Menyusuri Keindahan Pantai Selatan Garut


Tepat pukul 05.00 pagi, kedua kelopak mataku terbuka dibangunkan mentari fajar yang cahayanya menyapa hingga ke dalam dome tempat kami menghabiskan malam. Kulihat Dhiky disebelahku masih terlelap di balik dekapan sleeping bag. Seraya mengucek mata, Aku coba menarik risleting pintu dome yang tertutup sejak semalam. Berbekal rasa penasaran tak percaya secerah ini pukul 05.00 pagi, kualihkan pandanganku ke arah langit. Benar saja, sang mentari sudah menampakan wujudnya di ufuk Timur sana dari balik sebuah bukit, melukiskan perpaduan warna oranye dan gradasi biru gelap di langit. Kualihkan kembali pandanganku sedikit lebih ke bawah, kusaksikan titik horizon membentang tiada batas di depanku, hanya biru yang terlihat sepanjang mata memandang. Gulungan air samudera lepas dengan derasnya menumbuk dinding-dinding karang, menyisakan buih-buih putih yang mempercantik lukisan alam pagi itu. Sejenak aku pejamkan mata, mendengarkan sapuan angin yang menghantarkan suara dentuman ombak melalui telingaku. Ah.. sungguh indah Tuhan menyambut pagiku di sini.

***

Perjalanan Menuju Rancabuaya

Jumat (31/10/14) pukul 20.00 WIB aku dan Dhiky berangkat dari sekretariat Astacala untuk menjalankan rencanaku, yang sedikit terkesan mendadak, menyusuri pantai. Tujuan kami adalah menyusuri pantai-pantai laut Selatan yang berada di Garut. Pemberhentian kami malam itu adalah Pantai Rancabuaya yang terletak di Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Rute yang kami tempuh ialah melalui jalur Pangalengan – Rancabuaya. Dengan menggunakan motor kami menelusuri jalan-jalan perbukitan diiringi kelokan-kelokan yang cukup sering dijumpai. Kondisi jalur Pangalengan – Rancabuaya terbilang cukup bagus. Hanya ada dua titik longsor yang kami jumpai dibilangan kecamatan Cisewu yang menggangu perjalanan. Setelah lima jam menghabiskan waktu di perjalanan, sampailah kami di Rancabuaya. Aku dan Dhiky langsung bergegas mencari lahan yang pas untuk dijadikan tempat mendirikan kemah malam ini. Seusai tenda dome berdiri, tanpa banyak bercakap-cakap, aku dan Dhiky langsung bersiap tidur menghabiskan sisa-sisa malam untuk menyambut fajar pagi nanti.

Bergegas Aku keluar dome sekedar menikmati suasana fajar. Kupandangi sekeliling, ada yang sedikit berbeda dengan kebanyakan pantai yang pernah kudatangi sebelumnya. Rancabuaya merupakan pantai berkarang, sehingga ombak yang berasal dari laut tidak langsung menyambar bibir pantai, melainkan tertahan di barisan karang yang berjarak kurang lebih 20m dari bibir pantai. Dome kami berdiri tepat di tepi pantai. Sehingga aku dapat langsung menyaksikan lautan lepas yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Di kejauhan aku melihat para petani rumput laut sudah memulai aktifitasnya memanen rumput laut di ujung karang sana. Terlihat jelas di mataku garis pantai yang membentang dari Barat sana hingga ke tempatku berdiri. Terlihat kapal-kapal nelayan yang mulai sibuk bersandar. Tepat di Timurku, berdiri menjulang batu-batu karang berukuran besar dan tinggi. Di balik itu terdapat sebuah bukit bertebing yang mengakhiri garis pantai Rancabuaya. Dhiky yang tanpa kusadari sudah duduk di depan tenda langsung mengajakku naik ke atas bukit itu. Ternyata lukisan alam dari atas bukit tak kalah hebatnya dengan di bibir pantai. Di sebelah Utara terlukis hamparan rumput hijau kecoklatan dibubuhi dengan barisan pegunungan nun jauh disana. Inilah salah satu keindahan Rancabuaya. Di sini kita dapat menikmati dua pemandangan yang kontras berbeda, berpadu menjadi satu. Barisan pegunungan indah di sisi Utara dan hamparan laut di sisi Selatan. Dari sudut yang lebih tinggi di atas bukit kusaksikan bagaimana ombak-ombak dengan derasnya menghantam dinding tebing dan bebatuan besar, permukaan karang yang ditumbuhi rumput laut bewarna hijau terlihat seperti perkebunan. Kunikmati pagi ini ditemani langit temaram sisa-sisa fajar yang masih enggan berlalu.

