Kisah Dari Cimonyong : Menghidupkan Kembali Semangat Soewardi Soerjaningrat

Baru-baru ini aku melihat berita di televisi yang menginformasikan bahwa ada guru yang tega memperkosa siswanya di suatu sekolah ternama. Atau mungkin aku mau mengajak untuk mengingat kembali video yang tersebar di internet, memperlihatkan adegan mesum siswa SMP yang tak segan-segan mereka lakukan di depan temannya di dalam kelas. Lalu dahulu ada juga siswa SD yang ditindas oleh guru dan rekan-rekannya karena dia melakukan perlawanan terhadap tindakan curang pihak sekolah, yaitu menyebarkan jawaban ujian. Begitukah cerminan pendidik dan peserta didik di Indonesia ? Atau jangan-jangan kita adalah salah satu aktor dari cerminan perilaku tersebut?

Kemudian pernah aku membaca sebuah berita online yang di dalamnya berisi ungkapan salah seorang perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, bahwa jumlah pelajar di Indonesia ada sebanyak 58 juta. Dari 58 juta pelajar, tercatat sebanyak 8 juta pelajar SMA dan 50 juta pelajar SD-SMP. Jumlah yang banyak, bahkan lebih banyak dari jumlah penduduk Malaysia (± 30 juta) atau Inggris (± 54 juta). Tapi dari 58 Juta pelajar Indonesia, berapa diantara mereka yang menjadikan cinta tanah air sebagai budaya bangsanya?

Anak-anak Generasi Masa Depan

Akar permasalahan di Indonesia jika mau dirangkum menjadi satu kalimat sebenarnya sangat mudah. Bangsa Indonesia telah kehilangan budaya mencintai tanah airnya sendiri. Padahal, budaya cinta tanah air sebenarnya sudah lama sekali ditanamkan oleh founding fathers negara ini. Salah satu di antara mereka adalah Soewardi Soerjaningrat.

Siapa tak kenal Soewardi Soerjaningrat? Beliau adalah adalah Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama setelah Indonesia merdeka. Beliau dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Atau kita lebih familiar mengenalnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Pendidikan di mata Soewardi adalah suatu media kebudayaan yang tersistem dan harus memerdekakan manusia sesuai dengan kodratnya. Sedangkan kodratan manusia yaitu memiliki potensi kognitif (mental), afektif (sikap), dan psikomotorik (perilaku). Ketiga kodrat tersebut harus dibangun secara seimbang agar manusia mampu menjawab problematika kebudayaan dan problematika alam. Problematika kebudayaan adalah berupa permasalahan yang meliputi pembangunan kebudayaan (nilai, moral, etika, karya, hukum). Dan problematika alam adalah berupa permasalahan yang meliputi cara manusia untuk survive di alam ini.

Dalam memecahkan problematika tersebut, manusia membutuhkan suatu madzhab pendidikan yang memberikan arah pencapaian kepada solusi yang diinginkan. Dan Indonesia sebagai negara yang berkebudayaan (nilai, moral, etika, karya, hukum) sudah sepantasnya menjadikan kebudayaan sebagai madzhab pendidikan nasionalnya. Bukan madzhab materialisme yang menjadikan manusia (peserta didik) kosong nilai namun rakus materi sehingga terjadi kasus yang saya sampaikan di paragraf awal. Atau bahkan madzhab feodalisme yang menjadikan manusia (peserta didik) sebagai budak dari sang pengajar atau senior yang merasa dirinya selalu benar atau selalu tahu sehingga banyak sekali peserta didik yang gagap dalam menyampaikan pendapatnya.

Madzhab pendidikan berkebudayaan itulah yang sudah diperkenalkan dan dirumuskan oleh Soewardi. Dengan pendidikan berkebudayaan, ilmu yang disampaikan oleh pengajar kepada peserta didik bukanlah dipraktikkan selayaknya sosialisasi (mendikte), namun lebih kepada bagaimana ilmu tersebut mampu diserap lalu ditransformasikan oleh peserta didik. Di situlah pentingnya menstimulasi peserta didik untuk berpikir.

Akar Kebudayaan Harus Ditanamkan Sejak Dini pada Mereka

Dengan bermodalkan semangat Soewardi Soerdjaningrat, aku (angkatan Mentari Gunung), Dhiky (angkatan Lembah Hujan), Handung (angkatan Jejak Rimba), serta seorang volunteer, Diyan (S1 Teknik Industri), berangkat ke sebuah sekolah terpencil di Desa Sukamanah, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Di sana kami mengadakan training menjelang UN (Ujian Nasional) untuk siswa SD (kelas 6) dan siswa SMP (kelas 9).

