Napak Tilas Teluk Jakarta

Di tepi barat Teluk Jakarta, ada pulau-pulau bagian dari Kepulauan Seribu yang menyimpan nilai-nilai sejarah dan arkeologi yang berkaitan dengan masa awal penjajahan bangsa-bangsa Eropa, pendudukan Jepang, sampai dengan masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Tersebutlah Pulau Kelor, Pulau Cipir, Pulau Onrust, dan Pulau Bidadari yang tergabung ke dalam satu kawasan Taman Arkeologi Onrust (TAO), sebuah kawasan cagar budaya yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Jika kita pernah berwisata ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu, maka saat perjalanan awal kita akan melihat pulau-pulau tersebut yang bercirikan adanya benteng maupun reruntuhan bangunan-bangunan tua.

Pulau Kelor Terlihat dari Kejauhan
Peta Taman Arkeologi Onrust (Sumber : Google Maps)

Berangkat dari Muara Kamal

Pagi itu, saya telah berada di Pelabuhan Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara untuk memulai perjalanan menuju Taman Arkeologi Onrust. Pelabuhan Muara Kamal adalah pelabuhan dengan jarak terdekat yang bisa digunakan untuk menuju pulau-pulau bersejarah ini selain dua pelabuhan lainnya di Teluk Jakarta, Pelabuhan Muara Angke dan Pelabuhan Marina Ancol.

Pelabuhan Muara Kamal

Pelabuhan Muara Kamal ini memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Pelabuhan Muara Angke, yaitu pelabuhan rakyat dengan adanya pasar dan tempat pelelangan ikan. Sebagian besar jalan di tempat pelelangan ikan yang menuju pelabuhan tergenang air laut. Bau amis ikan tentu saja tak bisa ditolak. Pedagang ikan dan buruh-buruh angkut hilir mudik di ujung jalan menuju Rumah Pak Haji Pare, tempat pertemuan saya dengan rekan-rekan perjalanan dari Komunitas Historia Indonesia. Perahu-perahu nelayan bersandar di tepian muara Kali Angke, kali yang airnya kehitaman yang berakhir di pelabuhan ini. Di tepian kali, jembatan-jembatan bambu yang terlihat rapuh menghubungkan perahu-perahu nelayan dengan daratan. Sementara satu dua pohon bakau menyembul di seberang sisi lain lengkap dengan pemandangan beberapa ekor burung bangau yang mengais-ngais mencari makanan di sampah-sampah yang terapung.

Menuju Pulau Kelor

Pulau pertama yang menjadi tujuan kami adalah Pulau Kelor, pulau kecil yang sesuai namanya diibaratkan selebar daun kelor. Perairan di Teluk Jakarta pagi itu tenang. Air laut masih kehitaman walaupun perlahan-lahan mulai menjernih ketika perahu makin melaju menjauhi pantai. Perahu nelayan yang membawa saya menuju Pulau Kelor ini ukurannya cukup besar dan dapat menampung penumpang sampai 30 orang, tetapi pergerakannya sangat lambat. Bagang-bagang ikan bertebaran di mana-mana, seperti pepohonan mati yang meranggas tumbuh dari dalam laut. Sebuah sampah plastik sempat tersangkut di baling-baling perahu yang saya tumpangi, pertanda sampah-sampah masih banyak bertebaran di perairan Teluk Jakarta ini. Kurang lebih 30 menit kemudian, perahu pun menepi di pantai berpasir putih Pulau Kelor.

Benteng Martello di Pulau Kelor

Pulau Kelor yang sebenarnya dulu dinamai sebagai Pulau Kherkof ini adalah pulau yang paling memiliki ciri khas dibandingkan pulau-pulau di sekitarnya. Sebuah benteng yang tersusun dari batu bata merah berdiri gagah di pulau tersebut, tegak menantang menghadap laut ke semua sisi. Beberapa beton pemecah ombak untuk menahan abrasi terlihat terpancang di tepian pulau ini. Pepohonan, semak-semak, dan rumput-rumput liar mendominasi sisi selatan pulau yang saat ini luasnya tak lebih dari satu hektar.

Pulau Kelor juga merupakan sebuah pulau kuburan. Banyak tahanan politik di masa kolonial Belanda yang dihukum mati di penjara Pulau Cipir dan Pulau Onrust dikuburkan di Pulau Kelor ini. Begitu juga dengan tawanan-tawanan yang sakit dan meninggal, sebagian besar dikuburkan di pulau kecil ini. Seekor kucing saya lihat menjadi penghuni tetap pulau. Sepertinya kucing ini dibawa oleh seorang pengunjung pulau dan bisa bertahan hidup dari sisa-sisa ikan para pemancing yang singgah.

