Menyusuri Perut Bumi Candirenggo


Perjalanan kami dimulai pukul 18:30. Saat itu kami bertujuh : Arnan, Aji, Wangga, Lisna, Septa, Sufyan dan saya sendiri, berkumpul di Sekretariat Astacala terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan perlengkapan bawaan kami. Setelah semua berkumpul dan barang bawaan lengkap, kami bertolak dari sekre menuju Stasiun Kiaracondong. Dari sanalah kami akan bersama-sama naik kereta menuju Stasiun Gombong, Kebumen dengan satu tujuan mempraktikkan ilmu susur gua yang telah diajarkan oleh para pelatih kami sebelumnya.

Menyusuri Perut Bumi Candirenggo

Dari Bandung ke Candirenggo

Perjalanan menuju Kiaracondong kami tempuh dengan menggunakan angkutan kota. Sesekali gelak tawa terdengar di dalam angkutan, di antara suara-suara bising lalu lintas yang padat. Setelah dua kali berganti mobil, kami tiba di Stasiun Kiaracondong satu setengah jam lebih awal dari jadwal kereta tiba. Sambil menunggu, kami mengistirahatkan diri dan makan makanan ringan sambil menunggu kereta tiba. Tak terasa waktu berlalu, kereta pun tiba. Kami bergegas menuju loket dan mengumpulkan KTP kami sebagai syarat pengecekan tiket perjalanan.

Masuk kereta, merapihkan barang dan memposisikan diri di kursi yang tertera pada tiket. Kereta kami dijadwalkan tiba sebelum fajar. Tak banyak hal yang kami lakukan di kereta, hanya berbincang–bincang ringan, selebihnya kami tidur. Setibanya di Stasiun Gombong kami berjalan menuju mesjid tidak jauh dari sana. Sesuai rencana, kami istirahat dan sholat subuh di sana. Saat matahari mulai terlihat, kami melanjutkan perjalanan ke jalan besar untuk menunggu bus dari Gombong ke daerah Candirenggo.

Perjalanan ke Rumah Pak Saji

Akhirnya kami tiba di tujuan. Kami turun di sebuah pertigaan. Menapaki jalan yang lebih kecil, kami menuju ke rumah Pak Saji. Pak Saji adalah pria paruh baya yang bekerja di Perhutani, beliaulah yang memberikan izin untuk kami berkegiatan di dalam gua. Sesampainya di rumah Pak Saji, Bang Arnan dan Bang Aji mengurus beberapa hal setelah itu kami dipinjamkan sebuah rumah untuk singgah selama kami berkegiatan. Rumah ini kami jadikan sebagai base camp kami.

Memulai Rigging

Saat itu waktu menunjukkan pukul 09:00 pagi, kami membawa perlengkapan rigging dan bertolak menuju Gua Macan. Gua Macan terletak di sadelan antara dua puncak. Pintu masuknya kecil, sehingga kami harus jalan jongkok untuk dapat masuk ke dalam, namun di dalam gua kami dapat berdiri seperti biasa karena langit-langit gua cukup tinggi. Tanah di dalam gua sedikit berlumpur dan juga berbatu. Sepanjang penelusuran kami melihat banyak ornamen–ornamen di dinding dan langit–langit.

Belum lama berjalan, kami bertemu dengan jalan bercabang, yang sebelah kiri ke atas dan yang sebelah bawah ke kanan. Kedua jalan dari percabangan ini menuju satu gua vertikal yang sama, keduanya memiliki posisi di bagian atas dan bawah. Kami berjalan menuju lorong sebelah kiri untuk menuju ujung bagian atas, sedngan tim kedua menuju ke ujung yang bagian bawah. Di sinilah proses rigging dimulai. Rigging adalah sebuah proses memasang pengaman untuk melalui lintasan gua vertikal.

