Melintas di Bawah Hutan Hujan Ciwidey

Sambil membetulkan ikatan penguat backpack di punggung, saya melepas pandang dan mengamati kondisi sekitar. Awan mendung tampak menggantung, menghias langit yang terlihat sedang murung. Sementara di kejauhan samar asap tipis terlihat terbang ke angkasa, di antara dua bukit kecil yang gelap menghijau oleh rimbun pepohonan. Terasa rambut di belakang leher mulai berjengit, udara dingin khas pegunungan tak mau alpa ikut menyapa.

Dengan meniti rangkaian pematang yang membagi hamparan lembahan luas ini menjadi puluhan petak sawah, kami pun perlahan berlalu menjauh dari Desa Alamendah. Sesekali berselisih jalan dengan penduduk yang baru kembali dari tempat mereka bekerja.

Pada akhirnya, tetes hujan mulai merintik, membasuh setiap jengkal dengan luruh kesegaran. Dimulai dari pucuk pucuk daun pada dahan pohon yang paling atas, dan lalu pada permukaan tanah di bawahnya, mengalir dan sebagian tertinggal menggenang di permukaan tanah yang tidak rata. Berikut juga pakaian yang membungkus tubuh kami, pun ikut basah, diikuti dengan sensasi dingin yang terasa mulai menyiksa. Sejurus pikiran muncul untuk sejenak menghentikan perjalanan.

Walau begitu, kami semua tahu dengan pasti. Yang harus dilakukan ketika berada di bawah deras hujan seperti ini adalah dengan tetap bergerak dan terus melangkahkan kaki. Dalam kondisi yang basah, berhenti beraktivitas memang akan menimbulkan rasa nyaman pada tubuh, terasa begitu menyenangkan. Namun hal ini tak ubahnya seperti saat mengkonsumsi candu, pada akhirnya akan berakhir menyedihkan. Dalam tempo yang cepat, suhu tubuh akan turun dengan drastis tanpa bisa kita sadari, dapat berujung pada hypothermia yang menjadi salah satu momok paling dihindari dalam berkegiatan di alam bebas.

***

Mendengar kata Ciwidey, yang banyak terlintas di pikiran orang adalah mengenai pesona keindahan alamnya. Anggapan yang sudah sewajarnya mengingat Ciwidey memiliki banyak lokasi wisata alam yang terkenal. Kawah Putih, Situ Patenggang, Ranca Upas, Mata Air Panas Cimangu atau Kawah Cibuni merupakan kawasan yang sudah sejak lama menjadi destinasi favorit para wisatawan.

Tetapi bagi saya, yang selalu terbayang dari Ciwidey adalah tentang gunung gunungnya. Dari sepanjang jalan raya, begitu menolehkan kepala ke samping, deretan pegunungan dengan beberapa puncakan yang menyembul ke atas seolah mampu menarik keluar rasa ingin mengunjunginya, ada semacam memori yang selalu terbuncah keluar begitu melihat satu dua puncakan tersebut.

Di Ciwidey lah saya memperoleh banyak kesempatan untuk belajar dari alam. Dari pertama kali menginjakkan kaki sekitar lima tahun silam, dan bahkan hingga saat ini pun, ada saja hal baru yang saya dapatkan dari tempat ini. Bahwa ada kalimat bijak yang mengatakan “Alam adalah sebaik baiknya guru”, barangkali tepat sekali sebagai penggambaran Ciwidey bagi saya.

Kawasan pegunungan Ciwidey ini kondisinya masih cukup alami, diselimuti oleh hutan hujan tropis yang dipenuhi berbagai macam jenis tumbuhan. Dan seperti kebanyakan kawasan pegunungan lain di daerah Jawa Barat, keadaan hutan di Ciwidey secara umum lembab, terlebih ketika sudah memasuki musim penghujan, hujan bisa turun sepanjang hari.

