Gunung Padang Backstreet


Kring… Kring… Telepon saya berdering hari itu. “Halo Bro, mau ikut XC ke Gunung Padang Sabtu 1 Maret nanti?”, demikian terdengar suara Mang Nur di seberang sana. Ya, Mang Nur, seorang teman mengajak saya untuk bersepeda. Saya sangat senang dan mengiyakan ajakannya. Kami berjanji akan bertemu di Stasiun Cibeber di Cianjur jam 7 pagi di hari kegiatan nanti. Berdasarkan rencana, kami akan memulai perjalanan bersepeda itu dari Stasiun Cibeber itu.

“13 Km pertama nanjak halus, setelah itu makadam perkebunan teh, jalur akan sedikit diubah supaya bisa melalui single track, kemudian akan ke Curug Cikandang yang tak kalah cantik dengan Curug Malela. Setelah itu perjalanan akan dilanjutkan lagi ke Gunung Padang lewat belakang, sebelumnya akan sedikit downhill. Siap-siap ya Bro, pakai protektor juga!”, demikian ia menambahkan gambaran perjalanan nanti.

Walaupun belum pasti saya akan naik apa dan dengan siapa ke Cianjur, yang pasti saya telah memutuskan untuk berangkat. Harus! Jalur bersepeda yang ditawarkan oleh Mang Nur itu sepertinya memang benar-benar menantang.

Menyusuri Single Track di Perkebunan Teh Penyairan

Hari Jumat 28 Februari, alhamdulillah saya dapat tumpangan dari Dedy, seorang teman yang ternyata satu kompleks perumahan dengan saya. Si “Paty Hejo” (Patrol 512), sepeda kebanggaan saya sudah siap ingin menunjukan kehandalannya. Dibekali seperangkat XT dan Epicon Travel 140 menjadikan Si Paty bergenre “XC Trail”, handal menaklukan tanjakan dengan syarat tentunya lutut kita harus kuat dan digdaya menundukan turunan ekstrim sekelas downhill. Nyali yang besar juga dibutuhkan jika ingin melewati jalur-jalur seperti itu.

Stasiun Cibeber yang Menggeliat Kembali

Beberapa hari sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkenan mengunjungi Gunung Padang. Kabarnya Presiden RI ini menggunakan kereta dari Jakarta – Bogor – Sukabumi – Lampegan dan menjadi momen yang menghidupkan lagi jalur kereta Sukabumi – Cianjur yang telah mati suri begitu lama.

Stasiun Cibeber di Cianjur, Titik Start sekaligus Finis Kegiatan

Kabarnya lagi, jalur kereta Sukabumi – Cianjur menjadi jalur wisata dan menjadi kanvas yang sempurna bagi penghobi landscape photography. Mantap!

13 Km “Nanjak Halus”

Setelah peserta gowes “Gunung Padang Backstreet” berkumpul semua di Stasiun Cibeber, Olly selaku sesepuh memimpin doa bersama sekaligus berhitung dan memperkenalkan diri karena peserta kegiatan ini berasal dari berbagai komunitas. Total peserta berjumlah 25 orang dan kami berdoa semoga diberikan kemampuan menaklukan tanjakan, tidak cedera, dan diberikan karunia kekuatan tenaga.

Setelah doa bersama tersebut, perjalanan pun dimulai. Para peserta mulai mengayuh dengan perlahan sambil mengendurkan otot-otot kaki. Semakin lama jalan yang dilalui semakin menanjak berkelok-kelok, menanjak lagi, berkelok-kelok lagi, menanjak terus, terus…, terus…, dan terus. Banyak peserta yang mulai istirahat sejenak dengan alasan mengisi perut karena belum sarapan, menunggu teman yang masih di belakang, memeriksa tekanan ban karena kekencangan atau kurang udara, dan alasan lainnya yang bermacam-macam.

Baca juga:   Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 1)
Finis Etape Pertama di Ujung jalur “Nanjak Halus”

Otot-otot sepertinya mulai stres. Kami sudah mulai celingak-celinguk melihat patok tanda kilometer. Sepanjang 6 Km pertama patok itu masih kami abaikan. Kilometer berikutnya patok seperti itu mulai kami rindukan, yaitu patok CBB 13 Km sebagai akhir dari etape pertama kami. Setelah berjuang hampir selama tiga jam, akhirnya patok yang menjadi idaman tercapai, finis “nanjak halus” ini adalah tanda arah ke Gunung Padang 16 Km. Setelah melihat Endomondo yang terpasang di Blackberry : duration 02:52:20, Calories 1872 Kcal, distance 13,5 km, Avg speed 4,5 km/h. Lumayan juga.

