Menggapai Puncak Tebing Citatah 125


Tak lama berselang usai memanjat Tebing Citatah 48 beberapa bulan yang lalu, saya kembali menyambangi salah satu tebing lain yang ada di kawasan Citatah, yaitu Tebing Citatah 125. Waktu libur panjang di akhir pekan atau long weekend di bulan November 2012 menjadi waktu yang berharga bagi saya untuk menyambangi tebing tertinggi di kawasan karst Bandung Barat ini. Dan tentu bagi kita yang jiwa berpetualang dan berkegiatan alam terbukanya masih membara, liburan panjang akhir pekan seperti ini tidak ingin dilewatkan begitu saja dengan berdiam diri di rumah. Otak yang biasanya jenuh dengan kegiatan sehari-hari akan disegarkan secara otomatis. Kegiatan yang jarang dilakukan atau baru dipelajari akan menjadi lebih baik jika dipraktikkan. Selain itu, jam terbang pun akan bertambah.

Memanjat Salah Satu Jalur Pemanjatan di Tebing Citatah 125

Tebing Citatah 125  adalah salah satu tebing yang biasa digunakan sebagai tempat berlatih bagi para pamanjat tebing di seputaran Bandung dan Jabodetabek. Lokasinya sangat mudah dijangkau, karena terletak tidak jauh dari jalan raya Bandung – Cianjur. Secara administrasi, tebing ini tepatnya berlokasi di Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.  Sama seperti tebing lainnya di kawasan ini yang penamaannya diikuti dengan angka di belakangnya, Tebing Citatah 125 memiliki ketinggian 125 meter dari permukaan tanah.  Tebing ini adalah tempat paling populer dibanding batuan tegak lain yang ada di kawasan Citatah karena karakteristik jalur pemanjatan tebing ini sangat beragam sehingga sangat cocok untuk kegiatan pendidikan pengenalan panjat tebing. Selain itu untuk berkegiatan di tebing ini juga tidak perlu melakukan perizinan ke instansi tertentu. Perizinan hanya dilakukan kepada warga setempat saja. Di sekitar tebing juga sudah terdapat beberapa tempat istirahat berupa saung yang sudah sangat aman dan nyaman untuk dijadikan sebagai tempat menginap.

Pemanjatan Menuju Pitch 1 di Tebing Citatah 125

Jumat, 16 November 2012 sekitar pukul tujuh pagi, saya berangkat dari Sekretariat Astacala bersama Bolenk yang nanti akan menjadi rekan panjat saya. Sekitar dua jam perjalanan menggunakan, kami tiba di lokasi. Betapa kagetnya kami karena Tebing Citatah 125 sangat sepi. Selama lima tahun saya di Bandung, baru kali ini saya melihat tebing ini tidak dipanjat pada akhir pekan, apalagi long weekend seperti ini. Kami akhirnya mulai menyiapkan peralatan yang akan mengantarkan kami lebih tinggi 125 meter dari tanah yang dipijak saat ini.

Baca juga:   Hanging Camp

Setelah pemanasan untuk meregangkan otot agar tidak kram di tengah pemanjatan, kami mulai memanjat menuju pitch 1. Pitch 1 berupa cerukan ke dalam yang membentuk gua dengan ketinggian sekitar 25 meter dari ground. Dari ground menuju pitch 1 saya berperan sebagai leader dan Bolenk sebagai belayer. Untuk menuju pitch 1 ini tidak begitu sulit, karena banyak pengaman artificial yang bisa dipakai di sini. Terdapat banyak rekahan yang bisa dipasangi berbagai pengaman sisip dan lubang tembus yang kuat untuk dipasangi simpul jangkar. Sekitar setengah jam kemudian saya sudah memasang dua cowstail dan satu backupnya yang saya kaitkan di beberapa hanger pada pitch 1. Selesai memasang tali kernmantel pada pembelokan untuk belay yang kemudian menuju figure eight yang ada di pinggang, saya instruksikan pada Bolenk untuk naik dengan meneriakkan “Belay on!!!”.

