Inilah Kisah Kami, Lentera Cakrawala

Pendidikan Dasar Astacala ke-25 telah selesai dilaksanakan dua bulan yang lalu dan melahirkan generasi bernama “Lentera Cakrawala”. Bagaimana kisah mereka ? Inilah kami, Lentera Cakrawala.

Inilah Kisah Kami, Lentera Cakrawala

Dua bulan sudah berlalu pasca penutupan Pendidikan Dasar Astacala (PDA) XXV yang merupakan langkah awal untuk menjadi anggota Astacala sebagai bentuk regenerasi organisasi yang kelak akan memegang kemudi dan menentukan ke mana arah organisasi ini akan bergerak. Jiwa dan raga ini tak menyangka dapat melewati semua rangkaian kegiatan rekruitasi anggota Astacala yang terdiri dari: wawancara, upacara pembukaan, materi kelas, tes dan latihan fisik, simulasi dan latihan, serta praktik lapangan. Padahal, awalnya aku hanya jenuh dengan rutinitas perkuliahan di kelas dan butuh suasana baru hingga pada akhirnya aku berpikir untuk masuk ke Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Telkom, yaitu Astacala. Sebelumnya beberapa teman kelas ku sudah ada yang tergabung dalam lingkaran kekeluargaan Astacala dengan nama angkatan “CAKAR ALAM”. Mereka adalah Hafshin “Bule” Habibie, Luthfi “Patkai” Rakha Shiddik serta Mochamad Bagus. Melihat kesibukan mereka bertiga semakin memompa semangatku untuk berkecimpung di dunia ‘mapala’ meskipun aku tidak tahu menahu tentang seperti apa mapala itu. Berbekal niat, aku yakinkan untuk mengisi formulir pendaftaran dan melakukan wawancara untuk menyamakan persepsiku dengan Astacala, tentang keorganisasian Astacala, kepecintaalaman dan kegiatan alam terbuka. Alhasil aku pun yakin dan mantap untuk menjadi bagian dari keluarga ini.

Upacara Pembukaan PDA XXV

Hidup memang penuh pilihan dan seleksi alam, dari 103 orang yang mendaftar Pendidikan Dasar Astacala (PDA) XXV, hanya menyisakan 22 orang saja yang bertahan. Terdapat 7 perempuan dan 15 laki-laki yang berasal dari berbagai daerah yang masing-masing memiliki karakter dan keunikan tersendiri. Tahap demi tahap kami lalui untuk menjadi keluarga baru Astacala hingga kami sampai di penghujung rangkaian rekruitasi, yaitu Praktik Lapangan Besar. Dengan seragam lapangan lengkap dan syal jingga yang melingkar di leher, kami berangkat menggunakan sebuah truk terbuka bersama dengan panitia PDA XXV. Inilah kegiatan pamungkas yang kami tunggu-tunggu selama ini dari seluruh rangkaian PDA XXV, dimana siswa akan menerapkan semua pembelajaran yang telah mereka dapatkan pada rangkaian kegiatan sebelumnya.

****

Kegiatan pertama dibuka dengan materi long march yang dikomandani oleh Muhammad Umar Safi’i (A-123-CA). Dihari itu kami masih bersemangat melakukan perjalanan. Namun seiring lamanya dan jenuhnya berjalan kaki sepanjang hari, wajah-wajah yang tadinya bersemangat pun mulai kelelahan. Long march memakan waktu 2 hari dengan panjang lintasan ±16 kilometer dari Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Barat, Jawa barat. Pada saat long march, kami diajarkan banyak hal seperti kegunaan packing dengan baik. Baik tidaknya packing kita akan terlihat saat pengetesan packing di bawah jembatan aliran sungai Ci Rancasuni di Desa Rancasuni. Selain itu juga kami diajarkan bagaimana membuat bivak ponco yang baik, mengapa kita harus melakukan long march, dan lain sebagainya yang tentunya berguna sebagai modal kami untuk menyelesaikan kegiatan ini hingga penutupan.

