Tercekam Sunyi di Moni


Malam ini terasa sunyi sekali. Tak ada kegaduhan yang sehari-hari nya biasa saya dengar; oleh pekak suara knalpot kendaraan, atau bising dari siaran televisi. Untuk yang dua ini mungkin normal, karena saya memang tidak sedang berada di daerah perkotaan.

Namun begitu, seharusnya di daerah yang dikelilingi berhektar hektar sawah ini sewajarnya terdengar sayup suara serangga malam yang ramai berdenging mencari pasangan, pun kali ini tak ada pula. Suasana benar benar hening sekali.

Di dalam kamar penginapan saya merasa disergap kesepian yang begitu mencekam. Baru seminggu berlalu sejak saya memulai perjalanan dan tak disangka di Desa Moni ini lah saya akhirnya merasakan sepinya kesendirian.

Balai Desa

***

Butir butir embun tampak menggantung di ujung dedaunan, selaksa dengan kabut tipis yang masih menyelimuti jalanan beraspal yang hitamnya tidak terlalu kentara. Matahari belum terlihat, masih malu malu dan bersembunyi di balik bukit, seirama denyut kota yang belum sepenuhnya beranjak dari istirahatnya semalam. Di pagi yang masih buta ini, bus yang saya tumpangi akhirnya mulai bergerak meninggalkan Terminal Bajawa.

Hari ini rencananya saya akan langsung melanjutkan perjalanan di Pulau Flores menuju Danau Kelimutu. Danau Kelimutu sendiri berada di wilayah administratif Kabupaten Ende. Dari Bajawa kita akan menempuh kurang lebih empat jam perjalanan hingga Kota Ende. Di Ende biasanya bus akan singgah sebentar, memberi kesempatan para penumpang untuk makan siang, sekaligus mencari tambahan penumpang. Perjalanan kemudian berlanjut sekitar satu setengah jam hingga mencapai Desa Moni, desa terdekat yang juga merupakan lokasi pintu masuk Taman Nasional Kelimutu.

Kondisi rute yang harus ditempuh masih sama dengan perjalanan hari kemarin, jalanan yang berliku, naik turun penuh kelokan membelah kontur pegunungan. Di beberapa tempat, tampak tenda tenda semi permanen yang berdiri di tepi jalan Trans Flores ini. Di tenda tenda seadanya inilah para pegawai proyek yang sedang melakukan perbaikan jalan bermalam.

Kebetulan siang itu di Ende sedang ada perayaan keagamaan, pemasangan salib di salah satu gereja yang ada di kota tersebut. Konvoi kendaraan yang membawa salib mengular dari arah luar kota, berpapasan dengan bus yang saya tumpangi. Ratusan masyarakat, tua dan muda, tampak bergermbira di atas kendaraan yang mereka tumpangi.

Baca juga:   Bermalam di Bajawa

Saya jadi teringat pengalaman masa kecil saya di Jepara dulu. Satu kali di kampung sebelah akan dilakukan pemasanganan “musthoko” atau yang lebih dikenal dengan kubah masjid. Sebelum dipasang, musthoko masjid ini diarak keliling kampung terlebih dahulu. Tak ketinggalan pula diiringi dengan alunan rebana dan tabuhan bedug yang berada di belakangnya, persis laiknya acara karnaval. Kami yang masih anak anak tentu saja senang dengan perayaan ini.

Perayaan keagamaan, kukira, memang sudah sewajarnya membawa suka cita bagi para pemeluknya.

***

Saya tiba di Desa Moni pukul tiga siang. Masih cukup waktu untuk berkeliling desa terlebih dahulu sambil mencari informasi mengenai tempat penginapan. Perkara mencari penginapan yang cocok memang termasuk urusan yang prioritas buat saya. Ohh iya, sebelumnya silahkan ganti kata “cocok” dengan kata “termurah”. Perjalanan masih panjang dan mau tak mau saya harus pintar pintar berhemat.

Desa Moni terletak di jalur yang menghubungkan antara Kota Ende dengan Kota Maumere. Bila dikira kira dengan jarak, Moni berada di tengah kedua kota tersebut. Para pelintas biasanya menyempatkan transit di sana, beristirahat sambil menyantap makanan di beberapa warung kecil yang berjajar dengan manis di sepanjang jalan.

Moni
Moni

Karena berada di daerah pegunungan, hawa udara di Moni terasa sejuk sekali. Apalagi dengan hamparan sawah menghijau dan rimbun pepohonan yang terlihat sepanjang mata, Desa Moni ini sungguh tepat dijadikan lokasi peristirahatan.

Dari sini, jarak trekking menuju Danau Kelimutu masih sekitar 15 kilometer lagi. Kita bisa menyewa sepeda motor atau menumpang ojek yang memang sudah terbiasa mengantarkan para pejalan. Umumnya para pejalan akan bermalam terlebih dahulu, untuk kemudian mulai bergerak menuju Danau Kelimutu di pagi harinya.