Kebun Teh Panyairan – Curug Cikondang

Setelah semua peserta tiba dan beristirahat sejenak di sebuah warung di samping tanda arah ke Gunung Padang ini, kami mulai bergerak lagi tepat jam 10:30 di hari yang beranjak siang itu. Cuaca mendung, jalan makadam, dan kontur relatif masih rata. Setelah sampai di pertigaan pintu masuk Kebun Teh PTPN VIII Panyairan, kami berbelok ke kiri meninggalkan jalan makadam masuk ke jalur perkebunan teh yang bertanah dengan kontur menanjak.

Jalur di Perkebunan Teh Penyairan

Inilah jalur idaman para MTBers (sebutan kami bagi pengguna sepeda MTB) : single track tanah, pemandangan terbuka khas kebun teh, jalur kadang menurun tajam, kadang menanjak. Melalui jalur seperti ini kita tidak saja mengandalkan kekuatan otot, tetapi juga harus memiliki kemampuan shifting yang baik.

Bermain-main di single track ini cukup mengasyikan, di jalur turunan bisa full speed, dan di tanjakan kami berusaha menerapkan teknik shifting yang efisien agar bisa menaklukan tanjakan dengan bantuan gear yang tepat. Setelah kurang lebih 6 Km, kami bertemu kembali dengan tanjakan jalan makadam.

Jalan Makadam setelah Single Track

Kami beristirahat kembali sambil regrouping sekaligus foto-foto narsis. Setelah berpose di sana sini, jepret sana jepret sini, rencana kami berikutnya adalah blusukan mencari jalur single track yang menjadi penghubung antara jalan makadam dengan jalan makadam lainnya. Tujuan kami berikutnya adalah Curug Cikondang. Rasa penasaran akan kabar keindahannya yang menyaingi Curug Malela di Bandung Barat seolah memberikan kami tambahan tenaga.

Jalur menuju Curug Cikondang relatif turun dengan beberapa turunan yang tajam. Kami sangat menikmati turunan ini. Si Paty kebanggaan saya menunjukan performa aslinya : rear shock dan front shock mampu meredam semua obstacle yang menghadang. Di single track tanah, tak jarang ditemui drop off kecil yang harus dilompati. Di turunan makadam tak jarang harus sedikit menerapkan teori downhill, melibas jalanan berbatu dengan posisi badan berdiri, tangan sedikit ditekuk untuk membantu meredam guncangan, dan posisi kaki rileks untuk mengimbangi kecepatan dan guncangannya.

Baca juga:   95 Km Tour de Baduy
Saya Bersama Si Paty dengan Latar belakang Curug Cikondang
Si Paty

Dan pada turunan yang panjang saat kami sedang asyik-asyiknya meluncur dengan kecepatan penuh, kami harus berbelok ke kanan menuju Curug Cikondang. Curug Cikondang terletak di lembahan Desa Sukadana, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Dari belokan tadi sebelumnya, jaraknya sekitar 1 Km dengan jalannya yang terus menurun ke arah curug. Di sisi kiri dan kanan terhampar sawah berterasering yang tak kalah indahnya dengan persawahan terasering di Ubud, Bali. Menuruni jalan ini diperlukan kehati-hatian agar kita tidak terjerembab ke sawah.

Curug Cikondang – Gunung Padang

Sesaat setelah sampai di Curug Cikondang, hujan mengguyur dengan lebatnya. Kami berteduh di satu-satunya gubuk yang ada. Ketua rombongan segera memberikan komando untuk segera bergerak kembali karena perjalanan masih jauh.

Ditemani hujan, jalan makadam yang menanjak, perut yang lapar, serta kewajiban sholat dhuhur yang belum dipenuhi mendorong kami untuk terus beringsut mendaki sambil celingak-celinguk mencari warung makan. Kurang lebih 1 Km dari curug, di tepi jalan makadam yang masih menanjak, kami menemukan warung makan sederhana yang hanya menyediakan nasi yang sangat pulen dari beras Cianjur yang terkenal lezatnya, sayur daun pakis, sambal terasi, lalapan, dan ikan mujair. Pilihan makan yang tak banyak namun memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa. Di warung ini pula lah kami akhirnya sholat dhuhur.

