Pahlawan Tanpa Senjata

Pahlawan Tanpa Senjata

Pada hari ini tepat 10 November 2016 merupakan hari dimana kita kembali mengenang dan memaknai tentang arti salah satu perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan yang menjadi hak milik bangsa Indonesia. Semangat  bertempur dengan gagah berani seluruh rakyat Indonesia di Surabaya 71 tahun yang lalu demi mempertahankan berkibarnya sang saka merah putih. Pertempuran ini merupakan perang pertama setelah proklamasi, menjadi pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia atas perlawanan terhadap kolonialisme.

Pemberian ultimatum dari pihak Inggris untuk Indonesia adalah pemantik timbulnya perang besar. Tewasnya Brigadir Jendral  A. W. S. Mallaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur) yang membuat pihak Inggris geram. Semua pimpinan atau orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan serta menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Ultimatum itu ditolak mentah-mentah. Dengan begitu, pihak musuh mulai melancarkan serangan berskala besar. Melihat gencarnya penyerangan yang dilakukan oleh pihak musuh, perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota.

Hai tentara Inggris!

Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.

Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.

Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu

Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah

Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih

Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Itu merupakan salah satu penggalan pidato heroik dari pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat dan terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya. Pihak Inggris semula menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari. Salah besar! Pertempuran skala besar ini justru memakan waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk bersatu mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Kilas balik seputar sejarah munculnya Hari Pahlawan harusnya membuat kita sadar, betapa peliknya permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia pada masa itu. Angkat senjata, berjuang, berperang, semangat, sampai kematian pun menjadi saksi, bahwa Indonesia tetaplah Indonesia sampai titik darah penghabisan sekalipun.

Pahlawan adalah orang yang dengan keberanian dan pengorbanannya rela membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Semua orang dapat di sebut pahlawan. Mereka yang terus memperjuangkan kebenaran dan melakukan hal demi kehidupan yang lebih baik adalah pahlawan. Berbagai kalangan, profesi, usia, ras semuanya bisa menjadi pahlawan.

Sebagai mahasiswa, demi menghormati jasa-jasa para pahlawan terdahulu, kita harus dapat meneruskan perjuangannya. Kita juga harus mempertahankan Indonesia yang sudah merdeka dan bebas dari para kolonial ini. Melalui tindakan yang lebih progresif, tidak lagi harus berperang dan angkat senjata.

Banyak cara yang dapat dilakukan, salah satu bentuk perjuangan demi Indonesia adalah membantu menyejahterahkan dan memberdayakan masyarakat Indonesia. Sebagai agent of change dan  pelaksana tridarma perguruan tinggi, Astacala melakukan kegiatan untuk mengabdi ke masyarakat

Pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan untuk memajukan kesejahterahan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan yang pernah dilakukan Astacala yaitu pengabdian masyarakat untuk masyarakat Dusun Cimonyong. Dusun Cimonyong yang merupakan kampung yang terpencil  berada persis di tengah hutan Cagar Alam Gunung Simpang yang masih sangat terjaga.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan di Cimonyong pada tahun 2013 yaitu pengadaan perpustakaan, khitanan masal gratis, edukasi seputar sosial masyarakat, ekonomi dan teknologi serta mengajar dan bermain untuk anak-anak yang ada disana.

Selain Cimonyong, tempat yang menjadi wadah Astacala melakukan kegiatan pengabdian masyarakat adalah SMP Negeri 2 Pasirjambu, Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Pada 2015 lalu, kegiatan yang dilakukan disana yaitu pengadaan laboratorium computer, pengenalan konsep pembelajaran E- Learning dan kegiatan menanam pohon.

Semua yang dilakukan mempunyai tujuan yaitu agar masyarakat yang hidup di desa dapat  mengenal dan  mengetahui lingkungan di luar desa dengan membantu menyediakan beberapa akses dan fasilitas yang dibutuhkan untuk hal tersebut.

Jadi di zaman sekarang ini, kontribusi nyata dengan membantu dan sikap peduli terhadap sesama merupakan bagian dari perjuangan dan pembelaan terhadap masa depan  bangsa agar menjadi sejahtera dan maju. Mari bersama-sama singsingkan lengan , berdiri tegak dan saling bersatu untuk meneruskan perjuangan dan menunjukan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa membuat kehidupan bangsa Indonesia sekarang ini menjadi bebas dari para penjajah.

“Pahlawan… Jangan menanti kedatangannya. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka, dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.” Mencari Pahlawan Indonesia – Anis Matta

 

Tulisan oleh Saskia L. Choir (AM – 014 – Duri Samsara)