Lomba Pertamaku di Astacala

Related Articles

Sore itu datang surat undangan dari Aldakawanaseta untuk mengikuti kegiatan ACC 2 (Aldakawanaseta Climbing Competition 2) yang merupakan ajang perlombaan panjat dua tahun sekali. Dan ACC kali ini adalah yang kedua kalinya mereka adakan. Aldakawanaseta merupakan nama mapala di Udinus (Universitas Dian Nuswantoro) yang berada di Semarang. Sontak Bang Baho yang pertama melihat surat itupun langsung menyarankan aku untuk mengikut lomba tersebut. Sedikit ragu untuk ikut atau tidak karena waktu itu aku sudah memesan tiket pulang ke Jogja, pas dengan tanggal lombanya berlangsung. Kupikir-pikir lagi lumayan juga mengikuti lomba ini, aku pasti akan mendapatkan pengalaman dan menambah jam terbangku sebagai seorang climber. Lalu akhirnya kubatalkan tiket ke Jogja dan memesan tiket ke Semarang.

Tersisa H-10 diselingi dengan kesibukan pendidikan lanjut NAVDAR (Navigasi Darat) Cakar Alam, aku latihan sport climbing di wall Astacala. Kucoba jalur kanan, jalur yang paling susah di wall Astacala, namun hanya sampai kotak di atasnya bivouak aku fall karena belum bisa meraihnya. Namun hari demi hari, aku berjuang dengan cara latihan panjat wall. Latihan fisik seperti lari, push up, back up, sit up, dan pull up.

Tanggal 28 Mei 2015 pukul 21.30 WIB, aku, Hajar dan Ifah berangkat ke Semarang menggunakan Kereta Api Harina dari Stasiun Bandung. Jam 5 pagi kita baru sampai dijemput saudaranya Hajar dengan  mobil. Begitu sampai rumah kita langsung tepar sampai jam 11 pagi, terus seharian itu kita nothing to do. Hanya keluar jalan kaki membeli makan siang. Sebenarnya ada motor tapi tidak ada platnya dan helmnya juga hanya satu. Keesokan harinya, tanggal 30 Mei, kami menjemput Umar, dia juga peserta lomba memanjat untuk kategori lead mapala putra. Setelah menjemputnnya, kami langsung menuju ke UDINUS dan menuju ke sekretariat Aldakawanaseta untuk daftar ulang dan menunggu technical meeting. Saat daftar ulang tidak ada kendala sama sekali karena aku dan Umar sudah memenuhi syarat administrasi mulai dari uang pendaftaran Rp. 70.000, surat tanda bebas dari narkoba, surat delegasi dari Astacala, dan juga formulir pendaftaran. Namun ada satu hal yang mengusikku, yaitu papan panjat bouldering. Ingin rasanya aku mencobanya, namun apa daya badanku masih lemas, apalagi udara kota Semarang panas, jauh lebih panas dari pada Jawa Timur pikirku, karena tidak hanya aku yang merasakan panasnya kota Semarang. Hajar, Ifah,  dan Umar pun  juga berpikir demikian.

Malam pukul 18.30 WIB kita mulai technical meeting, beberapa aturan mulai di jelaskan, mulai dari pelanggaran menginjak hanger, memasang quickdraw, beserta biaya terkena kartu kuning, merah maupun biaya protes atau complain ,dll. Setelah itu istirahat di ruang yang sudah disediakan. Saat tidur, aku mendengar suara berisik  sekali. Ada mapala Jogja entah lupa mapala dari mana berbincang dengan mapala Riau, maksudnya, sudah malam dan yang lain sedang terlelap tidur kenapa tidak besok saja mengobrolnya?. Aku takut malam itu aku tidak bisa tidur jadi aku berdoa banyak. Untung aku bisa tidur nyenyak. Paginya bangun jam 5 kedinginan karena AC, saat mencoba cuci muka airnya hangat tidak ada segar-segarnya. Percuma mandi. Terus habis itu mengambil sarapan sekalian ambil nomor punggung, aku ambil nomor 014 nomor kesukaanku, sesuai dengan urutan alphabet namaku huruf “N” Niken. Selesai makan panitia ACC2 langsung memberikan instruksi peserta lomba untuk segera menuju wall untuk melakukan perlombaan. Pertama-tama lead mapala putra sebanyak 77, lalu pelajar putra, dengan babak kualifikasi dua jalur panjat. Tiba giliran Umar memanjat, Ia hanya sanggup memasang tiga runner pada jalur A, sedangkan enam runner di jalur B dengan jumlah total runner 13 hingga top.

