Satu Ramadhan di Puncak Merbabu


Hampir tujuh jam aku berada di kereta, berteman dengan kebosanan, untuk mengusirnya kadang aku mengusap layar HP meski tak ada pesan atau notifikasi. Buku yang aku bawa juga sudah berada di garis akhir halaman. Tak ada lagi yang bisa dibaca, tak ada yang bisa dikerjakan. Hanya duduk terpaku menatap keluar kaca meskipun tampak hitam, tak terlihat apa-apa. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.29 WIB dan tanpa sadar aku terlelap.

“Stasiun Yogyakarta, Stasiun Yogyakarta” seru petugas kereta membangunkan beberapa penumpang agar bersiap turun.

Beberapa orang kaget dengan seruan itu dan bergegas mempersiapkan diri untuk turun, akupun demikian. Jam digital di layar HP sudah menunjukkan pukul 02.56 WIB, kereta perlahan pelan, kuarahkan pandangan keluar jendela dan terlihat plang bertuliskan Yogyakarta +113, menandakan bahwa aku sudah sampai di stasiun tujuan. Gerbong berisi 64 penumpang itu hampir setengahnya turun di stasiun ini.

Awal Perjalanan

Kami merencanakan perjalanan ini selama empat hari. Perjalanan dimulai dengan berkumpulnya lima personil yang terdiri dari Aku, Jojon, Hajar, Nana dan Niken yang sepakat untuk berkumpul dirumah Niken yang beralamat di Jalan Timoho.

Aku melirik jam yang berada di sudut kanan warung Burjo di Jalan Timoho. Sudah jam setengah tujuh pagi, hampir empat jam setelah aku turun dari kereta. Terik matahari mulai menghangatkan pagi dan hiruk pikuk kendaraan sudah mulai berlalu lalang. Aku menunggu pesan dari Niken yang tak kunjung datang.

“Ah masih tidur sepertinya.” gumamku sambil menikmati kopi yang sudah tak panas lagi.

Setelah beberapa saat, Niken mengirimkan pesan. Kuberitahu posisiku dan dia menjemputku, Kemudian kami ke pasar untuk membeli logistik yang masih kurang, menjemput Jojon di sekretariat Mapagama, packing dan berangkat.

Kami berangkat pada Selasa, 16 Juni 2015 sekitar pukul 11.00 WIB dengan diantar oleh orang tua Niken ke Base Camp pendakian jalur Selo. Sekitar pukul 15.00 WIB kami sampai di Base Camp, mengurus perizinan, mengambil air dan berangkat. Kami sepakat untuk camp di dekat Base Camp.

Camp 1 – Sekitar Base Camp jalur Selo

“Tang! Tang! Tang!” suara golok sedang beradu dengan pohon mati terdengar cukup nyaring. Jojon sedang memotong pohon, aku mencari ranting, dan tiga personil lain membereskan camp dan memasak.

Aku tak tega melihat Jojon yang masih mengayunkan golok dengan keringat mengucur. Raut mukanya juga menandakan kedongkolan pada pohon itu.

“Anjir, kayunya keras banget coy!” akhirnya Jojon angkat bicara, semakin memperkuat dugaanku. Aku menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu.

Aku mencoba memotongnya, namun hasilnya tidak berbeda dengan Jojon. Kayunya memang keras, tidak seperti di daerah Jawa Barat yang lembab. Aku mencoba beberapa cara seperti mengganti golok dengan Tramontina yang aku bawa dari sekretariat Astacala. Jojon sudah mengingatkan bahwa Tramontina itu sudah tidak layak digunakan. Aku cuek saja, tetap mencoba memotong kayu hingga Tramontina itu patah dan terbang ke semak-semak. Kejadian itu membuatku mematung, tak yakin dengan apa yang barusan terjadi.

Baca juga:   Pendakian Atap Tertinggi Bumi Pasundan, Langit Biru di Balik Awan Kelabu

Adegan memotong kayu akhirnya selesai dengan menarik kayu menggunakan bantuan webbing, mematahkan bagian kayu berdiameter satu senti yang tidak terpotong, membawanya ke camp dengan mengangkatnya bertiga-Aku, Jojon dan Niken.

Hari yang cerah berganti malam yang dingin. Api yang semula kecil terpaksa kami kipas bergantian agar kayu yang dipotong dengan susah payah tidak terbuang sia-sia. Inilah waktu yang aku rindukan ketika berada di camp, bercengkrama di depan api, bercerita ngalor-ngidul tanpa alur yang jelas dan tertawa lepas hingga larut malam.