Baca juga:   Mendaki Gunung Sumbing melalui Dusun Cepit
Pembuatan bivak menggunakan ponco

Selepas materi long march, berikutnya merupakan materi Gunung Hutan. Komando diambil alih oleh Siti Hartinah (A – 122 – CA) selaku komandan GH. Dikala itu semangat kami masih terjaga selepas materi long march yang menguras banyak tenaga dan kami juga cukup lega mengetahui long march telah selesai. Materi Gunung Hutan memakan waktu 3 dimana kami diajarkan bagaimana membuat bivak alam, menghidupkan api unggun, memilih makanan di hutan, serta cara berkomunikasi lapangan di medan operasional. Selama materi berlangsung, mental dan fisik kami benar-benar diuji, tidak jarang salah satu dari kami goyah  dan mengutarakan keinginannya untuk mundur dari proses pendidikan ini.

Kekeluargaan kami begitu kental dalam menjalani hari-hari bersama di Pendidikan Dasar Astacala. Dorongan semangat dari teman-teman yang akan menjadi keluargaku nanti membuat semua pekerjaan terasa lebih mudah. Rasa memiliki yang begitu kuat dan nilai-nilai solidaritas terpupuk di antara kami. Namun itu semua masih jauh dari kata sempurna. Kecerobohan, ketelitian, dan kedisiplinan dalam segala hal masih belum bisa kami taklukkan. Mungkin karena ego yang masih kuat dari diri kami sehingga kesalahan yang sama masih terulang serta pengaruh mental kami yang sudah buyar di hempas oleh alam.

Tahapan terakhir yang harus kami lalui adalah survival alam bebas. Niken Galuh Ramadhani (A-125-CA) mengambil alih komando. Di sinilah keinginan dan semangat yang semula terlihat utuh mulai mengendur. Ujian berat dihadapkan kepada kami dimana kami diharuskan untuk bertahan di dalam hutan dengan perlengkapan seadanya tanpa logistik. Hanya bagian dari hutan yang dapat kami makan, seperti jantung pisang, inti pisang, batang palem, daun pakis, cacing sondari, dan bagian hutan lainnya yang sudah dijelaskan pada saat materi botani dan zoologi. Banyak dari kami yang tidak tahan dengan kondisi ini terutama mengatasi rasa lapar. Akan tetapi itu semua harus kami lalui dengan cara apapun untuk tetap bertahan hidup. Selama survival kami juga mempraktikkan materi tidur kalong atau tidur terjaga di atas dahan pohon. Hingga tiba saatnya hari terakhir survival menuju ke penutupan Pendidikan Dasar Astacala XXV, salah satu dari kami menyampaikan ke panitia ingin mengundurkan diri dengan alasan tidak kuat lagi menjalani rangkaian praktik lapangan besar PDA XXV. Sungguh perasaan sakit bercampur sedih aku rasakan dikarenakan calon saudaraku ingin berhenti di penghujung kegiatan. Aku dan dua puluh anggota lainnya secara bergantian memberikan nasihat dan semangat untuk tetap melanjutkan pendidikan ini hingga penutupan dan usaha itupun membuahkan hasil yang manis. calon saudara kami pun memutuskan untuk tetap melanjutkan perjuangannya.

Baca juga:   Sembunyi di Balik Kata Pecinta Alam
Penyampaian materi lapangan bootani dan zoologi

Tibalah kami di penghujung kegiatan yang benar-benar kami nantikan sejak awal. Hari yang bersejarah dalam hidupku, dan aku yakin juga bagi teman-teman ku, momen yang tak akan terlupakan sampai aku mati nanti. Tepat pada 4 Januari 2017 di Bumi Perkemahan Rancaupas, upacara penutupan Pendidikan Dasar Astacala XXV dilaksanakan secara sakral dan khidmat walaupun diiringi angin dan hujan. Di hadapan seluruh anggota Astacala lintas angkatan yang hadir, panitia, serta tamu undangan, Badan Pendidikan dan Latihan (BADIK) Astacala membacakan Surat Ketetapan yang mengangkat kami, 22 siswa PDA XXV, menjadi anggota muda dengan nama angkatan yang kami namakan “Lentera Cakrawala”. Nama bukan sekedar nama, kami mengartikannya dengan harapan bahwa semua anggota baru ini sebagai generasi harapan Astacala yang dengan lenteranya akan menerangi jalan seluas cakrawala untuk mebawa organisasi ini mencapai cita-cita suci di puncak tertinggi.

ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!

 

Tulisan oleh Haerul Muayyar (AM – 002 – Lentera Cakrawala)
Foto oleh Sie. Dokumentasi PDA XXV