Baca juga:   Astacala Lintas Alam 8
Pemandangan Dari Atas Bukit
Pemandangan Dari Atas Bukit

***

Perjalanan Menuju Sancang
Air laut perlahan mulai surut, padang rumput samar-samar terlihat di permukaan karang yang membentang luas melebihi luas lapangan sepakbola. Burung-burung camar beterbangan meninggalkan tempatnya mencari makan. Lautan lepas mulai memudar birunya menjadi lebih gelap. Seberkas cahaya jingga dan gradasi biru mewarnai langit yang tadinya secerah langit saat siang terik. Sang surya diam-diam mencerminkan cahayanya di atas permukaan laut dari balik awan keabuan yang menutupi beberapa bagian wujudnya. Aku dan Dhiky dalam perjalanan menuju camp sehabis menyusuri bagian Timur dari pantai Sancang. Sembari menikmati sang surya yang perlahan kembali ke peraduannya.

Jalan Menuju Santolo Melalui Jalur "atas" Rancabuaya
Jalan Menuju Santolo Melalui Jalur “atas” Rancabuaya

***

Selepas menikmati pagi di Rancabuaya, Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju destinasi berikutnya. Sesuai rencana awal, pemberhentian kami adalah Pantai Santolo yang terletak di kecamatan Cikelet, kabupaten Garut. Perjalanan ke Santolo menempuh jarak 33km ke arah Timur atau kurang lebih 60 menit perjalanan menggunakan motor dari Rancabuaya. Jalur yang digunakan merupakan jalur alternatif Pantai Selatan saat fenomena mudik berlangsung. Kondisi jalan yang lebar dan mulus membuat perjalanan menjadi lebih nyaman. Selain itu di sepanjang perjalanan kita masih disuguhkan pemandangan laut yang indah di sebelah Timur jalan utama. Jadi, jika kita merasa jenuh dalam perjalanan, tenang saja karena ada beberapa pantai kecil yang dapat kita singgahi.

Setibanya kami di Santolo, kondisi pantai yang ramai pengunjung dan sudah dikomersialisasi mengurungkan niatku untuk berlama-lama disana. Sehingga kami memutuskan mencari pantai lain yang lebih sunyi dan asri. Maka, setelah mendapatkan informasi bahwa ada sebuah pantai yang sesuai keinginan tersebut, aku dan Dhiky sepakat menyambangi pantai tersebut.

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan akibat medan dan akses jalan yang sulit, akhirnya kami tiba di sebuah pantai yang bernama Pantai Sancang. Secara administratif Pantai Sancang terletak di Kawasan Cagar Alam Leuweung Sacang, Desa Sancang, Kecamatan Cibaling, Kabupaten Garut. Konon menurut legenda setempat, area seluas 2.157Ha ini merupakan hutan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi yang berubah menjadi macan putih bersama prajuritnya akibat perkataan anaknya sendiri Raden Kian Santang yang memintanya memeluk Agama Islam. Dan konon katanya kini Prabu Siliwangi dan prajuritnya berdiam di goa Sancang yang berada di area Leuweung Sancang tersebut. Legenda tersebutlah yang kini menjadikan Pantai Sancang menjadi tujuan ziarah masyarakat lokal maupun luar daerah untuk berdoa di petilasan Kian Santang yang ditandai dengan berdirinya beberapa gubuk kecil yang dinamai “Musholla” oleh warga setempat.

