Bandung, Dulu dan Kini


Bandung itu dulunya adalah Karapyak. Karapyak itu sekarang adalah Dayeuhkolot; Dayeuh berarti kota, sedangkan kolot berarti lama. Di Dayeuhkolot, terdapat pertemuan Sungai Cikapundung yang mengaliri Kota Bandung, dengan Sungai Citarum yang menjalari urat nadi kehidupan Cekungan Bandung.

Cekungan Bandung
Cekungan Bandung

Kondisi Eropa dan Pengaruhnya

Pada akhir abad ke-18, Perancis yang saat itu dipimpin oleh Naopeon Bonaparte menginvasi Eropa. Salah satu wilayah yang berhasil ditaklukkannya adalah Belanda. Raja Belanda yang kalah perang, Willem V melarikan diri ke Inggris. Perancis kemudian merebut Belanda dan membentuk negara boneka bernama Republik Batavia. Sistem pemerintahannya mengikuti model pemerintahan Perancis. Sebagai simbol, sebuah pohon ditanam di depan balai kota Amsterdam. Sejarah mencatat kejadian tersebut pada tahun 1795.

Karena Belanda dibubarkan dan diganti dengan Republik Batavia, maka segala aset kekayaan dan daerah jajahan “almarhum” Belanda itu jatuh ke Republik Batavia. Termasuk salah satu perusahaan terbesar mereka yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC sendiri pada saat itu sedang mengalami kemunduran. Karena perang yang berkepanjangan yang menyebabkan tekanan ekonomi dan kemeroostan moral para pegawai VOC.

Akhirnya, karena korupsi dan kalah bersaing, VOC resmi dibubarkan tanggal 31 Desember 1799 dengan mewariskan utang sebesar 136,7 juta gulden. Angka yang luar biasa besarnya pada saat itu. Padahal, ketika masa jayanya, VOC tercatat sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia dengan keuntungan terbesar. VOC pulalah yang pertama kali menerapkan konsep saham dan pembagian deviden. Dalam novel “Rahasia Meede” karangan ES Ito, dikatakan konsep pembukuan “debit-kredit” yang kita kenal sekarang, juga dikenalkan pertama kali oleh seorang Gubernur Jenderal VOC. Bubarnya VOC merupakan suatu hal yang sangat mengejutkan dunia.

Intinya, Perancis menjajah Belanda (diubah menjadi Republik Batavia), dan Belanda (Republik Batavia) menjajah Nusantara yang saat itu diberi nama Hindia Belanda.

Perpindahan

Atas saran dari Napoleon Bonaparte, Herman Willem Daendels kemudian diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan mulai efektif bekerja pada tahun 1808.

Tugas utama Daendels adalah mempertahankan Hindia Belanda (Pulau Jawa) dari tangan Inggris. Kedua adalah untuk mengembalikan kerugian negara akibat menanggung utang yang diwariskan oleh VOC. Ditambah lagi Hindia Belanda sebagai jajahan tidak langsung dari Perancis yang harus membantu Perancis dari segi modal dan logistik perang untuk menginvasi Eropa. Sebuah tugas yang sangat berat bukan? Efeknya sangat mudah ditebak, penjajah memeras jajahannya secara habis-habisan.

Salah satu perintah Daendels yang paling terkenal adalah membangun jalan raya pos dari Anyer sampai Panarukan dengan panjang mencapai 1000 kilometer. Dengan adanya jalan raya ini, maka Pulau Jawa semakin mengokohkan diri sebagai aset yang sangat berharga dan tidak boleh jatuh ke tangan Inggris. Sebelumnya, Inggris juga sudah berhasil menguasai Tanjung Harapan (Afrika Selatan), Goa (India), Tumasik (Singapura), dan Malaka (Malaysia). Tinggal menunggu waktu saja bagi Inggris untuk menaklukkan Pulau Jawa.

Baca juga:   Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H

Kekalahan dari Inggris di beberapa wilayah tersebut, menurut Daendels, salah satunya dikarenakan letak pusat pemerintahan, militer, dan ekonomi saat itu terletak di pesisir pantai. Hal ini memungkinkan untuk diserang oleh Inggris yang saat itu memiliki armada angkatan laut yang sangat kuat. Sementara armada perang milik Belanda (atau Perancis) sedang mengalami kemerosotan kuantiatas dan kualitas. Oleh karena itu, Daendels kemudian mempertimbangkan untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Batavia.

Ketika sedang meninjau pembangunan jalan raya pos, Daendels hendak berkunjung ke Karapyak. Ketika sedang melewati jembatan Cikapundung, mungkin karena terpesona dengan alamnya, Daendels memerintahkan kusir kereta kudanya untuk berhenti, dan dia pun turun dari keretanya. Dan mengeluarkan perintah :

“Zork, dat als ik terug kom hier een stad is gebowd”, Kata Daendels sambil menancapkan tongkatnya di tempat yang dimaksud. Artinya : “Usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota”.