Sadelan antara Sabana 1 dan Sabana 2
Sadelan antara Sabana 1 dan Sabana 2

***

Nafas yang terengah-engah memaksa kami untuk beristirahat sejenak, meski baru sepuluh menit yang lalu kami beristirahat di Pos II.

“Yuk kita lanjutkan, udah mulai sore. Biar gak kemaleman di jalan” kataku memberikan kode agar mereka bersemangat kembali dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.35 WIB.

Aku berbisik kepada Jojon untuk mem-push agar mereka berjalan lebih cepat. Aku memutuskan berjalan di depan agar mereka mengikutiku. Untung saja medan yang ditempuh tidak terlalu terjal sehingga mereka bisa mengikutiku sampai ke Pos III.

Pos IV merupakan plotan titik camp kami, terletak di atas bukit yang terlihat di sebelah utara Pos III. Jalur yang terjal akan sangat menguras tenaga dan menurunkan semangat saat melihatnya dari kejauhan. Dan benar apa yang aku bilang, semangat Nana mulai kendur.

Sekitar satu jam kami berjalan menanjak mengikuti jalur bedebah ini. Debu yang berterbangan menjadi rintangan saat angin berhembus. Beristirahat dengan menyantap sepotong roti dan sedikit senda gurau adalah opsi yang tidak terlalu buruk untuk memompa semangat. Kuamati sebuah monumen berbentuk persegi panjang bertuliskan In Memorian dengan nama yang tak kuingat.

Susah payah kami melewati jalur terjal yang licin dan berdebu. Nana yang sedari tadi terlihat lesu menunjukkan keletihannya. Kaki kanannya bergetar saat menahan tubuh yang menggendong daypack, memegang tali rafia dan berusaha agar tidak tergelincir. Tanjakan yang suram dengan susah payah akhirnya dapat kami lewati, sehingga sampai di Pos IV dan melakukan aktifitas camp.

***

Angin berhembus dari puncak menuju lembah, membuat senja di sabana terasa lebih mengesankan. Pemandangan indah berhiaskan lampu kota menjadi latar jika memandang ke sebelah timur, Gunung Merapi untuk sebelah selatan, Gunung Sindoro mewakili barat dan bukit berjajar di sebelah utara. Tidak heran jika Selo merupakan jalur dengan pemandangan yang indah.

Baca juga:   Perjalanan ke Moncong Lojong, Tapi...
Puncak Merbabu dari Sabana 1
Puncak Merbabu dari Sabana 1

Aku melihat sorot lampu dari arah utara, tampaknya ada beberapa pendaki sedang turun. Tak lama kemudian mereka sampai di Pos IV dan berpapasan dengan kami.

“Mas ini bener turun ke Base Camp Selo?”, tanya mereka tanpa basa-basi.

“Bener mas, tapi jalannya ngeri. Mendingan kalau mau turun besok aja.”, jawab Jojon menyarankan agar tiga pendaki itu tak turun malam ini.

Sebenarnya dari segi fisik mereka masih sanggup untuk turun. Namun dari peralatan sangat mengkhawatirkan karena headlamp yang sudah redup. Namun mereka memaksa turun dengan resiko yang begitu besar.

***

Alarm dengan jeda lima belas menit sudah mengganggu istirahatku pagi ini. Waktu menunjukkan pukul 01.45 dan aku bergegas bangun untuk menyiapkan sahur. Sengaja aku bangun lebih awal, agar aku bisa masak sayur asem dan ikan asin–menu kesukaanku. Hanya tiga orang yang puasa karena Hajar dan Nana sedang berhalangan sehingga makan sahur kami sisakan sedikit untuk sarapan. Setelah santap sahur kami kembali tidur dan melanjutkan perjalanan lagi pada pukul 08.00 WIB.

Perjalanan menuju Puncak Merbabu

Perjalanan menuju puncak ini terasa melelahkan. Kuamati kontur di peta, jalur yang terjal menembus lembahan akan sangat menguras tenaga. Aku mencoba berjalan dengan perlahan, tidak banyak ngoceh seperti biasanya dan sering beristirahat untuk menghemat tenaga. Debu yang berterbangan sangat mengganggu pernapasan dan membuat kerongkongan terasa kering. Terik matahari dan angin tak mau ketinggalan untuk menggoda puasa pertamaku. Tapi aku tetap bersemangat dan bertekad untuk tetap berpuasa.

