Terima Kasih Hardtop Tua


Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

(From : Edensor, by Andrea Hirata)
***
Senin, 17 September 2012.
Sekitar pukul 17.30 WITA, menjelang adzan maghrib.

Hujan mulai turun mermbasahi lereng pegunungan Latimojong. Suhu udara yang biasanya (saja) sudah dingin, semakin bertambah dingin oleh guyuran air, sebuah anugrah dari langit Celebes. Musim kemarau panjang sepertinya akan segera berakhir.

Mobil jeep hardtop yang kami tumpangi baru saja menyeberangi Sungai Karangan, di Kampung Rante Lemo.  Saya sengaja turun dari mobil dan memilih berjalan kaki untuk merasakan dinginnya air sungai Karangan yang jernih itu untuk terakhir kalinya sebelum pulang. Maklum, sungai bening ini cukup mencuri perhatian saya. Bayangkan, air dari sungai inilah yang kami pergunakan selama pendakian, mulai dari kampung Karangan, Pos 2, Pos 5, bahkan sampai Pos 7 yang ada pada ketinggian 3200 mdpl sekalipun, sungai ini selalu ada menemani pendaki. Menurut warga, sungai di Pos 7 ini tidak pernah kering, sekalipun musim kemarau panjang.

Searah jarum jam : Om(Astacala), Bivak(Mapala UVRI Makassar), Muko(Mapala UVRI Makassar), Srigala(Gadapala, Baubau). Lokasi : Kampung Rante Lemo atas.

Di pertigaan kampung Rante Lemo, sekitar dua puluh meter dari sungai, mobil jeep itu kembali berhenti. Seorang wanita bertubuh gemuk dengan membawa dua orang anak-anaknya yang masih kecil datang mengampiri mobil kami dengan setengah berlari. Ibu ini duduk di bagian depan mobil. Perjalananpun kembali dilanjutkan. Tanpa obrolan ramah tamah berbasa basi. Nothing special.

Sekitar lima ratus meter setelah melewati Rante Lemo, jeep yang kami tumpangi harus melewati medan terjal berlumpur. Medan seperti ini sebenarnya sudah beberapa kali dilewati ketika turun dari kampung Karangan. Tapi mungkin kemampuan kendaraan ini sudah mencapai batasnya. Tiba-tiba saja mesinnya mati. Awalnya Pak Ammar, sang sopir, masih berusaha memperbaiki mobil tua itu, namun akhirnya kemudian menyerah juga. Waktu saat itu sekitar pukul 19.00 WITA. Adzan maghrib tentunya telah berlalu.

Baca juga:   Perjalanan Si Bolenk (Episode 3: Pemanjatan Tebing Parang Ndog)

Jeep tua itu lima ratus meter dari kampung Rante Lemo, pada sebuah tanjakan terjal berlumpur. Tanjakan yang sebenarnya “biasa-biasa” saja jika dibandingkan dengan medan terjal dan juga berlumpur yang sudah menanti kami satu kilometer di depan.

***
Lima hari sebelumnya.
Kamis, 13 September 2012.

Akhirnya mobil jeep hardtop itu datang juga. Kami sudah memesannya dari tiga jam yang lalu, ketika sedang berbelanja di pasar Baraka, sebuah kota kecamatan di sudut kabupaten Enrekang.

Tapi sungguh mengagetkan. Di dalam mobil itu telah menunggu lima orang penumpang lainnya bersama dengan barang-barang belanjaan milik warga, termasuk empat karung pupuk yang diikat di bagian depan. Singkat cerita, tanpa kami ber-enam pun, mobil itu sudah terlihat penuh. Entah mau ditaruh dimana kami ber-enam, pendaki muda dari berbagai daerah ini.

Akhirnya, tas ransel milik kami diikat diatas mobil, dan kami berenam bergelayutan diatas mobil. Kasihan mobil tua itu, di usianya yang renta, masih harus kerja rodi menarik beban yang berat. Perjalanan pun dimulai, dengan tujuan akhir adalah kampung Karangan.

Jalanan yang dilewati menuju kampung Karangan, Desa Latimojong, memang terbilang cukup ekstrim. Hanya mobil-mobil tangguh yang mampu melewati jalur tersebut. Bahkan, hardtop yang kami tumpangi inilah satu-satunya kendaraan roda empat yang bisa dan pernah masuk ke kampung Karangan sebagai tranportasi rakyat. Itu juga baru dua bulan ini, begitulah pengakuan Pak Ammar, sopir hardtop ini dalam suatu perbincangan. Sebelumnya, warga hanya bisa menggunakan sepeda motor, itupun bukan sembarang motor atau sudah dimodifikasi agar mampu melewati trek yang terjal dan licin. Warga yang mempunyai kendaraan roda dua juga bisa dihitung dengan jari. Sisanya, tak ada pilihan selain berjalan kaki selama tiga jam dari Rante Lemo, akses kendaraan roda empat terakhir, menuju kampung Karangan, kampung terakhir pada jalur menuju pendakian Puncak Rante Mario, Pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan. Jeep ini pun hanya dua kali dalam seminggu menyambangi Kampung Karangan.

Sekitar satu jam perjalanan, setelah menyeberangi sebuah sungai, jalan yang dilalui mulai terjal. Untung saja jalannya sudah disemen, sehingga tantangannya “hanya” kemiringan jalan yang mencapai 45 derajat.