Baca juga:   Pengabdian untuk Cimonyong

Agenda ini sudah rutin dilakukan oleh Astacala sejak setahun yang lalu. Kegiatan yang sudah dilakukan beraneka macam. Dari sunatan masal sampai donasi buku untuk menunjang proses belajar-mengajar di sana. Kali ini Astacala memanfaatkan momentum UN untuk kembali berbagi semangat kepada para siswa.

Agenda training kali ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 April 2014 – Minggu, 27 April 2014. Seharusnya kami berempat berangkat pada Jumat sore, namun Handung berangkat menyusul karena harus menyaksikan AC Milan bertanding di Jumat malamnya. Karenanya, Jumat sore aku berangkat bersama Dhiky dan Diyan.

Dua buah motor kami gunakan. Aku dan Dhiky berboncengan sedangkan Diyan solo driving. Kami terus berjalan ke arah selatan Kabupaten Bandung diiringi matahari yang tenggelam dan menyembunyikan sinarnya, berhubung kami berangkat pukul 17.00 WIB. Lewat jalur Banjaran, diteruskan ke Soreang, Ciwidey, lalu melewati perbatasan kabupaten ke arah Kabupaten Cianjur.

Perjalanan memang tidak mudah. Selain sudah gelap karena malam, hujan deras pun membasahi kami ketika posisi kami mendekati daerah Ciwidey. Kami berteduh di warung pinggir jalan dengan harapan hujan segera reda. Tak lama kemudian, harapan kami benar terjadi. Hujan deras pun reda menyisakan rintik-rintik kecil. Kami merasa bisa melanjutkan perjalanan. Mesin motor kami panaskan kembali dan sesegera mungkin kami beranjak pergi ke tempat tujuan.

Tuhan nampaknya masih ingin menguji kami. Kabut tebal menyelimuti jalan yang kami lalui dari Ranca Upas sampai Ranca Walini. Jarak pandang kami hanya dua meter. Sigap kami memelankan laju motor agar terhindar dari bahaya tabrakan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Beruntungnya, ada warga sekitar yang melintas di jalan yang sama. Kelip merah lampu belakang motornya sangat membantu pandangan kami di tengah kabut yang pekat. Layaknya pembalap F1 di waktu hujan yang tiap mobil dilengkapi dengan kelip merah lampu di bagian belakang mobil.

Selepas Ranca Walini, jalanan mulai terlihat jelas. Jarak pandang kami menjadi normal kembali. Walau diiringi gerimis kecil dan pantat yang pegal karena duduk berjam-jam di motor. Tepat pukul 21:10 akhirnya kami tiba di kediaman Pak Diman, Kepala Sekolah SDN Sukamanah tempat kami akan melakukan training menjelang UN. Rumah Pak Diman kami jadikan titik start awal menuju lokasi sekolah.

Sekilas Jalan Menuju SDN Sukamanah

Pukul 04.45 WIB aku terbangun mendengar suara adzan subuh. Kusegerakan ke kamar mandi untuk berwudhu lalu dilanjut solat di ruang tamu. Sampai jam 06:00 kusempatkan untuk membaca buku “Korupsi” (Pramoedya Ananta Toer) yang dibawa Dhiky. Namun belum banyak halaman yang kubaca, istri Pak Diman sudah menyiapkan makan pagi dan memberi sinyal agar segera disantap. Nasi goreng yang nikmat dengan porsi dobel cukup memberikan tenaga dan rasa kenyang. Selepas makan pagi, kami bersiap untuk berangkat ke SDN Sukamanah. Aku dan Dhiky menggunakan motor untuk menuju SDN Sukamanah, sedangkan Diyan menggunakan ojek.

Ku kira jalan ke SDN Sukamanah hanyalah jalan berbatu sebagaimana layaknya jalan-jalan di pedesaan. Tapi ternyata selain berbatu, jalanannya licin, sempit, tanjakan dan turunan terjal, serta terdapat jurang-jurang di sisinya. Jalan menuju SDN Sukamanah adalah jalan yang membelah punggungan, lalu turun ke lembahan, lalu dilanjutkan lagi naik ke punggungan.