Reruntuhan Benteng Martello dan Beton-beton Pemecah Ombak

Benteng di Pulau Kelor adalah benteng Martello, yaitu sebuah benteng berbentuk lingkaran yang dibangun untuk tujuan pertahanan militer. Disusun beberapa lapis dan terdiri dari beberapa ruangan dengan fungsinya masing-masing. Di salah satu tingkatnya merupakan tempat meriam yang bisa berputar 360 derajat untuk menembak kapal-kapal musuh. Benteng ini dibangun dari bata merah yang kuat dan konon sangat kokoh untuk menahan tembakan meriam dari luar.

Saat ini, benteng Martello di Pulau Kelor hanya tersisa lapisan dalamnya saja. Benteng aslinya sebenarnya berdiri lebih lebar lagi. Beberapa puing pondasi lapisan luar dari benteng ini terlihat  teronggok dan telah terendam air laut di tepi pantai. Benteng ini hancur disebabkan oleh tsunami Gunung Krakatau di abad ke-19 dan peperangan-peperangan yang pernah terjadi di perairan Teluk Jakarta. Selain itu abrasi yang makin hari makin mengancam juga menjadi musuh utama yang sangat berbahaya untuk memusnahkan pulau bersejarah ini. Di lain pihak, kurangnya perhatian pemerintah akan warisan arkelogi dan rendahnya kesadaran pengunjung juga menjadi senjata bunuh diri yang handal.

Dari Dalam Benteng Martello

Jika kita berjalan berkeliling melihat isi benteng dan pulau ini, lihat saja keadaannya : sangat menyedihkan. Kondisinya tidak terawat, beberapa batu batanya sengaja dibongkar untuk membuat tungku perapian bagi para pemancing yang bermalam, paku-paku dan kayu-kayu kecil tertancap di dinding-dindingnya sebagai tempat menggantungkan kantong-kantong plastik dan pakaian, sampah-sampah dan coretan di mana-mana. Saya jadi membandingkan benteng ini dengan benteng atau kastil di Tanah Inggris yang pernah saya lihat di film-film, sungguh jauh berbeda.

Pulau Berikutnya, Pulau Cipir

Dari Pulau Kelor, kami beranjak menuju Pulau Cipir atau Pulau Kuijper. Pulau ini disebut juga sebagai Pulau Kahyangan. Berbicara tentang Pulau Cipir, kita tidak bisa melepaskannya dari Pulau Onrust. Letak kedua pulau ini berdekatan, dan Pulau Cipir merupakan pulau penyangga dari Pulau Onrust yang berfungsi sebagai pulau utama.

Pulau Cipir, Tampak Reruntuhan Bangunan Bekas Rumah Sakit

Di masa-masa awal, antara abad ke-17 sampai abad ke-19, Pulau Cipir difungsikan sebagai gudang-gudang penyimpanan barang yang dihasilkan dan diproses di Pulau Onrust. Bangunan-bangunan di Pulau Cipir ini pernah mengalami kehancuran beberapa kali. Kehancuran itu disebabkan oleh adanya pertempuran ketika Inggris merebut Batavia dari tangan Belanda-Perancis (baca : Jejak Perang Napoleon) di tahun 1811, gelombang tsunami karena letusan Gunung Krakatau di tahun 1883, serta penyerbuan Jepang di tahun 1942.

Beberapa tahun pulau ini sempat terbengkalai semenjak serbuan Inggris dan tsunami Krakatau sampai Belanda mulai memfungsikannya kembali. Sebuah stasiun pengamat cuaca dibangun untuk mendukung jalannya roda kolonialisasi. Kemudian Pulau Cipir ini (bersama Pulau Onrust) juga dijadikan sebagai rumah sakit dan tempat karantina haji pada selang waktu tahun 1911 – 1933. Reruntuhan bangunan rumah sakit inilah yang mendominasi isi dari pulau Cipir ini.

Berkeliling di Pulau Cipir

Ketika saya berkeliling di pulau ini, beberapa benda peninggalan sejarahnya masih terlihat jelas. Sebuah meriam peninggalan Belanda dari masa 1800 – 1810 saya jumpai teronggok dan berkarat. Begitu juga sebuah sumur artesis asebagai sumber air tawar di pulau ini tampak masih berfungsi walaupun kondisinya seperti kakus tak terawat.