Usai menitipkan motor di rumah Pak Apud yang merupakan Ketua RT setempat, kami berenam memulai perjalanan dalam menelusuri kawasan hutan gunung daerah Ciwidey. Berdasarkan rencana operasional yang telah disusun, titik awal perjalanan adalah Desa Alamendah dan berakhir di kawasan Rancaupas, dengan rute perjalanan melalui daerah Bendungan, Puncakan 2002 dan Leuwengjero.

Dari Alamendah mencapai Bendungan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Selepas ladang strawberry, jalan setapak mengular menembus rimbun kebun kopi hingga mencapai bibir hutan. Batas hutan kelihatan dengan jelas, dari tumbuhan budidaya yang secara mendadak berubah ke pepohonan besar yang tumbuh lebat, dengan sulur sulur yang tergerai dan menjuntai ke tanah, menimbulkan kesan yang belum terjamah.

Salah satu momen krusial dalam penelusuran daerah hutan adalah saat kali pertama memasukinya, harus diketahui dan dipastikan dimana letak posisi koordinatnya. Karena ketika sudah berada di tengah hutan, mengoreksi jalur yang salah bukanlah perkara yang mudah. Kemungkinan untuk tersesat begitu terbuka.

Orientasi pun dilakukan. Lembaran peta dibuka, jarum kompas mulai mencari sasaran tembak. Kepala sibuk menengok kiri dan kanan mengamati kontur daerah sekitar, membandingkannya dengan gambaran yang ada di peta. Sedikit diskusi muncul, urun pendapat hasil pengamatan masing masing.

Setelah menuruni punggungan kecil yang ada di pinggir hutan, sampailah kami ke sebuah sungai buatan, saluran irigasi yang dibuat dari lembaran seng yang dibengkokkan membentuk setengah lingkaran ke dalam tanah. Sungai inilah yang menjadi patokan kami menuju Bendungan, mengikuti alirannya hingga ke daerah hulu.

Yang dinamakan Bendungan sendiri adalah berupa sebuah cekungan yang cukup luas, kurang lebih sekitar dua ratus meter persegi. Dari tempat inilah mengalir saluran irigasi yang pada awal pembangunannya dahulu dirancang untuk mengalirkan air hingga ke Desa Lebakmuncang. Karena daerahnya yang sarat air, di sekitar Bendungan banyak tumbuh pohon pisang dan pakis hutan. Ada pula tumbuhan arbei hutan yang bila sedang berbuah, bisa dinikmati dengan rasanya yang cukup lezat.

Berjalan di daerah Bendungan ini sedikit membutuhkan kehatia-hatian. Di sekitar kaki melangkah banyak “bahaya” yang mengintai, mulai dari semak merambat yang berduri, racun snip-snap yang menyakitkan hingga vampire pengisap darah dari dunia nyata, pacet. Apalagi di saat musim penghujan seperti ini, populasi pacet akan semakin meningkat, mengincar darah segar para pelintas daerah kekuasaannya.

Begitu sampai di lokasi camp, hujan kembali turun. Makin deras saja kali ini.

Seperti biasa, bukan Bendungan namanya kalau tidak ada hujan”, gumam saya dalam hati.

***

Malam sudah hampir mencapai titik akhirnya ketika tiba tiba saya terjaga, gelap sekali. Api unggun terlihat sudah padam, hanya tersisa beberapa potong kayu yang masih membara. Cahaya bintang dan bulan pun hilang disaput langit yang kelam. Sunyi sekali malam itu, tak ada denging serangga atau desiran angin yang biasa terdengar.

Sambil menyalakan beberapa potong ranting kecil, rerasa ada sedikit kenangan bernostalgia. Pada dinginnya air hujan, panasnya perapian, kering ternggorokan, perut yang keroncongan, jari jemari kuning yang membengkak, juga kaki kaki luka yang membusuk. Memori tentang perjuangan, tentang ketabahan dan tentang dalamnya tekad untuk terus bertahan.

Tentang hidup dan pembelajaran dari alam.

***

Perjalanan menuju Puncakan 2002 sebagai checkpoint selanjutnya berjalan cukup lancar. Dari Bendungan mengikuti jalan setapak yang sudah ada. Jalan setapak ini bersisian dengan pipa air yang ditanam di dalam tanah, di beberapa titik mencuat dan terlihat dengan jelas. Pipa ini terbuat dari besi dengan diameter yang lumayan besar, sekitar 30cm. Fungsinya untuk mengalirkan air menuju daerah pemukiman penduduk.

