Satu Pagi di Gunung Kelimutu


Gelapnya langit malam perlahan pun mulai memudar. Pendar keemasan mulai tergambar di ufuk sebelah timur. Berkas cahaya matahari, pelan namun pasti mulai menembus dan muncul dari balik bukit di depan sana.

Desir sepoi angin yang mengalir pelan, angin musim kemarau, menyambar ujung ujung pohon pinus yang bergoyang seperti seirama. Kepak sayap serangga serangga kecil ikut hilir mudik berlalu lalang. Kicau burung burung kemudian seperti tak mau ketinggalan, sayup mulai ikut menyahut dan bersuara.

***

Pada salah satu gigiran danau kawah itu saya berdiri. Selapis raincoat tak mampu menutupi badan yang bergetar dan mengigil karena sisa dingin malam yang masih begitu terasa. Hembusan angin ikut membelai dan mengacak rambut di atas kepala.

Lantas saya melongok ke bawah, ke arah Tiwu Nua Muri Ko’o Fai, danau dengan warna biru muda yang begitu kentara, tempat yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat berkumpulnya jiwa jiwa orang muda yang telah meninggal dunia. Di sebelahnya, Tiwu Ata Polo, dengan birunya yang lebih gelap, disebut sebagai tempat berkumpulnya roh orang orang yang meninggal dunia dan selama masa hidupnya berbuat kejahatan.

Saya pun bergidik ngeri, melihat begitu dalam dan curamnya dua dari ketiga danau yang ada di bawah saya ini. Sementara, tebing tebing yang bergaris kasar di sekeliling danau menunjukkan bekas bekas aktivitas vulkanik yang dahulu pernah terjadi.

Melalui ratusan anak tangga yang telah tesusun rapi, saya beranjak dan melangkahkan kaki menuju danau ketiga, Tiwu Ata Mbupu, danaunya roh roh orang tua yang telah meninggal dunia.

***

Danau Kelimutu merupakan salah satu danau paling unik yang ada di muka Bumi. Ketiga danau yang merupakan kawah dari Gunung Kelimutu ini memiliki warna yang berbeda beda. Antara merah, biru, hijau, putih dan hitam; ketiganya berubah seiring aktivitas vulkanik dan perubahan cuaca. Sejak tahun 1997, pemerintah Indonesia melalui Depertemen Kehutanan telah menetapkan ketiga danau ini sebagai bagian dari Taman Nasional Kelimutu.

Baca juga:   Titik Singgah Itu Bernama Labuan Bajo

***

Satu pagi yang cerah di bulan September, saat mentari mulai terbit, di depan saya terbentang lanskap Danau Kelimutu. Keindahannya bak imaji atas lukisan surgawi yang hadir di muka bumi.

Kelimutu, Awal September 2012.
Tulisan dan foto oleh Anggafirdy.