. Di tengah istrahatku, Buyung menghampiriku dari belakang.

“Pinjam HP, Ron.” Pintanya kepadaku.

Ia mengaktifkan kamera depan, bermaksud memeriksa matanya. Ia mengaku terpeleset lalu ketika berbalik, tak dinyana matanya tertusuk sebuah ranting.

Momen yang tidak sengaja tertangkap kamera, ketika Buyung mencoba memeriksa matanya

Buyung segera membasuh dan membersihkan matanya ketika kami sampai di aliran sungai. Sedang aku dan yang lain mengisi jerigen masing-masing yang sudah terasa ringan dari tadi. Slayer merah Astacala diambil dari tasnya. Buyung mulai mengikat kuat-kuat secara diagonal slayer di kepalanya, bermasud menutupi mata yang terasa menyakitkan. Ia mengaku, mata semakin terasa sakit ketika berjalan. “Mungkin karena angin atau cahaya”, Pikirku.

Lembahan membuat kami jadi sulit. Bergerak ke arah yang tak pasti. Berusaha menyusuri sungai tapi hasilnya nihil. Kondisi Buyung semakin memburuk. Langkah kuatnya berubah penuh lesu. Tangannya secara bergantian mencoba menutup matanya. Matahari mulai merangkak ke ufuk barat. Sudah seharusnya kami membangun tempat istirahat. Buyung mencoba membantu sebisanya. Aku dan Buyung membangun camp bersama, sementara Adit dan yang lain mencoba membangun camp-nya sendiri-sendiri. Lelah sekali malam itu. Namun aku ingat sekali. Bulan waktu itu sangat terang. Bahkan kau bisa melihat sekeliling jika penerangan yang kau miliki dipadamkan. Aku menikmatinya sendiri walau sebenarnya ingin berbagi. Allam dan yang lain berada jauh dari camp kami. Sedang Buyung langsung mengambil posisi istirahat karena kondisinya yang sudah memprihatikan. Aku mulai berpikir, mungkin kondisi Buyung ini diakibatkan oleh aksi corat-coretnya tadi. Hmm.

***

Golok diayunkan, mencoba menebas semak dan perdu yang menghalangi jalan. Medan curam mengakibatkan perlunya usaha lebih. Dari empat hari yang telah kami lewati, kurasa hari inilah yang paling menguras tenaga. Rasanya tak habis-habisnya kami menebas. Lama sekali waktu dibutuhkan untuk sampai di ujung punggungan.

Semua bergegas. Pergerakan dipercepat karena memang mereka mengejar target pulang. Selasa besok, kami harus kuliah. Pukul 03.00 sore, kami baru menemukan sebuah jalur. Sayang sekali kami tidak bisa berlama-lama menikmati panorama indah dihadapan kami. Dibawah sana terlihat kebun dan pemukiman milik warga, sedang tempat kami berada berupa rumput-rumput kering sedikit mirip dengan vegetasi favoritku, sabana. Kami berburu dengan waktu. Jika terlambat, harapan kami pulang lebih awal, pupus sudah. Ditambah kami harus pergi ke klinik untuk mengobati mata Buyung yang terluka.

Sesampainya di kebun milik warga. Aku dan Buyung beristirahat sebentar sembari menunggu yang lain tiba dari belakang. Buyung memilih tempat teduh dibawah pohon rindang bermaksud untuk istirahat. Sedang aku lebih memilih spot yang lebih leluasa untuk menikmati pemandangan desa dan kota yang terlihat dari tempatku berada. Luar biasa apa yang kulihat. Kecil sekali memang manusia. Langit begitu luas, tidak ada bandingannya. Landscape biru mendominasi. Aku mulai membayangkan jika meteor jatuh habislah sudah kehidupan yang ada disana. Maha Kuasa Allah atas segala ciptaannya. Kupejamkan mataku, agar lebih kusuk dalam memaknainya. Suasana semakin syahdu dengan iringan alunan ayat suci Al-Quran yang dilatunkan oleh gadis desa yang terdengar dari pengeras suara masjid di bawah. Ingin sekali aku mengabadikan momen ini, sayang sekali, daya baterai telfon genggamku sudah kering, padahal lagi-lagi aku ingin berbagi.

Kami mulai berjalan lagi ketika semua sudah berkumpul. Pukul lima sore kami sudah berada di Desa Tegalmanggung. Harap-harap cemas menanti kami. Tak ada satupun kendaraan umum yang melintas. Padahal menurut penuturan warga, Angkutan terakhir tiba pukul lima sore. Iqlima segera berkeliling menanyakan transportasi yang harus ditunggangi kepada warga sekitar, diikuti Allam, Faris, Adit dan Talitha. Mereka berhasil menemukan moda transportasi yang bersedia mengantar kami sampai titik berhentinya bus menuju Bandung.

***

Tujuan dari perjalanan adalah pulang dengan selamat. Memulai dan mengakhiri di titik yang sama, di titik nol. Disetiap proses kembali ke titik mula pasti terdapat nilai yang tak terduga. Memang tidak banyak nilai yang kita peroleh dari perjalanan yang bertajuk gunung hutan ini bahkan mungkin tidak ada. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bagiku ada makna dibalik kegiatan yang menyita waktu kuliah ini, yang menurut kebanyakan orang mungkin buang waktu bahkan omong kosong. Dari perjalanan ini juga aku bisa melihat, siapa yang memaknai dan siapa tak peduli. Yang memaknai akan bertahan sedang yang tak peduli memutuskan pergi.

***

 “Aku ingin merasakan kehidupan kasar dan keras, diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” – Soe Hok Gie.

 


Tulisan oleh Rona Alviana (A – 136 – DS)

Dokumentasi oleh Talitha Salsabila (AM – 011 – GL)