Daerah pegunungan memang dikenal sebagai sumber mata air alami yang baik kualitasnya. Sumber mata air ini dapat terus menerus mengalir karena di daerah pegunungan yang masih alami umumnya merupakan daerah basah dengan intensitas curah hujan tinggi dan masih memiliki daerah tangkapan air yang relatif baik. Maka penting bagi kita untuk terus menjaga kelestarian lingkungan di daerah pegunungan agar kelangsungan dan ketersediaan air bersih ini tetap terjaga.

Begitu melewati Puncakan 2002, jalur menuju Leuwengjero cukup tricky. Mengikuti jalan setapak yang menurun di atas punggungan, akan bertemu dengan perempatan jalur. Kemudian mengambil jalur yang ke kiri, melipir punggungan yang cukup panjang, kita dapat mengikuti jalan setapak ini hingga mencapai jalur menurun yang nantinya akan bertemu dengan Leuwengjero. Jalur ini kabarnya merupakan bekas jalur pergerakan logistik tentara di zaman perang kemerdekaan dulu.

Leuwengjero sendiri merupakan sebuah lembahan datar yang diapit oleh dua punggungan panjang yang ada di kiri dan kanannya. Leuwengjero sudah tersambung oleh jalan setapak menuju Rancaupas. Lokasi ini sudah sering dijadikan sebagai tempat outbond dan camping, bisa dilihat dengan banyaknya papan dan tali rafia sebagai penanda rute jalurnya.

Leuwengjero memang tempat yang menarik, dibelah oleh sebuah sungai kecil yang mengalir hampir sepanjang tahun. Tampak pula puluhan pohon besar menjulang dengan gagah, diameternya yang cukup besar menandakan bahwa usia pohon ini telah mencapai puluhan tahun. Sayang, sepanjang perjalanan menuju Rancaupas, terlihat beberapa pohon yang sudah tumbang oleh tajamnya kapak pembalak liar.

Sebentar saja kami beristirahat di sana, menikmati snack ringan sambil melempar kenangan masing masing mengenai tempat ini. Memang tahun lalu kami berenam sempat berada di tempat ini bersama sama, walau tentu kenangan yang kami miliki akan berbeda beda.

Menjelang pukul empat sore, kami pun sampai di titik akhir perjalanan, Rancaupas. Daerah yang sudah terkenal sebagai tujuan wisata ini merupakan daerah yang berawa-rawa, pada beberapa titik jika salah melangkah maka kaki bisa terpelosok hingga sedalam satu meter. Sebagai daerah wisata, objek yang dijual selain keindahan alamnya adalah penangkaran rusa dan wahana air (water boom) yang masih dalam masa pembangunan.

Begitu keluar dari hutan, hujan kembali turun, maka kami pun mempercepat langkah dalam melintasi lapangan luas yang ada di tengah tengah Rancaupas. Pada warung warung yang berjejer di sisi selatan itulah kami berlari, perut keroncongan dan rasa haus yang menggelegak adalah pemicunya.

Buk, minta kopi hitamnya satu ya…“, ujar saya tanpa pikir panjang sesampainya disana.

***

Saya yakin hampir semua orang memiliki satu tempat dimana di sana tertinggal kenangan personal yang begitu berpengaruh dalam perjalanan hidup orang tersebut. Sebuah milestone dalam satu masa hidupnya. Entah itu berupa kenangan manis atau kenangan pahit.

Lagipula, melihat kenangan adalah perkara sudut pandang saja bukan?

Bandung, Oktober 2012.

Tulisan oleh Angga Wisnu Firdy.
Foto dari Dokumentasi Astacala.

3 comments

  1. bendungan , tempat saya mendapatkan dan menikmati arbei hutan pertama saya.di dampingi dengan seorang yang menggunakan slayer merah di leher dan slayer hijau dikepalanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *