Panjat Tebing dari Waktu ke Waktu

Seiring pertumbuhan olahraga panjat tebing, berbagai sistem grading diciptakan agar lebih akurat sesuai dengan kesulitan yang relatif dalam pemanjatan. Tahun demi tahun baik teknik pendakian maupun peralatan yang digunakan untuk mendukung olahraga ini terus berkembang secara stabil. Seiring hal tersebut, panjat tebing pun semakin memiliki daya tarik tersendiri bagi khalayak untuk mencoba maupun menekuni olahraga ini.

Panjat Tebing dari Waktu ke Waktu

Sejarah panjat tebing atau yang biasa disebut Rock Climbing berasal dari Pegunungan Alpen, tepatnya Gunung Victoria. Kondisi medan yang tidak bisa didaki dengan cara biasa, menjadi penyebab munculnya panjat tebing. Panjat tebing membutuhkan teknik–teknik khusus dalam praktiknya. Meskipun praktik panjat tebing berawal dari Gunung Victoria, khalayak berpikir bahwa olahraga panjat tebing dimulai pada kuartal terakhir abad ke-19 di tiga daerah: Elbe Sandstone Mountains di Saxony dekat Dresden, Lake District of England,  dan Dolomites di Italia. Panjat tebing berevolusi secara bertahap dari suatu kebutuhan di Pegunungan Alpine menjadi olahraga atletik, sehingga tidak tepat untuk menyebut ketiga daerah tersebut sebagai pelopor olahraga panjat tebing. Namun demikian, ada beberapa informasi umum sebagai berikut:

  • Digembar-gemborkan sebagai olahraga di Inggris pada akhir 1880-an. Setelah pendakian solo pertama dari Napes Needle oleh Walter Parry Haskett Smith, panjat tebing mengalami peningkatan daya tarik. Pada akhir era Victoria, sebanyak 60 penggiat pada waktu bersamaan akan berkumpul di Hotel Wastwater di Lake District selama masa liburan.
  • Terinspirasi upaya pada akhir abad ke-19 oleh pelopor seperti Oskar Schuster (Falkenstein, Schusterweg 1892), pada 1903 ada sekitar 500 pendaki aktif di wilayah Elbe Sandstone, termasuk tim terkenal Rudolf Fehrmann dan pendaki Amerika, Oliver Perry-Smith. Pada tahun 1906 pendakian mereka di Teufelsturm menetapkan grade baru VIIB. Pada tahun 1930-an ada lebih dari 200 klub panjat kecil muncul di daerah ini.
  • Pendakian solo pertama Die Vajolettürme pada tahun 1887 oleh pelajar sekolah tinggi Munich berumur 17 tahun Georg Winkler. Hal ini mendorong penerimaan dan pengembangan terhadap olahraga ini di Dolomites.

Seiring pertumbuhan olahraga panjat tebing, berbagai sistem grading diciptakan agar lebih akurat sesuai dengan kesulitan yang relatif dalam pemanjatan. Tahun demi tahun baik teknik pendakian maupun peralatan yang digunakan untuk mendukung olahraga ini terus berkembang secara stabil.

Di Indonesia sendiri sudah sejak lama olahraga panjat tebing ini populer. Pada sekitar tahun 1960, Tebing 48 di Citatah, Bandung mulai dipakai sebagai ajang latihan oleh pasukan TNI AD. Berikut adalah perkembangan olahraga panjat tebing di Indonesia:

Baca juga:   Ekspedisi Astacala ‘Facing Giant Rock’

Tahun 1976, merupakan awal mula panjat tebing modern di Indonesia, yaitu ketika Harry Suliztiarto mulai berlatih memanjat di Citatah, Bandung dan diteruskan dengan mendirikan SKYGERS ”Amateur Rock Climbing Group” pada tahun 1977 bersama tiga orang rekannya, Heri Hermanu, Dedy Hikmat dan Agus R.

Tahun 1979, Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta. yang merupakan upaya mempublikasikan olahraga panjat tebing di Indonesia. Skygers mengadakan Sekolah Panjat Tebing yang pertama pada tahun 1981.

Tahun 1980, Tebing Parang, Purwakarta, Jawa Barat untuk pertama kalinya dipanjat oleh tim ITB.