Rigging kami ini dibagi menjadi dua tim. Tim atas yaitu Wangga sebagai rigging man dan Aji sebagai second man; dan tim bawah yaitu Sufyan sebagai rigging man dan Arnan sebagai second man. Ya, kami akan turun menggunakan dua lintasan, satu di atas, yang lainnya di bawah. Sementara tiga orang lainnya hanya melihat dan membantu jika diperlukan. Setelah rigging selesai, kami kembali lagi ke luar gua untuk makan. Di luar gua matahari sudah terik menyengat, menandakan waktu sudah siang. Menu sayur terong dan telur balado yang dibawakan oleh anak Pak Saji sudah menunggu.

Baca juga:   Berbagi Ilmu dan Pengalaman di Tebing Citatah 90

Eksplorasi Dimulai

Setelah beristirahat dan makan, kami kembali masuk ke dalam gua. Wangga, Aji, dan Septa akan turun melalui jalur atas; sementara Sufyan, Ryan, dan Lisna akan turun melalui jalur bawah. Arnan tinggal di atas lintasan untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada lintasan. Dan begitulah, kami turun ke bawah dengan perkiraan panjang lintasan 30 meter untuk rigging bawah dan 35 meter untuk rigging atas.

Bagian bawah gua ini di penuhi oleh bongkahan batu–batu besar dengan aliran sungai di dasarnya. Satu per satu dari kami mendarat di bawah. Setelah semuanya turun, eksplorasi pun dimulai. Kami berjalan ke bawah mengikuti arus sungai yang suaranya bergema menyelimuti isi gua. Berbekal head lamp, kami mengamati isi gua yang gelap. Sesekali kami harus turun melalui air terjun dan memasang pengaman karena jalur yang cukup terjal.

Terjebak Arus Deras dalam Gua

Setelah turun dari air terjun kedua, kami kekurangan webbing untuk turun ke bawah. Saya mendapat tugas mengambil sling webbing yang tidak terpakai. Setelah mengambil sling di titik pendaratan, saya kembali ke tempat sebelumnya. Namun di jalan kembali ke lokasi ini, debit air sungai meningkat menjadi deras. Sehingga tim kami memutuskan untuk menghentikan eksplorasi. Saya terpisah dengan lima anggota lainnya karena mereka terjebak di bawah air terjun yang jalurnya tidak memungkinkan untuk dilewati.

rekan-rekan saya di bawah itu terpaksa menunggu sampai debit air turun. Sementara saya kembali ke titik pendaratan. Setelah lama menunggu, akhirnya debit air kembali seperti sebelumnya. Kami berkumpul kembali dan kembali membagi tim menjadi dua. Saya, Wangga, dan Aji naik melalui lintasan atas; sedangkan Septa, Lisna, dan Sufyan naik melalui lintasan bawah. Wangga dan Septa ditunjuk oleh Aji untuk naik paling akhir dan melakukan cleaning.

Semuanya berjalan dengan lancar sampai Septa terhenti di lintasan karena kesulitan untuk melewati simpul. Sementara beberapa orang melakukan packing, para pelatih mengarahkan Septa agar bisa naik. Setelah beberapa saat, akhirnya semua orang berhasil naik ke atas dan barang selesai dipacking. Sesampainya di luar, hari sudah gelap. Dengan berhati-hati kami berjalan turun menyusuri jalan, melewati pepohonan dan rumah warga. Kira-kira pukul 12 malam kami tiba di base camp. Ternyata di dalam base camp telah sampai dua orang yang menyusul kami dari Klaten untuk ikut menemani kegiatan pendidikan lanjut ini. Mereka itu adalah Handung dan Pinan dari angkatan Jejak Rimba yang memang dikenal sebagai caver Astacala.

