Pendidikan Dasar Astacala XXII


“Sebuah kapal akan aman jika tertambat di pelabuhan, tapi bukan untuk itu tujuan kapal dibuat”

Kalimat inilah yang terpampang di flyer Pendidikan Dasar Astacala XXII (PDA XXII). Kalimat ini yang menggambarkan bahwa sesuatu yang ingin dituju harus keluar dari zona aman dan mengambil sebuah tindakan yang mungkin membahayakan, persis seperti PDA XXII yang merupakan langkah awal untuk menjadi anggota Astacala yang kemudian akan memegang kemudi kapal menentukan ke mana arahnya organisasi ini akan bergerak.

Anggota Muda Astacala Angkatan Api Fajar, Lulusan PDA XXII

PDA XXII merupakan kegiatan rekruitasi anggota Astacala yang bertujuan untuk menyamakan persepsi antara anggota Astacala dan calon anggota barunya. Rangkaian pendidikan dimulai dengan pendaftaran dari tanggal 12-22 November 2013. Pendaftaran ini terdiri dari proses pengambilan formulir; pengembalian formulir; pengumpulan syarat administrasi mulai dari foto, surat pernyataan, dan biaya pendaftaran sebesar Rp 85.000; serta wawancara.

PDA XXII secara resmi dimulai setelah melewati upacara pembukaan PDA XXII pada tanggal 23 November 2013 yang di hadiri oleh 27 orang calon anggota Astacala. Setelah PDA XXII dibuka, calon anggota Astacala ini disebut sebagai siswa PDA XXII. Mereka wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan PDA XXII seperti materi kelas yang terdiri dari materi kelas Keorganisasian yang dibawakan oleh Sufyan Sauri (A-LH) dan Lingkungan Hidup oleh Hadi Kurnia Nugroho (A-100-AP) pada tanggal 23 November 2013, materi Navigasi Darat oleh Blasius FDSW (A-080-JR) pada tanggal 28 November 2013, Gunung Hutan dan Survival oleh Gianto Sibarani (A-LH) pada tanggal 10 Desember 2013, serta ada juga materi peminatan Panjat Tebing, Arung Jeram, dan Penelusuran Gua yang diisi oleh pelatih divisi masing-masing pada tanggal 19 Desember 2013.

Persiapan fisik PDA XXII ini dimulai dengan tes fisik berupa lari 2,4 km, push up, sit up, dan pull up masing-masing selama 1 menit. Tes ini untuk mengetahui kondisi dan kemampuan siswa guna mempersiapkan fisik mereka dalam latihan fisik yang rutin di laksanakan 3 kali seminggu. Terakhir kali akan kembali diadakan tes fisik guna melihat perkembangan fisik siswa. Selain itu, ada juga tes medis untuk melihat kondisi kesehatan dan menyiapkan penanganan sebelum siswa PDA XXII berangkat ke lapangan besar atau melakukan perjalanan pendidikan dasar ke medan yang telah ditentukan. Selain persiapan fisik dan ilmu materi dalam kelas, siswa juga disiapkan dengan adanya praktik kecil atau mempraktikkan teori yang didapatkan di kelas, yaitu praktik navigasi darat di daerah Gambung pada tanggal 14-15 Desember 2013.

Baca juga:   Sepuluh Hari di Kampung Laut Nusa Kambangan

Praktik lapangan besar PDA XXII merupakan kegiatan pamungkas dari seluruh rangkaian PDA XXII, di mana siswa akan menerapkan semua hal yang telah mereka dapatkan pada rangkaian kegiatan sebelumnya. Praktik lapangan besar hampir seluruhnya dilaksanakan di daerah Ciwidey. Diawali pada tanggal 10 Januari 2014 dengan titik start di Desa Pasir Jambu lalu melintasi Gunung Wayang, Gunung Tilu, dan Gunung Kolalok, yang kemudian berakhir di Ranca Upas pada tanggal 19 Januari 2014.

Praktik lapangan besar ini terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah long march selama dua hari, kedua adalah tahap gunung hutan selama empat hari, dan ketiga adalah tahap survival selama empat hari. Semua kegiatan ini memadukan beberapa materi yang telah dipelajari dalam materi kelas sebelumnya, yaitu navigasi darat, tes packing, komunikasi lapangan, potong kompas (man to man), botani dan zoologi praktis, bivak alam, trap, dan tidur kalong.

Siswa PDA XXII Membaca Peta Melakukan Orientasi Medan

Derap-derap kaki dari sepuluh siswa terdengar lantang melewati aspal kering di Desa Pasir Jambu. Terik matahari dan beban dari ransel-ransel yang berisi penuh sama sekali tidak mempengaruhi asa mereka. Kebun-kebun teh yang berganti menjadi pepohonan lebat, terik matahari yang berubah menjadi rintik-rintik air hujan di kaki Gunung Tambakruyung pun tidak mereka gubris, kemauannya seolah membulat utuh.

Sampai pada setengah perjalanan di puncak Gunung Tilu, alam memberikan pelajaran yang sesungguhnya. Badai datang. Angin dan hujan menyatu seolah menguji semangat para siswa. Mereka masih bertahan mereka melewati malam dengan hangat api unggun yang menyala besar di tenda-tenda mereka.

Di pagi hari, seorang siswa mendapati seluruh pakaian lapangannya terbakar, mulai dari sepatu sampai topi rimba. Drama pun dimulai. Siswa itu mengajukan pengunduran diri karena tak lagi memiliki pakaian lapangan. Satu siswa lainnya ingin mengikuti jejaknya, entah karena solidaritas atau memang sudah tak lagi sanggup mengikuti kegiatan PDA XXII ini. Suasana haru pecah, saat itu beberapa siswa menangis mencoba menahan teman-temannya agar tidak mengundurkan diri. Pagi itu siswa masih terjaga sepuluh orang.

Baca juga:   Ritual Alam, Antara Mitos dan Kearifan Lokal

Hari berikutnya peralihan dari tahap gunung hutan ke tahap survival. Semangat yang semula terlihat utuh mulai mengendur. Tepat sebelum pengalihan komando dari komandan operasional, tiga orang siswa mengundurkan diri. Suasana haru muncul kembali. Beberapa siswa lainnya tak kuasa menahan tangis. Mereka mencoba menahan untuk terus melanjutkan PDA XXII.

Ketua Astacala Mengalungkan Slayer Astacala kepada Siswa PDA XXII Sebagai Tanda Kelulusan Menjadi Anggota Muda Astacala

Dan akhirnya, pagi itu siswa sudah tidak terjaga sepuluh orang lagi. Tujuh orang yang tersisa mulai mencari makanan untuk bertahan hidup di tahap survival. Beruntung mereka mendapat cacing sondari sebesar ibu jari dengan panjang kurang lebih 20 cm. Esoknya satu siswa lagi mengundurkan diri sehingga tersisa enam orang siswa yang tetap bertahan. Keenam siswa inilah yang sampai di pintu gerbang menjadi anggota Astacala. Mereka adalah Raka Adinugraha (AM-001-AF), Fajrie N. R. (AM-002-AF), Muhammad Nuruzzamanirridha (AM-003-AF), Tri Setiawan (AM-004-AF), Ryan Aminullah (AM-005-AF), dan Samuel Aditia (AM-006-AF). Mereka mengukuhkan nama angkatannya dengan Api Fajar.

Selamat datang saudaraku. Selamat bergabung di bawah bendera merah Astacala. Semoga kalian dapat menjadi api di kala fajar yang memberi semangat untuk selalu beraktivitas. ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!! []

Tulisan oleh Fitra Ariffanto
Foto dari Dokumentasi Astacala