Dari Tak Acuh Menjadi Terpengaruh

Belum genap  setahun umurku menjadi bagian dari Astacala dan kali pertama pula aku mengikuti acara “sakral” dua tahun sekali ini. Beruntung memang, aku yang berpikiran untuk tidak melanjutkan pendidikan lanjut dan berniat menjadikan Musang (Musyawarah Anggota) sebagai kepanitiaan terakhir di Astacala. Kepanitiaan Musang pun dibentuk, menjadi panitia memang biasa aja. Tapi setiap menjadi panitia di Astacala selalu ada hal baru yang aku pelajari, hal tidak biasa yang aku dapatkan. “Ini berbeda, Astacala ini tidak sama dan aku harus tetap disini” pikirku.

Sakral. Memang acara ini dapat merubah mindset-ku yang sudah mantap untuk tidak melanjutkan pendidikan lanjut. “Bukan karena kita keluarga lantas lingkungan kita sama, justru karena lingkungan kita sama maka kita keluarga, ini rumahku, dan aku harus kembali. Iya, aku harus melanjutkan Mabim (Masa Bimbingan), agar aku bisa seperti mereka” seruku dalam hati. Berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran hebat dalam Musang ini, pemikiran yang tidak terpikirkan olehku.

Musyawarah Anggota memiliki kedudukan tertinggi dalam Astacala, semua hal penting dan krusial dibahas didalamnya. Agenda Musang selama tiga hari aku libas habis, aku ikuti setiap tahapnya.

Hari pertama Musang, Jumat 25 September 2015 dimulai pukul 19.00 WSA, dengan dipimpin presidium sidang sementara: Sufyan “Tenyom” Sauri (A – 110 – LH), Marcellus “Celeng” Haninditya  (AM – 021 – CA) dan Alfinna Tyas “Cabe” R. (AM – 002 – CA).

Presidium Sementara
Presidium Sementara

Agenda pada hari itu adalah peninjauan tentang tata tertib, peraturan yang berlaku dan tata cara pembentukan presidium tetap Musang 2015. Peserta sidang mengikuti agenda tersebut dengan khidmat. Walaupun terlihat lelah mereka tidak mengendorkan semangatnya untuk tetap bersuara memberikan saran dan masukan agar tata tertib yang berlaku nantinya dapat dipatuhi oleh seluruh peserta sidang. Semakin malam peserta semakin ramai, dengan banyaknya argumen dan saran yang masuk, maka ditetapkanlah ketetapan tata tertib dan pembentukan presidium tetap Musang 2015. Sedikit diskusi terjadi, akhirnya diputuskan nama yang akan menjadi presidium tetap Musang 2015, yaitu Siti “Munthe” Hartinah (AM – 018 – CA), Muhammad Ikhlas (AM – 015 – CA), Alfinnatyas “Cabe” R (AM-002-CA).

Baca juga:   Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXIV
Presidium Tetap
Presidium Tetap

Presidium sementara menyerahkan kursi pimpinan sidang pada presidium tetap. Ketukan palu dua kali pertanda bahwa agenda pra-sidang ditutup, sekaligus menandakan bahwa Sidang Pertanggungjawaban Dewan Pengurus Astacala periode 2013-2015 dimulai.

Sabtu, 26 September 2015 pukul 09.00 WSA sidang dimulai kembali. Mengagumkan. Selama aku mengikuti sidang pertanggungjawaban, ini adalah sidang yang sangat berbeda, alot, dan begitu rinci pemaparan setiap bagiannya, “Astacala memang selalu punya sesuatu hal berbeda dalam setiap acaranya” kataku kepada teman di sebelah. Terdapat juga evaluasi tentang kinerja Dewan Pengurus Astacala periode 2013-2015 yang menghasilkan rekomendasi-rekomendasi untuk dewan pengurus pada periode berikutnya. Sidang Pertanggungjawaban berakhir sekitar pukul 01.25 WSA.

Sidang Laporan Pertanggungjawaban ditutup, tapi Musang belum selesai. Masih menyisakan pemilihan ketua Astacala 2015-2017, bagian yang paling ditunggu-tunggu dalam Musang 2015, semua sepakat melahap habis agenda ini hari itu juga tanpa menunggu pagi. Rasa lelah terkalahkan oleh ketegangan yang terasa dari bangku peserta Anggota Biasa yang datang. Mungkin karena itu juga mereka ingin segera ada ketua baru Astacala, agar mereka dapat tidur nyenyak. Beban memang menjadi ketua, pun bisa dianggap sebagai suatu penghormatan tanpa batas, tergantung dari sisi mana setiap individu memaknainya.

