Penggalan Kenangan di Bulan Ramadhan


Saya pernah melakukan perjalanan di bulan ramadan beberapa tahun lalu. Beberapa penggalan dari kisah saya itu masih terpatri hingga kini dalam memori. Berikut ceritanya.

Penggalan Kenangan di Bulan Ramadhan

Bima, Pengalaman Puasa Pertama

Tadinya tujuan saya bukanlah ke Bima, melainkan lebih ke timur lagi. Ingin merasakan suasana ibadah minggu di Gereja Katedral Larantuka, mendengarkan lonceng gereja, berbaur dengan warga menuju ibadah minggu, dan mendengarkan koor. Sesuatu yang sudah sangat saya rindukan. Suasananya, lingkungannya, dan kehebohannya.

Tapi karena suatu “insiden”, kesalahan perhitungan yang baru saya sadari ketika sampai di Bima, niat tersebut harus diurungkan. Sudah terlanjur sampai di Bima, seolah tak ingin rugi, saya putuskan untuk menelusuri kota Bima saja. Kebetulan di sana sudah ada Angger, anggota Astacala yang asli Bima.

“Ngger, di mana? Jemput kita,” demikian pesan singkat buat calon tuan rumah.

Yang dihubungi kaget bukan main. Dikiranya bercanda. Maklum, jarak Bandung – Bima bukanlah jarak yang biasa untuk ditempuh buat liburan. Singkat kata singkat cerita, tibalah kami di rumah Angger.

Waktu itu bulan puasa. Terpikir sejenak untuk ikut merasakan suasananya. Ikut merasakan haus dan laparnya. Saya sampaikan  itu ke Angger, dengan sopan tentunya. Saya ceritakan alasannya. Dia mengiyakan. Meskipun esoknya tetap saja saya disediakan makanan sendiri. Tak apa, saya maklum.

Ternyata puasa itu tidak gampang. Apalagi buat mereka yang susah bangun pagi. Ngantuknya bukan main. Itu juga kalau bisa bangun pagi-pagi sekali, sebelum subuh. Kalau sudah lewat waktunya sahur, pilihannya hanya ada dua: menahan haus dan lapar dengan jam yang lebih panjang, atau batal puasa. Berat memang. Sudah resiko.

Rutinitas biasanya : setelah sahur, melanjutkan tidur. Bangun lagi  setelah hari agak siang. Dari siang sampai sore jalan-jalan keliling kota Bima dan sekitarnya. Sorenya, sekitar jam tiga, mulai menunggu saat berbuka puasa.  Nah, ini dia momen kesukaan saya. Tanpa sadar saya menikmati momen ini. Biasanya, setiap sore, kami duduk mengobrol dengan keluarga di sana. Bercerita tentang apa saja. Saya paling ingat tentang cerita Bapak tentang masa kecil Si Angger, ketika menanam pohon di pusat Kota Bima. Sayang, si anak lupa dengan pohonnya.

Dari cerita yang saya dapatkan, dan telah saya alami sendiri, bulan puasa dimanfaatkan sebagai momen untuk mempererat keharmonisan dalam keluarga. Bercengkerama dengan keluarga sambil menunggu saat berbuka. Bila telah tiba waktunya, berbuka dengan yang manis. Kemudian ditutup dengan makan masakan ibu. Luar biasa.  Wajar selalu ditunggu kehadirannya.

Selama di Bima, ada beberapa tempat yang berhasil saya kunjungi. Seperti kampung tradisional Suku Sambori, panjat tebing di Tebing Wadu Masa, melihat kawasan karst di dalam kota Bima, dan tentunya keliling kota Bima yang eksotis.

Kenangan dari Tebing Sekotong

Setelah beberapa hari di Bima, saya melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Mataram, di Pulau Lombok. Sendirian. Sementara Oca, teman seperjalanan saya ke Bima, melanjutkan perjalanan lebih jauh ke timur lagi, Pulau Komodo. Dia beruntung. Tapi saya yakin, saya juga beruntung. Kami dengan jalannya masing-masing.

Setibanya di Mataram, seolah tak ingin sekedar lewat saja, saya mampir di Tebing Sekotong, Lombok Barat. Bersama dengan seorang kawan bernama Boing, seorang anggota dari salah satu mahasiswa pecinta alam di Mataram, kami berdua melakukan pemanjatan di tebing dekat pantai itu.