Separuh perjalanan menuju puncak kami lalui dalam waktu dua jam. Terik semakin tak karuan dan debu berterbangan tak terkendali. Sedikit-sedikit aku basahi mulutku dengan air liur dan memainkan lidah untuk memperbanyak produksi liur, menjaga kerongkonganku agar tidak kering. Sekitar satu setengah jam kemudian kami sampai di Puncak Kenteng Songo, Puncak Gunung Merbabu dengan ketinggian 3.142 mdpl. Di puncak ternyata ada orang yang sudah mendirikan Dome dan sedang santap siang. Aku membayangkan betapa nikmatnya jika setiap tegukan air mineral atau air rasa-rasa membasahi kerongkongan yang sudah kering kerontang. Tapi tekadku tetap bulat untuk tetap berpuasa.

Pemancar dilihat dari Kenteng Songo
Pemancar dilihat dari Kenteng Songo

Setengah jam kami istirahat di Puncak. Tak ada angin tak ada tempat teduh, hanya terik dan debu. Aku hanya menjadi juru jepret tiga cewek yang bawel kesana-kesini minta difoto. Nampaknya Jojon tidak menikmati keindahan puncak, bergeser dari tempat duduknya pun ogah-ogahan. Kubiarkan saja dia tetap begitu sampai akhirnya kuberikan kamera kepada mereka dan memutuskan untuk menemani Jojon.

Baca juga:   Mengunjungi Sang Penjaga Lembahan Solo

Sekitar pukul 12.15 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II jalur Wekas. Perjalanan turun dari puncak menuju Pos II melewati jalur yang tidak masuk akal. Jalur yang licin dan sedikit merangkak menghiasi siang yang terik. Angin berhembus kencang menerbangkan debu-debu menambah kengerian. Ketika melewati jembatan setan (jalur dengan kanan-kiri jurang), kabut tipis membuat rasa takut tersendiri, sehingga kami mempercepat langkah agar terbebas dari kabut.

Turun dari Kenteng Songo
Turun dari Kenteng Songo

Camp 3 – Pos II Jalur Wekas

Pos II sudah dekat dan aku sengaja memastikannya dengan GPS untuk memompa semangat.

“Setengah karvak lagi.” kataku kepada mereka.

“Ah, sedikit lagi.” jawab Jojon sambil melipat bungkusan plastik bening berisi peta.

Sekitar pukul 16.00 WIB kami sampai di Pos II, tempat yang luas dengan banyak pohon mati yang masih kokoh berdiri. Disini juga sudah dibangun keran yang digunakan pendaki untuk mengambil air atau membersihkan diri.

Aku membasuh muka, membersihkan tangan dari debu dan membasuh kepala yang terasa pusing akibat panas dan dehidrasi ringan. Aku membasahi sapu tangan untuk menutup rambut agar tetap basah, kembali ke camp dan melakukan aktifitas.

Waktu berbuka sudah dinanti-nanti. Menu buka puasa hari pertama diawali dengan es Nutrisari, dilanjutkan dengan Soto dan hidangan penutup nutrijel. Semuanya bersih tanpa sisa dan terasa sangat nikmat, mungkin karena puas dengan perjuangan puasa selama sehari.

Senja bergeser malam, mega sudah tak tampak lagi dan bulan sabit menampakkan wujudnya dari ufuk barat. Bintang-bintang terlihat bertebaran di langit, tampak jelas hari ini cuaca cerah. Lolongan ajak dan suara monyet menambah kebisingan nyanyian hutan. Menurutku udara di sini lebih brengsek daripada di sabana, sehingga belum sampai pukul sebelas malam satu persatu dari kami langsung masuk ke dome dan beristirahat.

Waktu sahur tiba dan lagi-lagi aku yang menyiapkannya. Dini hari terasa sangat dingin, membuatku kehilangan fokus. Nasi masih setengah matang, mie yang ketumpahan bumbu sop dan tempe yang matang tidak merata.

***

Matahari pagi mulai terasa kehangatannya. Nana bangun membuat kegaduhan, membangunkan yang masih tidur dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Akhirnya kami bergegas membereskan semua perlengkapan, packing, cleaning dan menuju ke Base Camp Wekas untuk pulang ke Yogyakarta.

Tulisan oleh M. Nuruzzamanirridha (AM – 003 – AF)
Foto Dokumentasi Astacala

  • A

    hebat kakaknya, sambil puasa
    (jempol 2 tangan)

  • pengamat

    tulisannya bagus.

    tapi bisa dikoreksi kata yang agak mengumpat kejadian alam.

    sheers 🙂

  • @pengamat

    saya gak tau kalo bakalan gak diubah sama editornya

    btw, terimakasih sarannya 🙂