Pertama-tama pemilihan calon ketua diseleksi dari masa kuliah yang sedang dijalani, mengeliminasi Anggota Biasa yang studinya diambang krisis, lalu muncullah sepuluh nama calon ketua Astacala periode 2015-2017, yaitu: Firman Aldiorija (A – 112 – LH), Ryan Aminullah (A – 121 – AF), Nuruzzamanirridha “Ucup” (A – 119 – AF), Jefri Yoseph (A – 114 – MG), M. Arief “Baho” Naibaho (A – 118 – MG), Atdriansyah “Buyung” Arismunandar (A – 117 – MG),  Fahmi “Doci” Arief Maulana (A – 106 – LH), Dhiky Wahyu Santoso (A – 105 – LH), Samuel “Jojon” Aditya (A – 120 – AF), Fitra “Om” Ariffanto (A – 108 – LH). Lalu dilakukan voting untuk mengeliminasi lima calon ketua oleh Anggota Biasa, yang terpilih adalah Doci, Baho, Buyung, Samuel, Dhiky.

Baca juga:   Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXIV

Pada tahap ini para calon ketua diwajibkan memaparkan visi dan misinya untuk Astacala dua tahun mendatang. Setelah itu kembali dilakukan voting untuk mengeliminasi menjadi tiga calon. Ketiga nama calon ketua Astacala tersebut, yaitu: Jojon, Buyung dan Baho. Peserta diperbolehkan mengajukan pertanyaan kepada tiga calon terpilih sebelum mengerucutkan menjadi dua pilihan. Suasana sidang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan dari para peserta sidang yang datang. Proses ini berlangsung dengan sangat seru meskipun rasa lelah sangat terlihat dari wajah mereka, tidak terbantahkan. Setelah para peserta sidang dirasa cukup untuk mendengarkan sesi tanya jawab, maka dilakukan pengeliminasian menjadi dua calon, yaitu: Buyung dan Baho.

Sesi tanya jawab kembali diadakan sebagai tahap terakhir untuk mengetahui siapa yang benar-benar siap untuk menjadi ketua Astacala Periode 2015-2017. Ekspektasi dan lobi dari para Anggota Biasa dan Anggota Muda ditujukan untuk kedua calon. Diskusi dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ini berlangsung alot karena keduanya mempunyai integritas tinggi untuk Astacala. Besar harapan terhadap siapapun yang akan memimpin organisasi ini agar dapat membawa ke arah yang lebih maju sesuai dengan visi misi Astacala. Saking alotnya, untuk menentukan hasil akhir ini perlu dilakukan dua kali voting. Karena, pada voting pertama terdapat satu suara abstain. Sidang menjadi riuh, terdapat forum dalam forum. Presidium sidang mengetukkan palunya berulang-ulang berusaha menyudahi forum-forum kecil. “Siapa sih yang abstain? Iseng banget!” banyak peserta sidang yang menggerutu sendiri. Peserta sidang sepakat untuk melakukan voting kembali dengan pengajuan satu pertanyaan pamungkas agar dapat memastikan bahwa pilihan mereka tidak salah. “Kenapa harus kalian?” salah satu peserta sidang dari sudut belakang ruangan melontarkan pertanyaan-Bang Handung Dwipayana, pantas saja suaranya tidak asing bagiku.

Voting menghasilkan tiga belas suara untuk Buyung dan tujuh belas suara untuk Baho. Maka untuk dua tahun kedepan Astacala akan dipimpin oleh Baho. Dengan berakhirnya agenda sidang maka berakhir pula Musyawarah Anggota Astacala tahun 2015.

Ketua Astacala Terpilih Periode 2015-2017
Ketua Astacala Terpilih Periode 2015-2017

Sedikit cerita tentang pengalaman petamaku mengikuti Musang dan menjadikan langkah awalku dalam mengikuti setiap rangkaian pendidikan Astacala selanjutnya. Kita tidak perlu harus menunggu tahun berganti untuk menjadi pribadi yang baru, kita memiliki kemampuan untuk berubah kapanpun kita mau.

Baca juga:   Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXIV

Setiap orang punya zamannya dan setiap zaman ada orangnya. Selamat untuk M. Arief Naibaho selamat mengemban amanah. Astacala!!!

Tulisan oleh Ayati (AM – 017 – CA)

Foto Dokumentasi Astacala

  • temennya ayati.gie

    wah, Ay. Makasih beut tulisannya. Termotivasi bgt buat gue(secara ga langsung). Semangat Ayatie.

  • bagus tulisannya. strukturnya runut, bahasanya hidup.

    terus menulis!

  • temennya suara abstain

    rija itu yang abstain

  • temennya suara abstain

    rija itu yg abstain

  • lanjutkan perjuanganmu nona

  • a-001-pr

    selamat utk baho sbg ketum astacala baru…
    utk penulis : kolaborasi hobi yg cocok antara pencinta alam dan menulis…. (y).

  • PARI

    “Setiap orang punya zamannya dan setiap zaman ada orangnya” –> Zaman-nya orang yang menjadi anggota Astacala harusnya sesuai AD Bab IV Pasal 10 (“Keanggotaan ASTACALA berakhir bila meninggal dunia, mengajukan permohonan berhenti atau diberhentikan oleh Dewan Pengurus ASTACALA karena telah melalaikan kewajiban sebagai anggota”), sedangkan Zaman-nya Astacala harusnya sesuai AD BAB I Pasal 3 (“ASTACALA berdiri pada tanggal tujuh belas Oktober tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh dua (17 –10 – 1992) untuk jangka waktu yang tidak ditentukan”)

    VIVA ASTACALA!!!
    A-081-LP