Mendaki Semeru, dan Catatan Kecil Untuk Mengingatnya

Mendaki Semeru, dan Catatan Kecil Untuk Mengingatnya

It’s not the mountain we conquered, but ourself.” Sir Edmund Hillary

Dan akhirnya, setelah pada percobaan pertama saya mendaki gunung ini gagal karena jalur pendakian yang masih ditutup, datang juga kesempatan saya untuk bisa mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Pendakian di Gunung Semeru yang ditutup akhirnya secara resmi dibuka oleh pihak taman nasional pada 25 April 2013. Kami yang sejak lama telah merencanakan perjalanan ke Semeru akhirnya bisa bernapas lega. Penyusunan rencana pendakian serta akomodasi pun telah jauh hari kami persiapkan. Rencananya kami bertujuh akan mengadakan pendakian pada 8-12 Mei 2013. Ada rasa penasaran yang menguak dalam dada, mengingat pada perjalanan saya beberapa bulan silam, saya gagal melakukan pendakian dan terhenti sampai Pos Pendakian Ranupane saja.

Gunung Semeru

Persiapan pendakian kami lakukan dengan terlebih dahulu berbelanja logistik dan packing, dua hari sebelum keberangkatan. Pembelian logistik mengalami keterlambatan karena Dwita, salah satu anggota tim kami mengalami kecelakaan. Dia pun mengalami luka di kepala yang cukup parah sehingga harus dirawat dan tidak bisa ikut dalam perjalanan kali ini. Betapa terkejut rasanya mendengar berita tersebut, namun kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ini, tanpa Dwita yang sedang sakit.

Bismillah and the show must go on!

***

Setelah lengkap berbelanja packing pun dimulai. Packing dilakukan terpisah karena tim terbagi dalam dua fase keberangkatan. Monop, Memet, Ata, dan Nessa berangkat Rabu siang menggunakan kereta Matarmaja jurusan Malang. Sedangkan saya dan Eka akan menyusul pada malam harinya mengunakan pesawat.

Sekitar pukul enam sore saya berangkat ke bandara menggunakan bus Damri trayek Blok M – Bandara Soetta. Terbilang satu setengah jam perjalanan termakan mengingat lalu lintas Jakarta yang memang padat sore hari itu. Di bandara saya pun menunggu kedatangan Eka yang dijadwalkan akan mendarat di Jakarta pada pukul 19.30 WIB. Pesawatnya telah berangkat dari Banjarmasin menuju Jakarta pada jam 18.30 WITA. Setelah menunggu setengah jam lebih akhirnya saya pun bertemu dengan Eka. Setelah kami check in dan makan malam kami pun berangkat menuju Surabaya pukul 22.10. Pesawat kami mengalami sedikit keterlambatan dari jam keberangkatan yang seharusnya pukul 21.40. Sekitar pukul setengah 12 kami pun tiba di Surabaya. Kami memutuskan untuk bermalam di bandara karena memang jadwal pertemuan dengan tim anggota yang lain di Tumpang baru esok jam 09.00 pagi. Lumayan untuk sekedar beristirahat dan meluruskan badan pada deretan kursi tunggu bandara Juanda.

Tak terasa adzan subuh telah terdengar, bergegas lah saya untuk shalat dan kemudian bersiap melanjutkan perjalanan kembali. Pada awalnya, saya berencana untuk menggunakan bus Damri bandara menuju Terminal Bungurasih, tapi karena ternyata bus Damri baru ada sekitar pukul setengah 7, saya pun memutuskan untuk menggunakan taksi bandara. Lumayan dapat 40ribu untuk biaya antar dari bandara hingga Terminal Bungurasih.

Di Terminal Bungurasih, suasana sudah cukup ramai, bus Surabaya – Malang tampaknya menjadi moda utama bagi warga Surabaya untuk berperjalanan ke Kota Malang. Tepat pukul 6 bus kami pun melaju meninggalkan terminal. Sepanjang perjalanan saya melanjutkan untuk istirahat, semalam di bandara kurang nampol untuk terlalu beristirahat.

Saya terbangun ketika bus sudah memasuki kota Malang, dan tak seberapa lama kemudian, sekitar pukul 07.30 sampai juga kami di Terminal Arjosari. Berhubung rombongan teman yang lain juga telah sampai di Malang dan dalam perjalanan menuju ke Tumpang, usai sarapan kami berdua pun segera bergegas mencari angkot yang akan membawa kami bergabung dengan mereka di Tumpang.

