Pendidikan Dasar Astacala XXI


Pendidikan Dasar Astacala adalah tahapan awal yang harus dilalui oleh calon anggota Astacala untuk menjadi anggota. Di sini calon anggota akan dilatih keterampilan alam terbuka, dipupuk rasa nasionalisme, digalang suatu persatuan dan semangat kebersamaan, dibina mental dan fisik. Tahapan Pendidikan Dasar Astacala itu sendiri terdiri dari : wawancara, upacara pembukaan, materi kelas, latihan fisik, simulasi dan latihan, serta, praktik lapangan.

Selain sebagai proses regenerasi, Pendidikan Dasar Astacala merupakan suatu proses untuk menyamakan persepsi antara calon anggota dengan Astacala, tentang keorganisasian Astacala, kepecintaalaman dan kegiatan alam terbuka. Sehingga diharapkan setelah melalui tahapan ini mereka yang lulus akan mempunyai persamaan visi dan misi yang sama dalam satu wadah Astacala.

Pendidikan Dasar Astacala XXI

Pendidikan Dasar Astacala XXI dimulai dengan pengambilan formulir pada tanggal 29 Oktober 2012 hingga 20 November 2012 di Kampus IT Telkom, tepatnya berada di depan klinik IT Telkom  dengan jumlah siswa terdaftar hingga 50 orang. Kemudian para siswa diminta untuk hadir dalam upacara pembukaan yang berlokasi di student hall IT Telkom pukul 19.30 WIB pada tanggal 24 November 2012 dengan pemimpin upacara adalah Komandan Latihan PDA XXI, Aditya Bagus Setyadi (A–096–AP) dan Pembina upacara yaitu Andi Wirawan “Acong” (A–068–KA). Acara puncak pembukaan PDA XXI ini ditandai dengan pemukulan gong oleh pembina upacara sebagai tanda bahwa PDA XXI telah dimulai.

Selanjutnya siswa segera mengikuti tes fisik yang bertujuan untuk mengukur keadaan fisik siswa. Lalu latihan fisik untuk menyamakan kondisi fisik para siswa, kemudian materi kelas sebagai media agar semua teori kepecintaalaman dapat disampaikan oleh instruktur supaya para siswa pendidikan dasar mampu menguasai semua teori tersebut sebelum mempraktikannya langsung di lapangan.

Pada tanggal 15-16 Desember 2012 dilaksanakan simulasi dan latihan navigasi darat yang berlokasi di area perkebunan teh di kawasan danau Situ Cileunca dengan jumlah siswa sebanyak 24 orang. Simulasi dan latihan ini bertujuan sebagai pengenalan bagaimana menggunakan peta, kompas, dan protaktor dengan baik. Serta mempraktikkan teori-teori yang ada di materi kelas navigasi darat.

Baca juga:   Astacala Memenangkan Piala Bambang Hidayat

Setelah melakukan simulasi dan latihan, siswa mengikuti acara selanjutnya yaitu praktik lapangan. Ada 15 siswa tersisa yang mengikuti praktik lapangan ini. Di sini siswa akan mempraktikkan keseluruhan yang didapat pada saat materi kelas, dari bagaimana memilih tempat camp yang baik hingga berbagai ilmu berkegiatan di alam terbuka. Pun bertahan hidup di praktik lapangan ini terdiri dari tiga materi dasar, yaitu long march atau perjalanan panjang, gunung hutan, dan survival atau bertahan hidup di alam terbuka.

Pada saat materi long march hari pertama, siswa masih bersemangat melakukan perjalanan. Namun seiring dengan lama dan jenuhnya berjalan kaki seharian wajah-wajah yang bersemangat itu pun mulai kelelahan. Kali ini long march memakan waktu dua hari dengan panjang lintasan 19 kilometer dari Kecamatan Sindangkerta, Bandung Barat, Jawa barat. Pada saat long march, siswa diajarkan kenapa kita harus packing barang dengan baik, bagaimana membuat bivak ponco yang baik, mengapa kita harus melakukan long march, dan lain-lain.

Kemudian berlanjut kepada materi gunung hutan yang memakan waktu empat hari. Masih dengan semangat yang stabil seusai tenaga terkuras pada saat long march, siswa diajarkan bagaimana membuat bivak alam, bagaimana cara membuat api, bagaimana memilih makanan di hutan, bagaimana cara berkomunikasi dengan sesama teman, hingga pentingnya sebuah aklimatisasi di alam.

Setelah itu mereka berlima belas sampai kepada materi survival. Di sini keinginan dan semangat mereka benar-benar diuji karena mereka diharuskan untuk bertahan di dalam hutan dengan perlengkapan seadanya tanpa logistik. Di sinilah mereka harus mengucapkan kata perpisahan karena lima dari lima belas siswa tersebut menyatakan diri untuk mundur pada survival hari kedua. Selain harus menahan rasa kehilangan, mereka juga harus mengatasi rasa lapar selama survival. Hanya bagian dari hutan yang dapat mereka makan, seperti jantung pisang, batang palem, daun pakis, cacing sondari, dan bagian hutan lainnya yang sudah dijelaskan pada saat materi botani dan zoologi. Hingga tiba saatnya hari terakhir survival, mereka harus mempraktikkan materi tidur kalong atau tidur di pepohonan setelah melakukan aklimatisasi.

Baca juga:   Kami Hanya Mengantarkan, Alam yang Mengajarkan

Akhirnya pada tanggal 3 Februari 2013, keseluruhan rombongan PDA XXI sampai di penghujung acara. Kali ini acara penutupan berada di Ranca Upas, Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat yang menghasilkan sepuluh orang anggota muda bernama Mentari Gunung. Menurut mereka mentari mencerminkan jiwa mereka yang memiliki semangat yang tinggi dan gunung-gunung tempat mereka berada pada saat acara penutupan. Walaupun ada beberapa orang yang kurang setuju dengan angkatan ini karena beberapa alasan, namun inilah hasil dari pendidikan selama kurang lebih selama tiga bulan, inilah hasil didikan dan seleksi dari alam.

Tidak terasa sudah sekian lama mereka menjalani rangkaian pendidikan dasar ini dari waktu pertama kali pengambilan formulir. Memang sebuah rangkaian kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran, namun kegiatan ini bukanlah sebuah akhir, kegiatan ini hanyalah sebuah permulaan menjadi anggota Astacala. Semoga apa yang diajarkan pada saat pendidikan dasar ini tertanam di jiwa setiap anggotanya sehingga mereka dapat menjalankan roda organisasi dan berguna bagi lingkungan serta kemanusiaan dengan baik.

Tulisan oleh Gianto Sibarani
Foto dari Dokumentasi Astacala