Eksplorasi Berikutnya di Hari Kedua

Malam itu kami semua tidur dengan nyenyak setelah lelah berkegiatan. Matahari terbit menandakan hari baru telah dimulai. Ditemani segelas teh, kami mempersiapkan peralatan untuk menuruni gua lainnya : Gua Durenrenteng. Setelah makan pagi, kami pergi menuju Gua Durenrenteng. Jalan yang mendaki dan cuaca yang panas membuat kami berkeringat tak henti-henti. Sesampainya di Durenrenteng, para peserta pendidikan lanjut ini langsung mengeluarkan perlengkapan dari dalam tas dan menggantungnya dengan webbing.

Baca juga:   Aksi Hari Bumi IT Telkom

Yang akan melakukan rigging hari ini adalah Lisna dan Septa, dengan Lisna sebagai rigging man. Sementara para pelatih memasang fly sheet untuk menghalau panas, para peserta pendidikan lanjut masuk ke dalam gua untuk memulai proses rigging. Gua Durenrenteng terletak di dalam hutan Jati. Gua Durenrenteng adalah gua vertikal yang termasuk kecil dan tidak dalam. Sementara Septa dan Lisna melakukan instalasi tali, saya dan Wangga melakukan dokumentasi dan sesekali membantu.

Stalagtit Gua Durenrenteng

Proses rigging berjalan cukup lama karena sulitnya mencari lubang tembus yang besar dan kuat yang akan digunakan sebagai anchor. Dan ada kesalahan pada pemasangan back up anchor yang terlampau jauh sehingga fall factor-nya besar. Setelah selesai rigging, para peserta dan pelatih makan bersama. Selesai makan, para peserta mempersiapkan diri untuk turun ke bawah.

Total panjang gua yang kami masukin ini kurang lebih 10 meter, degan 5 meter pertama vertikal, yang kemudian dilanjutkan dengan 5 meter turun dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Tetesan Air di Gua Macan

Hanya kami peserta diklan yang menuruni gua ini tanpa disertai pelatih. Menjelang sore awan hitam mulai berkumpul di langit Kebumen. Setelah kami kembali ke permukaan, kami bergegas packing untuk kembali ke base camp.

Butir–butir air mulai turun membasahi bumi, menemani langkah kami kembali ke base camp. Angin kencang pun bertiup silih berganti, menandakan hujan akan segera turun. Sesampainya di base camp, gerimis telah berubah menjadi hujan. Rencananya malam itu kami akan menuju ke Gua Jemblongan, gua terakhir yang akan kami kunjungi. Namun rasa letih dan hujan tak kunjung berhenti memaksa kami untuk mengubah jadwal penyusuran menjadi besok pagi.

Eksplorasi dan Pemetaan Gua di Hari Ketiga

Seperti biasa, kami memulai pagi dengan sarapan dan minum teh manis. Setelah itu kami mulai mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Materi hari itu adalah pemetaan gua, jadi kami hanya membawa alat–alat pemetaan dan dokumentasi saja. Seusai packing, kami berjalan menuju Gua Jemblongan. Jalan yang kami lalui sama seperti kemarin, karena Gua Jemblongan memang berada tidak jauh dari Gua Durenrenteng.

Setelah sampai di Gua Durenrenteng yang kemarin kami eksplorasi, kami masih harus berjalan ke atas. Melewati sadelan dan mulai berjalan turun ke bawah. Di balik bukit, kami melihat indahnya panorama barisan bukit conical, yang merupakan salah satu ciri daerah karst. Rasa lelah kami terbayar setelah tiba di mulut Gua Jemblongan. Gua Jemblongan memiliki pintu masuk yang besar dan berhiaskan batu-batu besar, serta stalaktit– stalaktit yang menggantung dengan kokoh. Pohon–pohon dan semak belukar juga ikut berpadu memberikan warna yang harmonis dengan Gua Jemblongan.