Menjelang sore babak kualifikasi untuk mapala dan pelajar putra belum juga selesai hingga akhirnya tiba giliran mapala putri sebanyak 44 peserta dan pelajar putri, dengan beberapa penambahan point. Aku yang merupakan urutan ke lima meskipun nomor punggungku empat belas, sedikit gugup meskipun point-nya terlihat mudah. Setelah sekitar 15 menit menunggu tiba giliranku untuk memanjat jalur A terlebih dahulu, total semua ada 10 runner hingga top. Mulai pemanjatan runner pertama lancar, runner kedua pun begitu, hingga runner ke empat, ketika aku hendak meraih point diatas ku untuk memasang runner ke lima, aku tidak mengamati point disekitarku ternyata ada pijakan kaki dibawahku untuk meraih point di atasku. Lalu aku memaksakan diri untuk meraih point diatasku dengan cara melompat, namun apa daya aku tak sampai meraih point itu dan jatuh terbalik dengan posisi kepala dibawah tangan di atas, untung saja posisi wall overhang tidak datar, jadi kepalaku tidak terbentur wall maupun point.

Pemanjatan Jalur A
Pemanjatan Jalur A

Dengan sorakan serta tepuk tangan penonton belayer menurunkanku, entah karena kebodohanku atau karena aku jatuh begitu sehingga mereka bertepuk tangan. Simpul delapan yang tertambat di harnessku pun susah untuk dilepaskan. “Jatuhkan keras sekali tadi mbak”, Kata sang belayer. Aku masih sedikit shock dengan fall ku tadi dan keringatku makin bercucuran. Sambil menunggu giliran untuk memanjat di jalur B, aku melihat peserta lain yang sedang memanjat untuk mengetahui teknik-teknik mereka, sampai akhirnya gerimis dan hujan lebat sekitar 10 menitan, namun karena sudah terlanjur diumumkan oleh MC acara bahwa pemanjatan babak kualifikasi dilanjutkan besok pagi. Karena malamnya aku sudah tidak tahan dengan badanku akhirnya aku pulang ke rumah Hajar biar bisa istirahat lebih nyaman juga.

Paginya jam 5.45 WIB aku berangkat dari rumah Hajar dengan modal nekat, mengapa modal nekat? Karena aku membawa motor yang tidak ada plat nomornya, tidak membawa stnk dan membawa Ifah yang tidak mengenakan helm, jika ada polisi yang menilangku pasti aku sudah terkena denda dari ketiga kesalahan tersebut.  Menuju UDINUS yang letaknya di pusat kota. Untung saja aku dan Ifah tidak terkena tilang polisi. Setibanya disana kami langsung menuju wall climbing Aldakawanaseta. Seperti biasa menunggu giliran pemanjatan jalur B. Setelah beberapa peserta memanjat tibalah giliranku untuk memanjat. Seperti pada jalur A sebelumnya runner pertama hingga ke empat lancar sampai akhirnya ketika aku ingin memasang runner ke lima, aku kehilangan keseimbangan hingga akhirnya fall. Langsung setelah fall, aku kembali ke rumah Hajar dan besoknya pulang ke Jogja.

Pemanjatan Jalur B
Pemanjatan Jalur B

Tulisan oleh Niken Galuh Ramadhani (AM – 006 – CA)

Foto Dokumentasi Astacala

More on this topic

Comments

  1. Mantap..!!!
    Keep spirit & keep climb!!!
    Latihan paling efektif dalam panjat dinding/tebing ya memanjat itu sendiri coyy..

    *note : kalo sedang berada di daerah manapun, usahakan bersilaturrahmi dg semua anggota Astacala lain yg ada di daerah tersebut(paling tidak kasih kabar lah ya). Kalo gak tau siapa aja anggota yg di daerah tersebut bisa tanya ke kakak2mu yg di sekre ataupun di luar sekre.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular stories

Gunung Slamet 3432 Mdpl

Gambaran Umum Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan kedua tertinggi di  Pulau Jawa dengan ketinggian 3432 mdpl. Secara administratif gunung ini terletak...

Gunung Lawu 3266 Mdpl

Gambaran Umum Gunung Lawu adalah gunung berketinggian 3266 mdpl yang teletak di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur berdasarkan peta bakosurtanal...

Kertas dari Rumput Laut, Mengapa Tidak?

“No more cutting trees for paper, tidak ada lagi penebangan pohon untuk membuat kertas. Kami akan produksi kertas dari rumput laut merah,” ujar You...