Di tempat Daendels menancapkan tongkat tersebut kini menjadi titik nol kota Bandung, lokasinya ada di Jalan Asia Afrika sekarang. Pada tanggal 25 September 1810, Daendels mengeluarkan surat perintah pemindahan kota Bandung. Dan tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Kondisi Alam dan Konsep Awal Kota Bandung

Lanskap kota Bandung sebenarnya tidak cocok untuk dijadikan kota metropolitan. Dan hal itu sudah disadari dari dulu oleh pemerintah Hindia Belanda.

Bandung berada ditengah-tengah Cekungan Bandung. Cekungan Bandung ini dulunya adalah sebuah danau raksasa yang telah mengering sekitar 120.000 sampai 20.000 tahun lalu, menyisakan batuan gunung api dan sedimen danau. Itulah sebabnya tanah di daerah Cekungan Bandung cenderung lunak, alias rawan longsor. Diameter cekungan ini, dari Utara ke Selatan, sekitar 40 kilometer. Satu-satunya pintu keluar air yang ada di Cekungan Bandung hanya melalui Sungai Citarum. Dan dataran paling rendah di cekungan tersebut adalah Dayeuhkolot, yang dulunya adalah Karapyak.

Sebagai ilustrasi, bayangkan Cekungan Bandung adalah sebuah mangkuk. Dan kota Bandung, khususnya Dayeuhkolot, berada tepat di dasar mangkuk tersebut. Lalu coba tuangkan sedikit saja air ke dalam mangkuk tersebut. Apa yang terjadi? Ke manakah air berkumpul? Jawabannya adalah Dayeuhkolot, kota yang bersejarah ini menjadi langganan berita di media massa setiap tahunnya.

Oleh pemerintah Hindia Belanda, Kota Bandung yang direncanakan bakal mengganti Batavia sebagai ibukota negara, dirancang sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan kaum Eropa. Seperti untuk peristirahatan, belanja, serta wisata seni dan kebudayaan. Hal ini dikarenakan hawanya yang sejuk khas pegunungan. Tetapi hanya terbatas untuk 200 ribu jiwa penduduk. Hal ini dikarenakan kondisi alam dan Cekungan Bandung.

Baca juga:   Tim Tanggap Bencana IT Telkom ketika Banjir di Bandung Selatan

Kondisi Saat ini dan Dampak Lingkungan

Saat ini Cekungan Bandung sudah dihuni oleh 9.854.688 jiwa penduduk yang tersebar di dua kota dan tiga kabupaten. Kota Bandung menjadi kota terpadat kedua di Indonesia (13.679 jiwa/km2), dan Cimahi sebagai terpadat ke-3 (13.549 jiwa/km2). Mengalahkan kota lainnya seperti Yogjakarta (13.340 jiwa/km2), Surabaya (8.002 jiwa/km2), dan Medan(7.657 jiwa/km2).

Tabulasi Jumlah Penduduk di Cekungan Bandung
Tabulasi Jumlah Penduduk di Cekungan Bandung

Sumber : Provinsi Jawa Barat dan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas 2009

Data statistik tersebut belum mencakup pendatang yang tinggal dalam waktu lama (seperti mahasiswa dan tenaga kerja dari luar daerah) dan waktu yang singkat (wisata dan kunjungan kerja).

Salah satu penyebab dari kepadatan penduduk ini adalah efek dari pembangunan nasional yang cenderung “Javasentris”, yang mengundang terciptanya arus urbanisasi dari daerah-daerah lainnya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kantor instansi pemerintahan dan BUMN tingkat nasional yang masih berada di kota Bandung.

Demikian juga pembangunan di sektor pendidikan. Terdapat 157 Perguruan Tinggi di Cekungan Bandung (5,2 % Nasional). Di Pulau Jawa sendiri, terdapat 1.499 Perguruan Tinggi dari total 3.016 Perguruan Tinggi di Indonesia atau 49,7 % Nasional (Sumber : Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas 2009).

Di bidang industri, di kota Bandung saja terdapat beberapa sentra industri seperti tekstil, sepatu, telekomunikasi, bahkan sampai dengan pesawat terbang bisa kita temukan di sini. Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota Bandung tahun 2012, terdapat 560 perusahaan industri skala besar dan sedang di Bandung. Catatan : ini belum termasuk industri kecil lainnya.