Tahun 1982, terjadi kecelakaan yang merenggut korban tewas pertama panjat tebing Indonesia. Adalah Ahmad, salah satu pemanjat asal Bandung. Kecelakaan terjadi ketika melakukan pemanjatan pada Tebing 48 di Citatah.

Pemanjatan Tebing Citatah 125

Pada tahun 1984, Skygers dan Gabungan Anak Petualang memanjat Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur serta Tebing Ulu Watu di Bali.

Tahun 1985, Tebing Sorelo, Lahat, Sumatra Selatan dipanjat oleh Team Ekspedisi Anak Nakal.

Pada tahun 1986, Kelompok Gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di Sulawesi Selatan, lalu Kelompok Unit Kenal Lingkungan Universitas Padjajaran memanjat Gunung Lanang di Jawa Timur, Team Jayagiri merampungkan Dinding Ponot di Bendungan, Si Gura-gura, Sumatra Utara. Ekspedisi Jayagiri berhasil mengulang pemanjatan Eiger, dengan menciptakan lintasan baru. Sebagai catatan, bahwa kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet. Kompetisi dilaksanakan pada tebing alam dan sempat ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia.

Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCP) tahun 1989 mengundang para pemanjat Perancis di antaranya, Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corriene Lebrune serta Jean Harau seorang instruktur teknis panjat tebing. Berdirinya FPTGI diikrarkan di Tugu Monas 21 April 1988 yang dilakukan oleh sekitar 40-an orang dari berbagai OPA di Jakarta, Bandung, Padang, Medan, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Ujung Pandang. Kemudian FPTGI berubah nama menjadi FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia), kemudian pada tahun 1992 diakui sebagai anggota Union Internationale des Association d’Alpinisme (UIAA) yang mewadahi organisasai panjat tebing dan gunung internasional. Tahun 1994 FPTI diakui sebagai induk olahraga panjat tebing oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan mulai ikut dalam  PON sejak 1996.

Tahun 2004, Pemanjatan Tebing Pantai Jawa dan Bali oleh SKYGERS dan Tim EXPEDITION METRO TV 2004, termasuk pemanjatan Tebing Mandu, Indonesia. Selain itu, panjat tebing resmi menjadi cabang olahraga yang memperebutkan medali di PON 2004. Sesuai SK FPTI No. 108/SKEP-PPFPTI/07.04 cabang panjat tebing pada PON 2004 memperebutkan 14 medali emas.

Baca juga:   Kebulatan Tekad untuk Citatah 48

Tahun 2005, Indonesia mengirimkan Tedi Ixdiana dan Murjayanti untuk mengikuti kejuaraan panjat tebing alam “International Invitation Tournament”, di Huguan Taihang Mountain Gorges, Chiangzhi, China. Pada tahun yang sama pula, pemanjatan pada tujuh air terjun di Indonesia diprakarsai oleh tim EXPEDITION-METRO TV dan SKYGERS.

Tahun 2010 Sport Climbing menjadi cabang olahraga resmi SEA Games 2011, hal ini diputuskan dalam Pertemuan The SEA Games Federation di Jakarta 30 Mei 2010. Berita gembira ini merupakan hasil dari perjalanan panjang komunitas panjat tebing se-Asia Tenggara yang dimotori oleh The Southeast Asia Climbing Federation (SEACF) yang terbentuk tahun 1996 di Jakarta.

Tahun 2011 Aan Aviansyah (21) atlet panjat tebing Indonesia berhasil mengukirkan namanya sebagai atlet pertama yang meraih medali emas pada cabang olahraga panjat tebing di ajang SEA Games XXVI 2011 di Jakabaring, Palembang, Sumetara Selatan. Tim panjat tebing Indonesia meraih 9 dari 10 emas yang diperebutkan.

Menarik bukan? Uraian singkat sejarah olahraga panjat tebing dari awal mula hingga menjadi salah satu olahraga favorit di kalangan umum maupun para pecinta kegiatan alam bebas. Standarisasi keselamatan olahraga panjat tebing terus ditingkatkan dengan banyaknya fasilitas yang ada serta dukungan alat–alat  yang terus berkembang. Seiring hal tersebut, panjat tebing pun semakin memiliki daya tarik tersendiri bagi khalayak untuk mencoba maupun menekuni olahraga ini.

Tulisan oleh Ahmad Fauzan (AM – 010 – Duri Samsara)

Foto Dokumentasi Astacala, Gunung Alpen

Sumber: Sumber 1Sumber 2Sumber 3