Purnama di Puncak Kendang

Purnama di Puncak Kendang

Aku berjalan melewati setapak, menggendong tas carrier berwarna hijau yang sesekali aku angkat ke atas untuk mengurangi beban. Beruntung terik matahari siang ini hanya bersinar malu-malu di balik awan tebal. Kulihat hamparan teh yang terlihat sejauh mata memandang, berakhir pada sebuah gunung yang menjulang tinggi di arah timur. Itulah tujuan kami, Gunung Kendang dan Guha.

Penampakan Gunung Kendang dari kebun teh
Penampakan Gunung Kendang dari kebun teh

“Parunten pak, bu!” sapaku dengan senyum menyeringai.

“Badhe ka marana?” jawab salah satu warga yang sedang beristirahat dari aktifitas berkebun.

“Ka luhur bapak, ka Gunung Kendang,” jawabku santun.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan langkah agak cepat, karena medan yang dilalui tidak begitu menanjak dan masih di sekitaran kebun teh. Namun yang membuat pertimbanganku berjalan cepat adalah bernavigasi di sini mudah dan mengejar target camp yang sebelumnya telah aku plot di peta.

****

Kamis, 12 Juni 2014

Kedua mataku terbuka, tersentak aku melihat jam di sekretariat menunjukkan pukul 05.35 WIB dan spontan langsung mencuci muka dan menjalankan tugasku, membeli sarapan.

Ini adalah hari operasional pendidikan lanjut Gunung Hutan dan SAR. Kami berempat, yang terdiri dari aku dan fajree sebagai peserta pendidikan, kemudian doci dan bolenk sebagai pendamping. Kami berangkat menuju Desa Neglawangi yang merupakan desa di kaki Gunung Kendang. untuk mencapai desa tujuan, dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam dengan kendaraan umum.

Gunung kendang secara administratif masih merupakan bagian dari Kab. Bandung, tepatnya di Kec. Neglasari dan berbatasan langsung dengan Kab. Garut. Gunung ini terletak di sebelah utara Gunung Papandayan dengan jarak sekitar 8 km. Kendang merupakan gunung berapi stratovolcano dan terdapat empat lapangan fumarol termasuk kawah manuk dengaan luas kawah 2,75 km serta memiliki sublimasi sulfur, letupan lumpur panas dan mata air panas.

Setibaku di batas hutan, hari sudah mulai gelap ditambah dingin juga perlahan mulai menyerang. Kami mencari spot yang memungkinkan untuk mendirikan kamp, karena target yang diplot untuk kamp hari pertama tidak terkejar. Mendirikan kamp tidak membutuhkan waktu yang lama. Sekitar 2 jam kami menyelesaikan semuanya, mulai dari bivak, shelter dan api. Kemudian kami lanjutkan dengan makan malam, evaluasi hari ini dan briefing untuk besok.

Baca juga:   Mendaki Gunung Abig dari Bandung hingga Garut

*****

Menuju Puncak Kendang

Jalan setapak kecil yang menanjak, mengikuti kontur punggungan dengan kiri kanan jurang yang curam. Sesekali kulihat peta yang kupegangi sedari awal berangkat. Entah kenapa aku begitu ragu ketika sudah masuk hutan sehingga aku melakukan navigasi yang tidak berguna.

“Coy, apa sih yang kalian bingungkan? Kalo sudah di punggungan yang bener hajar aja sampe atas. Paling cuma sejam,” tiba-tiba celetukan bolenk mengagetkanku yang sedang bernavigasi.

“Gue kira kita harus tau tempat kita berada saat ini om,” aku membela. Karena memang aku berpikiran ini merupakan pendidikan, dan ilmu itu harus kuserap semaksimal mungkin.

“Kalo kalian navigasi di tempat yang gak berguna seperti ini, gak ada hasilnya,” timpal bolenk langsung.

Aku memasukkan alat navigasi ke dalam saku dan melanjutkan perjalanan. Tak segan ku kebut jalan menanjak yang lumayan curam dan licin itu. Tak peduli jurang di kiri kanan yang lumayan membuat merinding kalo diamati lebih teliti. Yang dipikiranku hanya sampai titik camp selanjutnya.

Udara mulai dingin, ini pertanda bahwa kami berada di ketinggian di atas 2000 mdpl. Cuaca juga mulai tak bersahabat. Sesekali hujan rintik dan kabut tebal menyelimuti puncak yang akan kami daki. Kendang. Aku terus memaksakan kaki untuk berjalan cepat. Punggungku juga mulai mengeluh dan ingin sekali terlepas dari jeratan carrier yang sedari pagi membebaninya. Dan akhirnya kami tiba juga di puncak kendang. Materi pendidikan lanjut untuk hari ini adalah bivak flysheet individu.

Puncak gunung Kendang
Puncak gunung Kendang

“Coy lu di sini, api harus jadi! Lu tau kan ini ketinggian diatas 2000 mdpl,” kata Bolenk sambil menunjukkan tempat camp untukku.

“Siap om!” teriakku sambil mengeluarkan isi carrier untuk mengambil alat kamp.

Aktifitas kamp seperti biasa, dan pekerjaanku telah selesai semuanya. Aku langsung datang ke kamp pendamping untuk menyiapkan makan malam yang kemudian disusul Fajree untuk membantuku memasak. Setelah masak dan makan malam selesai, aku kembali ke kamp dan bersiap untuk tidur.