Ditambah lagi sektor pariwisata yang menyumbang banyak devisa bagi Negara, sektor ini juga menyumbang efek lingkungan yang tidak bisa dibilang sedikit. Imbasnya adalah melalui pembangunan jalan raya, hotel, dan infrastruktur lainnya. Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Tahun 2012, terdapat 340 hotel dengan total jumlah kamar 16.150 unit. Jumlah total wisatawan tahun 2012 sebesar 3.513.705 wisatawan domestik dan mancanegara.

Intinya, Cekungan Bandung seperti dikonsep untuk menjadi metropolitan yang serba lengkap, berbeda dengan gambaran Daendels pertama kali dulu.

Padatnya penduduk Cekungan Bandung ini secara tidak langsung juga menuntut banyaknya fasilitas layanan publik, seperti gedung pemerintahan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, agama, dan lain sebagainya. Termasuk lahan pemukiman dan pertanian. Dengan kata lain tingginya kebutuhan publik ini semakin mengurangi lahan hijau terbuka untuk resapan air.

Pada saat yang bersamaan, resapan air yang ada, seperti hutan dan lahan hijau terbuka, mengalami penurunan drastis. Aliran sungai dan danau mengalami penyempitan dan pendangkalan akibat endapan lumpur dan sampah.

Hal ini juga kurang didukung dengan kultur masyarakat yang belum sepenuhnya sadar lingkungan, seperti pengolahan sampah yang belum ramah lingkungan, kurangnya jumlah pohon, pengaspalan atau pembetonan jalan, gang, dan halaman rumah, dan lain sebagainya. Anda tidak buang sampah sembarangan belum tentu bisa disebut ramah lingkungan, tergantung bagaimana kemudian sampah tersebut diolah di TPS (Tempat Pengolahan Sampah).

Baca juga:   Peringatan Earth Hour Bandung 2012

Data Pemerintah Kota Bandung, pada musim kemarau, produksi sampah kota Bandung berkisar antara 1.050 hingga 1.100 ton per hari. Sedangkan pada musim hujan bisa meningkat menjadi 1.200 hingga 1.300 ton per hari.

Daerah hulu aliran air yang seharusnya menjadi ujung tombak resapan air, berubah menjadi areal pemukiman yang laris manis, dengan alasan memiliki fitur pemandangan kota Bandung yang eksotis. Hutan berubah menjadi areal pertanian, areal pertanian berubah menjadi pemukiman dan bangunan lainnya. Ditambah lagi munculnya objek wisata non alam di daerah hulu air seperti vila, rumah makan, toko suvenir, dan sebagainya.

Sungai Citarum yang konon katanya dahulu sangat jernih, kini menjadi salah satu sungai yang paling tercemar di dunia (Sumber : Tempo, 7 November 2013). Bayangkan saja, air limbah hasil kehidupan dari hampir 10 juta jiwa warga Cekungan Bandung harus masuk ke dalam Sungai Citarum dan mengalami bottle neck di Dayeuhkolot.

Itu baru gambaran mengenai masalah air dan banjir. Belum mengenai pencemaran udara, konsumsi energi, dan kerusakan lingkungan lainnya.

Sebuah Bom Waktu

Harus kita akui bahwa Cekungan Bandung khususnya Kota Bandung memang menyimpan daya tarik tersendiri bagi penghuninya dan bagi siapapun. Selain keindahan alamnya, kultur Sunda yang ramah menjadikan tempat ini nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Tetapi jangan lupa, Cekungan Bandung juga menyimpan sebuah bom waktu yang luar biasa dahsyat, sesuatu yang memang sudah tertanam disana dan bukan campur tangan manusia. Apa itu?

Tepat di tengah Cekungan Bandung, terdapat beberapa patahan. Patahan yang paling terkenal dan paling berpotensi menimbulkan gempa yang besar adalah Patahan Lembang. Patahan ini berada tepat di tengah kepadatan penduduk. Kalau patahan ini mengalami pergerakan sedikit saja, maka gempa bumi yang besar akan mengguncang peradaban Cekungan Bandung, termasuk kota Bandung tentunya.

Kalau Cekungan Bandung itu diilustrasikan sebagai sebuah mangkuk, maka patahan-patahan ini adalah retakan pada mangkuk. Patahan Lembang hanyalah salah satu dari retakan tersebut, yang berpotensi membelah mangkuk. Semua hanya masalah waktu saja, menunggu mangkuk yang rapuh ini retak dan pecah.

Akhir Kata

25 September 2014 lalu, Kota Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-204. Mari (sedikit) belajar sejarah asal mula kota ini. Bukan hanya sekedar menambah wawasan saja, tapi untuk mengerti sedikit alasan kerusakan lingkungannya. Dan semoga kita semua bisa mengambil sikap masing-masing.

Selamat ulang tahun kota Bandung. Semoga cepat sehat!

Oleh Bolenk Astacala
Disarikan dari Berbagai Sumber