Dan tepat jam 9 kami pun bertemu di Tumpang. Di sana suasana sudah sangat ramai oleh para pendaki. Memang waktu pendakian kali ini bertepatan dengan libur panjang, sehingga tidaklah mengherankan banyak orang yang melakukan pendakian ke Semeru. Di sini pula kami sempat kesulitan mencari transportasi untuk mengantar kami ke Ranupane. Rasio jeep dan truk tidak berimbang dengan jumlah pendaki yang membludak.

Jeep

Beruntung, setelah saya dan Memet berkeliling mencari transportasi, akhirnya kami mendapatkan jeep untuk mengantar kami ke Ranupane. Kami mendapat jeep dari bapak-bapak pengelola jeep setempat, bapak Herman dan bapak Slank. Setelah deal harga carter sebesar 450ribu, kami berenam pun berangkat ke Ranupane. Di Tumpang ini juga kami bertemu dengan dua orang pendaki dari Bogor, Adi dan Jalu namanya. Mereka pun ikut rombongan jeep kami, karena mereka juga sudah tidak mendapat truk ataupun jeep yang lain.

Pukul setengah 12 siang kami pun berangkat sekitar. Di tengah jalan kami sempat berganti jeep dikarenakan jeep yang kita naiki hendak turun kembali mangambil penumpang lain yang belum mendapatkan transportasi naik. Di atas jeep ini kami pun berdiri melewati medan yang boleh dibilang cukup terjal dan ekstrim. Seringkali kita saling berpegangan supaya tidak terjatuh dari jeep yang kita naiki.

Baca juga:   Atlet Astacala Tel-U Berhasil Capai Uhuru Peak Kilimanjaro Tanzania Afrika

***

Sekiranya pukul setengah 2 kami pun tiba di Ranupane. Ranupane merupakan desa terakhir sekaligus pintu masuk ke kawasan Gunung Semeru. Di desa ini terdapat pos perizinan dan beberapa posko bantuan, juga posko para porter. Sekedar informasi, untuk perizinan pendakian Gunung Semeru dilakukan sistem booking melalui website Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Melalui situs tersebut kita akan mendapatkan kode I pendakian untuk kita bawa dan perlihatkan di Pos Perizinan Ranupane. Sayangnya karena saat itu sistem booking online belum berjalan lancar, kami pun tetap harus mendaftar kembali di Pos Perizinan. Menurut informasi, siang itu jumlah pendaki yang telah berada di kawasan Gunung Semeru berjumlah 400-500 orang, belum ditambah dengan para pendaki yang sedang antri bersama kami mengurus perizinan, yang dalam perkiaraan saya jumlahnya bisa mencapai 200-300 orang. Bisa dibayangkan akan betapa ramai dan padatnya di atas sana.

Setelah mengantri dan menunggu cukup lama, akhirnya perizinan kami selesai dan mendapatkan Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) untuk melakukan pendakian. Menurut ROP yang kami susun, seharusnya kami memulai pendakian pada jam 2 siang, tetapi karena masalah perizinan yang baru kami dapatkan sore hari, ROP kami pun sedikit mundur. Akhirnya diputuskanlah untuk memulai pendakian besok jam 5 subuh. Guna menambah efektifitas pergerakan kita, malam pertama pun kita lewati dengan menumpang di rumah warga desa. Yahh lumayan kita mendapatkan satu rumah dengan 2 kamar didalamnya. Bisa dibilang sangat beruntung kita malam ini, bisa menambah waktu istirahat sekaligus mengisi tenaga untuk pendakian yang cukup panjang esok harinya.

Setelah makan malam yang cukup nikmat, kami pun segera beristirahat, esok harus bangun pagi pagi sekali untuk memulai pendakian. Di hari ini pun aku terkena penyakit flu yang lumayan berat dan bisa dibilang cukup menghambat pergerakanku selama perjalanan ini. Entah badan yang sudah berat atau umur yang bertambah, atau barangkali karena memang jarang berolahraga, pasti ada saja penyakit yang hinggap di badanku setiap berkegiatan.

***

Malam masih gelap sepenuhnya ketika tanpa terasa alarm-alarm kami telah berbunyi. Dari kejauhan lafadz adzan subuh pun telah berkumandang. Bergegas kami mengambil air wudhu dan segera menunaikan shalat. Setelah shalat subuh kami segera bersiap-siap dan merapikan kembali packingan yang masih tercecer.

Sekitar pukul 05.30 kami pun memulai pendakian. Udara dingin masih sangat terasa menempel di tubuh ketika saya memulai perjalanan. Tetapi setelah sekian banyak badan dipaksa bergerak, rasa dingin itu pun perlahan hilang. Pun dengan cahaya matahari yang mulai menerpa tubuh kami ini.

