Barisan Putri Tidur, Sabana di Gunung Butak


Hawa dingin yang ada di padang sabana Gunung Butak pada malam hari tak mengecilkan niat kami untuk mendirikan tenda dan bermalam di sana selama dua hari.  Apalagi dengan tidak adanya pendaki lain yang bermalam, padang sabana menjadi terasa sunyi namun menyenangkan.

Sabana dari puncak
Sabana dari puncak

Sebelum sampai pada padang sabana, kami harus melewati jalan yang terjal dan membuka semak-semak yang telah menutupi jalur pendakian. Karena kami memilih pos pendakian di desa wisata ritual Gunung Kawi -Desa Wonosari, Malang, Jawa Timur-  yang jarang dilewati oleh pendaki lainnya. Biasanya para pendaki memilih berangkat dari pos pendakian Kota Batu karena jalurnya yang landai dan Perkebunan Teh Sirah Kencong (Blitar). Bisa dibilang jalur yang kami ambil lebih berat dan lama dari pada jalur lainnya.

Perjalanan ini saya lakukan bersama lima teman: Samuel Aditya, Ryan Aminullah, M. Arif Naibaho, M. Nuruzzaman dan Epo Ilham. Gunung Butak yang berada di Kabupaten Malang, Jawa Timur merupakan Gunung yang tidak aktif dan letaknya berdekatan dengan Gunung Kawi dan Gunung Pitrang.  Selama dua hari kami menginap di Kantor Desa Wonosari untuk melakukan pendokumentasian tentang kemajemukan budaya di Desa Wonosari. Setelah itu kami bersiap melakukan pendakian Gunung Butak.

Titik awal pendakian dimulai dari kompleks keraton Gunung Kawi yang didalamnya terdapat tempat ibadah berupa Wihara, Pura dan Klenteng. Selain tempatnya sejuk, saya merasakan kedamaian ketika berada di sana. Setelah berkeliling melihat bangunan yang berada di kompleks keraton, perjalanan kami mulai dengan melalui jalan setapak yang berada di samping kompleks keraton tersebut. Berjalan tak lama, saya sudah memasuki hutan yang dipenuhi dengan pepohonan yang lebat. Sehingga sinar matahari terhalang pada siang itu. Jalan setapak yang awalnya landai kemudian berganti menjadi terjal. Hal ini membuat saya harus berulang kali beristirahat dan mengatur nafas di mulut. Tak terasa hari akan gelap dan saya memutuskan untuk mencari tempat datar untuk mendirikan tenda yang kami bawa. Setelah makan malam dan rasa lelah yang mendera, kami memutuskan untuk lekas beristirahat.

Pukul 8.00 WIB, setelah sarapan dan packing, perjalanan kami lanjutkan. Satu jam kemudian vegetasi yang ada di sekeliling kami berganti dengan semak belukar dan pohon cemara. Dari kejauhan Kota Malang dan sekitarnya nampak seperti titik–titik yang bewarna namun tak beraturan. Jalan terjal dan teriknya sinar matahari membuat keringat saya keluar dengan deras namun saya juga harus mengatur air minum yang kami bawa. Karena berdasarkan informasi yang ada, sumber mata air terdekat terdapat di Padang Sabana Gunung Butak. Hingga tepat siang hari, kami sampai di Puncak Pitrang (2590 mdpl).  Di Puncak Pitrang tersaji landscape yang indah.  Disebelah timur terlihat deretan pegunungan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan juga puncak Gunung Butak yang menjadi tujuan kami.

Hutan Lumut
Hutan Lumut

Karena sore hari kami harus berada di Sabana Gunung Butak, maka setelah melepas lelah kami bergegas melanjutkan perjalanan. Jalur naik turun punggungan yang akan kami lalui berserta pemandangan yang berganti-ganti. Dari pohon-pohon pinus berganti pohon berdaun merah (Cantigi) yang ditempeli lumut sampai tebal. Biasanya disebut dengan hutan lumut. Kemudian kami disambut  dua sabana kecil yang seperti menyembunyikan keberadaannya. Karena dari kejauhan sabana tersebut tertutup oleh pohon-pohon pinus. Hingga akhirnya kami berada di punggungan Gunung Butak. Rasa letih yang terkumpul sampai sore hari, akhirnya terasa menghilang setelah saya melihat sabana yang menjadi tempat kami beristirahat. Biasanya para pendaki akan mendirikan tenda di Puncak Butak atau Sabana Gunung Butak.

