95 Km Tour de Baduy


… “Di Tahun 2014 kita kembali akan mengadakan touring ke Baduy dengan menggunakan sepeda tujuan utama ke daerah Ciboleger, tepatnya Desa Kanekes (Badui Luar). Acara touring tahun ini sedikit mundur karena panen duren yang terlambat, entah karena kemarau yang kelamaan di tahun 2013, atau hujan yang ekstrim di awal 2014. Tapi kita tetap akan ke Baduy dan berharap tetap kebagian panen durian. Rencana perjalanan “Touring de Baduy” yaitu : Bogor – Leuwiliang – Cigudeg – Jasinga – Cipanas – Gajrug – Ciminyak – Muncang – Cisimeut – Ciboleger. Perkiraan jarak tempuh ± 95 km. Kita akan gowes berangkat maupun pulang dari Baduy jadi total jarak tempuh sekitar ± 190 km. Kondisi jalan aspal dan semen dengan kontur seimbang antara tanjakan dan turunan (rolling) . Titik keberangkatan adalah di komplek bank di samping Balai Kota Bogor pada hari Sabtu, 15 Februari 2014.” …

* * *

Sepenggal postingan rekan Komunitas Bike to Work (B2W) Bogor di sebuah jejaring sosial pada tanggal 22 Januari 2014 itu membuat saya sangat ingin mengikuti perjalanan bersepeda ke Baduy. Sepanjang menggeluti hobi sepeda, saya belum pernah mencapai jarak 190 km dalam dua hari. Bahkan sebenarnya saya berkeinginan menggenapkannya menjadi 200 km, suatu pencapaian yang akan mengalahkan batasan fisik, batasan mental, egoisme, dan ambisi. Ditambah destinasi yang akan dituju adalah Baduy.

Tour de Baduy, Menyusuri Jalan Cigudeg (Foto oleh Petrus Suryadi)

Baduy, mendengar kata itu sudah terbayang eksotisme kedamaian dan keharmonisan alam, yang manusianya menjadi benteng terakhir kemurnian, penjaga kesederhanaan dan keaslian budaya. Kehidupan seperti itu tercermin dalam busana yang dikenakan oleh masyarakat Baduy serta tutur kata dan penghormatannya pada alam. Listrik dengan berbagai peralatan seperti radio dan televisi yang menjadi urat nadi hidup masyarakat modern masih teguh ditinggalkan oleh mereka. Malam kelam menjadi selimut yang melelapkan tidur, tanpa mimpi mobil dan rumah gedongan, gaduhnya selebriti, politik dan musik dari kotak televisi kukuh tak dijamah. Semua itu digantikan oleh kicauan burung, desiran angin dan kecipak air pancuran, pikirannya diseragamkan dalam balutan Sunda Wiwitan.

Tour De Baduy ini digagas oleh komunitas B2W Bogor / Gowes Bogor yang merupakan kegiatan tahunan. Tahun ini diselenggarakan pada tanggal 15 – 16 Februari 2014. Karena saya begitu tertarik, Jauh-jauh hari saya sudah menghubungi sahabat-sahabat Astacala yang hobi bersepeda, tapi tak ada yang bisa untuk ikut serta. Alhasil hanya saya yang berangkat. Menurut panitia pelaksana, sudah terdaftar hampir 200 peserta yang akan ikut kegiatan bersepeda yang bertajuk “Tour De Baduy” ini.

Seminggu Sebelum Kegiatan

Hari ini, Jumat 14 Februari 2014. Sudah sejak hari senin yang lalu badan saya ngilu dan meriang. Senin itu saya terpaksa harus ke klinik kesehatan. Hari selasa dan rabu saya tidak bekerja karena tidak bisa beraktivitas di kantor seperti biasa. Sakit kepala, demam, batuk, dan diare menjadi satu. Terbayang semangat yang sudah ke ubun-ubun untuk ikut Tour de Baduy akan lenyap.