Dengan menaiki sepeda motor, kami berangkat sekitar pukul 12.00 WITA dari Mataram. Pemanjatan dimulai baru dimulai sekitar pukul 14.00 WITA, berakhir pukul 16.00 WITA. Sekitar pukul 17. 00 WITA kami sudah turun ke kampung lagi. Kata Boing, “Sebelum buka puasa tiba, semua kegiatan harus sudah selesai, bahkan sudah harus di kampung. Tidak boleh telat”. Demikian adat atau kebiasaan di sana untuk menghormati bulan puasa.

Baca juga:   Gunung Gede, Sebuah Kisah Keramahan Ramadhan

Memang hanya sekitar dua jam waktu efektif yang bisa kami pergunakan untuk memanjat. Tapi saya cukup puas dengan pengalaman yang didapatkan. Dibantu arahan dari teman yang ternyata sudah “jago”, saya bisa menuntaskan 7 jalur pemanjatan, dengan jumlah runner rata-rata 4-5 runner per jalur. Bahkan ada satu jalur yang sampai 12 runner. Dengan tingkat kesulitan medium, antara grade 5.7 sampai dengan  grade 5.12. Intinya, cukuplah untuk membuat badan babak belur dalam waktu dua jam. Semua cairan dalam tubuh terasa terkuras menjadi keringat.

Seperti yang tadi sudah disebutkan, sekitar pukul 17.00 WITA kami sudah turun kampung. Tak salah istilah “turun” digunakan, karena lokasi tebing berada di atas bukit. Butuh waktu setengah jam hanya untuk turun dari lokasi panjat ke kampung.

Kami duduk menunggu di bawah sebatang pohon jambu air yang sedang berbuah, di depan sebuah warung yang menjual es campur. Dua gelas es campur sudah dipesan, siap menunggu adzan maghrib. Sebatang rokok juga sudah terselip disela jari Boing, siap untuk meracuni paru-parunya. Saya sendiri diam menahan haus dan lapar, sama sepertinya. Sangat sungkan untuk melanggar puasa.

Kurang dari lima menit sebelum saatnya berbuka, seorang bapak memanggil kami. Berbicara dengan Boing dalam bahasa Sasak yang tidak saya mengerti sama sekali. Ternyata bapak ini sudah kenal dekat dengan Boing dan mapalanya. Kemudian saya tahu kalau mereka sudah terbiasa mampir, sekedar menitipkan barang di rumah bapak ini kalau mau memanjat di tebing ini.

Kami diajak ke rumahnya. Saya manut saja, ikut teman saya ini. Di rumahnya sudah tersedia beraneka macam makanan, dari lauk, sayuran, sampai buah-buahan telah terhidang di sana. Semuanya terlihat lezat. Kami duduk sebentar. Begitu adzan, kami dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan rumah dengan ramahnya dan tak hentinya selalu menawarkan ini dan itu. Luar biasa.

Selesai menyantap makanan, perut kenyang, hati tenang, obrolan pun mulai mengalir dengan kencang. Dari pertanyaan-bertanyaan bermakna perkenalan, tentang kami kuliah di mana, tingkat berapa, asal dari mana dan ada kegiatan apa di sini, sampai kemudian si bapak tersebut mulai bertanya bagaimana caranya masuk perguruan tinggi. Bapak ini ingin menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi, seperti kami. Begitu antusiasnya beliau ingin menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, tapi coba tebak anaknya paling tua sudah kelas berapa? Kelas dua SMP. Ya, kelas dua SMP. Masih ada lima tahun lagi menuju perguruan tinggi.

Dengan sabar, Boing, yang ternyata sudah memahami situasinya, menjelaskan ke beliau : ”Pak, anak bapak masih kelas dua SMP. Nanti kalau dia sudah lulus SMP, sekitar dua tahun lagi, dia harus masuk SMA dulu. Nanti bisa memilih, mau masuk SMA atau SMK. Tapi biasanya yang masuk  perguruan tinggi saya itu lulusan SMA. Nah, di SMA nanti, si adik ini, anak Bapak, masih perlu sekolah tiga tahun lagi, sampai lulus. Kalau sudah lulus baru bisa mendaftar untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi, misalnya masuk ke kampus saya. Jadi mahasiswa seperti saya dan teman saya ini, Pak.”

“Oh, begitu ya Dik. Wah, masih lama ya. Lima tahun lagi paling cepat?” jawaban si bapak dengan kesederhanaannya. Boing, yang sudah benar-benar memahami keadaan dan memakluminya, kembali melanjutkan penjelasannya dengan sabar.