Tak sengaja kulihat ke langit yang tertutup pohon-pohon tinggi menjulang. Astaga, purnama!. Sontak aku mengurungkan niat untuk tidur lebih awal dan memandang purnama. Tidak begitu merekah memang, namun cukup elok dan membangkitkan semangat yang sedari siang mulai drop dipermainkan oleh cuaca. Khayalku pun mulai membisikkan sebuah kata. Rindu. Sejenak aku bernostalgia dengan masa laluku, mencoba mengingat hal-hal indah. Aku tak mengerti tentang rasa hal ini, dia datang tiba-tiba. Hingga tanpa sadar aku terlelap.

Baca juga:   Sebuah Jurnal - Kisahku di Gunung Kendang

****

Menuju Puncak Guha

Pagi memang menjengkelkan. Selalu saja membangunkanku dengan paksa. Namun perjalanan belum usai, sehingga aku langsung merapikan sleeping bag ku dan menatanya agar mudah untuk packing nanti.

Bergegas aku menyiapkan menu sarapan. Menu yang kubuat hari ini adalah nasi uduk. Dengan pedenya aku tuangkan satu sachet santan instan dalam nesting berisi penuh air, kemudian mengaduknya sampai rata. Namun hasilnya tak seperti yang diharapkan.

“om, kok gue bikin nasi uduk gak kayak yang di kampus-kampus ya?” tanyaku kepada Bolenk setelah sarapan pagi.

“kalo yang di kampus-kampus itu gak cuma pake santan, ada daun salam dan bumbu-bumbu lain,” jawab Bolenk menerangkan.

“oh gitu, pantesan. hehe,” aku menyeringai sambil garuk-garuk kepala.

Setelah packing kami melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Guha.

Perjalanan ini tidak terlalu menguras tenaga. Medan yang dilalui sebagian besar adalah turunan. Sedikit tebas jalur untuk menyamakan plotan kami yang ada di peta. Sampai santap siang belum ada masalah. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Guha. Kontur menunjukkan ada sadelan yang lumayan luas. Kami hampir sampai di sadelan Guha.

“Utara coy, kita ke utara saja!” perintahku kepada Fajree.

Kami berjalan ke arah utara, dengan patokan kompas yang selalu aku lihat dan aku ikuti kemana jarum merah itu menunjukkan arah. Satu jam lebih kami berputar-putar tanpa menemukan sadelan yang dimaksud. Fajree sudah mulai panik. Aku berusaha menenangkan, walaupun aku juga mulai panik. Hingga akhirnya kami menemukan marker yang mengarah pada sadelan.

“Alhamdulillah, kita ikuti saja marker yang menuju ke puncak,” kataku kepada Fajree.

Puncak guha tak sebagus puncak Kendang. Kami hanya mengambil gambar di sana dan turun ke sadelan. Hujan turun dengan deras dan materi kali ini adalah bivak alam. Dinginnya hujan membuat seluruh tubuhku gemetar dan membatasi pergerakan saat membuat bivak alam. Headlamp Fajree mulai redup, aku harus kerja ekstra untuk menyelesaikan bivak alam. Dari pakis yang aku kumpulkan sendiri, sampai daun sondari yang digunakan sebagai ganti daun pisang juga aku kumpulkan sendiri. Akhirnya empat jam kami menyelesaikan bivak alam. Seperti siswa saja, batinku.

Baca juga:   Hutan Gunung Puntang
Puncak gunung Guha
Puncak gunung Guha

****

Minggu, 15 Juni 2014

Pagi kembali menjelang. Aku bangun kesiangan dan langsung membangunkan Fajree untuk masak. Selama Fajree masak, aku melakukan survei jalur. Setelah makan kami memasuki materi SAR dengan pematerinya adalah Doci. Dalam waktu satu jam, kami menyelesaikan materi dan melanjutkan perjalanan untuk turun ke Desa Karyamekar untuk kembali ke sekretariat Astacala.

Saat perjalanan pulang, keberuntungan berpihak pada kami. Jalan yang kami lalui hanyalah turunan yang agak curam dari sadelan guha dan disusul jalan beraspal panjang pada jalur yang kami plot. Kami berjalan dengan langkah cepat karena kami tahu pemukiman sudah dekat. Jujur aku merindukan nikmatnya Beng-Beng, wafer coklat favoritku. Namun hujan deras menghiasi perjalanan pulang kami hingga ke Karyamekar. Sekitar pukul 17.00 kami sudah sampai di desa tersebut.

“Bu, kalo angkot jam segini masih ada?” tanyaku saat mampir di warung kopi.

“Masih de, tapi sudah sedikit. Paling kalo gak ada naik ojek aja,” jawab ibu penjual kopi.

Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari angkutan umum ke arah Garut untuk menuju sekretariat Astacala.

****

Banyak hal yang aku dapatkan dari pendidikan lanjut Gunung Hutan dan SAR. Selain pendalaman materi dalam kemampuan berkegiatan alam bebas. Salah satunya adalah pengambilan keputusan. Mengambil keputusan bukan sesuatu yang ngasal alias gambling. Kita harus tahu dengan keputusan itu apa yang akan terjadi kedepannya dan bagaimana cara mengatasi kendala yang akan terjadi.

Tulisan oleh : M. Nuruzzamaniridha (A-119-Api Fajar)
Foto oleh : Tim Diklan GH & SAR Api Fajar 2014