Tak lama kemudian kami berdua sudah bersiap untuk menuju pitch 2. Sebelum bersiap menuju rekahan tebing yang posisinya agak masuk kedalam gua tersebut, kami mempersiapkan bekal untuk di bawa sampai puncak tebing. Kami membawa beberapa makanan kecil dan empat botol minuman berukuran 600 ml sebagai bekal, sisanya kami masukkan ke dalam carrier  yang kami tinggalkan di dalam gua tersebut. Untuk menuju pitch 2 kami harus menggunakan teknik pemanjatan fissure climbing, yaitu teknik pemanjatan yang memanfaatkan celah atau rekahan batuan dengan mempergunakan anggota badan sebagai pasak. Lebih detailnya kami menggunakan teknik chimneying jenis bridging, karena rekahan ini sangat lebar sehingga kami harus merentangkan kedua tangan dan kaki untuk dijadikan pasak seperti menjadi jembatan pada kedua sisi tebing tersebut. Tak butuh waktu lama, Bolenk yang sudah berada di pitch 2 sudah menyuruh saya naik untuk cleaning tujuh runner pada jalur yang ia rintis.

Selesai cleaning alat, saya langsung melanjutkan pemanjatan dengan kembali menjadi leader menuju pitch selanjutnya atau pitch 3 dengan jalur yang artificial melipir ke samping kiri tebing sampai bisa aman untuk jalan kaki. Setelah pitch 3, jalur relatif aman untuk berjalan kaki karena kita seperti berjalan di atas batu biasa saja karena kemiringan tebing yang tidak terlalu terjal.

Setelah melipir ke kiri yang bisa disebut sebagai pitch 4, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke pitch 5. Untuk menuju pitch 5, kami berjalan seperti mendaki puncak gunung biasa karena permukaan tebing masih tidak terlalu terjal, tapi tetap memerlukan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Sesampainya di pitch 5 kami pasang cowstail masing-masing untuk mengamankan diri sehingga mengurangi risiko dari hal-hal yang membahayakan keselamatan meskipun permukaan tebingnya tidak begitu terjal. Sesekali saya mengecek pengaman yang berupa cam atau friend ukuran tiga dan yang dipakai Bolenk yang berupa simpul jangkar pada lubang tembus untuk melihat tingkat keamanannya karena kami selalu bergerak dalam menyiapkan pemanjatan menuju pitch 6.

Baca juga:   Diktat Panjat Tebing (Rock Climbing) Astacala – Bagian 5 : Pengenalan Tebing dan Teknik Dasar

Pitch 6 merupakan pitch terakhir dari tebing. Artinya pitch 6 ini adalah top atau puncak dari batuan gagah ini. Dari tiga kali saya ngetop di tebing ini, bagian yang ada di depan kami ini adalah bagian pemanjatan tersulit. Terutama permukaan tebing sebelum pengaman terakhir dipasang yang berupa bentukan overhang dengan posisi pegangan yang mudah membuat otot-otot tangan kelelahan. Kesulitan di titik ini juga dipengaruhi oleh mental dan tenaga yang sudah terkuras dari awal pemanjatan.

Sekitar 45 menit kemudian, Boleng kemudian meneriakkan “belay on” dari jarak sekitar 25 meter di atas saya.  Saya gerakkan badan langsung untuk merayapi pitch terakhir ini agar tidak terlalu lama kepanasan di tengah tebing karena matahari sudah berada di atas kepala. Lima belas menit kemudian, runner yang terpasang pada jalur sport di pitch terakhir ini sudah hampir saya selesaikan. Tak berselang lama pengaman terakhir sudah saya ambil. Over hang berhasil kami lewati. Dan kami berdua akhirnya berada di ketinggian 125 meter dari tanah yang kami pijak saat melakukan pemanasan sekitar 3,5 jam yang lalu.