Dari obrolan selanjutnya, kami akhirnya tahu, kalau beliau ini tidak sempat menyelesaikan sekolah dasarnya. Bahkan belum sampai tiga tahun belajar di sekolah dasar,  karena keterbatasan ekonomi, beliau berhenti bersekolah. Kalah dengan keadaan. Ada tugas mulia menanti : menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Beliau juga sempat merantau ke Bali, bahkan sampai ke Papua. Namun akhirnya dia kembali ke kampung halamannya dengan tangan kosong juga. Kemudian ia bekerja pada tambang emas kecil-kecilan milik warga di sana. Sampai akhirnya kami bertemu.

Baca juga:   Citarasa Lombok (Belajar Selam)

Beliau bercerita, dari pahitnya perjalanan hidup yang beliau jalani, dalam hati ia berjanji akan menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya. Agar kelak terlepas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Aku salut dengan perjuangan dan cita-cita beliau. Meskipun tidak tahu proses pendidikan yang formal dan kondisi ekonomi keluarganya yang masih kekurangan, masih punya cita-cita semulia itu : menyekolahkan anaknya, sampai sarjana.

Menjelang akhir obrolan, si ibu, istri dari bapak tadi, menawarkan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Awalnya kami menolak, selain karena sudah mendapat jamuan yang banyak, di Mataram juga sebenarnya sudah banyak makanan oleh-oleh dari teman-teman mahasiswa yang pulang lebaran. Tapi karena si ibu begitu bersemangat, kami pun mengalah. Tas ransel yang kami bawa, yang tadinya hanya berisi alat panjat, kini penuh dengan oleh-oleh kue lebaran dari ibu itu.

Dalam hati saya terharu. Dari tadi sebenarnya ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Tapi tertahan, takut dianggap kurang ajar atau kurang sopan. Tapi sikap bapak, ibu, dan anak-anaknya membuat pertanyaan itu harus keluar. Saya putar otak bagaimana cara untuk menanyakannya, tanpa mengurangi rasa hormat apalagi menyinggung perasaan mereka.

“Bu, mengapa kalian begitu baik kepada kami?” begitulah inti pertanyaan saya. Saya lupa persisnya bagaimana, tapi itulah intinya. Kami hanya tamu biasa, mereka juga bukan orang berada. Saya begitu penasaran.

“Karena ini bulan suci Ramadhan. Saatnya berbagi.” Saya ingat persis kalimat ini.

Kuliah Umum Penanggalan Jawa di Ranukumbolo

Selesai dari Tebing Sekotong, Lombok Barat, saya melanjutkan perjalanan ke arah pulang. Saya mampir dulu ke Gunung Semeru. Waktu itu sudah menjelang hari raya lebaran. Kota Malang pasti sepi, kata seorang teman asli warga Malang biasa dipanggil Billy. Saya yakin Gunung Semeru pun sangat sepi, lebih nikmat.

Akhirnya, dengan diantar naik sepeda motor sampai Ranupane, saya sampai juga di Pos Perizinan. Tadinya petugas menolak, katanya tidak diizinkan naik gunung sendiri. Saya mencoba menawar, perlatan lengkap yang saya bawa ditambah dengan logistik yang lengkap menjadi alasan kuat. Saya serahkan daftarnya. Tetap saja tak diizinkan.

Billy yang ikut mengantar angkat bicara, “Pak, teman saya ini dari Bandung, mapala juga, dia punya peta dan juga GPS. Peralatan dan logistiknya sudah lengkap, termasuk kotak P3K.”

Petugas itu melirik ke arah saya : ”Sampean paham cara menggunakan peta dan GPS ini?” tanyanya dengan logat Jawa Timur yang kentara.

“Iya, Pak”, saya menjawab mantap. Masalah pun selesai. Saya dapat izin. Ditambah saran dari petugas agar saya tidak jauh dari rombongan turis dari Perancis dan Belanda yang juga kebetulan baru berangkat.

Begitu administrasi selesai, saya melanjutkan perjalanan. Waktu itu sudah pukul 15.00 WIB. Saya harus cepat, agar tidak terlalu malam tiba di Ranu Kumbolo.

Malamnya saya mendirikan tenda dan menginap di tepi Ranu Kumbolo. Esoknya, hari pertama, perjalanan saya lanjutkan ke Kalimati. Hari kedua, pukul 03.00 WIB, perjalanan menuju puncak. Pukul 10.00 WIB, sudah kembali ke Kalimati lagi. Pukul 12.00 WIB turun lagi ke Ranu Kumbolo. Saya ceritakan singkat saja, karena bukan itu yang ingin kusampaikan kali ini.