Istirahat sejenak di sabana
Istirahat sejenak di sabana

Dengan luas sekitar 50ha, Sabana Butak menyajikan pemandangan yang memanjakan mata. Padang rumput yang diapit oleh pegunungan di sebelah utara dan selatan dengan sekali-kali terdapat pohon yang berdiri di tengahnya. Tampak begitu indah dengan warna langit yang mulai bewarna keemasan. Terdapat juga dua mata air yang biasanya diambil oleh para pendaki. Kami berjalan di tengah rerumputan  untuk mencari tempat mendirikan tenda mengingat gelap akan datang. Gelap mulai memenuhi langit kemudian, bintang terlihat berhamburan dan dengan tak terduga bahwa bulan purnama mulai muncul di ujung timur. Dengan rasa dingin yang mulai membuat gemetar, pemandangan malam itu berhasil di abadikan pada kamera yang kami bawa.

Pukul 4.00 WIB, alarm membangunkan kami satu persatu. Udara terasa sangat dingin, namun kami harus bergerak menuju Puncak Butak. Ketika jalan setapak mulai menanjak, nafas saya sudah tidak beraturan. Dengan berjalan perlahan akhirnya saya sampai di Puncak Gunung Butak dan dapat menikmati mentari mulai terbit di ufuk timur. Ketika langit beranjak cerah dan udara tak terasa dingin, di puncak saya dapat melihat panorama yang indah. Di bagian timur terlihat Gunung Semeru, di sebelah utara juga terlihat Gunung Arjuno Welirang. Tak kalah bagusnya, di sebelah barat Gunung Butak menampakan bayangannya dan terlihat juga Gunung Kelud dan Lawu. Summit attack selalu memberikan sensasi yang menarik menurut saya. Ketika matahari mulai meninggi, kami pun kembali ke padang sabana untuk beristirahat dan meng-explore daerah di sekitar tempat kami berkemah.

Puncak Gunung Butak
Puncak Gunung Butak

Ketika saya berkeliling di padang sabana tak sengaja terlihat ayam hutan. Mungkin kedatangan kami mengganggu sehingga ayam tersebut langsung terbang. Tak lama dari itu saya kemudian dikejutkan dengan suara burung elang yang terbang memutar. Pertama terlihat hanya satu ekor, semakin lama burung elang tersebut berkumpul sebanyak empat ekor dan terbang memutar sama-sama.  Sungguh menyenangkan melihat kejadian seperti itu.

Tim di Puncak Gunung Butak
Tim di Puncak Gunung Butak

Keesokan harinya kami turun melalui jalur pendakian Sirah Kencong. Hal ini membuat kami kembali melewati Puncak Butak namun harus dengan membawa tas ransel.  Ketika turun saya tak berjumpa dengan rombongan pendaki, mungkin karena pada hari itu merupakan hari kerja. Dengan jalan yang curam, membuat saya berhati-hati dan kaki harus menahan badan agar tidak terjatuh ke depan. Tak terasa pada pukul 15.00 WIB saya berada di perkebunan teh padahal pada pagi tadi masih di  Puncak Butak. Perjalanan belum selesai, mengingat jarak tempuh menyisakan 12km lagi menuju Blitar. Setelah satu jam berjalan menuju Desa Sirah Kencong, kami mendapat informasi bahwa di sekitar desa ada yang memiliki kendaraan. Setelah berembug dengan pak Budi pemilik kendaraan, akhirnya kami diantar ke Blitar.

Di dalam mobil, saya duduk di depan menemani pak Budi menyetir. Di belakang teman-teman saya sudah tertidur karena kelelahan. Sekali-kali terpikirkan oleh saya untuk tidak meninggalkan tempat ini.  Rasanya perjalanan selama empat hari menjadi terasa terlalu singkat.

Tulisan oleh Dhiky Wahyu Santoso (A – 105 – LH)

Foto Dokumentasi Astacala

  • Elang Buthak

    salam buat savana buthak

  • Bro, ada catatan data operasionalnya nggak?

  • @Gejor : ada om, di Saya. tepi belum rampung hehehe

  • angga

    Bro mohon info dong rute dari sabana menuju puncak lewat jalur mana ya karena saya sering baca kok banyak yg gagal smpe puncak karena jalan menuju puncak gak jelas .. mohon info bro atau bs email saya . thanks

  • @angga
    lewat jalur di sebelah sendang dari arah Gn. Pitrang bro, nanti ada semacam pelataran bebatuan besar-besar. ikutin aja jalur setapaknya sampai puncak.