Hadirmu Ibu


Apa kau pernah bermimpi tentang ibumu dan mendapatinya sudah tak ada lagi disampingmu ketika kau terbangun? Aku pernah. Apa kau pernah sangat merindukan ibumu tetapi kau tak bisa lagi bertemu dengannya? Aku pernah.  Apakah kau juga pernah merasakan pahitnya kehilangan seorang ibu, yang sebelumnya sempat bersenda gurau bersamanya sebelum sisa-sisa nafas terakhirnya? Aku pun pernah. Sekarang, izinkan aku menarik nafas. Mengumpulkan kembali energi dan menahan sesuatu yang keluar dari mataku.

Selamat Hari Ibu
Selamat Hari Ibu

Ya, sesungguhnya aku belum siap dan tidak akan pernah. Masih jelas ku ingat, ketika melihat tubuhnya yang terbujur kaku di atas ranjang, lalu ku hampiri dan ku sentuh wajahnya yang pucat, membelai rambutnya yang usang, mencium keningnya yang dingin, memeluk tubuhnya yang kaku. Mata ini amatlah panas, tak percaya harus melihat semuanya itu.

Diam, itulah cara satu-satunya untuk menguatkan diri ini, namun aku tak bisa. Ketika melihat tubuhnya terbalut kain putih. Tubuh ku kaku seolah sudah tak kuat menopang beban, entah mengapa. Apa benar itu Ibuku? Apa benar?

Entah apa yang ada dalam pikiran ini. Aku hanya ingin memeluknya, mencium pipinya, berbagi cerita dengannya. Terkadang ingin terus menjadi anak kecil. Anak kecil yang selalu merasakan kehangatan pelukannya juga belaian lembut tangannya.

Kasihnya selalu memanjakan dengan ikhlas, namun saat ini sudah tidak ada lagi ibu di sampingku. Tak ada lagi senyumannya, perhatiannya, pelukannya, bentakannya, kekhawatirannya. Sudah tidak ku lihat lagi hadirnya di dekatku, karena Ibu sudah memiliki dunia lain yang sulit untuk ku jamah.

Aaah! Waktu, bawalah ku mengadu lewat tarian sayap-sayap putih malaikat yang mengantar kitab suci untuk ku eja sendu. Setiap malam jika ku kedinginan tanpa pelukannya, maka izinkan aku untuk memeluknya bersama indahnya ayat-ayat sucimu.  

Ya, inilah penyesalan yang berujung pedih tak bertuan, pilu yang akan kubawa menua. Janganlah kau tiru aku akan rasa sesal pada akhirnya. Jaga dia, ibumu. Satu-satunya bunga harum yang akan terus mewangi walau telah layu. Balaslah kasih putihnya walaupun ia tak mengharapkan itu. Tunjukkan bahwa seseorang yang dibangga-banggakannya adalah kau yang dulu menjadi berlian kecil yang selalu ia timang. Hari ibu tidak hanya terjadi satu kali dalam tiap tahun, namun hari ibu terjadi di tiap hariku ketika ku terbangun dan membuka pintu kamar, karena  kasihnya memang selalu hidup sampai hayat menutup buku.

Tulisan oleh Rihanatussya’adiyah (AM – 016 – CA)

Gambar Ummi-online

  • Salah Kaprah

    Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

    Tanggal 22 Desember 1928 ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Dekrit Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.