Sekali Mendaki Fuji, Puncak Tertinggi Negeri Matahari Terbit


Gunung Fuji atau Fujisan adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba di timur, Fuji-Yoshida di utara dan Fujinomiya di barat daya. Gunung setinggi 3.776 mdpl ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.

Gunung Fuji adalah simbol Jepang yang terkenal dan sering digambarkan dalam karya seni dan foto-foto, serta sering dikunjungi oleh pendaki gunung maupun wisatawan. Gunung ini diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu, sebuah gunung berapi yang kini masih aktif walaupun memiliki kemungkinan letusan yang rendah.

Gunung Fuji Dilihat dari 5th Station Yoshida Trail

Saat ini, saya kebetulan berada di Jepang bersama beberapa orang teman yang memang sedang bertugas bekerja magang (jishusei) di sebuah perusahaan di negeri matahari terbit ini. Sebagai seorang pendaki gunung, tentu Gunung Fuji ini sangat menarik bagi saya untuk dikunjungi. Perjalanan untuk mendaki gunung ini sudah kami bicarakan jauh-jauh hari sebelumnya, mengingat Gunung Fuji hanya dibuka untuk pendakian selama musim panas saja, yaitu selama bulan Juni, Juli, dan Agustus. Dan tanggal 14 Agustus 2013 lah yang kami pilih karena hari itu bertepatan dengan libur musim panas atau obonk yang dimulai dari tanggal 12 – 16 Agustus 2013. Liburan musim panas merupakan bagian dari budaya Jepang, meskipun di kalender resmi pada minggu tersebut tidak ada hari libur atau bukan tanggal merah, namun banyak perusahaan di Jepang yang merayakan datangnya musim panas dengan meliburkan para karyawannya.

Menuju Tokyo

Cuaca pada malam itu sedikit sejuk tanpa titik-titik air dari langit Sendai, kota tempat saya tinggal. Tepat tengah malam pada tanggal 14 Agustus 2013, Bus Sakura yang kami tumpangi mulai meluncur meninggalkan Sendai Eki (Eki = terminal) menuju Shinjuku Station di Tokyo. Cuaca di Tokyo lebih hangat daripada Sendai dan kami pun segera menikmati keindahan kota Tokyo dengan mengunjungi beberapa lokasi seperti melihat patung liberty, robot gundam raksasa, dan mengunjungi Restoran Surabaya di Odaiba. Kemudian kami sempatkan pula menjelajahi pusat anime dan elektronik Jepang di Akihabara.

Dan ternyata ada banyak orang Indonesia di Akihabara ini, terutama tepat di depan AKB 48 Cafe yang kerap dipenuhi oleh para pekerja magang atau jishusei selama masa liburan. Ada beberapa teman jishusei yang yang saya lihat melakukan reuni dengan teman angkatan mereka. Selepas dari tempat ini, tim kami mulai terpecah. Saya bersama salah seorang teman, Udin, yang merasa sudah kelelahan dan butuh istirahat memutuskan untuk bermalam di rumah Nico -kenalan Udin- di daerah Saitama. Sedangkan tim yang lain melanjutkan jalan-jalannya ke Tokyo Tower, dan kami berjanji bertemu di titik start pendakian Gunung Fuji pada keesokan harinya.

Sebuah rumah khas jepang dengan pemanfaatan ruangan yang maksimal / no empty space ala Jepang merupakan tempat kediaman Nico. Pria yang berasal dari Jember ini sudah hampir tiga tahun tinggal di Jepang dan kami disambut dengan keramahan khas jawa timurannya.

Dari Tokyo ke Yoshida (Titik Start Pendakian)

Tanggal 15 Agustus 2013, kala matahari sudah mulai meninggi, kami meninggalkan kediaman Nico untuk menuju ke Shinjuku Station. Setelah meluncur selama lebih dari satu jam di atas densha atau kereta listrik, tibalah kami di stasiun tersibuk di Jepang ini. Sebagai catatan, Shinjuku Station digunakan untuk melayani lebih dari empat juta orang yang datang dan pergi setiap harinya.

Baca juga:   Menyapa Mahameru “Puncak Abadi Para Dewa”

Dari Stasiun Shinjuku ke titik start pendakian Gunung Fuji dapat ditempuh dengan menggunakan bus atau dengan kereta listrik. Kebetulan kami memilih untuk menggunakan kereta listrik. Setelah bertanya di pusat informasi dan mengerti jalur yang harus kami tempuh, saya dan Udin segera menuju jalur kereta dengan tujuan Takao. Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam menuju Takao ini cukup menarik : dari pemandangan perkotaan Tokyo yang padat dan dipenuhi tiang listrik menuju daerah pegunungan yang hijau dan indah.

Sesampainya di Takao, kami pindah jalur menuju Otsuki. Setelah 30 menit berada di kereta, sampailah kami di Stasiun Otsuki. Stasiunnya sangat kecil. Pusat bisnis yang biasanya ramai di sekitar stasiun sama sekali tidak terlihat di sini. Dengan kata lain, kami sudah berada di remote area yang sudah cukup jauh dari peradaban kota.

