99 Pulau


Aku baru saja merebahkan badanku setelah seharian silaturrahmi ke tempat sanak saudaraku di Subulussalam, Aceh, untuk mengembalikan jiwa yang fitri di Idul Fitri 1436 H. Baru saja ingin ku tutup mata ini, tiba-tiba handphoneku berbunyi. “Tin, siap-siap ya, besok pagi kita jalan jalan ke Pulau Banyak!” kata kakak pertamaku. “Serius? Wahh oke-oke” rasa kantuk yang awalnya berat hilang begitu saja, aku packing malam itu juga. Betapa senangnya aku malam itu, setelah setahun memendam rasa ingin mengunjungi Pulau Banyak di Aceh Singkil, akhirnya terwujud. Ditambah lagi pergi bersama kakak kandung ku. Karena jalan-jalan dengan teman-temanku sudah terlalu biasa.

Tepat pukul 7.00 WIB kakakku beserta saudara dari suaminya tiba. Akupun langsung mengangkat ransel hitamku dan menyalimi tangan kanan emak dan bapak yang tengah duduk di ruang tamu. “Assalamualaikum, Mak!” teriakku.

Subulussalam Aceh Singkil

Pukul 9.00 WIB kami tiba di Aceh Singkil. Kami pun langsung memesan speedboat untuk ke Pulau Banyak, karena pada hari itu kapal ferry sudah penuh. Speedboat  memakan biaya Rp. 3.000.000 untuk pulang pergi dengan mengelilingi empat pulau. Muatan satu speedboat sembilan orang. Kelebihan dari speedboat adalah kita bisa tiba ke lokasi lebih awal. Jika dengan  kapal ferry butuh waktu tiga jam menuju Pulau Balai (pulau persinggahan), dengan speedboat hanya memakan waktu satu setengah jam. Kita bisa langsung ke pulau tujuan tanpa singgah ke Pulau Balai terlebih dahulu.

Pulau Palambak
Pulau Palambak

Aceh Singkil – Pulau Palambak

Pulau Palambak adalah salah satu bagian dari Pulau Banyak atau sering disebut 99 pulau. Gugusan pulau yang memiliki keindahan luar biasa. Warna lautnya hijau kebiru-biruan sehingga bisa melihat karang dari permukaan laut, pasirnya putih dan lembut, serta hijaunya daun kelapa yang ikut menghiasi keindahan Pulau Palambak. Di daratan pulau terdapat muara habitat asli buaya. Pulau Palambak juga tempat yang paling sering dikunjungi turis dari pulau-pulau lainya.

Di pulau ini tidak ada penjual makanan sehingga kita harus membawa bekal ketika ingin berkunjung ke Pulau Palambak. Tapi di Pulau Palambak ada pondok yang bisa dijadikan tempat istirahat.

Baca juga:   Teungku Krueng Meureubo

Tepat pukul 10.00 WIB kami berangkat. Sembari menikmati angin laut lepas, kami juga melihat beberapa pulau indah yang kami lewati begitu saja. Karena tujuan kami adalah ke Pulau Palambak. Pantas pulau ini disebut 99 pulau, semua pulau yang ada memiliki karakteristik masing-masing. Kami baru mengetahui kalau di Pulau Palambak hanya dihuni satu keluarga. Pukul 11.30 WIB kami sampai. Speedboat belum bersandar, aku dan abang iparku langsung melompat dengan pelampung orange. Setelah bosan berenang dengan pelampung, kami berganti kegiatan dengan menaiki canoe yang telah disediakan seorang penduduk di Pulau Palambak dengan tarif Rp. 50.000 per jam.

Menyusuri Pulau
Menyusuri Pulau

Rasa laparpun mulai terasa, kami langsung membuka makanan yang kami bawa dari Subulussalam. Sebelumnya kami sudah mengetahui bahwa tidak ada orang yang berjualan disini. Selesai makan kami disuguhkan kelapa muda yang disediakan penduduk di sana. “Enak banget kelapanya, manis parah ey!” teriak kakakku. Aku sependapat dengan pernyataan kakakku, kelapa muda yang disajikan langsung dari pantai memang memiliki rasa yang berbeda. Sampai hampir lima buah kelapa aku minum siang itu.

Tidak sedikitpun lelah kurasakan. Selesai makan aku langsung berjalan-jalan bersama anak-anak sekitar dan lomba lari-jelas aku kalah. Bersama mereka aku berenang hingga ke tengah-tengah. Sebenarnya aku takut berenang ke tengah, tapi anak-anak di Pulau Palambak terus memaksaku. Sehingga aku berusaha melawan ketakutanku dan ternyata itu lebih dari seru.

Aku masih ingin tetap mandi dan berlari mengelilingi pulau ini bersama anak-anak, sementara yang lainnya merebahkan tubuh di bawah pohon kelapa. Mereka mengajakku untuk melihat buaya di muara dalam hutan pantai. Tapi tidak ada satupun buaya yang kami lihat saat itu. Akhirnya aku dan anak-anak pulau ini memanjat pohon kelapa yang tidak seberapa tinggi. Kamipun duduk istirahat di bawah pohon kelapa depan muara sambil menikmati air kelapa.

Beristirahat di bawah Pohon Kelapa
Beristirahat di bawah Pohon Kelapa

Satu pulau saja kami sudah puas, tak kenal waktu. Tepat pukul 17.00 WIB kami pulang ke Aceh Singkil tanpa mengunjungi pulau-pulau lainya meski sebenarnya merupakan bagian dari tujuan kami yaitu Pulau Hallowen dan Pulau Tainuri. Karena berdasarkan penuturan bapak yang membawa kami, pulau itu cukup jauh dan memerlukan waktu tiga jam untuk menempuhnya. Tidak ada pilihan lain, kami harus pulang karena besok sudah hari Senin. Kakak dan abang iparku sudah harus bekerja lagi.

Baca juga:   Perjalanan SAR ke Aceh, Sebuah Cerita dari Bencana Alam Tsunami Aceh 2004

Saat perjalanan pulang kami semua tidur pulas di speedboat. Langit yang menguning dan burung yang beterbangan menangkap ikan menghiasi perjalanan pulang kami. Pukul 19.00 WIB kami sampai di Aceh Singkil. Malam itu juga kami kembali ke Subulussalam dengan kulit yang memerah, tentunya.

Sebelumnya aku sudah pernah mengunjungi pulau ini bersama teman-temanku, tapi perjalanan ini berbeda dari sebelumnya. Karena baru kali ini aku merasakan perjalanan dengan saudara kandungku. Perjalanan yang semakin mendekatkan kami. Bukan tentang kemana kaki melangkah tapi dengan siapa kita melangkahkan kaki menghabiskan waktu.

Tulisan dan Foto oleh Siti Hartinah (AM – 018 – CA)