Dahsyatnya Ayam Taliwang


Aku tiba di pulau ini sekitar seminggu sebelum perayaan kemerdekaan 17 Agustus. Persisnya tanggal berapa, aku sudah lupa. Saat itu bulan puasa.

Dapat kabar dari Bandung, Oca mau ikut naik Gunung Rinjani. Dari kabar itu juga aku tahu Oca akan memulai perjalanan ke Timurnya. Meskipun dalam pesannya Oca belum yakin akan naik Gunung Rinjani atau tidak.

”Gue jangan ditunggu, Lenk. Gue belum pasti jadi naik apa kagak,” jawabnya ketika kutanya kapan dia akan tiba di Mataram.

”Barengan aja, Ca. Peralatan ada di gue semua soalnya. Lagipula kalau berdua kita bisa lebih hemat logistiknya”, jawabku beralasan.

Ah, bocah itu memang aneh. Tapi harus kuakui dia punya karakter. Aku suka itu.

Akhirnya dia tiba juga di Mataram, satu hari sebelum keberangkatan ke Gunung Rinjani. Semua sudah disiapkan : logistik dan peralatan, tinggal packing. Hanya kurang spritus dan tissue gulung saja.

Sorenya, sekitar sehabis maghrib, kami pergi ke supermarket di Mataram untuk membeli dua barang yang masih kurang tersebut. Tak perlu waktu lama, belanja pun selesai. Karena memang tak banyak yang perlu dibeli lagi. Berikutnya, setelah selesai packing, kami pun merencanakan makan malam. Dan cerita konyol itu dimulai.

“Yang agak enakan dan unik aja, Ca. Buat kenang-kenangan”, kataku sambil senyam-senyum. Duit pas-pasan mau makan enak?

“Ayam taliwang aja yuk”, ajak Oca.

Sepakat, menu malam ini : ayam taliwang.

Aku, Oca, dan seorang lagi anak mapala setempat pergi mencari makan malam. Ternyata mencari warung makan yang menjual ayam taliwang di Mataram tidak semudah seperti mencari warung makan Sunda di Bandung. Perkiraanku selama ini salah. Ayam taliwang bukanlah se-“merakyat” masakan Sunda.

Akhirnya kami tiba di salah satu warung makan yang menyediakan ayam taliwang. Tiga porsi ayam taliwang berikut sayur kangkung plus bumbu plecingnya segera dipesan.

Suasana di warung itu sepi, sepertinya ini bukan makanan favorit di sini. Atau mungkin warung makan ini yang memang bukan  favorit. Entahlah.

Baca juga:   Terima Kasih Hardtop Tua

Tak berapa lama, makanan pesanan kami pun datang. Tanpa basa-basi lagi, kami bertiga langsung menyantapnya dengan lahap.

“Hati-hati, Lenk. Nanti sakit perut. Besok kita berangkat ke Rinjani lho,” kata Oca dengan senyum nyengir khasnya, seolah-olah sedang membayangkan sesuatu yang lucu , ketika melihatku minta tambah sayur plecingnya untuk ketiga kali.

“Ah, bodo amat, Ca. Nikmatin aja dulu yang ada. Masalah besok ya perkara besok aja,” kataku sok bijak. Si Oca tambah nyengir, sambil menghisap rokok garpitnya.

Pesan : antara sok bijak dan tolol itu perbedaannya sangat tipis. Bahkan terlalu tipis untuk dibedakan.

Besoknya, perjalanan ke G. Rinjani akhirnya dimulai. Sebenarnya perjalanan sudah dimulai sejak pagi dari kampus Universitas Mataram. Tapi kendaraan yang kami tumpangi baru berangkat siang hari.

Satu jam pertama, masih bersemangat. Setelah dua jam, mulai tidak tenang. Setelah tiga jam perjalanan dari Mataram, ”Ca, masih jauh nggak?” tanyaku ke Oca, ada sesuatu yang sudah tak tertahankan.

“Wah, masih jauh, Lenk. Ini baru setengah perjalanan,” jawab si orang yang ditanya.

Setengah perjalanan? Alamak. Matilah awak.

“Waduh, gue kayaknya turun di sini aja, Ca. Kita pisah dulu, nanti ketemu lagi di Pasar X. Nanti sms aja,” kataku menahan tegang, tapi berusaha menunjukkan eksresi tak berdosa.

“Kenapa lu? Sakit perut ya? Hahahaha… Gue bilang juga apa tadi malam.” Ah, bijaksana sekali Dik Oca ini.

Singkat kata singkat cerita, aku pun turun saat itu juga. Di tempat antah-berantah. Tak ada waktu buat bernavigasi. Dan akup un tak butuh navigasi saat ini, yang dibutuhkan cuma satu. Sesuatu itu ada di sekitar sini.

Setelah melihat ke sekitar, dan tak ada yang meyakinkan, kuputuskan untuk sedikit berjalan mengikuti arah jalan raya. Selain untuk mencari yang lebih meyakinkan, juga untuk sedikit membantu menenangkan. Akhirnya aku tiba di depan sebuah gedung sederhana yang cukup rapi. Di halamannya ada tiang bendera dengan Merah Putih berkibar di atasnya. Sebenarnya, di depan pagar ada plang yang bertuliskan sesuatu. Tapi itu pun aku tak punya waktu untuk memeriksa tulisannya. Kesimpulan singkat di benakku bahwa ini adalah gedung milik negara sudah cukup untuk menjawab segalanya. Setidaknya untuk saat-saat darurat seperti ini. Karena setahuku, fasilitas negara ada untuk kebutuhan hajat hidup orang banyak. Iya bukan?

Baca juga:   Perjalanan Si Bolenk (Episode 2 : Gunung Tujuh)

Aku mengetuk pintu depannya, tak ada sambutan. Karena terdesak, aku memberanikan diri masuk. Tidak ada orang diruang utamanya, Agak di sudut ruangan, ada ruangan kecil seperti kamar yang dijadikan ruang kerja, sepertinya ada orang di sana. Aku mengetuk pintunya.

“Ya, ada apa Mas?” jawab orang yang  ada di ruangan itu.

“Maaf Pak. Mau nyari toilet. Di mana ya pak?” jawabku berusaha sopan, diawali kata maaf.

“Oh, sebelah sana Mas,” jawab orang yang ternyata berseragam itu. Sigap memahami situasi.

Setelah mengucap terima kasih, aku langsung menuju ke tempat yang ditunjukkan.

Singkat kata singkat cerita lagi, semua berakhir bahagia. Happy ending, istilah dalam film-film. Tak lupa mengucap terima kasih dan pamit ke orang berseragam tadi

Aku keluar dari gedung itu. Melewati pagar halaman, aku mengecek tulisan di plang yang tadi tak sempat kubaca. Ternyata itu adalah sebuah kantor desa. Sebagai kenang-kenangan, aku ambil foto halamannya dan menandai lokasinya di GPS yang kebetulan kubawa.

Sembari menunggu kendaraan berikutnya buat menyusul Oca, aku berdiri sambil senyam-senyum sendiri. Mensyukuri nikmatnya kelegaan ini. Setelahnya aku tertawa menertawakan insiden konyol ini. Harusnya bisa dihindari, kalau saja aku bisa mengontrol diri waktu makan ayam taliwang tadi malam. Ah… Ayam taliwang memang dahsyat Bro…!!! []

Tulisan oleh Bolenk Astacala