Sesampainya di Gua Jemblongan, kami beristirahat sambil mereview materi pemetaan gua. Setelah itu kami mengukur tinggi badan masing–masing peserta yang akan digunakan nanti pada saat pemetaan. Pemetaan kami lakukan dari luar ke dalam gua dengan metode forward. Saya sebagai stationer, Wangga sebagai shooter, Lisna sebagai notulen, dan Septa sebagai descriptor. Perlahan–lahan kami mulai memetakan gua : menghitung serta mencatat panjang, lebar, tinggi, derajat, dan kemiringan tanahnya.

Baca juga:   Pendidikan Dasar Astacala 20
Pemetaan di Gua Jemblongan

Pemandangan di dalam gua tidak kalah menarik dibandingkan di luar. Berbagai ornamen batuan terlihat menghiasi dinding–dinding gua. Air-air mengalir dengan pelan di antara bebatuan yang menghiasi lantai gua. Kami melanjutkan pemetaan kami dan masuk lebih dalam. Dan tidak jauh dari mulut gua kami menemukan air terjun yang mengalir dengan deras melalui lubang di antara lapisan tanah yang padat. Sungguh sesuatu yang tidak dapat diciptakan oleh manusia.

Stalagmit Gua Jemblongan

Setelah semuanya mencoba posisi–posisi dalam pemetaan, kami melanjutkan eksplorasi kami menuju Gua Petruk yang memang terhubung dengan Gua Jemblongan. Sesekali kami merangkak, menyusuri aliran sungai, menyempil melalui celah, namun semua itu terbayarkan dengan keindahan gua yang kami lihat. Sesekali kami berhenti untuk foto bersama dan melakukan dokumentasi. Tak lama berjalan, kami telah tiba di pintu Gua Petruk.

Ternyata, Pak Saji telah menunggu kedatangan kami di sana. Setelah foto bersama sekali lagi, kami bergegas turun menemui Pak Saji. Beliau menyewakan angkutan untuk kembali ke base camp. Satu per satu dari kami masuk dan memposisikan diri dalam angkot. Di sepanjang perjalanan, kami melihat barisan bukit conical di kejauhan. Saat itu sedang musim panen padi, jadi tidak heran kalau kami sering melihat petani sedang memisahkan beras dari gabahnya.

Kembali ke Bandung

Setibanya di base camp, kami langsung merapihkan alat untuk di bawa pulang. Ternyata Pak Saji telah meminta bus untuk datang menjemput kami di base camp. Namun bus tersebut datang lebih awal dari perkiraan kami, sementara beberapa orang dari kami masih membersihkan diri. Setelah foto dengan Pak Saji, kami segera memasukkan barang bawaan dan mencari tempat duduk dalam bus. Kami tertidur di sepanjang perjalanan dari Candirenggo menuju Gombong.

Tiket kereta kami dari Gombong ke Bandung adalah pukul 21:30. Tetapi kami tiba pukul lima sore di stasiun. Setelah menemani Pinan membeli tiket ke Klaten dan menitipkan barang kami di stasiun, kami menghabiskan waktu dengan makan dan berjalan–jalan di sekitar stasiun. Pukul tujuh kami kembali ke stasiun karena kereta Pinan akan tiba. Tetapi kenyataannya kereta mengalami keterlambatan yang cukup lama, dan pihak stasiun tidak memberikan penjelasan apa–apa.

Setelah berpisah dengan Pinan, kami lanjut bercengkrama sekaligus mengevaluasi kegiatan yang telah kami lakukan. Pukul 21:30 lewat, kereta terakhir dari Stasiun Gombong tiba, itulah kereta kami. Kami bergegas naik kereta dengan barang bawaan kami dan mencari posisi tempat duduk. Sepanjang perjalanan, kami berbagi kisah satu sama lain sampai lelah membawa kami beristirahat sampai tiba di Stasiun Kiara Condong. []

Tulisan oleh Ryan Aminullah
Foto dari Dokumentasi Astacala

  • Pengamat

    Cieee…. Gaya beut itu ada angkatan jejak rimba yang katanya caver ASTACALA

  • A. Bagus S.

    Semangat, Lembah Hujan!