Pulau Onrust, Pulau Tanpa Istirahat

Menjelang siang, kami beranjak meninggalkan Pulau Cipir menuju Pulau Onrust, pulau yang berarti pulau tanpa istirahat (berasal dari kata un dan rest). Jarak dari Pulau Cipir ke Pulau Onrust sebenarnya tidak terlalu jauh. Malah, masih ada sisa timbunan beton memanjang yang menghubungkan kedua pulau ini membentuk sebuah jembatan sampai di selatnya yang terdalam.  Untuk kemudian di selat yang dalam tersebut -yang lebarnya sekitar belasan meter- dulu dihubungkan oleh jembatan ponton, jembatan terapung yang terbuat dari kayu-kayu yang disusun di atas drum.

Pulau Onrust Dilihat dari Pulau Cipir, Terlihat Bekas Jembatan Penghubung yang Menghubungkan Kedua Pulau Ini di Kejauhan

Hanya beberapa menit yang kami butuhkan untuk menyeberang dari Pulau Cipir ke Pulau Onrust. Di pulau inilah terdapat sebuah pos pariwisata yang bisa kita dapatkan brosur-brosur tentang Taman Arkeologi Onrust. Sebelum dikuasai oleh Belanda dan menjadi pulau tanpa istirahat, pulau ini adalah pulau tempat peristirahatan raja-raja Banten. Pulaunya yang sejuk dan banyak pepohonan rindang membuat para petinggi Kerajaan Banten menyukainya.

Setelah dikuasai oleh Belanda, mulailah pulau ini menjadi pulau tanpa istirahat. VOC sebagai perusahaan dagang Belanda menjadikan pulau ini sebagai tempat galangan kapal yang ditunjang dengan berbagai infrastruktur yang dibangun dari waktu ke waktu seperti dermaga, benteng, gudang mesiu, pabrik penggergajian kayu, dan lain-lain. Segala aktivitas bongkar muat barang dan galangan kapal terjadi tanpa henti di pulau ini.

Seperti pulau-pulau bernilai arkeologis lainnya di Teluk Jakarta, peninggalan-peninggalan di Pulau Onrust ini juga tidak terawat. Kurangnya penghargaan dari kita terhadap peninggalan sejarah melengkapi kehancurannya yang disebabkan oleh tsunami Gunung Krakatau (1883) dan peperangan di masa penyerbuan Inggris (1811) maupun pendudukan Jepang (1942). Selain itu abrasi pantai juga menjadi ancaman yang besar bagi pulau kecil ini yang ketinggiannya tidak lebih dari 5 mdpl.

Makam Para Korban Pemberontakan Kapal Zeven Provincien
Makam Orang-orang Belanda

Berkeliling di pulau ini, kembali saya melihat sisa-sisa bangunan rumah sakit dan tempat karantina haji, melihat makam Kartosuwiryo sang pemimpin pemberontakan DI/TII, makam-makam para korban pemberontakan Kapal Zeven Provincien (pemberontakan para pekerja kapal yang pernah terjadi di pulau ini), makam-makam orang Belanda yang terkena penyakit tropis, adanya sumur artesis air tawar, pondasi dari reruntuhan benteng Martello, serta beberapa meriam peninggalan Belanda.

Meriam Peninggalan Belanda

Di Pulau Onrust ini, secara mengejutkan saya bertemu dengan orang-orang dari Suku Dayak Hindu Budha Bumi Sagandu. Orang-orang yang memiliki salah satu kepercayaan lokal nusantara dan kearifan lokal tersendiri yang berasal dari Indramayu. Mereka tampak mencolok dengan celana hitam putih tanpa baju, rambut-rambut gondrong dengan kalung dan gelang sebagai hiasan tubuh. Mereka sedang mencari batu-batu manik di pulau ini. Saya sempat berbicara dengan salah seorang tetuanya tentang kehidupan mereka. Walaupun ada kosakata agama di nama sukunya, mereka bukanlah penganut agama mana pun yang diakui di Indonesia. Dengan tenang ia berbicara tentang konsep alam semesta dan manunggaling kawulo gusti, sedikit mengalihkan fokus saya dari penelusuran sejarah ke perenungan-perenungan spiritual.