Baca juga:   Perjalanan Si Bolenk (Episode 1 : Gunung Kerinci)

Sebelumnya saya tidak menyangka bukit terjal yang tadinya disebelah kiri jalan itu akan kami lalui. Selain karena terjal dan sepi, dari kejauhan juga tidak terlihat adanya jalan yang melintasi bukit itu.

Pada sebuah tanjakan terjal, selepas perkebunan buah salak milik warga, tiba-tiba saja mesin mobil tua itu mati. Kami yang duduk diatas kap mobil itu langsung melompat turun ke depan, setengah kaget. Mobil itu pun mogok. Setelah diperiksa, radiatornya ternyata bermasalah. Suhunya terlalu panas. Dengan hati-hati, sopir membuka tutup radiator. Dan, hal yang mengejutkan itupun terjadi. Tekanan uap air yang terlalu tinggi menciptakan cipratan setinggi kurang lebih lima meter. Radiator meleduk.

Air radiator yang terlalu panas, mencipakan “pancuran”.

Sambil menunggu mobil itu bisa jalan lagi, para penumpang, termasuk kami berenam dipersilahkan untuk menunggu di warung yang ada di dekat lokasi tersebut. Dari situlah obrolan-obrolan ringan antara pendaki dari kota dengan warga kampung pun dimulai. Suasana menjadi hangat. Keakraban pun segera tercipta antara kami berenam, warga, dan sopir jeep tersebut. Hingga akhirnya hardtop tua itu kembali berjalan lagi.

***
Rante Lemo, Senin, 17 September 2012.
Menjelang adzan Isya.

Menginap, sebuah pilihan pahit yang harus diterima. Tak ada pilihan lain.

Pilihan pahit, karena mobil menuju Makassar juga telah menunggu kami di Baraka malam ini. Ocul dan Om sudah ditelepon orang tuanya, disuruh cepat pulang. Muko dan Bivak, dua orang anak Mapala UVRI yang menemani perjalanan kami, juga akan menghadiri pembekalan PKL mereka di kampus. Hanya seorang  Serigala Hutan, demikian dia memperkenalkan nama lapangannya, yang tampak santai saja.

Tidak ada lagi tranportasi umum yang akan lewat sampai hari Kamis yang akan datang. Soalnya, transportasi menuju Rante Lemo dan Karangan hanya ada pada hari Senin dan Kamis, disaat warga akan berbelanja kebutuhan sehari-harinya ke pasar di Baraka, sebuah pasar yang hanya ada dua kali seminggu. Saat ini masih Senin malam.

Tadinya semua barang hendak ditinggalkan begitu saja, termasuk ransel-ransel milik kami. “Disini aman, pak”, demikian kata pak Ammar, supir kami. Tetapi berhubung pakaian kami sudah basah diterjang gerimis ketika membantu mendorong mobil tua itu, akhirnya ransel-ransel itu terpaksa kami bawa juga, karena pakaian ganti kami ada disana semua.

Baca juga:   Dahsyatnya Ayam Taliwang

Dalam perjalanan jalan kaki ke kampung, si ibu gemuk yang tadi naik dari Rante Lemo, menawarkan rumahnya untuk kami tumpangi. “Makan di rumah kita saja. Nanti saya bikinkan kopi. Sekalian tidur disana saja”, demikian si ibu itu menawarkan. Padahal, sebelum adzan maghrib berkumandang, tak ada interaksi diantara kami.

***

Besi-besi dan roda-roda tua yang masih tangguh

Akhirnya kami menginap di rumah si ibu tadi. Sebenarnya bukan rumah beliau, hanya rumah saudaranya saja. Pemilik rumah itu baru saja merayakan pesta pernikahan salah satu anaknya, dan si ibu ini adalah keluarga yang datang dari jauh. Pak Ammar, sang supir, ternyata punya banyak kenalan di kampung itu. Bukanlah hal yang sulit bagi beliau untuk mencari tumpangan atau bantuan lainnya. Seluruh warga kampung sudah begitu akrab dengan beliau.

Di kampung ini, jaringan sinyal telepon seluler sangat sulit ditemukan.  Katanya, hanya pada beberapa rumah di bagian atas kampung saja kita bisa menemukan sinyal, itupun sangat lemah dan sering hilang. Hal itu saya ketahui ketika sedang berusaha menghubungi sopir mobil ke Makassar, untuk membatalkan keberangkatan malam ini. Juga untuk memberi kabar ke Bandung, tentang keterlambatan perjalanan kami ini. Tapi sayang, sinyal telepon seluler di kampung itu hilang total jika cuaca mendung ataupun gerimis, apalagi hujan. Saat itu gerimis, dan saya baru tahu hal itu setelah merepotkan dua rumah di atas bukit dan beberapa warga yang sama sekali tidak saya kenal.

Kampung Rante Lemo, sebuah kampung yang sangat sepi dari keramaian kota, tetapi ternyata  sangat ramah bagi  para pendatang. Tanpa sinyal telepon, dengan hiburan teknologi yang terbatas, dibantu dengan listrik seadanya yang dihasilkan oleh turbin. Dikelilingi oleh panorama alam yang luar biasa, hidup dalam keramahan Indonesia. Semua itu tidak akan saya ketahui, jika tanpa “bantuan” jeep tua itu.

Saya semakin penasaran, seperti apa pengalaman yang dialami oleh mobil tua itu selama ini? Cerita yang hanya akan disimpan dalam kebisuan yang abadi oleh besi-besi dan roda-roda tua.

Tulisan dan Foto oleh Bolenk Astacala

  • AM 008 AP

    sudah berburu tiket promo air asia geng ?? haa