Cerita dari Cimonyong


Cimonyong, sekarang Karang Sari, adalah nama sebuah kedusunan, setingkat Rukun Warga (RW), di desa Wangunsari, Kec. Naringgul, Kab. Cianjur Selatan. Kedusunan ini berada sekitar 80 km selatan Kab. Bandung Selatan. Setelah melewati Ciwidey, perjalanan diperindah oleh barisan bukit-bukit hijau dihiasi dengan banyak air terjun. Serta laut biru terlihat samar-samar di kejauhan. Jalan beraspal terbentang hingga jalan raya Naringgul. Selebihnya jalan terjal berbatu yang hanya bisa dilewati oleh sepeda motor.

Ojek digunakan bagi warga yang tidak memiliki motor atau tidak berani mengendarai motor, mengingat medan yang terjal dan licin jika hujan. Ongkos ojek dari Cimpnyong menuju jalan utama, jalan Raya Naringgul, sebesar Rp 25.000 per orang atau Rp 500 per kilogram barang. Kondisi inilah yang membuat Cimonyong terisolir dari informasi dan bantuan, khususnya dari pemerintah.

Kondisi Jalan Menuju Dusun Cimonyong

 Hingga tahun 2011, Cimonyong masih belum dijamah oleh listrik PLN. Kincir-kincir air yang jadi andalan warga untuk menerang malam. Baru pada Januari 2012 Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL) dibantu oleh PLN mengadakan sepuluh turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) bagi desa Wangunsari. Tiga turbin diantaranya berada di Cimonyong. Listrik 1000 watt mampu dihasilkan oleh satu turbin. Pengadaan dan perawatan turbin dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, maka listrik 1000 watt itu harus dibagi ke sedikitnya 20 rumah. Masing-masing turbin diurus oleh sekitar tujuh orang warga. Warga yang tidak ikut mengurus turbin dikenakan biaya sekitar Rp 10.000 tiap bulannya. Uang tersebut digunakan untuk biaya perawatan turbin, sisanya digunakan sebagai simpanan untuk pengadaan turbin lagi. Hanya sedikit yang dialokasikan untuk upah warga yang mengurus turbin.

Cimonyong berada di daerah Cagar Alam Gunung Simpang, sehingga PLTMH dipilih oleh Pak Ridwan, salah satu anggota YPAL, sebagai solusi penerangan bagi warga. Ini bertujuan agar warga turut serta dalam menjaga kelestarian hutan. Karena jika hutan tidak terpelihara dengan baik, maka sungai akan kering, sehingga turbin tidak akan mampu digerakkan. Selama ini masyarakat menggunakan air untuk kepentingan bertani. Jadi bukan hal yang mudah untuk meyakinkan masyarakat akan keberhasilan penggunaan PLTMH. Karena air yang selama ini digunakan untuk pertanian, sekarang harus dibagi untuk ke PLTMH juga.

Baca juga:   [Video] Pengabdian Masyarakat Astacala untuk Pasir Jambu 2015
Turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

Dalam pendidikan, Cimonyong masih jauh tertinggal dibandingkan kedusunan lain di kecamatan Naringgul. Hanya ada satu gedung sekolah di desa Wangunsari. Sekolah itu digunakan untuk Sekolah Dasar Negeri Sukamanah, Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Naringgul, dan Madrasah Diniyah. Tidak lebih dari dari sepuluh orang guru yang secara bergantian mengajar tiga tingkatan sekolah tersebut. Sedikit guru yang mampu bertahan hingga lebih dari satu tahun mengajar di sekolah tersebut. Hanya Bu Wiwin dan Pak Asep saja yang mampu bertahan hingga lebih dari lima tahun. Pak Asep adalah warga asli desa Wangunsari. Sedangkan Bu Wiwin adalah warga Garut yang ditempatkan oleh pemerintah di sekolah tersebut.

Sarana yang minim tidak berarti siswa-siswa SD Sukamanah minim prestasi. Tiap tahunnya diadakan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di Kecamatan Naringgul bagi pada siswa SD. Olahraga yang rutin diikuti oleh siswa-siswa SD Sukamanah adalah voli dan futsal. Sedangkan untuk kesenian, mereka rutin mengikuti lomba berpuisi dan berpidato dengan bahasa sunda. Tiap tahunnya siswa SD Sukamanah berhasil membawa pulang piala dari lomba-lomba yang diikuti oleh siswa-siswa SD Sukamanah. Selain Porseni, ada juga kegiatan olimpiade matematika. Di olimpiade terakhir, salah seorang siswa SD Sukamanah berhasil mendapat peringkat dua tingkat kecamatan. Siswa-siswi di sini juga berbakat dalam menulis dongeng dalam bahasa Sunda.

Kegiatan Siswa-Siswi di Sekolah Saat Sore Hari

 Sarana kesehatan pun minim sekali di Cimonyong. Posyandu hanya terdapat di dekat kantor desa Wangunsari yang jaraknya sekitar 2 km dari Cimonyong. Oleh karena itu, tiap bulannya ada bidan yang berkunjung ke dusun-dusun untuk memeriksa kesehatan warga. Salah satu rumah warga dijadikan sebagai balai pengobatan tiap bulannya.

Kampung ini berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Simpang. Cagar alam yang terluas di Jawa Barat ini(15.000 ha), menurut data Dinas Kehutanan Jawa Barat, memiliki potensi ekologi yang sangat unik. Selain terkenal karena menjadi rumah bagi 33 jenis anggrek hutan(18 diantaranya hanya ada di Indonesia, bahkan satu spesies hanya ditemukan di Cagar Alam Gunung Simpang!), juga karena di sini terdapat Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Organisasi konservasi dunia IUCN, memasukkan Elang Jawa dalam status EN (endangered, terancam kepunahan). Pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan elang Jawa sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Bahkan, burung ini juga telah menjadi icon/simbol hewan langka Indonesia. Konon, burung ini disebut-sebut sebagai burung Garuda, lambang negara Indonesia.

Baca juga:   Dari Astacala untuk Cimonyong
Keindahan Cagar Alam di Perbatasan Dusun Cimonyong

Itulah sedikit cerita dari Cimonyong yang saya dapat dari tiga kali berkunjung ke sana. Warga Cimonyong adalah pertahanan terdepan dalam pelestarian Cagar Alam Gunung Simpang. Sedikit sekali daerah alam yang masih terlindungi di Jawa Barat, salah satunya adalah Cagar Alam ini. Semoga kesejahteraan warga Cimonyong dapat terus meningkat tanpa harus merusak Cagar Alam Gunung Simpang.

Tulisan oleh Fahrizal Falaq
Foto oleh Bolenk Astacala dan Fahrizal Falaq

  • Tarmin

    Assalamu alaikum …
    Terima kasih kang udah berkunjung ke desa saya,mudah”an desa saya semakin maju,dan sukses selalu buat akang” semua,aamiin

  • Dhiky

    @Tarmin: iya kang sama sama, semoga bermanfaat untuk semuanya… Amin.