Setelah beristirahat sejenak di Otsuki, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawaguchi (Kawaguchiko). Kawaguchi adalah kota di kaki Gunung Fuji yang di sana terdapat Danau Kawaguchi. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kawaguchi ini untuk menikmati keindahan Danau Kawaguchi dengan latar belakang Gunung Fuji. Namun tidak selamanya kita dapat melihat Gunung Fuji dari danau ini karena sangat sering juga para wisatawan kecewa jika cuaca tidak mendukung dan Gunung Fuji tertutup kabut. Ini merupakan stasiun terakhir untuk pendakian Fuji, di stasiun ini terdapat berbagai fasilitas seperti loker penyimpanan barang, Restoran Fujiyama, warung internet, dan toko suvenir. Bisa dikatakan stasiun ini meruapakan stasiun yang sangat penting untuk pendakian ke Gunung Fuji.

Setelah melahap seporsi Tempura Udon di Restoran Fujiyama dan melaksanakan sholat jamak saya untuk dzuhur dan ashar, kami melanjutkan perjalanan menuju ke titik start pendakian, yaitu 5th Station Jalur Yoshida (Yoshida Trail). Yoshida Trail merupakan jalur pendakian yang berada di daerah Yamanashi. Selain dari Yoshida trail, biasanya banyak juga pendaki yang memulai pendakian di jalur 5th Station Jalur Subashiri (Subashiri Trail) dari daerah Sizuoka. Kawaguchi ke Yoshida kami tempuh dalam waktu 50 menit menggunakan bus yang banyak dipenuhi oleh wisatawan dari berbagai negara seperti Amerika dan Eropa, bahkan kami sempat satu bus bersama rombongan mahasiswi asal Malaysia yang juga turut serta.

Yoshida 5th Station ini cukup ramai. Di sini kita dapat menemukan beberapa restoran, toko souvenir, vending machine, dan juga toilet. Dari tempat ini kita dapat melihat keindahan Gunung Fuji dan lembah-lembah di sekitarnya. Biasanya para pendaki beristirahat sejenak di sini untuk sekedar aklimatisasi dan menunggu waktu yang tepat untuk pendakian. Dibutuhkan waktu sekitar 7 – 8 jam untuk mendaki dari titik ini menuju puncak Gunung Fuji. Dan biasanya para pendaki memulai mendaki pada pukul 8 malam agar tidak terlalu lama berada di puncak Fuji dan sampai tepat pada waktu sunrise.

Mulai Mendaki Gunung Fuji

Baca juga:   Sepenggal Perjalanan ke Rinjani

Pada saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, dengan ditemani cahaya senter, kami pun mulai menyusuri jalanan tanah berpasir. Tampak beberapa cahaya di depan dan di belakang kami. Sesekali terdengar suara-suara percakapan dalam bahasa Jepang dan Inggris di antara para rombongan pendaki.

Jalur Pendakian Gunung Fuji di Yoshida Trail

Pada awal-awal pendakian kondisi jalur cenderung datar, namun setelah melewati 6th Station, jalur sudah mulai menanjak dan tanahnya pun sudah mulai lebih berpasir khas gunung berapi. Setiap station atau pos pendakian dilengkapi dengan tempat bermalam, penjual makanan dan minuman, serta toilet. 6th Station ini dicapai sekitar 30 menit dari 5th Station.

Setelah melewati 6th Station ini, jalanan yang tadinya agak lebar menjadi lebih sempit. Jika kita melihat ke arah puncak akan tampak banyak sekali kerlap-kerlip lampu senter atau head lamp dari para pendaki dengan bentuk melingkar sesuai dengan jalur pendakian. Hal ini mengingatkan saya akan kampung halaman di Banda Aceh, di mana pada saat merayakan Hari Raya Idul Fitri biasanya para pelajar melakukan konvoi pada malam hari dengan membawa obor.

Mulai dari titik di 6th Station ini sampai selanjutnya pemandangan akan kurang lebih sama. Kesabaran para pendaki mulai diuji. Karena serasa begitu jauh dari titik kita berdiri untuk menuju puncak dan bahkan kerlap-kerlip yang kita perkirakan puncak ternyata bukanlah puncak sebenarnya, tapi sebenarnya itu adalah pos atau station selanjutnya.

Pada saat kami beristirahat sejenak di sebuah tikungan setelah 7th Station, kami bertemu dengan dua orang Jepang yang juga sedang beristirahat. Kebetulan Udin yang sudah tinggal sekitar 2,5 tahun di Jepang sudah sangat familiar dengan bahasa dan kebudayaan Jepang, maka terjadilah percakapan singkat dengan mereka. Begitu juga dengan salah satu diantaranya sangat fasih berbahasa Inggris, bercakap-cakap dengan saya. Kami melanjutkan perjalanan bersama mereka sampai 8th Station. Selanjutnya kami berpisah karena mereka memutuskan untuk beristirahat lebih lama dan kami memilih langsung melanjutkan pendakian.