Jalur pendakian Semeru adalah sebagai berikut: Ranupane – Waturejeng – Ranukumbolo – Oro Oro Ombo – Cemoro Kandang – Kalimati – Arcopodo – Puncak Mahameru. Sedang target pendakian kita hari ini adalah mencapai Kalimati. Cukup jauh memang, tapi mau tak mau harus kami siasati begitu mengingat ROP yang telah mundur sehari, seharusnya malam tadi kami bermalam di Ranu Kumbolo.

Setelah sekitar 15 menit berjalan melewati jalur aspal kami pun sampai di gapura pintu masuk pendakian. Dari jalan aspal desa kita belok kanan atau ke arah barat untuk memasuki jalur pendakian yang sudah ditentukan. Dari pintu masuk menuju Pos 1 jalur pendakian cenderung landai dan mendatar serta jalan berupa paving block dengan kondisi mayoritas hutan dengan pohon – pohon yang relatif besar. Waktu tempuh untuk mencapai pos 1 sekitar 60 – 90 menit, tergantung pada kecepatan mendaki kita juga sebetulnya. Setelah Pos 1 medan pendakian masih landai dengan sedikit tanjakan – tanjakan yang mulai menguras tenaga.

Untuk sampai ke Pos 2 bisa ditempuh dengan 30-45 menit. Setelah jalan menurun dari Pos 2 kita akan tiba di Watu Rejeng. Watu Rejeng adalah sebuah tebing terjal yang terbentang sepanjang hutan di jalur pendakian kita menuju Ranu Kumbolo. Pendakian dilakukan dengan rute melipir di sepanjang tebing ini hingga sebelum tiba di Ranu Kumbolo. Mulai dari Watu Rejeng jalur pendakian mulai bervariasi dengan jalan – jalan menanjak walaupun masih didominasi dengan medan yang landai.

Jalan terus menanjak hingga tiada terasa sampai juga kami di Pos 3. Watu Rejeng – Pos 3 bisa ditempuh sekitar 30 – 45 menit. Berbeda dengan Pos 1 dan 2, Pos 3 ini hanya terbuat dari seng yang disusun menyerupai sebuah pondokan. Setelah Pos 3 kita akan bertemu dengan Tanjakan Bakri, tanjakan yang cukup terjal dan menguras banyak tenaga. Selepas Tanjakan Bakrie, jalur pendakian bisa dibilang landai mendatar dan melipir hingga ke kahirnya berujung di Ranu Kumbolo.

Baca juga:   Sepenggal Perjalanan ke Rinjani
Pos 1
Pos 2
Pos 3

Jam tanganku menunjukkan pukul 09.30 ketika kami tepat menginjakkan kaki di pinggir Ranu Kumbolo. Kita langsung bergegas mencari spot untuk sarapan, karena memang kami belum sempat sarapan sejak subuh tadi. Setelah sarapan kami melepas lelah sejenak sambil menikmati keindahan Ranu Kumbolo. Bisa dibilang Ranu Kumbolo ini mirip dengan danau Taman Hidup di Argopuro, tetapi Ranukumbolo lebih luas,memiliki suasana yang berbeda dan bukit bukit yang mengelilinginya juga memberikan pemandangan yang luar biasa. Pun juga termasyhur sebagai salah satu titik terindah di Gunung Semeru ini.

Keriuhan Ranu Kumbolo

Dari Ranu Kumbolo ini kita akan langsung disuguhkan oleh sebuah tanjakan. Tanjakan yang fenomenal dan sudah cukup dikenal bagi para pendaki Semeru, Tanjakan Cinta namanya. Konon mitosnya jika kita melewati tanjakan ini dengan memikirkan orang yang kita cintai dan tanpa menoleh ke belakang, kelak kemudian cinta kita akan abadi. But who knows? Myth is just a myth. You may trust it or not, but the one you must trust is just The God above.

Setelah melewati Tanjakan Cinta, kita akan langsung disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Oro Oro Ombo, sebuah dataran yang sangat luas dengan padang sabana, dihiasi pula oleh bunga lavender sehingga memberikan kesan pemandangan yang sangat elegan dan romantis. Cukup lama saya berhenti disini untuk mengabadikan momen momen indah yang tentu tidak ingin saya lewati begitu saja. Keindahan ini membuat perjalanan sungguh tak menjemukan barang sedetikpun hingga tak kami sadari akhirnya kami tiba di Cemoro Kandang. Di Cemoro Kandang kami kembali beristirahat sejenak, melepas dahaga oleh minuman sari kelapa yang telah kami bawa.

