Lahirnya si Bungsu: Cakar Alam

Satu Sifa Siti Hajar Astacala!
Dua Mochamad Bagus Firmansyah Astacala!
Tiga Muhammad Ikhlas Astacala!
Empat Siti Hartinah Astacala!
Lima Ayati Astacala!
Enam Rangga Bayu Djayadirgantara Astacala!
Tujuh Marcellus Haninditya Astacala!
Delapan Luthfi Rakha Shiddik Astacala!
Sembilan Bimo Setiono Astacala!
Sepuluh Alfinna Tyas Astacala!
Sebelas Muhammad Umar Safi’i Astacala!
Dua belas Wahyu Ramadhan Astacala!
Empat belas Nabillah Puspita Rahmah Astacala!
Lima belas Rihanatusya’adiyah Astacala!
Enam belas Hafshin Habibie Tanjung Astacala!
Tujuh belas Dias Pambudi Satria Astacala!
Delapan belas Azzam Nadhifta Ahmady Astacala!
Sembilan belas Niken Galuh Ramadhani Astacala!
Dua puluh Ady Samsu Bahtera Astacala!
Dua satu Candrasapta Pra Wijaya Astacala!
Dua dua Rizky Elfebra Astacala!
Dua tiga Lathifa Rizqi Andhary Astacala!
Dua empat Nur Aulia Faridiyah Rafika Sari Astacala!
Dua enam Hanung Wibowo Astacala!
Dua tujuh Muhamad Seno Maulana Astacala!

Siapapun pasti akan ikut bergetar bila ada di sungai itu. Entah karena dinginnya air sungai dan angin yang berhembus di selatan Puntang. Entah karena mendengar teriakan keras yang dipaksakan hingga habis bersamaan di ujung bunyinya. Barisan slayer merah sudah berbaris melintangi sungai, di hadapannya melingkar 25 siswa Pendidikan Dasar Astacala (PDA) XXIII. Mereka duduk memecah arus sungai, kemudian bergiliran memperkenalkan namanya kepada calon kakaknya.

“Kehangatan kita mengalahkan dinginnya air sungai, guys!” seloroh salah seorang siswa sebelum memulai.

”Apanya yang hangat kalau sudah sejauh ini mereka hanya mengetahui nama panggilan masing-masing?” pikirku sinis.

Memang kehangatan belum terang malam itu, tapi toh aku juga bergidik mendengar mereka berteriak sekeras yang mereka bisa. Entah apa tujuannya, ingin terlihat gagah atau ingin memastikan bahwa kami yang lebih dulu mengalungi slayer merah mendengar betul siapa nama mereka masing-masing.

***

Perjalanan mereka terbilang singkat jika dibandingkan dengan PDA beberapa tahun ke belakang. Dengan waktu hanya delapan hari, mereka dididik agar bisa sesuai dengan standar Astacala. Tidak ada proses yang berubah, mereka juga melewati pendaftaran; wawancara; upacara pembukaan; tes fisik; latihan fisik; materi kelas; tes medis; praktek kecil; praktek besar. Sedikit pembeda pada PDA kali ini adalah komunikasi panitia dengan siswa yang lebih terbuka. Hal ini membantu menumbuhkan keakraban antar keduanya.

Baca juga:   Pendidikan Dasar Astacala 19

Satu persatu siswa tersisihkan, semula berjumlah 56 orang setelah upacara pembukaan, kemudian menyusut menjadi 36 orang pada praktek kecil, hingga akhirnya 27 orang berangkat mengikuti praktek besar yang terbagi menjadi enam kelompok. Sekitar pukul empat dini hari, 28 Desember 2014 mereka memulai perjalanannya. Berawal dari Desa Margamulya, Pengalengan, 27 siswa ini membentuk barisan panjang menyusuri kebun teh. Lewat tengah hari mereka mulai mendaki perkebunan kopi menuju hutan. Perjalanan mulai terkendala oleh salah satu siswa yang penyakitnya collapse, tiba-tiba dia terjatuh dan nafasnya berpacu tak beraturan. Lepas makan siang, perjalanan kembali dilanjutkan. Belum jauh dari titik makan siang, siswa yang sama kembali jatuh dengan gejala yang sama. Komandan Long March memberi komando untuk meninggalkan tim medis bersama dengan siswa tersebut. Tiba di lokasi camp pertama pukul 16.30 WIB seluruh siswa langsung mendirikan camp bivak ponco dengan kelompoknya. Tim medis belum juga datang, sementara beberapa panitia sudah bersiap untuk evakuasi. Kala langit makin menjingga tim medis datang bersama siswa tersebut. Ternyata dia sempat dua kali collapse selama perjalanan menuju titik camp. Tak ada pilihan lain, Komandan memutuskan untuk memundurkan siswa yang bersangkutan dengan alasan medis.