Baca juga:   Dari Astacala untuk Cimonyong

Agak khawatir juga terhadap keselamatanku ketika di perjalanan. Dhiky sudah berada jauh di depan. Sedangkan aku masih tergeletak jatuh di atas jalan karena ban motorku selip. Dengan keringat mengucur deras, kuangkat motorku yang terjatuh dan segera kutancap gas. Belum melaju beberapa meter, motorku tidak bisa maju. Jalan dan kayu yang licin membuat banku selip lagi. Bersyukur ada warga yang berpapasan denganku. Akhirnya motorku dibantu dorong olehnya. Dalam benakku, kalau saja sekarang aku berboncengan, pasti salah satu di antara kami harus ada yang sesekali turun untuk mendorong motor yang digunakan supaya bisa terus melaju.

Tak sampai disitu, menjelang Desa Sukamanah, aku kembali terjatuh karena kakiku masuk ke sela-sela jembatan kayu. Jantungku berdebar karena posisiku yang tidak mantap untuk selamat. Kedua tangan masih memegang stang motor agar motor tidak jatuh menimpaku atau terjatuh ke jurang di sebelah kanan motor. Memang sudah takdirnya, ada warga yang melintasi jalan dan berpapasan denganku yang sedang kepayahan. Dengan senyuman hangatnya, warga tersebut membantuku untuk bangkit kembali. Kuucapkan terima kasih seraya bergegas ke SDN Sukamanah karena matahari sudah hampir sepenggalah.

Perjalanan Cimonyong

1,5 jam menempuh perjalanan, sampailah aku di SDN Sukamanah. Tiba-tiba segala peluh, keringat, dan kekhawatiran di jalan sirna sudah. Betapa manisnya senyuman siswa di gerbang sekolah menyambut kedatanganku. Segera aku masuk menemui Dhiky yang sudah berbincang dengan guru di sekolah tersebut.

Sabtu, Hari Pertama

SDN Sukamanah hanya memiliki lima ruang kelas dan satu ruang guru. Kalau dilihat denahnya, bentuk bangunan sekolah tersebut leter L dengan lapangan tanah dan tiang bendera di tengahnya. Selain siswa SD, di sekolah tersebut juga ada siswa SMP yang sengaja ditumpangkan di situ karena lokasi SMP asalnya yang jauh. Makanya, kebanyakan siswa SMP di situ adalah penduduk asli pedalaman.

Target kami kali ini adalah siswa kelas 6 SD dan siswa kelas 9 SMP. Sambil menunggu jam pergantian pelajaran, aku melihat Handung sampai di SDN Sukamanah dengan menggunakan ojek. Ternyata Handung tidak sendirian, dia datang beserta dengan Azim (angkatan Kabut Belantara). Jumlah kami jadi berlima sekarang. Setelah dirasa jumlah kami sudah lengkap dan soal-soal training sudah disiapkan, kami mulai masuk ke kelas 6 SD dan kelas 9 SMP seiring dengan jam pergantian pelajaran.

Siswa kelas 6 SD hanya berjumlah 28 orang, sedangkan siswa kelas 9 SMP hanya berjumlah 17 orang. Wajah-wajah polos itu mengingatkanku di era 9 tahun dan 12 tahun yang lalu. Ketika aku baru kelas 9 SMP dan kelas 6 SD. Aku berpikir sejenak, sebenarnya yang kubutuhkan dulu bukan hanya angka-angka atau hafalan-hafalan berbahasa yunani. Aku membutuhkan sebuah kisah nenek moyangku dan motivasi untuk bangkit mengejar mimpi.

Pengajaran Bahasa Inggris

Berbekal ilmu mengajar yang kudapatkan di TPA An-Nuur, Sukabirus, akhirnya kumulai hari itu di kelas 6 SD dengan menceritakan manfaat mempelajari ilmu matematika. Gaya bahasa dan mimik muka sedemikian mungkin kuatur agar siswa kelas 6 SD lebih rileks. Akhirnya strategiku berhasil, komunikasi pun makin cair dengan siswa kelas 6 SD yang di awalnya pemalu. Dan untuk kelas 9 SMP kubuka dengan menceritakan manfaat belajar bahasa inggris itu. Tawa dan sedikit guyonan membuat obrolan seisi kelas menjadi renyah. Hari itu aku mendapatkan pesan tersirat, bahwa manusia itu membutuhkan motivasi sebagai bahan bakar usahanya.