Sesudah sampai di puncak tebing, kami memindahkan peralatan dan beristirahat di sebuah saung yang kondisinya sudah agak rusak. Saung ini terbuat dari bilik bambu beratapkan jerami dan berada di puncak tebing ini. Saat beristirahat di saung tersebut, saya teringat saat melakukan artificial climbing bersama Astaka dan Muron dua setengah tahun lalu. Saat itu saung ini belum berdiri. Kemudian saat ngetop bareng Muron sekitar setahun yang lalu, saung ini masih sangat kokoh berdiri di atas batuan keras ini. Jadi wajar saja jika saung ini sudah agak rusak karena selama setahun lebih diterpa kencangnya angin di atas tebing.

Sambil menikmati bekal dan mendengarkan musik dari mp3 player yang kami bawa, kami beristirahat di saung tersebut dengan pemandangan belakang yang sangat asri. Akan tetapi di arah sebaliknya, terlihat kerusakan kawasan karst yang ditambang oleh pabrik marmer dan terdengar kebisingan kendaraan, menimbulkan polusi udara serta suara.

Baca juga:   Diktat Panjat Tebing (Rock Climbing) Astacala – Bagian 7 : Teknik Lanjut

Sekitar setengah jam kami beristirahat disertai obrolan dengan topik seputar kepecintaalaman dan sekitarnya, kami mulai merapikan alat-alat pemanjatan.  Tak lama kemudian, kami sudah tiba di tempat awal pemanjatan setelah berjalan kaki melalui jalur di samping kiri tebing.

Tebing Citatah 125 Dilihat dari Jalan Raya Bandung – Cianjur

Setelah mengambil carrier yang ada di pitch 1 melalui jalur jalan kaki, kami melanjutkan kegiatan di tebing ini dengan mencoba salah satu jalur sport dari sekitar tujuh puluhan jalur sport yang ada. Saya sudah pernah mencoba dua kali jalur yang dipilih Boleng kali ini, dan saat itu semuanya berakhir di runner kedua. Saat saya giliran saya memanjat kali ini, tak dikira ternyata bisa capai sampai runner ketiga dari empat hanger yang ada di jalur yang dinamai “jalur poster kiri” ini.

Di sela-sela istirahat dalam pemanjatan tersebut, saya berpikir lagi mengenai tiga kali pemanjatan saya pada jalur artificial sampai top dan jalur sport ini. Ternyata pemanjatan kali ini adalah pemanjatan saya yang paling cepat dan tidak begitu melelahkan untuk melaluinya. “Latihan untuk manjat ya manjat itu sendiri”, begitu kata pelatih saya yang dulu mengajari saya teknik memanjat. Teori untuk kegiatan yang perlu praktik seperti panjat tebing ini hanya untuk bekal awalnya saja sebelum melakukan praktiknya. Bagi yang sedang belajar, teori saja tanpa sering mempraktikkannya tidak akan mengasah kemampuan kita. Teori tanpa praktik tidak akan sempurna. Begitu pula sebaliknya, praktik tanpa teori bisa berbahaya. Setelah memahami ilmunya di atas kertas, kemudian menuangkannya dalam kegiatan di lapangan adalah kunci yang utama. Ia akan banyak berpengaruh langsung pada apa yang kita pelajari, terutama kematangan skill dan mental kita .

Let’s Climb…!!! Astacala…!!!

Tulisan oleh Widi Widayat
Foto dari Dokumentasi Astacala

  • Just climb..!!
    Multipitch udah, kapan hanging campnya?

  • Doedoenk

    mantap bro…slm climber…gw dl pernah kesana tahun 99 an bro..

  • Hendro

    Tebing Citatah sih emang udah terkenal banget buat tempat panjat tebing dari jaman dulu yaa?
    ane juga penasaran banget tuh pengen nyobain heheh