Mengungkap Kebenaran Dibalik Mitos Petilasan Gunung Kawi

Petilasan Gunung Kawi, atau resminya dikenal dengan Wisata Ritual Gunung Kawi, sering distigmakan dengan mitos-mitos seputar pesugihan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi ? Tim Perjalanan Wajib Astacala melakukan perjalanan untuk mengungkap kebenaran mitos tersebut.

Mengungkap Kebenaran Dibalik Mitos Petilasan Gunung Kawi

Dengan nafas terengah-engah Saya berteriak “Sepertinya ini deh rumahnya, lihat ada papan petunjuknya!” pada tim Perjalanan Wajib yang lainnya. Akhirnya Kami berhasil menemukan rumah kediaman Kepala Desa Wonosari setelah hampir satu jam naik turun jalanan berbukit, berkeliling bertanya kepada warga Desa Wonosari. “Dari pecinta alam ya ? mari masuk,” sambut Bapak Kepala Desa – Bapak Kuswanto S.H. (60th) – saat Kami mengucapkan salam di depan pintu rumahnya. Sedikit kaget juga mendengar sambutannya. Seperti sudah biasa menerima tamu dari pecinta alam. Kami-pun segera masuk dan memperkenalkan diri.

Setelah dipersilahkan duduk, Saya selaku koordinator perjalanan langsung menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan Kami. Perbincangan pun dimulai dari obrolan kecil tentang kediaman asal Kami sampai, tanpa disangka, obrolan mengenai sejarah awal Wisata Ritual Gunung Kawi yang merupakan tujuan utama Kami berangkat ke Desa Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Mewawancara Pak Kuswanto, menjabat Kades Wonosari selama dua periode.
Mewawancara Pak Kuswanto, menjabat Kades Wonosari selama dua periode.

Dua Tokoh Legenda

Pak Kuswanto mengisahkan. Awal mulanya Desa Wonosari ramai dikunjungi wisatawan ialah dikarenakan adanya makam dua orang yang dimuliakan karena jasa dan kesaktiannya oleh penduduk Jawa Timur pada waktu itu, yakni Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soejono. Kedua beliau adalah mantan pejuang Laskar Pangeran Diponegoro dalam memerangi pasukan kolonial Belanda yang sempat menduduki Indonesia selama 3,5 Abad lamanya. Dalam hal ini Kyai Zakaria memang sudah dikenal sebagai ulama besar keraton Mataram dengan nama Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo sedangkan R.M Iman Soedjono adalah panglima perang Laskar Diponegoro. Dimana keduanya juga merupakan keturunan bangsawan. Kyai Zakaria II adalah cicit Pakubuwono I sedangkan R.M Iman Soejono merupakan cicit Hamengkubuwono I.

Sesudah ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh Kolonial Belanda, banyak pengikutnya yang melarikan diri ke penjuru Jawa. Salah satunya ialah Kyai Zakaria. Pada suatu ketika, sekitar 1840 Masehi, Kyai Zakaria singgah di daerah Kesamben, Kabupaten Blitar. Ada seorang penduduk yang bertemu dengan beliau. Belum sempat orang itu menanyakan namanya, Kyai Zakaria langsung berkata “Saya Sadjoego” dengan maksud memberitahu bahwa dia sendirian – sadjoego yang menurut bahasa sansekerta artinya ‘sendiri’ – Namun warga tersebut mengira nama Kyai Zakaria adalah Sadjoego, sehingga dia memanggil Kyai Zakaria dengan nama tersebut. Kyai Zakaria yang memang sedang dalam persembunyiaannya merasa nama tersebut lebih cocok dia gunakan daripada menggunakan nama besarnya yang sudah diketahui kolonial Belanda sehingga identitasnya tidak mudah ditemukan. Oleh karena itu sampai saat ini masyarakat lebih mengenal Kyai Zakaria dengan nama Eyang Djoego.

Tujuan dari pelarian Eyang Djoego ke wilayah timur Pulau Jawa tidak hanya bersembunyi dari kejaran kolonial, melainkan juga untuk menyiarkan agama Islam ke penduduk Jawa. Setelah menetap di Kesamben, beliau mendirikan padepokan sebagai rumah dan tempat untuk murid-muridnya menuntut ilmu.

Pada suatu waktu salah satu dusun di Kesamben tertimpa wabah penyakit menular. Banyak penduduk yang kehilangan nyawa karena penyakit tersebut. Eyang Djoego yang memiliki kesaktian tinggi pada saat itu mampu menyembuhkan wabah penyakit tersebut. Karena jasanya tersebut, desa itu kemudian dinamakan Dusun Djoego ( kini bernama Desa Sanan Jugo, Kec. Kesamben, Blitar). Cerita ini juga dibenarkan oleh Bapak H.R Tjandra Jana, Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi. Bahkan Pak Tjandra Jana menambahkan bahwa Eyang Djoego pernah ikut membantu penyembuhan wabah Cholera yang menyerang penduduk se-Jawa Timur.

Baca juga:   Gunung Butak (2868 mdpl) via Wonosari

Pak Kades melanjutkan. Sebab kesaktiannya menyembuhkan wabah penyakit disana, kabar tersebut menyebar sampai luar Kesamben bahkan luar pulau Jawa. Maka semakin banyak orang yang mendatangi Mbah Djoego untuk menjadi muridnya. Sehingga semakin banyak murid yang belajar di padepokannya. Raden Mas Iman Soedjono yang mendengar kabar tersebut juga kemudian datang mengunjungi padepokan Eyang Djoego untuk menjadi muridnya. Karena memang memiliki latar belakang yang sama, Eyang Djoego mengangkat Iman Soedjono sebagai orang kepercayaannya disamping juga merupakan murid kesayangan Eyang Djoego.

Sebelum wafatnya, Eyang Djoego berpesan kepada R.M. Iman Soedjono agar dimakamkan di Lereng Gunung Kawi yaitu Desa Wonosari. Beliau Wafat di Padepokannya di Desa Sanan Jugo pada Minggu Legi malam Senin Pahing pada pukul 01.30 tanggal 1 Selo (Zulkhijjah)  1799 Dal ( kalander Jawa) atau 22 Januari 1871 Masehi. Dan sesuai wasiatnya jenazahnya di kebumikan di Wonosari pada Kamis 25 Januari 1871. Raden Mas Iman Soedjono sendiri berpulang ke rahmatullah selang lima tahun meninggalnya Eyang yaitu, Rabu Kliwon 12 Suro atau Muharram 1805 Jimawal bertepatan dengan 8 Februari 1876 Masehi. Beliau pun dimakamkan satu liang lahat dengan Eyang Djoego.

Kedua tokoh yang dimakamkan pada satu liang lahat itu ternyata punya cerita tersendiri. Berdasarkan Buku Pesarean Gunung Kawi, Eyang Djoego juga telah berwasiat, jika kedua dari mereka (Eyang Djoego dan R.M Iman Soedjono) wafat, Ia meminta agar jasad mereka dikebumikan dalam satu liang lahat. “Hal tersebut rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehingga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa,” tulis H.R Soeryowidagdo ( Juru Kunci Pesarean) dalam Buku Pesarean Gunung Kawi.

Kini makam kedua Beliau tersebut dikenal sebagai Pesarean Gunung Kawi. Tempat disemayamkannya dua tokoh yang dikenal dan dihormati atas jasa-jasanya selama hidupnya yang hingga kini senantiasa dikenang dan didoakan masyarakat dari berbagai latar belakang seolah tanpa sekat agama, etnis, budaya, golongan, serta strata sosialnya.

Pesarean Gunung Kawi merupakan objek wisata religi yant terdapat di Desa Wonosari.
Pesarean Gunung Kawi merupakan objek wisata religi yant terdapat di Desa Wonosari.

Berdirinya Desa Wonosari

Kisah terbentuknya Desa Wonosari pun tidak kalah menariknya untuk diketahui setelah kita mengetahui sejarah awal Pesarean Gunung Kawi. Cerita mengapa Kyai Zakaria atau Eyang Djoego bisa sampai ke Wonosari, menurut Pak Kuswanto, pada saat semakin banyaknya murid yang berdatangan ke Padepokannya di Kesamben, Eyang Djoego memutuskan untuk pergi bersemedi untuk meningkatkan keilmuannya. Maka sampailah beliau di Lereng Gunung Kawi. Menurut penuturan Pak Panut (50th), saat Kami temui di ruang Pusat Informasi Pesarean Gunung Kawi, Eyang Djoego merasa Gunung Kawi memiliki tanah suci dan dapat mendatangkan kesajahteraan. “Eyang itu orang pintar Mas, Kami menganggapnya sejajar dengan Walisongo,” ucapnya meyakinkan. Tetapi berdasarkan cerita dari Pak Panut, Desa Wonosari sebelumnya tidak ada. Awalnya Wonosari adalah lahan hasil pembabatan hutan untuk membuka lahan di lereng selatan Gunung Kawi atas perintah Eyang Djoego. Lahan tersebut ditemukan oleh Mbah Wonosari yang merupakan salah satu rombongan yang dipimpin Raden Mas Soedjono dalam misi pembukaan lahan. Untuk menghormati jasa Mbah Wonosari yang menemukan tempat tersebut maka tempat tersebut dinamakan Wonosari yang sampai sekarang dikenal sebagai Desa Wonosari.

Baca juga:   Mengusap Ubun-Ubun Sang Putri Tidur
Tempat tinggal Imam Soedjono bersama para pengikutnya yang hijrah ke Wonosari.
Tempat tinggal Imam Soedjono bersama para pengikutnya yang hijrah ke Wonosari.

Setelah R.M Iman Soedjono mendirikan padepokan sebagai tempat tinggal dia dan para murid Eyang Djoego, yang ikut dalam misi pembukaan lahan, Wonosari berkembang menjadi desa yang ramai. Eyang Djoego menetapkan Iman Soedjono sebagai Putra Kinasih serta penerus kedudukan Eyang. Maka dari itu Ia juga memerintahkan R.M Iman Soedjono untuk memimpin menyiarkan Islam di Wonosari. Sejak itu Padepokan Iman Soedjono mulai ramai didatangi orang-orang yang ingin berguru pada Kyai Zakaria dan menetap di Wonosari untuk membangun desa bersama-sama.

Gunung Kawi menjadi pemandangan yang melatarbelakangi Pesarean Gunung Kawi
Gunung Kawi menjadi pemandangan yang melatarbelakangi Pesarean Gunung Kawi

Kini Keberadaan Desa Wonosari yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara lebih dikenal dengan Objek Wisata Ritual Gunung Kawi dimana terdapat Pesarean Eyang Djoego, yang telah berusia 1,5 abad, sebagai objek wisata utamanya. Adapun kehidupan sosial masyarakatnya masih berpegang teguh pada istiadat dan budaya sebagai warisan leluhur yang dipertahankan hingga sekarang. Pada umumnya masyarakat Desa Wonosari bermatapencaharian sebagai petani dan wirausaha yang berkaitan dengan Wisata Ritual Gunung Kawi.

Pagi-pagi sekali sehabis adzan subuh, para pemilik kedai di sepanjang gang menuju Pesarean sudah bersiap menyusun dagangannya.
Pagi-pagi sekali sehabis adzan subuh, para pemilik kedai di sepanjang gang menuju Pesarean sudah bersiap menyusun dagangannya.

Dengan berkembangnya Wisata Ritual Gunung Kawi yang  disertai dengan beragam budaya yang agamis, maka pada tahun 2002 oleh Bpk. Bupati Malang dicanangkan dan ditetapkan sebagai “Desa Wisata Ritual Gunung Kawi”.

Masuknya Kebudayaan Tionghoa

Jika Kita mencari informasi mengenai wisata ritual gunung Kawi melalui Internet, pasti banyak Kita temukan tulisan-tulisan mengenai keberagaman budaya dan agama yang berkembang di Gunung Kawi. Salah satu yang mencolok adalah budaya tionghoa yang sangat erat hubungannya dengan Pesarean Gunung Kawi.

Informasi tersebut juga yang menarik perhatian kami, Tim Perjalanan Wajib Astacala, untuk menggali lebih jauh bagaimana hal tersebut bisa terjadi ?. Bermula dari informasi yang didapat saat kami berbincang dengan Pak Kuswanto di kediamannya. Kami lalu menelusuri gang setapak menuju Pesarean untuk bertemu dengan Cik Eng (baca : Cik Ing), penduduk tionghoa yang sejak 1977 sudah menginjakkan kaki dan menetap di Pesarean Gunung Kawi.

Cik Eng, dengan celana panjang bahan hitam, kaos hitam berkerah bermotif bunga berwarna merah dan manik-manik yang menempel berpola asal, potongan rambut pendek yang hampir memutih seluruhnya, wanita keturunan tionghoa itu dengan semangat menceritakan kepada Kami mengenai kisah banyaknya warga tionghoa yang berziarah ke Pesarean Gunung Kawi.

Cerita bermula ketika ada seorang tionghoa yang datang ke Padepokan untuk berguru kepada R.M Iman Soedjono (kala itu Eyang telah wafat). Orang tionghoa ini bernama Tan Ki Yam atau lebih dikenal, Pek YamPek Yam yang merupakan keturunan asli dari Tionghoa ini kemudian membawa sebuah budaya yang telah dikenali di negerinya yaitu ‘Ciamsi’.

Suasana pengiriman doa di dalam pesarean Eyang Djoego dan Imam Soedjono, untuk para penziarah. Pada saat kami datang, peziarah di dominasi oleh etnis Tiong Hoa.
Suasana pengiriman doa di dalam pesarean Eyang Djoego dan Imam Soedjono, untuk para penziarah. Pada saat kami datang, peziarah didominasi oleh etnis Tiong Hoa.

Menurut Cik Eng, Ciamsi merupakan ilmu peramalan peruntungan nasib yang berasal dari Dewi Kwan Im.”Dewi Kwan Im ini sifatnya bersih, putih, welasasih. Mirip seperti Eyang Djoego,” tambahnya demikian. Karena memiliki kesamaan sifat itu maka dibangun lah tempat peribadatan Dewi Kwan Im dimana di dalamnya terdapat peramalan Ciamsi yang di kelola Pek Yam. Semenjak ada Ciamsi tersebut kemudian semakin banyak penduduk tionghoa yang juga ikut berziarah ke Pesarean Gunung Kawi. ”Selain itu karena kejituannya, Mas,” Kata Cik Eng waktu saya mencoba menyimpulkan bahwa banyaknya masyarakat Tionghoa yang beribadah dikarenakan masyarakat tionghoa mempercayai Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono memiliki aliran yang sama dengan Dewi Kwan Im. Jadi, melalui berziarah ke Eyang Djoego para peziarah berdarah tionghoa berharap Eyang Djoego dapat mendoakan agar mereka memiliki peruntungan nasib yang baik, yang dapat diramal melalui Ciamsi tersebut yang keakuratannya dipercayai oleh golongan tionghoa ini.

Baca juga:   Gunung Butak (2868 mdpl) via Wonosari

Kemudian kami mencoba menggali cerita ini dari sudut pandang abdi dalam Pesarean. Kami juga menanyakan tentang asal usul banyaknya peziarah tionghoa dan Budaya tiongkok yang mudah ditemukan di Pesarean Gunung Kawi.

Wawancara dengan Pak Kasidi. Abdi dalam yang telah mengabdi selama 40 tahun.
Wawancara dengan Pak Kasidi. Abdi dalam yang telah mengabdi selama 40 tahun.

Kami berjumpa dengan Pak Kasidi, abdi dalam Yayasan Pesarean yang sudah mengabdi lebih dari 40 tahun, dan juga merupakan orang kepercayaan juru kunci Pesarean. Beliau menceritakan bahwa betul ada seorang murid Iman Soedjono yang berdarah tionghoa bernama Pek Yam. Beliau menambahkan, Pek Yam kemudian menjadi muallaf. Namun Dia tetap membawa budayanya dari Tiongkok, yaitu Ciamsi seperti yang telah di jelaskan di atas.

Lain lagi dengan yang saya dapat melalui pencarian dunia maya. Ada beberapa situs yang menuliskan bahwa sejak Eyang Djoego berada di Kesamben beliau telah memiliki dua murid berdarah tionghoa. Kedua murid tersebut  bernama Tjan Thian alias Mbah Sipat dan Tan Giok Tjwa alias Mbah Kijan yang keduanya ikut dalam rombongan Iman Soedjono dalam pencarian lahan di lereng selatan Gunung Kawi. Walaupun hal ini belum dikonfirmasi, namun pada akhir tulisan tersebut dicantumkan penyusunnya yang semuanya merupakan pejabat Desa Wonosari.

Memang agak susah menemukan cerita lengkap mengenai orang tionghoa pertama yang menginjakkan kaki di Wonosari. Walaupun rumah peninggalan Pek Yam masih berdiri di Selatan Pesarean, namun penghuninya tidak lagi memiliki hubungan keluarga dengan Pek Yam. Waktu Kami menanyakan hal ini pada Juru Kunci Pak Yana, beliau berkata, “Pengikut Eyang Djoego ada beberapa orang tionghoa. Yang Saya tahu murid tionghoa Eyang Djoego yang populer di Gunung Kawi bernama Pek Yam. Beliau yang membangun Klenteng Kwan Im pertama kali di dekat Pesarean. Meskipun begitu peninggalan-peninggalan baik budaya maupun bangunan cukup menggambarkan hubungan keharmonisan antara masyarakat tionghoa dengan pribumi yang saling hidup berdampingan.

Klenteng Kwan Im. Tempat peribadatan umat Kong Hucu yang berziarah ke makam Eyang Djoege dan Imam Soedjono.
Klenteng Kwan Im. Tempat peribadatan umat Kong Hucu yang berziarah ke makam Eyang Djoege dan Imam Soedjono.

Hingga akhirnya semakin banyak penduduk tionghoa yang berziarah, kadang hampir menyamai peziarah pribumi, maka dibangunlah tempat peribadatan untuk peziarah tionghoa yang mayoritas memeluk Kong Hucu. Tempat peribadatan tersebut kini dapat Kita temui di sebelah Selatan Gapura Pesarean Gunung Kawi yang dinamai Kwan Im Ding atau Klenteng Dewi Kwan Im.

Selain itu warga tionghoa juga ada yang bermukim dan menetap di Wonosari sampai berkeluarga memiliki keturunan. Mereka juga sudah membaur dengan warga pribumi. Dibuktikan dari banyak anggota keluarga berdarah tionghoa ini yang kemudian menikah dengan warga pribumi Wonosari. “Wong menantu saya sendiri juga orang pribumi,” ucapnya sambil sedikit tertawa mengakhiri perbincangan Kami.

Berfoto bersama dengan Bapak Kepala Desa Wonosari sebelum berangkat menuju ke Keraton untuk memulai pendakian.
Anggota Perjalanan Wajib ki-ka: (Samuel Aditya (A-120-AF), Epo Ilham (AM-010-LH), Ucup (A-119-AF), Pak Kades, Ryan Aminullah(A-121-AF), saya)

Tulisan oleh Arief Naibaho (A-118-Mentari Gunung)
Foto oleh Tim Perjalanan Wajib Api Fajar

Tulisan ini merupakan bagian dari buku kisah Perjalanan Wajib Api Fajar 2015 "Step into The Unknown"