Tanjakan Cinta
Jalur Oro Oro Ombo

Usai plotting posisi terakhir kami di peta, kami pun melanjutkan perjalanan. Selepas Cemoro Kandang jalur pendakian bisa dibilang mulai agak berat. Variasi naik turun bukit dan punggungan Gunung Kepolo. Sekilas mengingatkan saya dengan Bukit Penyesalan di jalur pendakian Senaru Gunung Rinjani. Apalagi terik matahari yang bersinar terang membuat perjalanan di jalur ini begitu menguras tenaga.

Hingga beberapa jam kemudian, tiba juga kami di Jambangan. Jambangan sendiri merupakan sebuah dataran padang rumput yang cukup luas. Dari sini Puncak Mahameru sudah terlihat dengan sangat jelas. Pikirku masih sangat panjang dan tinggi puncak itu, sambil berucap doa semoga besok saya sudah berhasil berdiri di atas sana.

Selepas jambangan kita akan disuguhi dengan jalanan panjang yang menurun. Dan di ujung turunan tersebut sampailah kita di Kalimati. Di Kalimati sudah penuh sesak dengan tenda tenda para pendaki yang sudah tiba terlebih dahulu dari kami. Beruntung kami menemukan spot mendirikan camp dengan posisi yang cukup tertutup dengan pohon pohon disekelilingnya. Lumayan untuk mengurangi hembusan angin yang sepertinya akan menerpa camp kami.

Kami langsung berbagi tugas dengan mendirikan camp dan memasak. Setelah bersantap malam kami pun briefing untuk membuat rencana summit attack nanti malam. Mengenai perlengkapan serta snack atau logistik yang akan kita bawa telah fix kita planning-kan. Jam 7 malam kita harus sudah beristirahat dan tidak ada lagi pergerakan.

***

Desir angin yang memburu terdengar cukup jelas ketika tiba tiba suara Eka membangunkan kami untuk bersiap siap. Dengan udara dingin yang menusuk, saya pun bangun dan segera mempacking logistik yang akan kami bawa selama perjalanan ke puncak. Sebelum memulai perjalanan kita sempatkan untuk berdoa terlebih dahulu memohon keselamatan agar perjalanan kita ke puncak aman dan bisa kembali dengan selamat.

Dengan bantuan headlamp kami memulai perjalanan mengikuti jalan setapak yang ada. Satu jam perjalanan kami tiba di Arcopodo. Di sini ternyata juga sudah ada beberapa camp pendaki yang ingin ke puncak. Perjalanan ke puncak sangat padat dan ramai oleh para pendaki. Kita berjalan sangat rapat dan bahkan harus antri untuk mendaki. Pemandangan antrian para pendaki dengan senter atau headlamp memberikan kesan jalur pendakian seperti lampu jalan tol yang panjang.

Langkah demi langkah ku lalui hingga tanpa terasa telah tiba sampai di batas vegetasi hutan dengan pasir dan batu batu. Di sini flu yang dari kemarin menyeran sudah bertambah parah dan akhirnya aku pun memutuskan untuk berjalan lambat di belakang. Sempat berpikir untuk turun kembali, tetapi niat dan kebulatan tekad untuk mencapai puncak yang membuat saya untuk tetap bertahan, selangkah demi selangkah untuk mencapai puncak.

Di tengah perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Matahari terbit dengan sangat jelas dan awan awan berarak membentuk barisan yang luar biasa indahnya. Pemandangan ini benar benar kembali memompa semangat diriku untuk terus berjalan. Selalu teringat dengan quote yang sangat menginspirasi dari Sir Edmund Hillary, “It’s not the mountain we conquered, but ourself”.

Medan berpasir ini memang menjadi medan yang paling terberat untuk mendaki. Karena sulitnya kaki berpijak untuk mendorong naik badan kita. Naik selangkah turun lagi setengah, naik selangkah turun lagi setengah, begitu terus berulang – ulang. Sungguh sangat menguras tenaga. Saya mulai melihat banyak teman – teman pendaki yang menyerah dan memutuskan untuk turun kembali.

Baca juga:   Sekali Mendaki Fuji, Puncak Tertinggi Negeri Matahari Terbit
Sunrise

Kaki ini kupaksa untuk terus berjalan, dan kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah 8. Aku harus benar benar mempercepat langkah kakiku, karena tadi telah bersepakat dengan Monoph, kalau saya jam 9 belum sampai di puncak, yang lain boleh turun. Seteguk dua teguk air dan snack yang kumakan cukup memberikan pasokan tenaga kembali buat badanku.