Baca juga:   Pintu Gerbang itu Bernama Rumah

Minggu, Hari Terakhir

Minggu, 27 April 2014 adalah hari terakhir kami berada di SDN Sukamanah. Training tetap kami berikan kepada siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP. Sejak kemarin sampai hari ini, Aku, Dhiky, Diyan, Handung, dan Azim juga terus memberikan ilmu-ilmu yang kami miliki dan sebisa cara kami menyampaikannya kepada siswa.

Maka pada hari Minggu, tibalah kami di penghujung kegiatan. Kami menyampaikan materi terakhir, yaitu sedikit motivasi agar siswa semangat menjalankan UN serta jujur dalam mengerjakannnya. Motivasi terutama kami berikan kepada siswa kelas 9 SMP mengingat mereka akan melaksanakan UN tepat seminggu lagi, yaitu tanggal 5 Mei 2014.

Pembelajaran, Motivasi, dan Cita-cita yang Harus Terus Dihidupkan

Kami mengajak siswa untuk bermimpi dan menstimulasi mereka agar mengeluarkan seluruh imaginasinya tetang hidup yang sedang mereka jalani dan yang akan mereka jalani. Kami menggunakan metode Mind Mapping karena metode tersebut cocok diberikan kepada siswa agar imaginasi mereka bisa tersusun rapi dan terstruktur dalam sebuah kertas.

Hasil akhir dari Mind Mapping membuat kami tersenyum, bersyukur, dan mendoakan agar harapan siswa terwujud. Ada di antara mereka yang bercita-cita ingin melanjutkan sekolah lalu menjadi ABRI. Kemudian ada juga yang ingin menjadi guru dan dokter hewan. Ada di antara mereka yang ingin pergi haji dan mengajak keluarganya. Juga ada yang menginginkan memiliki uang segudang. Serta yang paling menyenangkan untuk didengar adalah mereka menginginkan untuk melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di Paris, Prancis. Kami semua sekelas mengaminkan harapan-harapan mereka.

Namun tak terasa waktu sudah habis. Kelas sudah kami bubarkan. Baru ingin beranjak pulang, ternyata Tuhan memberikan kami kesempatan untuk singgah sehari lagi di Desa Sukamanah untuk merenungi sekali lagi apa yang sudah bersama-sama kami lakukan. Hujan deras mengguyur Desa Sukamanah sampai maghrib. Kami undurkan niat untuk pulang di hari Minggu. Pak Diding (salah seorang guru SDN Sukamanah) menyediakan rumahnya sebagai tempat kami menginap semalam lagi. Pengalaman yang sungguh berharga. Akanku jaga dalam ingatan ini.

Penutup

Dalam renunganku, pendidikan adalah proses panjang yang terus dialami umat manusia sepanjang hidupnya. Karena prosesnya yang panjang, maka permasalahan pendidikan saat ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan tangan kami. SDN Sukamanah hanyalah satu di antara ribuan SDN yang ada di Indonesia. Dibutuhkan usaha kolektif seluruh rakyat untuk mengoptimalkan sistem pendidikan di Indonesia.

Karenanya, mengingat 2 Mei 2014 besok adalah peringatan Hari Pendidikan Nasional, dan juga bertepatan dengan tahun pemilu 2014, aku berharap ada sosok pemimpin di Indonesia yang benar-benar kongkrit membawa budaya cinta tanah air sebagai program unggulan untuk perbaikan pendidikan di Indonesia. Tentunya ini sejalan dengan semangat yang sudah dikobarkan oleh Soewardi Soerjaningrat 69 tahun silam yaitu mencptakan pendidikan yang berkebudayaan.

Dengan menjadikan cintai tanah air sebagai budaya, maka lambat laun problematika bangsa yang kompleks ini akan terselesaikan dan tinggal menjadi sejarah. Kuncinya dimulai dari pendidikan. []

Tulisan oleh Umar Bassyarohul Haq
Foto Dokumentasi Astacala

  • Penulis

    cerita yang inspiratif menunjukkan sebuah figur mapala yang bukan hany concern terhadap kegiatan alam tapi juga kemanusiaan, apriciate buat astacala.. semoga tetap jaya di kampus telkom

  • ABS

    Gaya nulisnya asik ni, ada filosofisnya gitu..
    Tapi, Mar SMP cuma sampe kelas 9.
    Bisa ni menghiasi salah satu edisi bivak tulisannya. #lalalala

  • A. Bagus S.

    asiiik ada sedikit filosofinya. Bisa ni tulisannya dapet porsi di bivak. #lalalala