Seperti yang sudah saya rencanakan, di danau ini saya akan bersantai selama 2 hari 2 malam. Saya sengaja memilih tempat agak jauh dari pos, mencari suasana yang tenang. Waktu itu Ranu Kumbolo sudah mulai ramai pendaki.

Baca juga:   Terima Kasih Hardtop Tua

Di tempat yang saya tuju, ternyata sudah ada dua orang pemancing lokal, dari sebuah kampung di dekat Ranupane. Ah, tak apalah. Nanti mereka bisa menjadi teman berbagi cerita. Lagipula, besok mereka sudah akan pulang.

Saya hanya bertegur sapa dengan mereka sebentar saja. Sekedar perkenalan, tanda keramahan. Lagipula Saya tak ingin mengganggu kesibukan mereka memancing dengan cara yang aneh, tidak seperti yang biasa saya lihat di televisi.

Malamnya, setelah makan malam, saya mampir ke “tenda” mereka yang terbuat dari selembar seng tua. Saya berbasa-basi hendak ikut menghangatkan diri di api unggun mereka. Setelah dipersilahkan, obrolan pun mulai mengalir.

Mereka adalah dua orang yang masih punya hubungan saudara dekat, paman dan keponakan. Mereka biasa memancing ke sini sekali sebulan. Mereka juga menceritakan cara memancingnya yang aneh : mereka menabur banyak pancing. Ada lebih dari 30 pancing yang mereka bawa, diikat pada sepotong kayu yang ditancapkan di pinggir danau. Kalau siang hari, mereka akan sibuk mondar-mandir memeriksa pancingnya, seperti yang sudah saya lihat tadi siang. Kalau malam hari, mungkin karena ikan bukanlah hewan nocturnal sejati, mereka hanya memeriksa pancingnya sekali setengah jam saja.

Begitulah selanjutnya, malam semakin larut dan obrolan semakin panjang saja. Sesekali terhenti karena mereka harus memeriksa pancing mereka, kemudian lanjut lagi. Saya tawarkan sebungkus kopi kemasan. Dan mereka menawarkan air panasnya. Cukup unik cara mereka memanaskan air : dengan kaleng sarden bekas, diisi air, ditaruh di atas api, hanya sekitar 5 menit, airnya sudah mendidih. Kopi pun diseduh.

Kemudian terjadilah obrolan yang menarik : tentang penanggalan Jawa. Diawali dengan pertanyaan sederhana yang tak disengaja.

“Tanggal berapa ya sekarang?” saya bertanya. Tiba-tiba menjadi bodoh, lupa hari. Padahal baru dua malam di gunung.

Si bapak yang paman, yang lebih tua, melihat ke arah langit, melihat bulan.

“Tanggal 30 kalau di Kalender Jawa,” katanya kemudian dengan mantap.

“Oh, iya. Malam ini takbiran ya?” sahut si paman yang keponakan, yang lebih muda, tanpa menoleh.

“Kok tahu Pak?” saya bertanya. Penasaran, bagaimana melihat tanggal dari bulan.

“Lihat saja posisinya,” jawab si bapak yang paman, yang lebih tua.

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah “kuliah umum” penanggalan Jawa dan primbonnya dengan gratis. Diawali dengan penjelasan tentang siklus perputaran bulan, apa yang disebut dengan bulan mati dan bulan purnama. Kemudian bagaimana menentukan tanggal dengan melihat posisi bulan di langit pada jam tertentu. Bagaimana cara melihat hilal. Tanggal satu bulan berada di posisi berapa, demikian seterusnya sampai tanggal 30. Dijelaskan juga tentang ke-12 nama bulan dalam kalender Jawa, mulai dari bulan Sura sampai Dulkahijjah. Ditambah dengan penjelasan Panca Wara sebagai bonusnya.

Kemudian beliau juga bercerita tentang weton dan hal-hal lainnya. Sayang saya sudah tak dapat mengerti sampai mendalam. Tapi dapat kusimpulkan, pengetahuan si bapak ini tentang penanggalan dan primbonnya mengagumkan. Dan kuliah dini hari itu diakhiri dengan penjelasan tentang pengaruh penanggalan tersebut bagi kegiatan warga, dan alasannya. Tapi sayang, “materi kuliah” itu sudah lekang dari ingatan.

Saya terpesona. Tak menyangka akan mendapat pengetahuan baru dari dua orang pemancing sederhana ini. Sebuah pengalaman berdiskusi yang menarik. Tak selamanya perjalanan itu berkutat tentang keindahan, tantangan, dan pengalaman pendakian. Ada saja hal-hal yang menarik lainnya. Semakin menarik saja perjalanan ini.

Tulisan oleh Bolenk Astacala