Alhamdulillah, hari kamis berikutnya kondisi badan saya mulai membaik dan bisa dipaksakan bekerja kembali di kantor sekaligus meyakinkan keluarga di rumah bahwa saya sudah fit dan bisa gowes ikut Tour de Baduy. Surat izin pun keluar dari istri dan anak semata wayang saya. Maka saya pun memulai persiapan dengan memeriksa kelayakan sepeda : cek rem, cek rantai, cek ban, cek shifter, pasang pompa, pasang bottle cage, ganti sadel dan mempersiapkan tools kit, semua dipersiapkan jangan sampai hal-hal yang terlewatkan malah menyusahkan pada saat perjalananan nanti.

Baca juga:   Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 1)

Pihak panitia selalu mengupdate rencana Tour de Baduy ini. Panitia menyampaikan rute dan kondisi jalan dengan lebih detail. Berdasarkan survey mereka, disarankan untuk menggunakan sepeda MTB, bukan sepeda on road. Maka muncullah dilema apakah menggunakan “Si Paty” atau “Si Lemet”, dua jenis sepeda kebanggaan saya di rumah. Setelah dipertimbangkan akhirnya saya menggunakan Si Lemet, minivelo 20″ yang sudah ditambahkan 3 chainring (46 – 36 – 24) dan 8 speed (12 – 32), harusnya mumpuni menaklukan tanjakan seekstrim apapun.

Start

Sabtu, 15 Februari 2014, hari itu dengan penuh tekad saya sudah bangun jam 4 pagi. Setelah shalat subuh dan sarapan, tak lupa cium pipi kiri kanan anak dan istri untuk berangkat dengan bekal minimalis supaya tidak memberatkan selama perjalanan.

Titik Start di Kompleks Perbankan Samping Balai Kota Bogor

Meeting point ditetapkan di kompleks perbankan di samping Balai Kota Bogor dan start akan dimulai jam 07:30. Pagi itu sudah berkumpul pesepeda dari berbagai komunitas; dengan atribut yang bermacam-macam; dengan sepeda yang beraneka merek dan tipe; dengan beraneka harga mulai dari jutaan sampai puluhan juta rupiah; dengan bermacam-macam jenis : race, touring, cross country, dan commuter; serta dengan bermacam-macam celoteh dan canda tawa. Namun semuanya satu tujuan “Tour de Baduy” mencapai Ciboleger, pintu gerbang negeri orang Baduy.

Tepat jam 07:30, panitia melepas para peserta bersama-sama tanpa upacara berlebihan, tanpa kibaran bendera start karena ini adalah perjalanan kami sebagai pehobi sepeda tanpa harus adu otot mengejar waktu. Intinya mengutamakan kegembiraan bersama. Perjalanan ini oleh panitia dibagi menjadi lima etape : etape 1 Bogor – Cigudeg, etape 2 Tugu Perbatasan Provinsi Banten, etape 3 Pasar Gajrug, etape 4 Cisimeut, dan etape5 Ciboleger.

Etape 1 : Bogor – Cigudeg (35 Km)

Cuaca pagi itu sangat mendukung. Di sepanjang perjalanan dari Bogor sampai Cigudeg matahari enggan menampakan diri seolah ikut mendukung kami yang sedang bersenang-senang bersepeda. Dari kompleks bank di samping Balai Kota Bogor jalanan relatif menurun rolling sampai melewati Kampus IPB Dramaga, kemudian mulai naik turun pendek sampai di Leuwiliang. Tantangan di sepanjang jalan Bogor – Leuwiliang hanyalah kemacetan di beberapa titik, yaitu di Gunung Batu, di Dramaga, dan di Leuwiliang.

Pada perjalanan antara Bogor – Leuwiliang ini banyak komunitas yang bergabung di tengah jalan sehingga perjalanan bersepeda mulai ramai. Para pesepeda mulai berkelompok-kelompok sesuai dengan kecepatan. Di depan para pesepeda yang hobi ngebut mulai unjuk gigi dengan kecepatan penuh melibas semua tanjakan dan turunan. Kemudian kelompok “seli” atau sepeda yang bisa dilipat, kelompok “gemboler” yang merupakan para pesepeda sejati dengan ciri khas tas besar-besar di kiri dan kanan sepeda mereka.