Perlahan tapi pasti Puncak Mahameru terlihat semakin dekat. Dengan sisa tenaga yang ada, kupaksa badan buat terus bergerak, selangkah dua langkah tiga langkah dan akhrnya sampai langkah terakhir kaki ini berhasil menginjak Puncak Mahameru.

Alhamdulillah, sampai juga saya di Puncak Mahameru. Setibanya di puncak, saya langsung berjalan mencari teman seperjalananku yang telah terlebih dahulu tiba di puncak. Tiba tiba terdengar suara seorang wanita memanggil, dan tentu saja suaranya sudah begitu familiar bagi telingaku. Yap, suara itu adalah suara Eka, saya pun segera menghampiri dan kita saling bersuka cita untuk merayakan keberhasilan mencapai puncak. I think, this is the best moment in this trip. Alhamdulillah yang sekali lagi terucap.

Setelah mengabadikan momen momen indah di puncak kami pun harus segera turun. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Perjalanan turun pun tidak kalah melelahkan bagiku. Walaupun jalan menurun, tetap saja membuatku harus berkali kali berhenti untuk beristirahat. Fisikku memang sudah drop dan tenaga sudah hampir habis untuk perjalanan naik tadi. Tiga jam lebih perjalanan turun saya untuk bisa sampai di Kalimati. Di Kalimati kami pun bersantap siang dan beristirahat sejenak sebelum packing dan kembali melanjutkan perjalanan turun ke Ranukumbolo.

Pukul 16.00 kita memulai perjalanan turun. Udara yang sejuk mengiringi perjalanan turun kami ke Ranu Kumbolo. Dan tepat sebelum jam 18.00 kami tiba di Ranukumbolo. Malam terakhir di Gunung Semeru kita lewati dengan bermalam di danau. Makan malam terakhir disini cukup nikmat dengan hidangan spaghetti dan sup krim yang bisa menghilangkan rasa lapar dan menghangatkan badan kami.

Puas dengan makan malam, kami pun bersantai menikmati suasana malam Ranu Kumbolo. Sebenernya ingin lebih lama lagi terbangun untuk menikmati pemandangan bintang bintang Ranu Kumbolo, tetapi karena memang badan saya terasa teramat capai dan mata yang mulai terserang kantuk, segera kubergegas mengambil sleeping bag dan perlengkapan tidur lainnya.

***

Suara-suara para pendaki sudah terdengar ramai ketika aku terbangun dan melihat jam tangan, ternyata sudah jam 05.00 subuh. Karena ingin mengabadikan momen sunrise di danau, saya pun berlepas dari kehangatan sleeping bag dan mempersiapkan kamera di dekat saya. Sayang beribu sayang, pagi itu kabut cukup tebal menyelimuti kawasan danau Ranu Kumbolo, sehingga pemandangan sunrise pun kurang dapat terlihat dengan sempurna.

Segera kami memasak dan packing alat-alat camp, karena kami harus sudah tiba di Ranu Pane sebelum siang hari. Setelah semuanya rapi dan siap, kami pun berjalan meninggalkan danau. Sekitar jam 11 kami sudah sampai di desa Ranu Pane.

Monop melapor ke pos pendakian, sedangkan saya dan Memet mencari transportasi pulang. Eka, Ata dan Nessa mengambil barang-barang yang dititipkan di rumah warga yang kemarin lusa kami tumpangi. Harga jeep untuk perjalanan pulang mengalami kenaikan, yang biasanya 450 ribu menjadi 500 ribu. Maklum, mungkin karena memang sedang ramainya musim pendakian jadi semua yang berhubungan dengan pendakian mulai dari transportasi sampai perizinan mengalami kenaikan.

Di tengah perjalanan pulang kami sempat berhenti sejenak untuk sekedar berfoto dengan berlatarkan Sabana Bromo. Sekitar jam 2 kami pun tiba di Tumpang. Di sini tim kembali berpisah, saya dan Eka harus pergi ke Terminal Arjosari, sedang Monop, Memet, Ata dan Nessa pergi ke stasiun Malang. See you Team, What a nice trip with you all !!!

Perjalanan pulang selebihnya saya isi dengan tidur. Memang badan ini sudah terasa terlampau lelah. Hingga kemudian, senin dini hari 13 Agustus 2013 pukul 01.00 WIB, saya mendarat kembali di Jakarta. Dan seperti gunung gunung yang sudah pernah saya daki, saya pun berdoa semoga bisa kembali lagi ke Gunung Semeru.

Another chance, another time…

Tim Pendakian Semeru
Tulisan oleh Deni Permasadi
Foto oleh Tim Pendakian Semeru