Barisan siswa menyusuri kebun teh
Barisan siswa menyusuri kebun teh

Langit sudah gelap, sedangkan para siswa belum mencapai kondisi amannya. Sementara itu salah satu siswa lainnya datang dan mengeluhkan kondisi fisiknya yang bermasalah pada Dhiky selaku kesiswaan. Hampir semua siswa merasakan hangatnya api, awalan yang bagus bagi mereka. Esoknya sebelum melanjutkan perjalanan diadakan upacara pengunduran diri. Dua orang dari mereka harus pulang lebih awal, keduanya karena pertimbangan medis. Tak ada toleransi untuk hal ini, biar bagaimanapun nyawa seseorang jauh lebih berharga. Satu persatu mereka menyalami temannya, terlihat beberapa siswa menitikkan air mata. Sampai tiba di siwa bernomor sepuluh–Tyas, Elin kembali terjatuh dengan gejala yang sama. Cukuplah ini membuktikan kepada temannya bahwa dia memang belum bisa melanjutkan PDA kali ini. Sementara Indah, siswa 25 yang juga mundur masih melanjutkan menyalami temannya. Tangisnya semakin deras begitu pula teman-temannya semakin menjadi. 25 orang yang tersisa kembali melanjutkan perjalanan.

Baca juga:   Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXV

Komando diambil alih oleh Lisna selaku Komandan Gunung Hutan. Mereka melakukan kegiatan yang sama seperti sebelumnya, berjalan-navigasi-istirahat-mendirikan camp. Menjelang malam kepanikan terjadi di camp siswa, salah satu siswa terkena tebasan golok temannya sendiri. Tim medis mengkonfirmasi kecelakaan tersebut, satu orang mendapat luka yang cukup dalam sementara satu lainnya hanya goresan tipis tak seberapa dalam. Hari berikutnya, Aul siswa 24 berkegiatan sambil mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi agar pendarahan pada tangannya tidak bertambah parah. Pergerakan siswa menunjukkan penurunan, hampir tengah malam api mereka belum menyala menjilati kayu-kayu bahkan yang sejari tangan. Padahal cuaca sedang amat bersahabat, tidak hujan hanya ada angin yang menyapa perlahan. Para siswa pun dikenalkan dengan arti dingin yang sebenarnya. Hasilnya, beberapa dari mereka berhasil menyalakan apinya. Malam terakhir gunung hutan satu lagi siswa yang tangannya berkenalan dengan tajamnya golok. Entah apa yang membuat mereka gemar sekali mencicipi tajamnya golok, rasanya para panitia sudah mengajarkan aturan main dengan si golok.

“Oyy, pakaian siapa ini? Cepat bereskan, ada pula kolornya” teriak salah satu siswa pada temannya sambil sibuk membongkar pakaian di hadapannya.

“Oh, punyaku rupanya” sambungnya beberapa saat setelah melihat baju tidur yang ada.

Seluruh panitia langsung tertawa geli mendengar cerita itu dari Vidya, bagaimana bisa dia melakukan itu. Memerintah dirinya sendiri di hadapan seluruh temannya. Cerita itu menjadi kisah pembuka Septa selaku Komandan Survival. Mulailah mereka menampakkan raut wajah yang kebingungan. Cukupkah atap yang mereka kumpulkan, kuatkah kayu yang mereka potong untuk rangka atau mampukah anyaman yang mereka ambil untuk menahan bobot Daun Pakis dan Pisang. Terlihat sekali bagaimana mereka belum menemukan ritme yang tepat. Selama aku mengikuti PDA, ini adalah kali pertama aku melihat para siswa begitu bahagia menjalaninya. Bahkan di hari kedua, mereka masih bisa tertawa terbahak-bahak sambil mengunyah Bonggol Pakis. Ada juga yang menanyakan kapan logistiknya akan dikembalikan. Sungguh aku tak mengerti apa yang sedang mereka pikirkan saat itu.

Baca juga:   Pendidikan Dasar Astacala 18

***

4 Januari 2015. Di salah satu lapangan Bumi Perkemahan Puntang, hujan turun rintik-rintik. Mereka berkumpul membentuk lingkaran, mencari nama yang pas untuk angkatannya. Cukup lama waktu yang dibutuhkan, muncullah beberapa nama. Mulai dari Embun Pagi, Bonggol Kehidupan, sampai akhirnya sepakat dengan nama Cakar Alam. Nama yang diambil lantaran banyak anggotanya yang terluka oleh tebasan golok. Ingatlah adikku, ingatlah baik-baik bagaimana sakitnya saat jarimu mendapatkan cakaran itu. Ingatlah bagaimana kalian saling membantu setelahnya. Itulah buah dari apa yang kalian perjuangkan, dan itulah gambaran kalian ke depan. Akan banyak luka yang kalian dapatkan, tapi jangan lupa bahwa luka itu kelak akan membuat kalian tertawa bahagia. Tunjukkan tajam cakar yang kalian punya. Lalu sisakan goresan-goresan manis untuk Astacala. Selamat bergabung dengan Astacala. ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!

Tulisan oleh Fitra Ariffanto (A – 108 – LH)

Foto Dokumentasi Astacala

  • Adik Om Tercantik di Sekre

    Ingatlah adikku, ingatlah baik-baik bagaimana sakitnya saat jarimu mendapatkan cakaran itu.
    puitis banget ahh haha