Baca juga:   Mountain Bike

Tantangan mulai meningkat seiring dengan tingkat kemiringan jalan yang mulai menanjak. Selepas Leuwiliang menuju Cigudeg para pesepada Tour de Baduy mulai merayapi tanjakan panjang, namun bentang alam sedikit memberi hiburan. Hamparan kebun sawit menampilkan pemandangan yang menurunkan tingkat kelelahan. Di puncak tanjakan kebun sawit Cigudeg ini peserta mengakhiri etape pertama. Para penjaja makanan diserbu oleh para pesepeda, teman-teman yang tidak sempat sarapan mengisi perut dengan nasi uduk atau nasi kuning dan teh manis.

Etape 2 : Cigudeg – Tugu Perbatasan Provinsi Banten (20 Km)

Setelah rehat sejenak di Cigudeg, saya dan teman-teman mulai meninggalkan Cigudeg menjalani etape 2 menuju Tugu Perbatasan Jawa Barat dan Banten. Kontur jalanan dari Cigudeg menuju Jasinga menurun landai. Didukung jalan yang mulus, kecepatan sepeda bisa mencapai 50 km/jam. Mulai dari sinilah saya mulai benar-benar menikmati perjalanan karena mulai kenal dengan teman-teman seperjalanan dengan nasib yang sama menggunakan 20”. Menggunakan ban 20” (keluarga sepeda lipat dan minivelo) dapat diandalkan untuk perjalanan jarak jauh asalkan ditunjang oleh multi speed, 3 chain ring di depan, 8 atau 9 sproket di belakang.

Tantangan tanjakan etape 2 dimulai selepas Jasinga menuju tugu perbatasan. Jarak 8 km dengan perbedaan elevasi 100 meter ternyata mampu memberikan rasa sakit di otot-otot kaki. Namun dengan tekad yang membaja dan didukung pemilihian gear yang tepat akhirnya tepat jam 11:15 tugu perbatasan dapat dicapai. Maka selesailah etape 2 ini. Di tugu perbatasan ini juga bergabung komunitas sepeda dari kawasan Cihuni, BSD, dan Tangerang. Mereka start dari Serpong ke Jasinga, dan bertemu di Tugu Perbatasan Jawa Barat – Banten.

Di tugu perbatasan ini ada satu warung yang menyediakan aneka makanan masakan sunda dan aneka minuman. Yang paling banyak diserbu oleh para peserta adalah pisang dan teh manis. Pisang diyakini dapat menyediakan energi instan dan dapat mengurangi resiko kram otot.

Di sinilah terjadi sedikit kehebohan karena Jak TV meliput Tour de Baduy untuk program “Jakarta Bersepeda”. Tadinya saya ditawari wawancara karena sepeda saya unik. Jelas saya sedikit kecewa karena alasan itu, harusnya saya dipilih karena saya berwajah artis, tapi itu tidak mungkin. Ah, daripada kecewa saya memilih meneruskan perjalanan saja. Tujuan etape 3 yang ditetapkan panitia adalah di Gajrug, sekitar 20 km dari tugu perbatasan ini. Di Gajrug inilah ditetapkan sebagai titik istirahat makan siang karena di sekitar Terminal Gajrug ada banyak warung makan.

Etape 3 : Tugu Perbatasan Provinsi  Banten – Gajrug (15 Km)

Etape 3 ini adalah etape paling pendek. Panitia mengalokasikan waktu untuk shalat dhuhur dan makan siang. Jalur pada etape ini hanya turunan panjang yang landai. Di kanan dan kiri jalan adalah rumah penduduk dengan jarak yang agak renggang diselingi area pesawahan.

Etape 4 : Gajrug – Ciboleger (25 Km)

Inilah etape yang paling menarik bagi saya. Matahari yang enggan menemani dari Bogor sampai etape 3 mulai menampakan diri tepat di atas kepala. Jalan yang sebelumnya banyak tanjakan dan turunan mulai enggan memberikan turunan. Jalan di etape 4 ini karena bukan jalan provinsi jadi tidak berhotmik, hanya aspal tabur yang tergerus hujan, berlubang di mana-mana. Dan rasanya inilah etape terlama.