Setelah kurang lebih satu jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Ada beberapa single track tanah super licin yang harus dilalui. Hebatnya, tak satu pun dari kami yang terjatuh, karena bagi kami yang tak yakin melewati jalur super licin itu sepedanya dituntun saja. Hehehe…

Single Track Super Licin

Menuju Gunung Padang lewat perkebunan teh memerlukan kemampuan navigasi yang baik. Fisik yang kuat dan sepeda yang cepat tak menjamin ketepatan kita menuju titik tujuan. GPS mutlak diperlukan untuk memaksimalkan pergerakan. Kalau pun salah jalan, kita bisa back track dengan cepat.

Ada satu sesi tanjakan yang membuat saya stres. Saya menamakannya “makadam jahanam”. Coba bayangkan : kondisi hujan, dingin, jalan menanjak dengan makadam berbatu-batu besar, memakai gear terendah salah karena membutuhkan momen untuk melewati batu-batuan, memakai gear tengah otot pasti kram. Mendorong sepeda menjadi lebih bijak tanpa harus merasa malu.

Baca juga:   Mountain Bike
Makadam Jahanam

Pepatah bijak penuh harapan MTBers mungkin bisa dijadikan acuan : setelah tanjakan, terbitlah turunan. Setelah makadam jahanam, kami dimanjakan oleh turunan makadam dan diakhiri oleh turunan single track yang lagi-lagi super licin setelah diguyur hujan lebat. Di sinilah saya membuktikan bahwa saya sangat mencintai tanah air negeri ini dengan cara “mencium” tanahnya. Benar-benar mencium tanahnya Bro! Alias jatuh. Untungnya tak ada yang melihat sehingga tak ada saksi dan barang bukti. Aman. Hanya diketahui diri sendiri dan pembaca sekalian di sini tentunya. Hihihi…

Di Situs Megalitikum Gunung Padang
Foto Bersama di Situs Gunung Padang

Di ujung turunan single track ini, tibalah kami di pintu belakang kompleks megalitikum Gunung Padang. Kami beristirahat dan berfoto-foto narsis. Situs Gunung Padang merupakan situs pra sejarah peninggalan kebudayaan megalitikum di Jawa Barat. Lokasinya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Situs ini merupakan kompleks punden berundak terbesar dikawasan Asia Tenggara yang masih banyak diteliti sampai sekarang.

Gunung Padang – Stasiun Lampegan

Setelah puas menikmati keindahan suasana Situs Gunung Padang, kami beringsut turun ke pintu utama untuk melanjutkan perjalanan.

Dari Gunung Padang ke Stasiun Lampegan, kami melalui jalan beraspal yang mulus. Jalan ini cukup bagus sepertinya karena baru saja dikunjungi Presiden Ri.

Di jalur perjalanan kali ini, 3 Km pertama adalah tanjakan, 10 Km berikutnya adalah turunan yang bisa full speed dan melupakan rem sampai Stasiun Lampegan.

Foto Bersama di Pintu Utama Situs Megalitikum Gunung Padang
Foto Bersama di Depan Terowongan Lampegan

Stasiun Lampegan adalah stasiun di mana terdapat Terowongan Lampegan yang cukup panjang. Menurut petugas yang ada, panjang terowongan ini adalah sekitar 700 meter dan dibangun pada jaman Belanda tahun 1875 -1882.

Stasiun Lampegan – Stasiun Cibeber

Dari Stasiun Lampegan, kami menyusuri jalur pinggir rel sampai ke Stasiun Cibeber lagi. Jalur ini merupakan jalur terakhir kegiatan kami ini yang terdiri atas jalan semen PNPM jalan kerikil khas jalan kereta api dan diakhiri kembali dengan jalan semen PNPM. Tepat jam 6 Sore kami tiba kembali di Statsiun Cibeber. Selesai sudah perjalanan bersepeda kami hari ini yang melelahkan tetapi sangat menyenangkan. []

Oleh Dudi Dahlan