Setelah sekitar satu jam berkeliling, akhirnya saya memutuskan untuk menginap di Homestay Nusa Bunga. Harga menginap semalam cukup terjangkau, hanya empat puluh ribu rupiah saja. Usai mendapat kunci, saya pun segera menghambur ke dalam kamar mandi. Badan saya mulai gatal, sudah tiga hari ini saya tidak mandi.

Baca juga:   Satu Pagi di Gunung Kelimutu

***

Byurrr!!!

“Kak, ayo foto saya..”

Seorang anak kecil berlari kecil mendekati tempat saya duduk di pinggir jalan. Ketika itu saya sedang dalam perjalanan mencari lokasi air terjun yang kabarnya ada di Desa Moni.

“Mau foto? Gaya dulu dong, masak foto berdiri gitu doang..” ujar saya mendengar permintaanya. Dia hanya tersenyum sembari memanggil dua orang kawannya ikut mendekat pula.

“Nahh, ayo bertiga deketan, biar masuk satu gambar. Kameranya jelek nih..”

Cekrek, cekrek, cekrek.. Bunyi kamera terdengar pelan yang disambut dengan derai tertawa puas ketiga anak tersebut. Kami pun berkenalan, Axcel, Joyce dan satu lagi yang sangat aktif bergerak saya lupa namanya. Mereka bertiga adalah anak anak Desa Moni, usianya berkisar antara delapan hingga sembilan tahun karena masih duduk di kelas empat SD.

“Kakak darimana rumahnya?”

Begitu saya menjelaskan asal saya yang dari Jogja, Axcel bergumam pelan, “Jauh sekali, Kak. Bu Guru saya juga ada yang dari Jogja. Kalau naik kapal bisa lama sekali.” Dari cerita anak anak tersebut, saya mengetahui bahwa untuk menuju Pulau Jawa, masyarakat Flores bisa juga menggunakan Kapal Pelni, berangkat dari Pelabuhan Ende hingga Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.

Sebagai negara kepulauan, akan sangat wajar bila jalur transportasi laut memang menjadi salah satu prioritas pembangunan, bukan melulu transportasi darat yang diutamakan.

Dalam cakupan yang lebih luas, transportasi bisa dianggap sebagai gerbang keterisolasian atas wilayah wilayah yang terpencil dan jauh dari pusat ekonomi. Transportasi juga merupakan satu unsur penting yang nantinya akan beperan dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan dan investasi di suatu daerah.

Apalagi di Wilayah Indonesia Timur yang memang terdiri atas banyak pulau pulau misalnya, jalur transportasi laut akan menjadi sangat esensial keberadaannya. Jumlah armada dan kesiapan infrastruktur pelabuhan akan menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan di wilayah yang secara ekonomi dikategorikan sebagai daerah tertinggal ini.

Pasar Pagi di Moni

***

Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Usai menyantap mie instan, saya pun bergegas ke luar penginapan dan berniat mencari cari keramaian. Dengan diterangi sinar dari headlamp, saya mulai berkeliling.

Baca juga:   Kampung Bena, Sebuah Peradaban Tertua yang Masih Tersisa di Flores

Sepanjang saya berkeliling, pintu pintu rumah telah tertutup rapat. Orang orang pun tiada tampak berlalu lalang. Salah satu homestay cukup besar yang perkiraan saya akan ramai pun sama saja, sepi. Hari itu wisatawan memang tidak banyak terlihat. Sesekali lolongan anjing muncul mecah keheningan malam. Lain itu, tak ada bebunyian apapun yang terdengar.

Di penginapan hanya ada saya seorang, rasanya benar benar mati gaya karena sinyal telepon juga tak ada. Berniat mau mendengarkan musik, baterai pemutar telah habis sejak kemarin. Saya pun memutuskan untuk menarik selimut dan tidur saja.

Malam beranjak makin larut dan saya masih juga tak bisa tidur. Inilah yang katanya menjadi salah satu tantangan terberat dalam perjalanan solo. Kesepian karena tak ada sekedar teman berbincang di samping kita.

Benar bahwa solo travelling akan membuat kita mempunyai banyak kawan baru, nama nama yang baru kita kenal. Kita mengawali diri sebagai seorang anonim yang bertegur sapa, lalu berbincang, kadang bercanda, sambil bertukar dan berbagi cerita, namun ketika perjumpaan itu usai karena jarak yang harus terpisah, kita kembali lagi menjadi seorang anonim bagi manusia manusia lain yang baru hadir di sekitar kita. Begitu berulang sepanjang perjalanan, sampai akhirnya tiba kondisi dimana kita benar benar seorang diri.

Namun justru, dalam kesendirian seperti ini, terkadang kita baru merasakan betapa berharganya keberadaan teman di samping kita, orang orang yang ada di sekitar kita, anonim anonim yang mendadak hadir di sekeliling kita, siapapun dia.

Desa Moni, September 2012.

Tulisan dan Foto oleh Anggafirdy.