Salah Satu Pos Peristirahatan

Mulai dari 8th Station ini, jalur pendakian sudah sangat sempit dan terjal. Dengan jumlah pendaki yang cukup banyak, maka antrian pun tak dapat dihindari. Hal ini tentu saja sangat menguras energi dan kesabaran. Tidak sedikit para pendaki yang kelelahan dan harus beristirahat atau bermalam di 8th Station ini mengingat stamina yang sangat terkuras dan udara yang semakin tipis.

Tiba di Puncak Tertinggi Jepang

Sekitar jam 4 pagi tanggal 16 Agustus 2013 akhirnya kami tiba di puncak tertinggi Jepang, yaitu Puncak Fujisan atau Gunung Fuji. Berbeda dengan gunung lainnya di Jepang, Gunung Fuji yang pada Juni 2013 lalu resmi disahkan oleh UNESCO sebagai world heritage memiliki tempat yang spesial di hati orang Jepang. Jika gunung yang lainya seperti Gunung Zhao disebut dengan Zhao Yama (yama = gunung), maka Gunung Fuji disebut sebagai Fuji San. San yang berarti tuan ini biasanya digunakan di belakang nama seseorang, sama seperti Mr atau Mrs dalam bahasa Inggris. Hal ini tentu menunjukkan tingginya posisi Gunung Fuji di antara gunung-gunung yang lain di Jepang.

Di Puncak Gunung Fuji

Suasana di puncak cukup ramai. Kondisi udaranya pun cukup dingin. Usai melaksanakan sholat subuh, kami menghangatkan diri dengan minuman hangat yang dijual di warung yang terdapat di puncak. Selain minuman hangat, di kawasan puncak ini juga tersedia mie udon dan shoba, makanan khas Jepang. Juga terdapat kantor resmi yang mengeluarkan sertifikat yang menyatakan bahwa kita sudah berhasil mencapai Puncak Fuji.

Baca juga:   Gunung Gede, Sebuah Kisah Keramahan Ramadhan

Pandangan dari puncak sempat tertutup kabut, sehingga kami tidak dapat melihat cahaya pertama matahari terbit. Baru setelah setengah jam kemudian kabut mulai hilang. Meskipun posisi matahari sudah agak tinggi, namun pemandangan yang terlihat masih sangat indah. Terlebih lagi kita dapat melihat danau yang besar tepat di bawah posisi matahari.

Kawasan Puncak Fujisan cukup luas, dan semakin lama terasa semakin banyak pendaki yang telah mencapai puncak. Setelah menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di puncak ini, kami memutuskan untuk turun.

Kembali Turun

Kondisi jalur turun agak sedikit berbeda, kalau pada saat kita mendaki masih banyak bebatuan, pada jalur turun lebih berpasir dan juga jalurnya pun lebih lebar. Sehingga banyak para pemuda yang berlarian turun karena medannya sangat mendukung, namun umumnya para pendaki lebih memilih cara lebih santai.

Perjalanan Turun

Semakin lama cuaca semakin panas, karena bisa dikatakan tidak ada satu pohon pun yang tumbuh di sekitar jalur pendakian Fuji ini. Ditambah lagi dengan debu yang lumayan banyak, membuat perjalanan tetap tidak ringan. Kami pun berusaha sesegera mungkin untuk dapat menuruni Fujisan ini. Dibutuhkan waktu sekitar 3 – 4 jam dari puncak 10th Station ke 5th Station.

Di tengah perjalanan turun terdapat para petugas yang mengarahkan jalur turun kita. Terdapat dua jalur yaitu jalur Yoshida Trail atau Subashiri Trail. Karena kami berangkat dari Yoshida, maka kami diharuskan untuk memilih jalur Yoshida untuk turun.

Sekitar jam 10 pagi, kami tiba di Yoshida 5th Station. Dari 6th Station menuju 5th Station terdapat penyewaan kuda. Jadi bagi para pendaki yang ingin menikmati menunggang kuda dan menghemat tenaga, dapat menggunakan fasilitas ini.

Di 5th Station keadaannya cukup ramai. Selain dipenuhi oleh para pendaki yang baru turun dari puncak, juga dipenuhi oleh beberapa kelompok pendaki yang baru akan memulai pendakian. Kalau kami ingin melihat sunrise, maka para pendaki yang ingin berangkat ini adalah yang ingin melihat sunset. Namun umumnya para pendaki lebih memilih melakukan pendakian pada malam hari mengingat pada siang hari cuaca cukup panas dan dibutuhkan stamina yang benar-benar prima.

Setelah beristirahat sekitar 1 jam di Yoshida 5th Station, kami kembali meluncur ke Terminal Kawaguchi dan menyantap makan siang di Restoran Fujiyama. Tepat pukul satu siang kami sudah berada di dalam bus yang menuju ke Shinjuku di Tokyo.

Kami mungkin tak akan mendaki Gunung Fuji ini lagi. Ada pepatah Jepang yang mengatakan “A wise man climbs Fuji once, but only a fool does it twice”, atau dengan kata lain “Orang bijak mendaki Gunung Fuji satu kali, hanya orang bodoh yang melakukannya dua kali”. Tapi yang pasti, mendaki Fuji bagi saya merupakan suatu pengalaman yang luar biasa dan tak akan pernah terlupakan. []

Tulisan dan Foto oleh Yuli Martunis