Asal Mula Gelar Haji

Saya memang tidak pernah mendengar nama orang dengan gelar haji selain di Indonesia. Asep Kambali, ketua Komunitas Historia Indonesia mengatakan bahwa hanya di Indonesia gelar haji itu digunakan oleh mereka yang telah menunaikan ibadah ke tanah suci Mekah. Bagaimana itu bisa terjadi? Pulau Onrust dan Pulau Cipir adalah salah satu kunci untuk mencari jawabannya. Lihat saja sisa-sisa reruntuhan di kedua pulau tersebut, sebagian besar adalah sisa-sisa tempat karantina haji.

Sisa Reruntuhan yang Merupakan Bekas Rumah Sakit Karantina Haji

Pulau Onrust dan Pulau Cipir digunakan sebagai tempat karantina haji dari tahun 1911 – 1933. Ide karantina haji yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda merupakan suatu sikap kekhawatiran yang tinggi terhadap meluasnya gerakan Pan-Islam yang lahir di Timur Tengah. Biasanya orang-orang yang pergi melaksanakan ibadah haji akan bertahan di Tanah Arab paling sedikit 3 bulan. Kesempatan itu digunakan untuk belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka. Munculnya gerakan Wahabi dan ide Pan-Islam yang menentang penjajahan dari orang non Islam akan memberi dampak pada militansi mereka yang menunaikan ibadah haji.

Kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda itu ternyata berbuah nyata. Hampir semua pimpinan perlawanan adalah mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Untuk mengawasi kegiatan orang-orang yang melakukan ibadah haji, dibuatlah kegiatan karantina dengan alasan menjaga kesehatan. Pemerintah kolonial Belanda memberikan cap kepada mereka yang pulang dari Tanah Arab dengan kata atau gelar haji di depan nama orang tersebut, sebuah gelar untuk membedakan dan mengawasi mereka yang disinyalir telah terpengaruh oleh gerakan Wahabi atau Pan-Islam.

Catatan Tambahan : Pulau Bidadari dan Pulau Edam

Selepas istirahat makan siang di Pulau Onrust, rombongan perjalanan susur pulau-pulau bersejarah ini terbagi dua. Satu kembali pulang menuju Pelabuhan Muara Kamal, satu lagi melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari. Saya dan beberapa rekan perjalanan memutuskan untuk tidak ikut serta ke Pulau Bidadari.

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari merupakan salah satu pulau yang masuk ke dalam kawasan Taman Arkeologi Onrust. Pulau Bidadari adalah pulau pribadi yang ditujukan sebagai tempat wisata. Sehingga jangan heran kalau di pulau ini ada banyak vila dan fasilitas wisata. Di Pulau Bidadari juga akan ditemukan beberapa sisa peninggalan sejarah, salah satunya adalah reruntuhan benteng Martello.

Kemudian, jika kita melihat peta Kepulauan Seribu, lebih jauh ke timur di Teluk Jakarta, ada sebuah pulau bersejarah lagi yang dinamai Pulau Edam, atau biasa juga disebut sebagai Pulau Damar. Sebuah buku Mereka yang Dilumpuhkan karya maestro Pramoedya Ananta Toer menggambarkan kehidupan para tawanan Belanda di pulau ini pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah mercusuar peninggalan Belanda juga berdiri gagah menjadi daya tariknya. Tetapi pulau ini bukan bagian dari Taman Arkeologi Onrust. Dan sayang juga, kami tidak berkesempatan untuk mengunjunginya.

Prediksi di Masa Depan

Melihat kondisi kenyataan akan tempat-tempat bersejarah di Indonesia, kita akan tahu bahwa kita sangat jauh tertinggal dalam menghargai dan belajar dari masa lalu dibandingkan negara-negara lain yang dikenal. Namanya saja pulau-pulau di Taman Arkeologi Onrust ini dilindungi dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, tapi saya tak melihat perlindungan dan pengelolaan tersebut dengan lebih nyata selain adanya biaya tiket masuk dan brosur informasi seadanya.

Benda Cagar Budaya, Harus Dilindungi dan Dijaga

Siang yang bertambah terik dan gelombang laut yang mulai meninggi, perahu kami mulai melaju menuju Muara Kamal. Terlintas tentang berita-berita terkait meningginya permukaan air laut dari waktu ke waktu, pulau-pulau kecil termasuk di Kepulaun Seribu konon katanya bisa hilang dalam kurun waktu 40 tahun ke depan. Kita sebagai pewaris peninggalan sejarah bangsa, maka kita inilah yang wajib menyikapi hal-hal seperti itu, mau menjadi pesimis atau menjadikannya sebagai cambuk pelecut untuk bisa berbuat lebih baik lagi.

Tulisan dan Foto oleh I Komang Gde Subagia