Baca juga:   Di Negeri Laskar Pelangi
Pesisir Pantai Sancang yang Berbatu
Pesisir Pantai Sancang yang Berbatu

Tepat di ujung jalur keluar hutan berdiri sekitar 6 gubuk kecil, yang satu diantaranya merupakan sebuah warung dan yang lainnya pondok tempat para nelayan menyimpan barang-barangnya sebelum kembali ke desa setelah melaut atau bertani rumput laut. Di tepi pantai ada 5 perahu nelayan yang bersandar. Saat itu hanya ada 2 warga setempat yang kutemui, yaitu pemilik warung dan nelayan yang bertugas menjaga gubuk selain itu tidak ada pengunjung lain yang kulihat. Dapat dibayangkan betapa sunyinya pantai ini, persis seperti suasana yang kuinginkan. Kondisi geografis garis pantai Sancang tidak berbeda jauh dengan Rancabuaya, hanya saja Sancang memiliki hamparan karang yang lebih luas dibandingkan Rancabuaya. Sehingga suara ombak tidak begitu jelas terdengar dari tepi pantai. Selain itu gugusan-gugusan batu yang tedapat di bibir pantai memberikan panorama alam yang unik dan eksotis. Di sebalah Utara pantai berbatasan langsung dengan cagar alam Hutan Sancang yang kondisinya masih asri, dimana kita masih dapat mendengar dengan jelas suara satwa-satwa di dalamnya. Bahkan kita bisa menyaksikan lutung yang turun ke pesisir pantai. Di sisi Barat terdapat banyak pohon Kaboa (dipteroearpus gracilis) yang merupakan salah satu flora langka di dunia dan diyakini warga setempat sebagai jelmaan prajurit Padjajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Terdapat juga sungai yang bermuara ke pantai Sancang tepat di samping petilasan Kian Santang. Rencana Kami sore itu ialah menjelajahi wilayah Barat pantai Sancang karena memiliki pesisir pantai yang panjang dibandingkan wilayah Timur yang hanya sampai pada tepi sungai. Pasirnya yang putih dan airnya yang jernih menambah keindahan pantai ini. Diiringi suara satwa yang bersahut-sahutan di dalam hutan memberikan kesan tersendiri layaknya berada di pulau tak berpenghuni.

Sunset di Sancang
Sunset di Sancang

Sesampainya di lokasi kemah, Kamipun langsung disibukkan kegiatan masing-masing. Aku dan Dhiky berbagi tugas, Dhiky membuat api unggun untuk membuat ikan bakar, sedangkan aku mendirikan dome dan merapikan camp.

Seusai menyantap ikan bakar aku menikmati sajian alam yang Tuhan berikan malam ini. Langit yang cerah jauh dari polusi memanjakan mata menyaksikan kilatan-kilatan objek kecil yang tersebar di langit. Begitu juga bulan yang belum seutuhnya terlihat menyinari padang karang yang ditumbuhi rerumputan laut. Ternyata dibalik kesakralan Pantai Sancang dengan legenda-legenda mistisnya, tersembunyi panorama alam yang indah nan eksotis. Enggan rasanya segera berpisah dengan tempat ini. Suasana yang tenang dan damai dalam kesunyian serta belaian angin yang mendayu-dayu menemani malam terakhirku di perjalanan ini. Esok kami harus segera pulang, meneruskan kembali rutinitas kesibukan dunia mahasiswa.

Baca juga:   [UPDATE] Peduli Banjir dan Longsor Jawa Barat

Bandung, 07/11/14
Sekretariat Astacala

Tulisan dan Foto oleh M. Arief Naibaho (AM – 010 – MG)

  • Hasan

    Misi kang, numpang nanya nih kalo dari pantai santolo ke sancang jaraknya berapa km ya? Sma berapa jam kurang lebih perjalanannya?

  • Naibaho

    @hasan
    jaraknya kurang tau Mas berapa km. tapi kalo lama perjalanannya kurang lebih 2 jam lagi dari Santolo.