Baca juga:   Gowes dari Bandung ke Jakarta
Tanjakan Cinta Menuju Ciboleger

Merayapi tanjakan di suasana seperti itu bagi pesepeda sejati hanyalah intermezo. Tapi bagi kami para weekend warrior membutuhkan ketabahan dan keikhlasan tingkat tinggi agar tetap bisa memerintahkan otot-otot kaki untuk terus menginjak pedal.

Pada etape ini ada dua tanda bahwa kita akan memasuki kawasan Ciboleger dan tidak tersesat ke daerah lain, yaitu Jembatan Cisimeut dan “Tanjakan Cinta”. Jembatan Cisimeut adalah jembatan dari besi berwarna kuning, sedangkan Tanjakan Cinta dinamakan demikian oleh para peserta Touring de Baduy karena ujung tanjakan di atas sana samar-samar terlihat. Bahkan raungan mobil menandakan mesin sudah bekerja keras mendorong mobil dan menggunakan gigi 1. Tepat 3,5 jam merayapi tanjakan, tibalah di satu turunan tajam dan dua cabang jalan, ambil jalan ke kiri, 100 meter kemudian tibalah di Terminal Cioboleger. Alhamdulillah, dan durian pun menunggu.

Finish di Ciboleger

Menginap dan Pesta Durian

Kawasan Baduy hanya berjalarak 200 meter dari Terminal Ciboleger. Perbedaan mencolok sangat terlihat : listrik – tanpa listrik, rumah semen – rumah panggung, baju warna warni – baju hitam, tanpa ikat kepala – dengan ikat kepala. Jam 8 malam para peserta bertemu dengan Jaro Daina atau Kepala Desa Kanekes yang mebawahi beberapa kampung di kawasan Baduy Luar. Jaro Daina adalah seorang bapak yang menyenangkan dengan wawasan yang luas mengenai kebudayaan Baduy dan perkembangan bangsa terkini. Usai beramah-tamah, para peserta pun mengadakan pesta durian. Satu biji dicicip, sepuluh buah duriann pun ludes.

Lelahnya otot-otot mendorong mata untuk segera terlelap. Rumah orang Kanekes hanya dibolehkan menghadap ke utara atau selatan dan rumah saling berhadapan. Ruangan tersekat oleh anyaman bambu yang membagi ruang tengah, ruang tidur, dan dapur. Pintu keluar harus ada tiga, yaitu di depan, di samping, dan di dapur.

Tidur di rumah urang Baduy, walaupun beralas tikar dan berlampukan cempor tak mengurangi kenikmatan bahkan lebih nikmat dibandingkan spring bed. Mungkin ini juga karena efek kelelahan setelah mengayuh sepeda.

Jalan-jalan ke Kampung Gajeboh

Hari berikutnya, tujuan kami adalah ke Kampung Gajeboh. Di Kampung Gajeboh ini ada jembatan bambu yang melintasi sungai dengan akar-akar pepohonan yang menggantung. Sebelum sampai di Kampung Gajeboh, kami melintasi Kampung Kaduketuk di mana ada banyak gadis-gadis Baduy yang pintar menenun. Kampung-kampung Baduy ini dihubungkan oleh jalan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan apapun. Bagi sebagian besar penghobi treking ke gunung, pasti akan sangat menikmatinya.

Gadis Penenun di Keduketug
Jembatan Bambu di Kampung Gajeboh

Keindahan jembatan bambu di Gajeboh adalah rancang bangunnya, hanya boleh diikat tali tambang dari ijuk enau.

Jalan-jalan menyusuri perkampunga Baduy hanya kami lakukan selama 2 jam sebelum gowes lagi kembali pulang ke Bogor melewati jalan yang kami lalui kemarin. Selamat tinggal Baduy, suatu saat saya akan kembali. []

Oleh Dudi Dahlan